
"Sudah siap, Al?"
Dimas membuka bagasi mobil lalu memasukkan koper yang akan dibawanya, juga koper yang akan dibawa Alila ke rumah orangtuanya. Mereka sudah sepakat, selama Dimas pergi maka Alila akan tinggal di rumah orangtuanya karena Dimas tidak mau istrinya hanya tinggal sendirian di rumah mereka.
"Sudah, Dim. Perlengkapanmu yang lainnya sudah?" Alila selesai mengunci pintu rumah dan berjalan keluar menghampiri suaminya.
Dimas mengangguk sambil menunjukkan tas kerja yang masih ditenteng di tangan kirinya. Setelah menutup dan mengunci bagasi, dia membuka pintu belakang dan meletakkan tas kerjanya di atas kursi, di samping selimut yang biasa dipakaikannya pada Alila setiap wanita itu tertidur di dalam mobilnya.
Terlintas sesuatu di benaknya seraya mengambil selimut itu dan membawanya keluar. Dia melangkah ke belakang mobil dan membuka kembali bagasinya.
"Ada yang ketinggalan, Dim?" Tanya Alila yang sudah berdiri di samping mobil, setelah mengunci pagar rumah mereka. Pandangannya tertuju pada benda yang dibawa suaminya.
"Dirimu yang tertinggal, Al..." Senyum Dimas yang terlihat usil itu tetap membuat Alila tersipu meskipun dia tahu jika suaminya hanya bercanda.
"Selimut itu, kenapa kamu bawa keluar? Kemarin sudah aku cuci, sudah bersih dan wangi kembali. Jadi biarkan saja tetap di dalam mobil."
Dimas menggeleng. Dia membuka kantong bagian luar kopernya yang belum terisi dan memasukkan selimut itu ke dalamnya, setelah itu dia segera mengunci bagasi.
"Masuk dulu ke mobil, Al."
Alila menurut dan ikut masuk ke dalam mobil. Barulah kemudian Dimas bercerita.
"Aku ingin membawa selimut itu bersamaku, Al. Setiap aku melihat selimut itu aku selalu teringat padamu. Kamu selalu terlelap di balik selimut itu, dengan wajah cantikmu yang terlihat tenang, yang telah membuat hatiku bergetar indah untuk pertama kalinya..." Dimas jujur mengakui perasaannya kala itu.
"Bagaimana bisa, Dim?" Alila masih belum memahami maksud ucapan suaminya. Dia menatap penuh keingintahuan ke arah Dimas.
"Ya, Al. Mungkin sebenarnya sudah sejak lama hatiku tertarik padamu dan tanpa sadar aku selalu ingin bersamamu dan menjagamu lebih dari sahabat. Dulu aku juga tidak menyadari bahwa semua yang aku lakukan padamu itu adalah bentuk perhatian yang istimewa untukmu. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan denganmu, hanya seperti itu. Tapi ternyata....."
Dimas memutus ceritanya sejenak. Dia tersenyum mengingat masa-masa dulu, saat dirinya selalu bersama Alila di setiap waktu dan kesempatan.
"Tapi ternyata aku salah mengartikan kedekatan kita sehingga aku selalu menganggap hubungan kita hanya sebatas persahabatan. Sampai pada saat di mana aku merasa tidak suka dan tidak rela jika ada lelaki lain yang mendekatimu dan menyatakan perasaannya kepadamu."
"Jika bagi orang lain sikapku itu dianggap sebagai rasa cemburu, tapi bagiku semua itu hanya aku anggap sebagai bentuk perlindungan agar kamu mendapatkan seseorang yang terbaik, yang harus lebih baik dariku dalam menjaga dan melindungimu."
"Pada akhirnya pemikiranku tentang dirimu mulai berubah, Al. Sebuah getaran indah hadir mengusik hatiku ketika malam itu aku melihatmu tertidur lelap di dalam mobil. Tiba-tiba saja getaran cinta itu aku rasakan dan membuat hatiku bahagia saat melihatmu bersamaku. Bahkan, waktu itu aku hampir saja khilaf ingin menyentuh dan menciummu."
Alila terkesima mendengar kejujuran Dimas. Tidak menyangka jika kegiatan yang sering mereka lakukan berdua dulu, yang mereka sebut seperti biasanya itulah yang membuat Dimas jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1
"Sejak malam itu, aku mulai menyadari perasaanku yang sesungguhnya untuk dirimu, Al. Aku mulai membuka hatiku dan membiarkan semua perasaan itu masuk ke dalamnya. Rasa sayang, rasa rindu, rasa cemburu..., aku membiasakan diri untuk merasakan semua itu kepadamu, hingga aku yakin sepenuhnya bahwa yang aku rasakan itu adalah cinta yang sebenarnya untuk dirimu. Aku jatuh cinta padamu..."
Perasaan Alila saat ini tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Dia bahagia, sangat bahagia, terlalu bahagia mendengar pengakuan Dimas. Sebuah ungkapan perasaan yang sejujurnya dari lelaki yang sangat dicintainya selama ini dan akan selamanya dia cintai dengan segenap hati.
"Terima kasih, Dim." Alila memeluk Dimas dan menyandarkan kepalanya di tempat ternyamannya, di dada bidang suaminya.
"Aku sangat mencintaimu, Al. Jangan pernah lagi meragukan perasaanku padamu. Sebagaimana aku yang selalu percaya akan cintamu yang seutuhnya hanya untukku."
Dimas mencium kening Alila. Lembut, dalam, hangat dan penuh ucap syukur serta doa dan harapan untuk kebaikan hubungan mereka berdua.
Alila mengangguk pasti di dalam dekapan hangat suaminya. Pagi ini, hatinya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Tak ada lagi keraguan yang menelisik hatinya. Dia percaya sepenuhnya jika Dimas mencintainya dan akan selalu mencintainya.
.
.
.
"Aku akan sangat merindukanmu, Al. Jaga dirimu baik-baik. Jangan nakal!"
Dan memang benar apa yang sering dikatakan oleh banyak orang, jika hubungan setelah pernikahan itu akan menjadi lebih dewasa dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Jika dulu mereka berpisah lama dengan berat hati dan masih diliputi banyak kekhawatiran, lain halnya dengan sekarang. Mereka merasa lebih tenang dan lebih siap dalam menghadapi dan menjalaninya, karena raga dan hati mereka telah terikat sepenuhnya satu sama lain.
"Aku hanya nakal denganmu, Dim." Alila tersenyum dalam pelukan terakhir suaminya, sebelum mereka turun dari mobil. Mereka sudah sampai di halaman gedung perkantoran tempat Dimas bekerja.
"Terima kasih sudah mengijinkan aku membawa mobil sendiri."
Alila menarik kepalanya dari atas dada suaminya lalu mencium pipi kanan Dimas.
"Emm..., bolehkah sesekali aku keluar bersama Nayla atau teman kantorku?" Mata indah wanita itu menatap penuh harap kepada suaminya.
"Tidak, jika ada lelaki lain bersamamu. Ingat itu, Al."
Jawaban Dimas membuat Alila memberikan satu ciuman lagi di pipi kirinya.
"Ya, Dim. Aku mencintaimu, hanya mencintaimu..!"
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu..!"
Dimas mempererat pelukannya sebelum melepaskannya dan mengakhirinya dengan ciuman kasih sayang di kening Alila.
Namun tak disangka, Alila justru membalasnya dengan memberikan ciuman perpisahan yang lebih hangat dan lebih indah dengan menyatukan bibir keduanya. Tak ayal akhirnya mereka pun larut menikmati ciuman yang dalam dan basah seperti biasanya itu.
"Aku akan sangat merindukan ciuman dari bibir lembutmu ini. Cepatlah kembali, Dim. Aku menunggumu..."
"Akan aku berikan ciuman yang lebih lama dan lebih nikmat setelah aku pulang nanti, Al. Aku akan segera kembali untukmu..."
Setelah merapikan diri, mereka berdua turun dari mobil. Dimas mengambil koper dan tas kerjanya, lalu menyerahkan kunci mobil pada Alila.
"Hati-hati, Al. Jangan lupa kabari aku setelah kamu sampai di kantor."
"Iya, Dim. Kamu juga hati-hati di sana. Jangan kecapekan dan selalu jaga kesehatanmu."
Alila mencium punggung tangan kanan Dimas dan segera dibalas oleh lelaki itu dengan ciuman di kening wanita kesayangannya.
Alila masuk ke dalam mobil, kali ini dari pintu sebelah kanan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia bisa duduk kembali di belakang kemudi. Dan untuk pertama kalinya pula, dia memegang kendali atas mobil Dimas, karena selama ini dia hanya duduk sebagai penumpang setia yang selalu mendampingi sang pemilik mobil.
Dimas melepas laju mobil yang dikendarai Alila dengan senyum tipis di wajahnya yang mulai berubah dingin dan datar. Setelah mobilnya keluar dari gerbang utama, dia menarik kopernya dan berjalan menuju lobby gedung di mana Pak Albi dan beberapa anggota tim lainnya sudah datang lebih dulu dan menunggunya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
__ADS_1