
Saat matahari telah mulai bersinar, Alila sedang membersihkan dirinya di atas tempat tidur dibantu oleh seorang perawat. Sementara Dimas dan Alano menunggu di luar ruangan.
Sekembalinya Alano dari jalan-jalan pagi di sekitar rumah sakit tadi, dia membawa sarapan untuk dirinya dan calon kakak iparnya, yang dibelinya di warung makan di seberang rumah sakit. Mereka menikmati sarapan bersama di luar ruangan tepatnya di sebuah bangku panjang yang tersedia, sembari menunggu Alila selesai membersihkan diri.
Setelah sarapan, Alano akan pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian sekaligus menjemput kedua orangtuanya. Dimas menitipkan kunci rumahnya pada Alano. Dia meminta tolong untuk diambilkan beberapa baju ganti di kamarnya, karena dia ingin terus menemani Alila di rumah sakit.
Dua puluh lima menit kemudian, perawat yang membantu Alila telah keluar dari ruangan. Dimas dan Alano segera masuk ke dalam ruangan. Terlihat Alila sudah berganti pakaian meskipun tetap mengenakan seragam pasien.
Wajahnya tampak lebih segar walaupun masih pucat. Tangan kanannya memegang sisir yang diambilkan oleh perawat dari dalam tasnya. Pelan-pelan tangannya bergerak naik dan turun merapikan helai demi helai rambutnya yang tergerai.
Dimas menghampiri dan berdiri di sisi kanan tempat tidur. Tangan kanannya menghentikan gerakan tangan Alila membuat wanita itu menatapnya. Tanpa mengatakan apa pun, tangan Dimas mengambil alih sisir yang dipegang Alila lalu menyisir rambut kekasihnya dengan pelan dan lembut.
Sangat hati-hati tanpa ingin menyakitinya, dia berusaha mengurai beberapa helai rambut yang saling bergelut kusut dengan tangannya, kemudian merapikannya dengan sisir. Membuat belahan rambut di sisi kiri lalu kembali menyisirnya hingga tertata sempurna.
"Terima kasih, Dim." Ucap Alila dengan senyum merona di wajahnya.
Hatinya bergetar karena perhatian kecil Dimas yang sederhana seperti itu telah berhasil mengembangkan perasaannya menjadi semakin cinta dan sayang.
"Apa kau ingin aku mengikatnya?" Tanya Dimas sembari merapikan anak rambut yang menutupi kening Alila.
"Biarkan seperti ini dulu." Jawab Alila.
Dimas berjalan pelan ke sisi kiri di mana tas Alila tersimpan di atas bangku kecil di samping tempat tidurnya. Dia menyimpan sisir Alila ke dalam tas, lalu kembali ke sebelah kanan Alila.
"Mbak, Mas, aku pulang sekarang. Aku akan mampir ke rumah mas Dimas dulu."
"Ya. Hati-hati, Lan. Setelah ini aku akan menelepon papa Dewa terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya kepada beliau."
Dimas menganggukkan kepala dan menatap kepergian Alano hingga menghilang di balik pintu ruangan yang kembali tertutup, meninggalkan dirinya dan Alila berdua di dalamnya.
Dimas melihat satu nampan berisi makanan dan minuman untuk sarapan Alila, yang telah diantarkan oleh seorang perawat sebelum Alila membersihkan diri tadi.
"Kamu sarapan dulu, Al."
Dimas memindahkan nampan itu ke atas meja lipat yang telah dia bentangkan dengan kaki meja berada di kedua sisi paha Alila. Kemudian dia duduk di tepi tempat tidur, berhadapan dengan wanita kesayangannya lalu membantu Alila minum sedikit air putih hangat sebelum memulai sarapannya.
Dimas mengambil separuh porsi nasi halus lalu dituangkannya ke dalam mangkok yang berisi sayur bayam. Tak lupa terlebih dahulu dia memotong kecil-kecil lauk ayam dan tempe goreng yang tersedia.
Setelah siap, dia mulai mengambil satu sendok nasi berikut sayurannya dan disuapkannya ke mulut Alila, setelah itu dia menyusulkan potongan ayam dan tempe sebagai pelengkapnya.
"Makan yang banyak, Al. Agar tubuhmu terisi tenaga dan cepat pulih."
Alila mengangguk dan berusaha menikmati sarapannya meskipun dia merasa tidak cocok dengan rasa masakan khas rumah sakit itu.
"Tidak enak ya?" Ucap Dimas sambil tersenyum tipis melihat Alila yang mengunyah dan menelan makanannya dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Rasanya hambar dan sedikit pahit di lidahku." Alila tetap berusaha untuk menyelesaikan makanannya sedikit demi sedikit.
Dimas sangat sabar dan telaten menyuapi Alila. Sesekali dia menyibakkan rambut Alila ke belakang agar tidak sampai mengganggu makannya. Beberapa kali juga dia mengusap bibir Alila dengan tisu makan yang tersedia, untuk membersihkan ceceran makanan di sekitar bibir mungil calon istrinya.
"Kamu selalu saja seperti anak kecil, belepotan di mana-mana..." Kata Dimas membuat Alila
memerah tetapi tetap berusaha mengelaknya.
"Suapan kamu yang terlalu besar, mulutku tidak cukup menampungnya.." Alila mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Kenapa bibirmu maju begitu? Apa mau aku cium?" Dimas memperhatikan bibir Alila yang selalu menggoda hasratnya.
"Tidak boleh..!" Alila menatap Dimas dengan mata sayunya seraya menutupi bibirnya dengan jemari tangannya.
"Mengapa tidak boleh? Apa kamu tidak menginginkannya?"
"Kamu sendiri yang bilang, Dim. Empat minggu lagi.."
"Jadi kamu juga menunggunya sampai kau menghitungnya?"
"Aku hanya mengulangi ucapanmu."
Dimas diam. Suapan terakhir untuk Alila sudah selesai sebelum mereka saling beradu kalimat tadi. Dia mengambil gelas berisi air putih untuk Alila dan dengan tangan kanannya dia membantu Alila meminumnya sebagai penutup sarapannya pagi ini.
Sehelai tisu telah dipegang Dimas di tangannya. Dia kembali duduk di tepi tempat tidur, lalu mengusapi bibir Alila untuk mengeringkan bibirnya usai minum air putih. Tidak menggunakan tisu yang dipegangnya, tetapi langsung dengan jemari tangannya sendiri, barulah dia membersihkan tangannya dengan tisu yang disiapkannya.
"Seperti yang selalu kukatakan padamu, aku ingin memilikimu seutuhnya, Al. Dan aku akan menunggu hingga waktu itu tiba, saat kita akan merasakan dan menikmati semuanya bersama-sama."
Dimas mengakhiri ungkapan hatinya dengan satu ciuman lembut di kening Alila, yang membuat wanita itu memejamkan mata dan menahan tangisannya.
Saat Dimas melepaskan ciumannya, dia mendapati Alila yang mulai membuka matanya dan menatapnya dalam diam.
Tangan kanan Alila bergerak mengambil tangan kanan Dimas dan membawanya menyatu di pangkuannya. Tangan kirinya yang masih terpasangi jarum dan selang infus juga ikut menumpuk di atas tangan Dimas.
"Ada apa, Al? Apa yang kamu pikirkan?"
Alila menggelengkan kepalanya. Kedua matanya terus menatap tak berkedip ke arah Dimas yang juga masih menatapnya.
Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, di mana dia dan Dimas bersama hanya sebatas sahabat. Sahabat yang dicintainya sejak awal pertemuan mereka dan tak disangka karena sebuah tugas kelompok membuat mereka berdua bersama dan menjadi dekat hingga sejak saat itu menjalin persahabatan berlima dengan Tama, Sandy juga Nayla.
Persahabatan romantis karena ada cinta di dalamnya. Ya, cintanya pada Dimas yang selalu menemani hari-harinya bersama Dimas, tanpa lelaki itu sadari.
Cintanya pada Dimas yang membuatnya bertahan untuk tetap berada di dekatnya meskipun hatinya seringkali terluka karena keisengan yang sengaja Dimas lakukan hanya untuk bermain-main dengan banyak wanita yang mendekatinya.
Dulu tak jarang dia berandai-andai, kalau saja Dimas mau bermain-main dengannya, menjalin hubungan tanpa cinta dengannya seperti yang dia lakukan dengan wanita lain, dia akan dengan senang hati menerima dan menjalaninya meski tahu itu hanya sebuah kepalsuan.
__ADS_1
Namun ternyata takdir berkata lain. Kenyataan yang terjadi jauh lebih indah dari angan-angannya. Tanpa perlu permainan, tanpa perlu kepalsuan dan kepura-puraan, takdir menyatukan hati mereka dengan cinta yang benar-benar nyata hadir di hati Dimas untuknya, sama seperti rasa cintanya pada lelaki itu yang telah tersimpan rapat di hatinya selama ini.
Takdir yang akhirnya mewujudkan impian Alila tentang adanya sebuah ikatan cinta yang nyata untuknya, walaupun dia harus menunggunya sekian lama untuk mendapatkan cinta yang sebenarnya untuknya. Dan ternyata dia mendapatkan cinta itu dari Dimas, lelaki yang telah dicintainya selama ini.
"Terima kasih atas cintamu untukku, Dim."
"Katakan ada apa, Al?" Desak Dimas.
Tangan kiri Dimas ikut menyatu di atas genggaman tangan Alila dan tangan kanannya. Kini kedua tangan mereka telah menyatu dan saling menggenggam satu sama lain.
"Tidak ada apa-apa, Dim. Aku hanya sedang mengingat masa lalu. Saat dulu aku dan kamu hanya sebatas sahabat. Saat dulu aku dan kamu selalu bersama tanpa ikatan cinta seperti saat ini."
Alila menjeda ucapannya dan menghela nafas panjang dan dalam. Mencoba menahan sesak di dadanya karena mengingat masa-masa penantian panjangnya dulu.
"Dulu, untuk berharap memilikimu pun aku tak berani, Dim. Walaupun aku sering berkhayal dan bermimpi tentang aku dan kamu yang bersatu, tapi sekalipun aku tidak berani memikirkan kemungkinan untuk benar-benar menjadi milikmu. Aku takut kecewa jika berani melakukan semua itu, Dim."
"Aku memang menanti, tetapi sekalipun aku tidak berani menunggu atas nama dirimu. Dalam doaku, aku hanya memohon akan hadirnya cinta yang nyata untuk aku miliki, tanpa berani untuk menyebut namamu dalam permohonanku."
"Aku memang selalu mendoakanmu di setiap waktuku, tetapi aku hanya mendoakan kebahagiaanmu saja, bukan berdoa agar kamu menjadi milikku. Sungguh aku hanya ingin kamu selalu bahagia, Dim."
Dimas mengurai genggaman tangan mereka menjadi dua genggaman, lalu membawanya bersamaan ke arahnya. Kemudian dia mencium satu per satu genggaman tangan mereka dan setelah itu meletakkannya di atas pangkuan Alila.
"Kamulah kebahagiaanku, Al. Aku selalu bahagia bersamamu. Hanya bersamamu."
Dimas melepaskan genggaman tangan mereka. Kini kedua tangannya meraih tubuh Alila dan memeluknya dengan penuh kasih. Alila pun membalasnya, memeluk pinggang Dimas dengan tangan kanannya diikuti tangan kirinya dengan perlahan.
Pelukan yang saling menghangatkan dan saling menenangkan hati mereka. Dua insan yang saling mencintai dan ingin selalu saling membahagiakan.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1