
Dua minggu berlalu. Alila mulai terbiasa beraktivitas tanpa Dimas bersamanya. Meski begitu, bukan berarti dia melupakan Dimas. Justru setiap melakukan apapun, hanya wajah Dimas dan momen kebersamaan merekalah yang terus terbayang.
Seperti siang ini, saat dirinya ditemani Alano sang adik menikmati makan siang di foodcourt mall yang sering dia datangi bersama Dimas.
Alila menyeruput minumannya sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Foodcourt siang itu cukup ramai pengunjung. Ada yang sendirian, beramai-ramai, satu keluarga dan tak sedikit pula yang berdua berpasangan.
Pandangan Alila terhenti di kedai es krim kesukaannya. Tanpa sengaja dia melihat meja kosong yang dulu pernah dia dan Dimas tempati ketika membeli es krim di sana.
Senyum mengembang di bibir Alila saat mengingat momen kala itu. Saat mereka bertemu pandang dan saling menatap dalam diam. Juga saat Dimas dengan mesra membersihkan es krim di bibirnya dengan selembar tisu. Alila menutup wajahnya yang seketika terasa hangat.
"Mbak, kamu kenapa? Kebelet?"
Alano memperhatikan perubahan di wajah kakaknya.
"Haah..? Ooh.., tidak apa-apa. Sudah buruan habiskan makananmu!"
Alila mencoba mengalihkan perhatian Alano meskipun tidak akan berhasil.
"Mbak Al sendiri belum menyentuh sendok mbak sama sekali, kenapa aku yang disuruh cepat-cepat..?!"
Alila buru-buru memegang sendoknya lalu mulai menelan makanannya. Alano menggelengkan kepala melihat tingkah kakaknya.
"Mbak kenapa sih? Kangen sama mas Dimas? Lagi ingat sama mas Dimas?"
Sorot mata Alano menatap tajam ke arah Alila yang langsung tersedak mendengar pertanyaan adiknya.
"Minum dulu, mbak. Pelan-pelan, aku tidak akan minta kok."
Tanpa rasa bersalah sama sekali, Alano terus menggoda Alila.
"Diam kamu, Lan. Setiap kali kamu ngomong selalu membuat aku kacau..!"
Alano melanjutkan makannya dengan tetap memperhatikan kakaknya.
Alila sudah berhasil melegakan tenggorokannya. Tapi dia malah teringat kejadian di malam perpisahan kampus dulu. Dia juga tersedak karena kaget ketika Dimas merangkul bahunya saat mereka makan bersama.
Lagi-lagi Alila tersenyum sendiri mengingat semua kenangan tentang Dimas yang terus membayanginya.
"Mbak, besok ke rumah sakit ya."
Alano sudah menuntaskan makannya dan kembali menatap sang kakak yang masih menikmati makanannya.
"Siapa yang sakit? Kamu?"
"Mbak Al tuh yang sakit. Mau aku bawa ke pskiater atau dokter jiwa sekalian. Kayaknya sekarang otak mbak agak geser deh. Aku takut kalau kelamaan nanti bisa makin akut."
Alila mengulurkan tangannya ke depan dan memukul kepala Alano dengan cukup keras.
__ADS_1
"Auwwh..! Sakit mbak..!!"
Alano meringis memegangi kepalanya yang terkena serangan mendadak dari kakaknya.
"Kamu mau menyumpahi aku menjadi gila?"
"Hehee.., mbak Al lucu dan aneh kalau lagi galau."
Alila diam tidak lagi menanggapi ulah adiknya. Karena jika diladeni ulahnya akan semakin menjadi-jadi. Dia berusaha menghabiskan makanannya dengan tenang.
(Siang, Dim. Kamu sudah makan? Aku menepati janjiku, selalu makan tepat waktu, Dim. Aku tidak mau kamu marah karena aku tidak menurutimu. Dim, aku merindukanmu!)
Sementara jauh di ujung kota yang lain, Dimas juga sedang beristirahat dan menikmati makan siangnya.
Dia duduk satu meja bersama teman-teman satu timnya di tempat pelatihan. Mereka ada tujuh orang, lima pria dan dua wanita, yang berasal dari kantor cabang yang berbeda-beda. Bersama mereka juga ada ketua tim yang merupakan pegawai senior pilihan dari beberapa kantor cabang.
Seperti biasanya, Dimas makan dengan tenang sementara teman-temannya yang lain bersendau-gurau dengan akrab dan penuh tawa. Sesekali dia hanya menampakkan sedikit senyumnya menanggapi beberapa candaan dari temannya.
Begitulah Dimas. Di lingkungan pergaulannya dia tidak mudah akrab dengan orang lain bahkan terkesan menjaga jarak, kecuali dengan orang-orang tertentu. Dia lebih suka serius dan fokus pada tugas juga pekerjaannya daripada harus menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu baginya.
"Dimas, kalau boleh tau apa kamu sudah menikah?" Tanya Pak Albi ketua tim mereka.
Tidak hanya kepada Dimas, Pak Albi juga sudah menanyakan hal yang sama kepada anggota tim yang lain.
"Calon istri, Pak."
Dimas menjawab dengan mantap.
"Owh, ternyata sudah mau menikah. Pantas sikapmu sangat membatasi diri dengan lawan jenis."
Pak Albi adalah pegawai senior dari kantor cabang yang sama dengan Dimas. Usianya lima tahun lebih tua dari Dimas. Dia sudah menikah dan memiliki satu anak balita.
"Jangan lupa undang saya di pernikahanmu nanti. Kebetulan kita kan satu kota dan satu kantor cabang juga."
"Ya, Pak. Akan saya ingat." Jawab Dimas singkat.
Tak lama kemudian Dimas berdiri mengambil minuman tak jauh dari meja mereka. Diambilnya segelas es lemon tea yang sudah tersedia.
(Hanya minuman saja sudah mengingatkanku padamu, Al. Apa kamu juga?)
Dimas menghela nafas panjang. Tiba-tiba dadanya begitu sesak. Ada rasa rindu tertahan di dalam hatinya. Semakin hari semakin terasa namun masih tak bisa bersua.
(Aku sangat rindu tapi kita tak bisa bertemu, Al.)
Dimas segera menghabiskan minumannya. Bergegas dia berjalan menuju musholla. Di sanalah tempat yang paling tepat untuk menumpahkan seluruh kerinduannya.
Bersujud dan berdoa. Mencari ketenangan jiwa agar hati yang tengah rapuh bisa menemukan kembali kekuatannya.
__ADS_1
(Mendoakanmu adalah cara terbaikku untuk memelukmu dari jauh, Al.)
Dimas keluar dari sana dengan wajah lebih
tenang. Saat duduk di tangga dan mengenakan sepatu, Pak Albi datang dari dalam dan ikut duduk di sampingnya.
"Setiap sesi istirahat tiba, walaupun bukan waktunya sholat, kamu selalu menghabiskan waktumu di sini, Dimas. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu selama di sini?"
Dimas menggelengkan kepala pelan.
"Tidak ada apa-apa, Pak."
Pak Albi tersenyum sambil terus mengenakan kaos kakinya.
"Kamu merindukannya?" Tebaknya dengan yakin.
Dimas hanya diam. Dia tidak ingin berbagi masalah pribadinya dengan siapapun.
"Dulu aku juga pernah mengalaminya. Dan rasanya memang sangat menyiksa bukan? Jangankan tiga bulan, untuk melewati satu hari saja seolah waktu berputar sangat lambat."
Dimas tetap diam dan mendengarkan saja semua ucapan Pak Albi padanya.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja. Setelah ini berakhir, perasaan kalian akan semakin kuat satu sama lain."
Pak Albi menepuk bahu Dimas dan mengajaknya kembali ke ruangan materi.
"Terima kasih, Pak."
Hanya itu yang Dimas ucapkan sambil menjajari langkahnya.
Dimas melangkah dengan terus mengingat semua tentang Alila. Dulu, dia hanya menganggapnya sebatas sahabat, karena selama ini dirinya sendiri juga tidak pernah serius menjalani hubungannya dengan beberapa wanita masa lalunya.
Tapi sejak mata hatinya terbuka, dia hanya bisa melihat Alila dalam pikirannya. Alila saja yang setiap hari bisa membuatnya merasa bahagia. Bahkan dia bisa selalu tersenyum saat Alila bersamanya.
(Al, aku rindu ingin menggodamu dan melihat lagi wajah cantikmu yang tersipu malu itu..)
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
__ADS_1
Salam cinta dari kami..
Author