
Malam Minggu tiba. Dimas dan Alila sudah berada di sebuah resto yang cukup ternama di sana. Alila sudah memesan berbagai menu khas resto tersebut sebagai hidangan untuk acara mereka malam ini.
Seperti permintaan Dimas sebelumnya, malam ini mereka akan berkumpul berlima bersama Tama, Sandy dan Nayla. Entah apa yang akan terjadi malam ini, Alila berusaha menyiapkan dirinya juga hatinya untuk menghadapi sahabat-sahabatnya nanti.
Berbeda dengan Dimas yang tetap tenang seolah tak terpengaruh dengan segala kemungkinan yang akan mereka hadapi sebentar lagi.
"Dim, aku takut."
"Takut kenapa? Jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi."
Tangan Dimas meraih tangan Alila dan menggenggamnya dengan lembut. Tatapan matanya sangat teduh, berusaha memberikan ketenangan untuk Alila.
"Semuanya akan baik-baik saja, Al. Kita berlima bersahabat sudah lama, sudah sama-sama tahu karakter masing-masing. Mereka pasti akan mengerti."
"Ya, Dim. Aku harap mereka akan memahami hubungan kita."
Dimas tersenyum sangat manis, semanis sikapnya pada Alila yang selalu berbeda dan istimewa.
Tak lama kemudian terlihat tiga orang yang mereka tunggu berjalan bersama-sama menuju meja berbentuk lingkaran yang sudah dipesan oleh Dimas untuk mereka berlima.
Alila terlebih dahulu menghampiri Nayla untuk menyambut dan memeluknya. Nayla terlihat riang bertemu Alila, dia ingin bertukar cerita tentang banyak hal dengan Alila.
"Malam, Nay. Apa kabar?"
"Aaa.., selamat malam, Al. Wajahmu tampak berbeda malam ini."
Nayla sengaja menatap Alila dan Dimas bergantian dengan tatapan penuh pertanyaan. Alila tersenyum tanpa menjawab perkataan Nayla. Dia menarik tangan Nayla untuk duduk di sebelahnya.
Sebelum duduk Nayla menyalami Dimas sambil melempar senyuman usilnya. Sementara Sandy dan Tama juga menyapa Dimas, bersalaman dan saling bertukar pelukan.
"Bagaimana kabar kalian? Terutama kamu, San. Karena aku sudah bertemu dengan Tama sebelumnya."
"Harusnya aku yang bertanya padamu, Dim. Tapi sepertinya keadaanmu baik-baik saja, bahkan tampak sangat bahagia."
Sandy mulai melancarkan aksinya untuk menyerang Dimas dan Alila. Namun Dimas seolah tak terusik, dia hanya tersenyum tipis dengan tatapan dingin seperti biasanya.
Alila menyalami Sandy juga Tama, lalu kembali duduk di antara Dimas dan Nayla. Sandy mengikuti duduk di samping Nayla, disusul Tama yang duduk di antara Sandy dan Dimas.
Minuman dan makanan pembuka sudah dihidangkan. Di sela-sela obrolan, mereka mulai menikmati sajian yang tersedia di atas meja.
"Selamat, Dim. Aku dengar kamu langsung menjadi pegawai tetap di kantormu." Kata Sandy.
"Iya. Terima kasih."
Beberapa gelas terlihat telah kosong. Alila berdiri meninggalkan meja dan berjalan menuju meja pemesanan untuk menambah beberapa minuman dan air mineral.
Saat kembali duduk di tempatnya, Alila mendengar Sandy bertanya pada Tama.
"Tam, apa kamu tahu sesuatu tentang Dimas dann....." Sengaja Sandy memutus ucapannya sendiri.
"Alila?" Jawab Tama diikuti matanya yang melirik ke arah Alila.
Sesaat dia menatap wajah cantik itu dengan hati bergetar. Dimas yang mengetahui arah pandangan Tama hanya diam. Dia menahan dirinya meskipun hatinya mulai memanas melihat tatapan lembut Tama pada Alila.
"Memangnya ada apa dengan mereka?" Tama melempar balik pertanyaannya pada Sandy.
Mata Sandy menatap Dimas dan Alila penuh selidik. Dia mencoba mencermati setiap reaksi dari mereka berdua.
"Aku pernah melihat mereka berduaan di warung bakso Kang Budi.." Kata Sandy.
__ADS_1
"Aaah, kapan hari aku juga melihat Alila dan Dimas di mall. Aku ingin menghampiri tapi keburu diajak pulang sama teman-temanku." Nayla berkata dengan nyaring membuat Alila sedikit terkejut.
"Pelankan suaramu, sayang! Sakit telingaku.."
Sandy menutup mulut Nayla dengan tangannya membuat Nayla refleks juga memegang tangan Sandy.
"Uuhhmm.." Nayla masih berusaha melepaskan tangan Sandy.
Alila yang melihatnya tersenyum lebar. Sesaat dia melupakan rasa takut dan kegugupannya.
"Senin kemarin aku ada keperluan di kantor Alila. Dan aku juga menjumpai mereka yang baru saja makan siang bersama di luar." Tambah Tama.
Semua mata kini tertuju pada Dimas dan Alila. Mereka menunggu penjelasan yang akan keluar dari mulut keduanya.
Pandangan Dimas berpindah ke arah Alila di sampingnya. Kekasihnya itu juga tengah menatap kepadanya. Mereka berdua seolah sedang mencari kesepakatan untuk menjawab keingintahuan para sahabatnya.
"Apa yang ingin kalian ketahui?"
Akhirnya Dimas membuka suara. Mau tak mau, cepat atau lambat, sekarang atau nanti.., semua pasti mengetahui kenyataaannya.
"Bagaimana hubungan kalian saat ini?" Tanya Sandy.
"Seperti yang kalian lihat. Kami tidak menyembunyikan apapun."
"Apa kalian berdua pacaran?" Cecar Nayla.
"Aku tidak pernah memintanya jadi pacarku."
"Apa kalian saling menyukai?" Tanya Sandy lagi.
"Apakah ada larangan untuk itu?"
Sandy merasa geram sendiri dengan semua jawaban Dimas. Sikap Dimas memang seperti itu dari dulu.
Alila menoleh ke arah Dimas meminta persetujuan. Dimas menatapnya lembut dan mengangguk pelan.
Bersamaan dengan itu, hidangan utama telah disajikan di meja mereka.
"Sebaiknya kita makan malam dulu. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaan kalian."
Masih dengan rasa penasaran yang bergelayut di pikiran masing-masing, akhirnya mereka berlima menikmati makan malam terlebih dahulu.
Tama menyelesaikan makan malamnya dengan cepat. Pembicaraan mereka kali ini membuat selera makannya hilang sehingga dia hanya menelan sedikit makanan. Selebihnya hanya ada rasa penasaran yang besar akan jawaban dari Dimas dan Alila nanti.
Tak sampai setengah jam, semua sudah menyelesaikan makan malam mereka. Suasana kembali hening dengan seluruh tatapan terarah pada Dimas dan Alila.
Alila menghela nafas panjang, menata hatinya dan menguatkan diri untuk mengatakan semua kepada para sahabatnya.
"Baiklah. Kalian menanyakan apa?"
"Apa kalian saling mencintai?" Tanya Tama tak sabar.
"Ya."
Alila dan Dimas menjawab bersamaan dan saat itu juga hati Tama serasa patah dan penuh luka. Dia merasa telah kalah sebelum melangkah. Tak ada lagi harapan untuk perasaan yang telah sekian lama bersemayam di hatinya untuk Alila.
Meski berusaha disembunyikan, tapi Dimas masih bisa melihat gurat kecewa yang tampak samar di wajah Tama.
"Jadi kalian berdua pacaran?" Nayla mengulangi pertanyaannya semula.
__ADS_1
"Tidak. Tapi..."
"Tapi apa, Al?" Sandy penasaran.
"Tapi Dimas memberiku ini."
Alila mengangkat tangan kirinya pelan-pelan dan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Dimas tersenyum tipis melihat keberanian kekasihnya mengakui hubungan mereka.
Lagi-lagi Dimas melihat tatapan mata Tama yang meredup begitu melihat cincin yang dipakai Alila.
Sepasang mata Nayla seketika membulat dengan mulut yang terbuka lebar saat melihat cincin di jari manis Alila.
"Aaakh.., nggak nyangka Dimas bisa bersikap semanis ini, Al.."
"Hei, aku juga memberimu cincin. Kenapa kamu tidak memujiku?" Sandy memegang tangan Nayla yang juga mengenakan cincin pemberiannya dulu.
"Momennya sudah basi. Tapi cintaku padamu tidak pernah basi kok, sayangku.." Nayla tertawa menggoda Sandy.
Untuk beberapa saat suasana mencair karena canda tawa yang dibuat oleh pasangan Sandy dan Nayla. Namun kemudian, pembicaraan kembali berlanjut.
"Dim, kamu tidak sedang main-main dengan Alila kan? Awas saja kalau kamu tidak serius dengannya."
Pada akhirnya, keraguan pada Dimas pun terucap dari bibir Sandy. Bukan karena tidak percaya pada sahabatnya, tapi lebih pada sifat Dimas di masa lalu yang sering bergonta-ganti pasangan.
Sandy tentu saja tidak mau jika suatu saat Alila akan dilepaskan oleh Dimas seperti wanita-wanita sebelumnya.
"Kalau aku tidak serius, aku tidak akan melangkah sejauh ini, San. Aku juga tidak mungkin mengorbankan persahabatan kami hanya untuk sesuatu yang tidak aku yakini."
"Aku akan menikahi Alila."
.
.
.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM
BARAKALLAHU FIIKUM
Author & Keluarga
🙏🙏🙏
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author
.