Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
85 MUSUH DALAM SELIMUT


__ADS_3

Sesampainya di lobby dan berkumpul bersama timnya, Dimas mendapatkan pesan baru di ponselnya. Setelah melepaskan tangannya dari pegangan koper, dia segera mengambil ponselnya yang terus bergetar dari dalam saku celana.


Matanya menatap layar dengan serius dengan kedua alis yang disatukan. Dibacanya kata per kata dalam pesan tersebut, tanpa menunjukkan perubahan apapun. Dia tetap berdiri dengan sikap tenang, dengan wajah dingin penuh misteri.


"Simpan baik-baik salinan data rahasia proyek kita. Cadangkan semua berkas yang berhubungan dengan proyek ini tanpa kecuali. Kami percaya dan mengandalkanmu..!!"


Sebelum Pak Albi memanggil dan mengumpulkan seluruh tim yang akan berangkat, Dimas membalas pesan tersebut dengan cepat dan segera bergabung dengan yang lainnya.


"Baik, Pak. Semuanya sudah saya siapkan dan saya bawa sesuai perintah Bapak."


Ponsel dimasukkannya kembali ke dalam saku, kemudian dia fokus mendengarkan arahan dari Pak Albi selaku ketua tim kerja sekaligus penanggungjawab utama proyek yang sedang mereka tangani saat ini.


Anggota tim yang dipilih Pak Albi untuk ikut berangkat keluar kota berjumlah lima orang dan semuanya adalah karyawan laki-laki. Mereka merupakan karyawan dengan kompetensi kerja tertinggi dan terpercaya yang sudah diperhitungkan kemampuannya untuk terlibat dalam menangani proyek pelayanan masyarakat ini.


Setelah menerima pengarahan singkat dari Pak Albi, dibantu oleh seorang sopir mereka mulai mengemasi barang bawaan untuk dimasukkan ke dalam mobil milik perusahaan yang akan mereka gunakan selama bertugas.


Sebelum masuk ke dalam mobil, ponsel Dimas kembali berdering. Satu pesan masuk dari Alila. Dimas menjauh dari mobil lalu tersenyum tipis saat membuka pesan dari istrinya.


"Aku sudah sampai di kantor, Dim."


"Ya, sayang. Aku sedang bersiap untuk berangkat. Doakan aku." Dimas membalas pesan Alila lalu menunggu lagi.


"Aku selalu mendoakanmu, Dim. Kabari aku saat kamu sudah sampai di sana. Aku bekerja dulu." Tulis Alila.


"Baiklah, istri cantikku. Aku mencintaimu..." Dimas menulis pesan terakhir sebelum Alila membalasnya lagi.


"Aku juga mencintaimu, sayang..."


Senyumnya merekah membaca pesan yang baru saja dibacanya.


(Sekarang saja aku sudah merindukanmu, Al.)


.


.


.


Sementara Dimas sedang dalam perjalanan menuju kota pertama yang akan dikunjungi oleh timnya, Alila sudah berkutat dengan layar kerjanya di dalam ruangan. Terlihat kesibukan yang sama juga dilakukan oleh Olla dan Nadia di sana.


"Al, Nad, nanti siang makan di luar, yuk. Mumpung suamimu tidak ada, jadi kita bisa makan siang bersama lagi." Ajak Olla pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Boleh banget, yuk! Kebetulan Tama juga sedang sibuk di kantornya." Nadia langsung mengiyakan dengan semangat.


"Apa Dika tidak keberatan kalau kamu tidak makan siang bersamanya, La?" Tanya Alila.


Sepengetahuannya, sejak mereka bertunangan setiap hari Olla selalu menghabiskan waktu istirahatnya bersama Dika, entah itu pergi keluar atau hanya di kantin kantor.


"Itu bisa diatur, Al. Nanti aku yang minta ijin padanya. Dika tidak pernah menolak permintaanku." Kata Olla bangga, membuat Alila dan Nadia tersenyum.


"Sudah pasti dia selalu menurutimu, La. Dari pada kamu ngambek dan tidak mau bertemu dengannya, Dika juga yang repot nantinya dilanda rindu yang berat." Seloroh Nadia.


"Namanya Dika, bukan Dilan. Jadi rindunya tidak akan berat. Biar Alila saja yang berat menanggung rindu karena ditinggal suaminya ke luar kota. Hahaa..." Candaan Olla membuat mereka bertiga tertawa pelan, karena takut ditegur oleh karyawan yang lain.


"Pakai mobilmu ya, Al. Sekali lagi, aji mumpung. Mumpung kamu bawa mobil sendiri..." Lanjut Olla lagi.


"Iya." Jawab Alila singkat sambil mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Dimas jika nanti dia akan makan siang di luar kantor bersama kedua sahabatnya.


Di kota yang berbeda, Dimas dan timnya baru saja tiba di tempat tujuan setelah dua jam lebih perjalanan. Selama di sana, mereka akan tinggal di sebuah penginapan yang sudah disiapkan oleh perusahaan. Seluruh tim beristirahat sejenak sebelum mereka pergi ke kantor proyek untuk memulai tugasnya.


Dimas membasuh wajahnya lalu mengeringkan dengan handuk yang sudah dikeluarkannya dari dalam koper. Setelah itu dia mengambil ponselnya dari atas meja dan membukanya sambil tiduran di atas tempat tidur di kamarnya.


Wajahnya yang semula datar mulai menyunggingkan senyuman saat melihat ada pesan baru dari Alila. Dengan satu kali sentuhan jari di layar, pesan itu terbuka dan dibacanya.


Alila memberitahu jika nanti dia akan pergi keluar bersama kedua sahabatnya untuk makan siang dengan membawa mobilnya. Dimas segera membalas pesan tersebut dan menyisipkan ungkapan cinta dan kerinduan untuk istri terkasihnya.


Dimas dengan serius memeriksa semua laporan proyek dan meneliti satu per satu lampiran yang disertakan. Beberapa kali kepalanya menggeleng pelan saat menemukan kembali kesalahan dalam pelaksanaannya di lapangan.


Dimas melaporkan temuannya kepada Pak Albi melalui email. Beberapa menit berikutnya mereka terus berbalas email dan berdiskusi singkat. Mereka memilih untuk berdiskusi melalui jaringan online agar tidak menimbulkan kecurigaan anggota tim yang lain.


"Segera selesaikan masalahnya dan jangan memberitahu yang lain bagaimana cara kamu membenahi semua sistem yang ada."


"Baik, Pak. Akan segera saya selesaikan agar besok atau lusa, seluruh sistem sudah berfungsi normal kembali dan bisa dilanjutkan lagi pelaksanaan proyeknya."


"Ingat, kita harus bertindak dengan cara yang halus untuk mengimbangi perusuh ini. Mereka adalah musuh dalam selimut, dan satu di antaranya ada bersama kita. Hati-hati, Dim. Saya sangat percaya pada kemampuanmu."


"Terima kasih, Pak. Saya akan mulai bekerja dari sekarang."


Dimas menutup emailnya dan kembali fokus pada tugas utamanya. Sebelum memulai, dia mengedarkan pandangannya pada satu per satu angggota tim yang bersama-sama dengannya duduk mengelilingi sebuah meja besar untuk menuntaskan tugas masing-masing.


Dimas masih merasa heran dan tidak habis pikir jika salah satu dari mereka terlibat dalam masalah yang terjadi saat ini.


Namun dia tidak berhak untuk menyalahkan apalagi mempermalukannya secara terang-terangan. Dia menyerahkan semua keputusan kepada Pak Albi. Selebihnya, dia hanya harus melaksanakan tugasnya dengan baik dan sesegera mungkin.

__ADS_1


.


.


.


Semua pekerjaan berjalan dengan lancar hingga tiba waktunya istirahat. Semua anggota tim menutup layar kerja mereka dan menyimpannya lalu beranjak untuk pergi makan siang bersama seluruh karyawan kantor setempat.


Sambil menunggu hidangan tersaji, Dimas pamit keluar dan berjalan menuju sudut teras rumah makan yang lebih tenang suasananya. Ponsel yang sedari tadi dipegangnya berdering menandakan pesan baru masuk.


Alila mengirimkan pesan bahwa dirinya sudah berada di sebuah cafe bersama Olla dan Nadia. Tanpa menunggu lagi, Dimas membuka panggilan video dengan istrinya. Beberapa detik kemudian panggilan sudah tersambung dan menampilkan wajah cantik Alila yang memenuhi layar ponsel lelaki itu.


"Sudah makan, Al?" Tanya Dimas.


"Belum. Masih menunggu pesanan datang. Kamu?"


"Sama juga. Di mana mereka?" Dimas tidak melihat keberadaan kedua sahabat istrinya di sekitar Alila.


"Mereka ada di dalam dan aku keluar untuk menerima panggilanmu."


Sekian menit mereka lalui dengan obrolan ringan layaknya tengah bertemu langsung. Kemudian mereka menyudahi percakapan hangat mereka untuk melanjutkan acara makan siang di tempat dan kota yang berbeda.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti malam. Jaga dirimu, Al."


"Iya, Dim. Kamu juga harus selalu sehat dan baik-baik saja di sana. Aku merindukanmu di sini."


"Aku juga merindukanmu. I love you, sayang..."


"I love you too, sayang..."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2