Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
20 TETAP BERSAMA


__ADS_3

Malam Minggu, Dimas dan Alila kembali menikmati malam bersama. Tak ada yang istimewa, karena selama ini mereka sudah sering menghabiskan waktu berdua. Yang istimewa hanya hubungan mereka yang sekarang lebih dekat dan bukan lagi sekedar sahabat.


Dimas masih melajukan mobilnya membelah keramaian jalan raya yang sangat padat di akhir pekan seperti saat ini.


"Dim.."


"Ya, Al?"


"Bagaimana kita akan mengatakannya kepada yang lain?"


"Mengatakan apa?" Dimas menoleh sekilas menatap Alila lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya.


"Tentang kita."


"Mengapa kita harus mengatakannya?"


"Apa kamu ingin kita menyembunyikannya?"


"Tidak juga."


Alila menghela nafas untuk membuang emosinya yang sering muncul jika berbicara dengan Dimas yang terlalu acuh itu.


Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Dimas. Dia hanya perlu bersabar dan tetap tenang untuk menghadapinya.


(Aku sudah terlatih selama empat tahun untuk menghadapi sikapmu yang seperti ini, Dim.)


Dimas menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dia mengalihkan pandangannya pada Alila. Dengan segera dia meraih tangan Alila dan menggenggamnya dengan hangat.


"Biarkan saja seperti ini, Al. Nanti mereka juga akan mengetahui dengan sendìrinya."


"Aku takut mereka akan salah paham, Dim."


Sinar mata yang lembut itu menatapnya dengan sorot kekhawatiran.


(Mengapa mata indahmu itu selalu membuatku ingin berlama-lama menatapnya, Al.)


Lampu sudah berubah hijau. Dimas kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia menoleh ke arah Alila yang masih diam sedari tadi.


"Mereka tidak akan salah paham, Al. Hubungan kita juga bukan sebuah kesalahan."


"Tapi dulu, Sandy dan Nayla langsung bercerita kepada kita semua tentang hubungan mereka. Bahkan Nayla sering curhat padaku tentang perasaannya pada Sandy di saat mereka baru mulai saling menyukai.."


"Jangan samakan diri kita dengan orang lain, Al."


"Tapi situasi kita sama dengan mereka, Dim."


"Kita bukan mereka, Al. Hubungan ini milik kita, aku dan kamu. Dimas dan Alila, bukan Sandy dan Nayla."


"Aku hanya tak ingin mereka marah karena menganggap kita mengabaikan mereka. Seolah kita ingin menyembunyikannya dari mereka."


"Al, apa ini karena Tama?"


Dimas bertanya dengan intonasi dan sikap yang tenang. Seketika Alila membelalakkan matanya dan menatap Dimas dengan tajam.


"Hah? Tama? Ada apa dengan Tama?"


Alila justru bingung mengapa Dimas malah berpikiran tentang Tama.

__ADS_1


Dimas diam tak menjawab. Dia tetap melajukan mobilnya dengan tenang.


"Dim, kamu masih cemburu dengan Tama?"


"Tama ataupun orang lain, aku akan tetap cemburu jika mereka menyukaimu, Al."


Bukannya marah, Alila justru tersenyum bahagia mendengar jawaban Dimas. Dia merasa bahwa Dimas benar-benar mencintainya karena dia bisa memiliki rasa cemburu pada pria lain yang dekat atau ingin mendekati dirinya.


"Aku senang jika kamu cemburu, Dim."


"Aku cemburu karena aku tak mau kehilangan kamu, Al."


"Aku tahu, Dim."


Dimas menghentikan mobilnya di depan warung bakso kaki lima yang sudah menjadi langganan mereka sejak awal kuliah dulu. Sebelum mereka turun, Dimas meraih tangan Alila dan menyatukan dengan kedua tangannya.


"Aku ingin kamu tetap bersamaku, Al. Seperti selama ini, untuk saat ini, dan sampai seterusnya nanti. Jangan pernah jauh dariku."


"Aku juga menginginkan hal yang sama darimu, Dim."


Mereka berdua saling menatap dalam diam. Tak lama kemudian Dimas mengajak Alila keluar dari mobil dan berjalan menuju salah satu tikar kosong yang tergelar di sisi luar warung.


"Malam minggu berduaan saja nih. Yang tiga lagi mana, bos?"


Kang Budi langsung keluar dari dalam warung dan menyapa mereka. Mereka adalah pelanggan lama jadi Kang Budi sudah akrab dan tidak sungkan lagi.


"Ya, Kang. Yang lain mungkin lagi jalan sendiri-sendiri juga." Jawab Alila ramah dan penuh senyum. Dimas yang duduk di sampingnya hanya membalas dengan senyum tipisnya seperti biasa.


"Oke, tunggu sebentar. Saya siapkan dulu ya bakso spesial dan lemon tea hangatnya."


Semilir angin malam mulai menyapu tubuh mereka menimbulkan rasa dingin di permukaan kulit tangan dan wajah. Alila menggosokkan kedua telapak tangannya berulang kali lalu menempelkan di kedua pipinya.


Dimas menyandarkan tubuh ke tembok di belakangnya. Tangannya merengkuh lengan Alila dengan erat untuk merapatkan tubuhnya dengan tubuh Alila.


"Masih dingin, Al?"


"Sedikit, Dim. Angin malam memang seperti ini bukan?" Alila mengedarkan pandangannya ke arah jalanan yang ramai oleh lalu-lalang kendaraan.


Dimas tanpa henti terus menatap wajah Alila yang memerah dan tertutupi kedua tangannya.


(Rasanya ingin aku peluk seluruh tubuhmu erat-erat Al, agar kamu tidak merasa kedinginan lagi.)


Pesanan mereka sudah tertata di atas tikar.


Alila menyeruput minumannya beberapa kali untuk menghangatkan tubuhnya dari dalam. Melihatnya, Dimas segera meraih tangan Alila yang memegang gelas itu, lalu mengarahkan ke mulutnya sendiri dan ikut meminumnya.


Alila yang terkejut hanya terus menatap wajah Dimas. Dia terus menatapnya sampai Dimas menuntun tangan mereka ke bawah dan meletakkan gelas yang dipegangnya.


Gelas telah terlepas dari tangan Alila, berganti dengan genggaman hangat tangan Dimas yang kembali membawa tangan mereka ke hadapan wajah lelaki itu. Dengan mata terpejam Dimas mencium punggung tangan Alila dengan lembut dan lama.


Alila menahan nafasnya menyaksikan perlakuan Dimas padanya yang sangat lembut dan penuh cinta itu. Dimas masih terus menahan bibirnya di punggung tangan Alila, membuat Alila terharu dan memunculkan kristal bening di sudut matanya.


(Mengapa sikapmu menjadi semanis ini, Dim.)


Dimas mulai membuka matanya, seakan menyadari tatapan mata Alila padanya. Dia membalas tatapan mata Alila disertai senyuman yang dulu sangat jarang ditampakkannya.


Melihat buliran-buliran yang mengambang di sudut mata Alila, tangan kanan Dimas yang sedari tadi diam mulai terangkat ke wajah Alila dan menghapus airmata yang hampir menetes itu.

__ADS_1


"Ayo makan dulu, Al. Atau mau aku suapi?"


Alila membalas senyuman Dimas seraya menggelengkan kepalanya.


"Kita makan bersama-sama, Dim."


Dia mengambil satu mangkok bakso dan diserahkannya pada Dimas. Lalu dia mengambil mangkok yang satu lagi untuknya sendiri. Mereka menikmatinya bersama dengan pandangan yang tak lepas satu sama lain.


Mereka telah menyelesaikan makan malam. Dimas berdiri mendahului untuk membayar ke dalam warung Kang Budi. Dimas sudah kembali dan mengulurkan tangannya untuk membantu Alila berdiri. Setelah pamit pada Kang Budi, mereka masuk ke dalam mobil dan pergi berlalu.


"Al, ambillah selimut di kursi belakang itu."


Alila membalikkan badan dan mengambil selimut itu.


"Pakailah agar kamu tidak kedinginan. AC mobil sudah aku setel minimal."


Alila membuka selimut itu dan menutupkan ke seluruh tubuhnya agar merasa lebih hangat. Dia ingat, setiap dia terbangun dari tidurnya di dalam mobil Dimas, selimut itu selalu ada membungkus tubuhnya. Pastinya Dimas yang telah menyelimutinya, seperti biasa.


"Terima kasih Dim, setiap aku tertidur di mobil ini, kamu selalu menyelimutiku dan menyamankan posisi tidurku."


Dimas tersenyum dan sesaat melihat ke arah Alila yang telah menyelimuti tubuhnya.


"Tidurlah jika kau sudah mengantuk, Al."


"Tidak. Malam ini aku tidak ingin seperti biasanya. Aku ingin menemanimu."


"Mau menemaniku?"


"Ya."


"Ke mana pun?"


"Asal bersamamu, Dim."


"Aku tak ingin ke mana pun."


"Aku akan tetap bersamamu."


Alila tak menyadarinya, entah kapan Dimas menghentikan mobilnya. Tiba-tiba tangan kiri Dimas sudah berada di pinggangnya. Selimutnya pun telah lolos turun ke pangkuannya.


"Dim..."


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2