Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
34 ADA DIA


__ADS_3

Hari berganti hari, waktu terus berlalu mengikuti rotasinya. Dua bulan terlewati tanpa terasa. Dimas dan Alila semakin lama semakin terlihat matang dalam menjalani hubungan mereka.


Tidak pernah ada kemarahan besar di antara mereka. Hanya seringkali kecemburuan Dimas yang terlalu berlebihan membuat Alila kewalahan untuk menenangkannya. Tapi kesabaran dan ketenangan Alila selalu saja bisa meluluhkan hati Dimas.


Alila selalu bisa memupuskan kecemburuan Dimas yang kadang tak beralasan hanya karena banyaknya lelaki di sekeliling kekasihnya, yaitu rekan-rekan kerja Alila di kantor.


"Al, apa di kantormu tidak ada yang tahu kalau kamu itu sudah mempunyai aku? "


Alila tersenyum melihat kecemburuan Dimas yang kesekian kalinya.


"Bagaimana mereka tidak tahu, jika setiap hari saja kamu selalu mengantar dan menjemputku sampai ke dalam lobby."


"Tapi mereka masih saja mendekatimu. Aku tidak suka itu."


Alila meraih tangan Dimas yang duduk di hadapannya. Saat ini mereka tengah makan siang di cafe yang terletak tak jauh dari kantor Alila.


Genggaman tangan kekasihnya membuat Dimas mencoba menepiskan kekesalannya.


"Sudah selalu aku katakan padamu, mereka hanya teman kerjaku, tidak ada yang lebih dari itu. Kami dekat karena kami bekerja bersama. Tidak bolehkah aku bergaul dengan teman kerjaku, sama juga sepertimu di kantormu sana?"


Suara Alila terdengar sangat lembut, seolah mencoba meluruhkan kecemburuan yang menguasai hati lelaki di hadapannya.


"Maafkan aku, Al. Aku selalu merasa takut akan terabaikan olehmu saat melihatmu bersama dengan teman-temanmu. Mereka yang lebih sering bertemu denganmu sepanjang hari. "


Dimas membalas genggaman tangan Alila dengan lebih erat. Sorot matanya begitu sendu menatap wajah wanita yang sangat dicintainya itu.


"Aku merasa tidak bisa membahagiakanmu seperti mereka, Al. Aku melihatmu bisa bercanda dan tertawa lepas bersama mereka. Sedangkan saat bersamaku, aku tidak bisa membuatmu seceria itu."


"Jangan pernah mengukur kebahagiaan seseorang hanya dari penampilan luarnya saja, Dim. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya mereka simpan di dalam hatinya."


Pesanan mereka sudah datang sejak tadi, tapi mereka belum juga menyentuhnya. Hanya sesekali mereka meneguk minuman untuk menghilangkan rasa haus karena cuaca yang cukup panas.


"Dan jangan pernah lagi membandingkan dirimu dengan orang lain, Dim. Tidak ada satupun yang sebanding denganmu. Karena bagiku, tempatmu adalah yang paling utama di dalam hatiku. Dirimu sudah berhasil menguasai hatiku seutuhnya, dan tidak akan ada yang bisa merebutnya darimu. Hanya kamu satu-satunya pemilik hatiku."


Dimas mulai menampakkan senyuman di bibirnya begitu mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir manis Alila.


"Aku minta maaf, Al. Aku tidak bisa menghilangkan rasa cemburuku ini. Aku terlalu mencintaimu sehingga aku selalu merasa takut akan kehilangan dirimu."


"Cemburu itu wajar karena ada cinta di hati kita. Yang tidak wajar itu jika kita terbelenggu rasa cemburu kita sehingga membuat kita menjadi tidak percaya pada orang yang kita cintai."

__ADS_1


"Asal kamu tahu, Dim. Aku juga sering merasa cemburu saat kamu bersama kekasihmu dulu. Aku cemburu pada mereka yang bisa membuatmu meninggalkan aku dan pergi berdua bersenang-senang."


Raut muka Dimas berubah seketika mendengar Alila berkisah tentang masa lalu mereka. Dia tidak mau mengungkit masa-masa itu lagi. Masa di mana dia hanya ingin mencoba rasanya digilai banyak wanita.


Dan akhirnya dia merasakan karma akibat keisengannya tersebut. Sekarang justru dirinya yang tergila-gila pada satu wanita yang sangat dia cintai, yang dulu pernah dia abaikan perasaannya.


"Al, jangan bicara tentang masa lalu itu lagi. Aku tidak mau kamu menjadi sedih karenanya."


Alila hanya tersenyum menatap wajah muram Dimas.


"Aku tidak seperti dirimu yang berlebihan, Dim. Aku bersedih secukupnya. Aku cemburu pun sewajarnya. Hanya satu yang berlebihan pada diriku, yaitu rasa cintaku padamu."


Alila menggoda Dimas agar lelaki itu tidak terus menerus marah dan muram. Dan benar saja, Dimas langsung tersenyum lebar mendengar ucapan kekasihnya.


Di cafe yang sama, seorang wanita duduk sendiri tak jauh dari meja yang ditempati oleh Dimas dan Alila. Hanya terhalang satu meja yang sudah ditempati oleh sekelompok anak muda. Dia sudah berada sana sebelum sepasang kekasih itu masuk ke dalam cafe.


Sejak awal wanita itu terus memperhatikan kebersamaan Dimas dan Alila. Dia juga menyaksikan kemesraan kedua orang yang dikenalnya itu. Ada sedikit rasa sakit di hatinya saat melihat mereka berpegangan tangan dan saling memandang dengan tatapan penuh cinta.


"Apa yang aku pikirkan dulu ternyata benar. Dan sekarang aku rasa kamu sudah menyadarinya, Dim..."


Wanita itu bergumam sendiri dalam hati sambil terus memperhatikan Dimas dan Alila.


Wanita itu kini bisa lebih leluasa memperhatikan Dimas dan Alila yang sedang menikmati makan siang di meja mereka.


Posisi duduknya tepat menghadap ke arah meja Dimas dan Alila yang berada di depannya sehingga dengan jelas dia bisa melihat dua orang yang duduk saling berhadapan itu.


Dimas dan Alila baru saja menyelesaikan makan siang mereka. Alila menyeruput minuman di gelasnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe yang masih ramai pengunjung.


Saat pandangannya beralih ke arah samping, dia melihat seorang wanita yang tengah duduk sendiri di mejanya sambil menatap ke arah mereka. Alila mengenal wanita itu dan wanita itu juga mengenalnya, meski tidak secara langsung.


Alila melemparkan senyuman ke arah wanita itu dan wanita itu pun membalas senyumannya dengan sedikit canggung.


"Kamu tersenyum pada siapa, Al?"


Dimas memperhatikan wajah Alila yang memasang senyuman dengan tatapan mata ke arah lain.


"Ada dia, Dim."


Dimas mengikuti arah pandangan Alila ke samping meja yang mereka tempati. Dan dia pun melihat keberadaan wanita itu.

__ADS_1


"Andita.." Gumam Dimas yang terdengar oleh Alila.


Tatapan wanita yang tak lain adalah Andita itu segera beralih ke arah Dimas. Namun Dimas buru-buru mengalihkan pandangannya kembali kepada Alila.


Andita yang memang sudah menyelesaikan makan siangnya sejak tadi bersiap untuk pergi. Dia berdiri dan meraih tas kerjanya lalu berjalan menghampiri Dimas dan Alila.


"Selamat siang, Dim, Al."


Andita mengulurkan tangannya ke arah Alila yang segera menyambutnya.


"Siang juga, An."


Bersamaan dengan itu Dimas segera melipat kedua tangannya di depan dada, menandakan bahwa dia tidak ingin bersalaman dengan Andita. Wajah dinginnya sudah mulai terlihat sejak dia melihat Andita tadi.


Andita hanya tersenyum getir melihat penolakan Dimas, tapi dia memakluminya. Dia tahu diri untuk tidak mengharapkan sikap lebih dari Dimas. Apalagi sekarang sudah ada Alila yang dia rasa telah menjadi kekasih Dimas saat ini.


(Kamu baru menyadari jika ucapanku waktu itu benar adanya, Dim. Tapi aku turut bahagia melihat dirimu yang sekarang. Kamu terlihat sangat bahagia bersamanya. Meskipun harus aku akui jika hatiku masih terluka karenamu, Dim.)


"Aku akan pergi. Maaf telah mengganggu waktu kalian. Tapi aku senang bertemu dengan kalian berdua. Semoga kalian selalu bahagia. Aku permisi dulu."


Andita meninggalkan Dimas dan Alila dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Meskipun hatinya masih terasa pilu, tapi dia merasa lega melihat Dimas yang telah membuka hatinya dan menyadari perasaannya yang sesungguhnya.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~


.

__ADS_1


__ADS_2