
Alila mempersiapkan koper yang akan dibawa oleh Dimas ke luar kota. Dia mulai menata beberapa setel pakaian kerja dan juga pakaian ganti casual milik suaminya. Tak lupa juga pakaian dalam dan perlengkapan mandi, semuanya ditata rapi di dalam koper berukuran sedang berwarna biru tua.
Diam-diam, Alila juga menyisipkan satu pakaian tidur berbahan terawang miliknya di antara tumpukan pakaian ganti untuk Dimas. Dia tersenyum malu sendiri menyadari tingkahnya yang aneh tersebut. Bahkan dia juga menyelipkan pakaian dalamnya di dalam pakaian tidur berwarna merah itu.
"Al..." Terdengar suara berat khas milik suaminya, membuat Alila buru-buru merapikan tumpukan pakaian di dalam koper lalu segera mengancingkan tali pengaman di bagian dalam kemudian menutup rapat koper berikut kunci gemboknya.
"Ya, Dim?"
Dilihatnya Dimas yang baru selesai mandi, berjalan ke arahnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang masih melingkar di lehernya. Dia hanya mengenakan celana pendek, sementara kaos yang sudah disiapkan Alila masih ditinggal di atas tempat tidur.
Sampai di samping tempat tidur, Dimas tidak langsung mengambil kaosnya. Dia meletakkan handuk di atas kursi, lalu berdiri merapat di belakang Alila dan memeluk erat tubuh yang selalu ingin disentuhnya itu.
Tubuh yang selalu membuatnya nyaman saat memeluknya dengan penuh cinta, tubuh yang selalu membuatnya rindu untuk menyentuhnya saat mereka sedang berjauhan. Dan besok, dia benar-benar akan merindukan tubuh milik istrinya yang juga sudah menjadi hak miliknya seutuhnya.
"Sudah siap semuanya, Al?" Dimas menempelkan dagunya di atas bahu Alila disertai ciuman-ciuman kecil di sekitarnya.
"Sudah. Hanya pakaian dan perlengkapan mandi saja, kan? Memangnya apa lagi?" Tanya Alila sambil memalingkan wajahnya ke samping dan memberikan ciuman hangat di pipi halus suaminya.
"Kamu. Kalau bisa, aku ingin membawamu serta bersamaku, sayang..."
Dimas membalas ciuman Alila dengan ciuman yang lebih lama di pipi ranum itu. Kemudian berlanjut menyusuri leher jenjang nan putih mulus milik wanita kesayangannya.
"Aku akan sangat merindukan semua ini..." Tangan yang melingkari pinggang Alila itu sudah berpindah merayap naik sedikit demi sedikit hingga menyentuh bagian sensitif di dada Alila dan membuat pemiliknya menggeliat manja.
Alila memutar tubuhnya berbalik menghadap Dimas yang sudah kembali memeluk pinggangnya. Tubuhnya berhadapan dengan tubuh yang masih polos tanpa kaos itu.
Sepasang mata indahnya terpukau menatap wajah menawan yang terlihat segar dengan hiasan percikan-percikan air dari rambutnya yang masih setengah basah dan teracak.
Tetesan air dari bagian kepalanya pun jatuh mengalir membasahi beberapa bagian tubuhnya, menampilkan pesona tersendiri bagi Alila yang memandanginya.
__ADS_1
Perlahan ujung jemari tangannya mulai menyentuh dada bidang yang selalu membuatnya nyaman setiap kali bersandar di atasnya. Dia terus menggerakkan jemarinya membuat lukisan berpola abstrak yang membuat pemiliknya tergelitik nikmat.
Sesekali sentuhannya turun lebih ke bawah, bermain-main di bagian perut yang tampak rata tanpa lemak, dengan tampilan otot kekar yang berbentuk kotak-kotak.
Dalam hati Alila terus memuji dan mengagumi pemandangan indah di depan mata yang selalu menggoda hasratnya untuk melakukan sesuatu yang sudah dirindukannya, atau lebih tepatnya lagi mereka berdua yang merindukannya, karena sudah beberapa waktu ini mereka harus menahannya karena kondisi Alila.
"Apa yang kau pikirkan, Al?" Tanya Dimas saat melihat tatapan mata yang berbeda dari istrinya. Tatapan yang mulai meredup dan berpaku pada satu titik di bagian bawah tubuhnya.
"Sama seperti yang kau pikirkan..." Alila mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata tajam yang juga telah terlihat sayu itu.
Suami istri itu memaku pandangan satu sama lain, saling melempar senyuman untuk saling menenangkan perasaan yang bercampur-aduk di hati mereka.
"Aku akan memupuk rindu yang bertumpuk-tumpuk dan akan terus menunggu sampai aku pulang dan melepaskan seluruh kerinduanku padamu." Ucap Dimas dengan suara parau.
"Dan aku akan setia menantimu sampai saatnya kau kembali bersamaku dan memberiku kehangatan cinta yang kita dambakan berdua..." Jawab Alila dengan segenap harapan dan keyakinan di hatinya.
Alila kembali menundukkan wajahnya, menatap tubuh Dimas yang masih menjadi perhatian utamanya saat ini. Dia ingin memuaskan hati menikmati apa yang terpampang nyata di hadapannya, karena besok dia harus mulai menahan diri karena akan berpisah dengan suaminya.
Bagi Alila, semua yang ada pada diri Dimas adalah keindahan sempurna yang tercipta untuknya, yang kini sudah menjadi miliknya seutuhnya, tanpa dia ingin membaginya dengan siapapun. Dimas adalah miliknya, hanya miliknya, selamanya.
"Ayo kita nikmati sisa hari ini dengan bahagia, Al. Jangan ada kesedihan dan airmata. Kita ciptakan kenangan terbaik untuk kita simpan di hati, agar kita bisa mengingatnya dengan senyuman saat kita saling merindukan di tempat yang berbeda..."
Dimas memupus jarak di antara tubuhnya dan tubuh Alila. Kedua tangannya melingkar semakin erat di pinggang istrinya, sementara kedua tangan Alila telah berpindah melingkari leher kokoh milik suaminya.
"Berikan aku kenangan terindah yang akan selalu mengingatkanķu bahwa dirimu hanya mencintaiku saja. Berikan aku kenangan yang paling romantis yang akan selalu meyakinkanku bahwa dirimu hanyalah milikku..." Alila memasrahkan dirinya pada Dimas, pada suami yang sangat dicintainya.
Dimas tersenyum mendengar ucapan Alila yang terdengar sangat indah dan begitu menggodanya. Diciumnya kening sang istri dengan segenap rasa cinta yang tengah membumbung tinggi di hatinya.
Dirinya mulai terbawa suasana manis nan romantis yang tercipta di dalam kamar pribadi mereka. Kamar yang selalu menjadi saksi setia terciptanya kisah asmara penuh gelora yang senantiasa menghangatkan ruangan itu setiap saat.
__ADS_1
"Apapun yang kau minta, sayang. Akan aku lakukan semua yang bisa membuatmu bahagia bersamaku. Akan aku berikan semua yang ada pada diriku untuk kau miliki..."
"Aku mencintaimu, Alilaku. Aku sangat mencintaimu, wanita kesayanganku. Aku selalu mencintaimu, pemilik hatiku. Aku mencintaimu, hanya kamu, hanya dirimu..."
Dimas membelai rambut hitam legam Alila yang terurai indah, lalu memberikan ciuman kasih sayang di puncak kepalanya dengan hati yang mulai bergetar dengan irama indah yang mengiringinya.
"Maafkan aku karena aku belum bisa melayanimu sepenuhnya, Dim." Sesal Alila karena di saat seperti ini dia tidak bisa menyerahkan diri seutuhnya pada sang suami.
"Apapun keadaanmu, kamu selalu memuaskanku, Al. Jika tak bisa sekarang, maka di saat aku kembali nanti pastikan dirimu akan menggantinya dengan memberiku semua kenikmatan untuk kita rasakan bersama..." Jawab Dimas dengan senyuman penuh arti.
"Aku tidak sabar menantikan saat itu tiba, Dim. Aku juga menginginkanmu, sangat menginginkanmu..."
"Aku mencintaimu, sayang..." Bisik Alila di telinga sang suami.
Untuk kedua kalinya Alila memanggil Dimas dengan panggilan sayang. Dan kali ini tanpa dia minta, Alila mengucapkannya sendiri dengan penuh kejujuran, membuat hati lelaki itu membuncah bahagia tak terkira.
Selanjutnya, tak ada lagi ucapan yang keluar dari bibir mereka yang telah menyatu begitu dalam. Yang ada hanya suara cinta yang mendesah penuh hasrat, menuntun keduanya untuk terus saling menikmati dan memuaskan satu sama lain, meskipun tak bisa meraih puncak kenikmatan sebagaimana seharusnya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.