Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
26 CINTA YANG SEBENARNYA


__ADS_3

"Al..."


Sepasang bola mata lelaki itu menatapnya lekat-lekat. Alila yang semula mengalihkan pandangannya, mulai membalas tatapan mata Dimas.


"Apakah kamu merasa senang? Emm.., maksudku bertemu dengan keluargaku.."


Tadi saja kamu bilang takut aku marah, tapi sekarang malah bertanya aku senang atau tidak.."


"Karena aku melihat sikap keluargaku yang menerimamu dengan baik, Al."


"Kamu ingin aku bagaimana?"


"Jangan marah karena aku tidak memberitahumu sebelumnya, Al. Karena mereka pun tidak tahu jika yang akan aku bawa kemari adalah dirimu.."


"Maksudmu?"


"Kemarin mereka memintaku untuk mengenalkan kekasihku dan membawanya datang kemari. Mereka ingin tahu apakah aku serius atau tidak dengan hubungan yang aku jalani."


"Aku menyanggupinya, Al. Karena aku sudah yakin dengan perasaanku, dengan pilihan hatiku, dan dengan hubungan kita. Oleh karena itu, aku berani membawamu bertemu orangtua dan keluargaku."


(Benarkah semua ucapanmu itu, Dim?)


Alila menatap mata Dimas tanpa berkedip. Dia bukannya tak percaya dengan pengakuan lelaki yang dicintainya itu. Dia hanya tak percaya jika cinta yang sekian lama dia pendam dan dia simpan sendiri dihatinya, kini telah mendapatkan balasan rasa yang sama dari Dimas.


Dia tak ingin terjebak dengan perasaannya sendiri. Dirinya memang mencintai Dimas. Sangat mencintainya. Tapi selama ini dia sudah terbiasa mencintai tanpa dicintai.


Dia melewati setiap waktunya bersama Dimas tanpa pernah memiliki hatinya, bahkan tanpa Dimas tahu perasaannya yang sesungguhnya untuk lelaki itu. Dia selalu berlindung di balik ikatan persahabatan yang sudah lebih dulu terjalin di antara mereka.


Sementara Dimas, dia terlalu dingin untuk mengenal arti cinta yang sesungguhnya. Selama ini dia hanya sekedar ingin mencoba dan bermain-main dengan perasaannya sendiri.


Dia tak peduli dianggap playboy yang suka bergonta-ganti kekasih. Padahal kenyataannya dia selalu bersikap dingin dan acuh pada pasangannya.


Dia memanfaatkan pesonanya yang membuat banyak wanita berlomba ingin mendapatkan hatinya. Namun nyatanya, hatinya tidak pernah tersentuh sekalipun oleh para wanita di sekelilingnya.


Hingga pada akhirnya, rasa cinta itu benar-benar menyapa hatinya yang selama ini hampa dan tertutup rapat. Hatinya mulai merasakan getaran indah yang belum pernah dia alami sebelumnya. Jiwanya mulai merindukan kehadiran seseorang untuk selalu menemani di sisinya.


Cinta yang sebenarnya itu telah tumbuh dan bersemi dalam hidup Dimas, hadir menghiasi dan mewarnai hari-harinya bersama Alila.


"Al..."

__ADS_1


Mata Alila mengerjap untuk menghalau pikiran yang menghampirinya tadi. Dia menatap mata Dimas yang masih tertuju padanya.


"Kamu memikirkan sesuatu?"


Alila hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Dimas, membuat lelaki itu menghela nafas perlahan.


"Apakah kamu masih meragukan perasaanku padamu, Al?"


Dimas melepaskan tangan Alila dan segera menarik tubuh wanita itu semakin mendekat padanya. Kedua tangannya beralih ke pinggang sang kekasih, mengunci tubuh itu agar tetap merapat dengan tubuhnya.


Alila yang terkejut spontan menempelkan kedua tangannya di atas bahu Dimas. Pandangan mereka bertemu hampir tanpa jarak. Semakin lama semakin dalam seolah menembus jauh ke relung hati keduanya.


"Sudah kukatakan padamu, kehadiranmu begitu berarti bagiku. Aku merasa sangat nyaman bersamamu, Al. Dan rasa nyaman itulah yang telah membuka pintu hatiku untuk membawa masuk dirimu ke dalamnya dan akan menetap di sana selamanya."


Alila terkesima dengan kata-kata Dimas. Tatapan mata mereka semakin lekat. Dia tahu Dimas tidak berbohong. Apa yang diucapkannya adalah apa yang dirasakannya.


"Aku percaya padamu, Dim."


Dimas mulai menampakkan senyuman. Senyum yang sangat jarang ditunjukkannya pada orang lain. Senyum yang berharga terlalu mahal untuk seorang Dimas yang selalu bersikap dingin dengan orang-orang di sekitarnya.


"Terima kasih, Al."


Sesaat mereka saling memperdalam tatapan mata mereka dan mengembangkan senyuman yang sama di bibir keduanya, hingga akhirnya Alila menyembunyikan wajahnya yang telah merona di balik bahu Dimas.


Dia melebarkan senyumannya dan menitikkan beberapa bulir air mata bahagianya di sana, namun buru-buru dihapusnya sebelum diketahui oleh sang kekasih hati.


(Aku sangat bahagia, Dim.)


Beberapa menit berlalu dalam posisi yang penuh kehangatan itu, hingga mereka menyadari jika masih berada di area dapur.


"Dim, kita ke depan saja."


Alila menarik wajahnya dan melepaskan tangannya menjauh dari Dimas. Dimas akhirnya menurut, melepaskan pelukannya dari pinggang Alila, dan membiarkan serta mengikutinya melangkah ke ruang tamu.


"Al, kita pesan makan siang lewat aplikasi saja ya?"


Dimas sudah duduk di samping Alila sementara kedua tangannya sibuk dengan ponsel, memilih dan memesan makanan kesukaan kekasihnya. Setelah selesai dengan pesanannya, dia meletakkan ponselnya di atas meja.


Dia memalingkan wajahnya ke samping. Betapa terkejutnya Dimas begitu mendapati tubuh Alila telah rebah di atas kursi dengan kaki masih menjuntai ke lantai. Wanita itu tertidur dengan posisi tubuh menyamping tanpa peduli tempat yang tidak nyaman, di kursi panjang ruang tamu.

__ADS_1


Segera saja Dimas bangkit dari duduknya. Dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati, diangkatnya kedua kaki Alila dan diluruskan di atas kursi. Lalu dia bergegas mengambil bantal sofa di ruang tengah.


Dia berlutut tepat di depan wajah Alila, mengangkat kepalanya dengan satu tangan dan tangan yang lain secepatnya meletakkan bantal di bawahnya lalu mengembalikan kepala Alila di atas bantal tersebut.


Setelah selesai melakukannya, Dimas tersenyum menatap wajah cantik yang telah terlelap itu. Kini dia duduk bersila, masih tetap di depan wajah Alila. Tangan kirinya berada di tepian kursi sementara tangan kanannya sibuk menyibaki helaian rambut yang menutupi wajah Alila dan menyelipkan di balik telinganya.


(Kamu tetap saja cantik meskipun sedang terlelap, Al.)


"Kamu pasti sangat lelah hari ini, Al.." Ucap Dimas lirih sembari terus menatap wajah kekasih hatinya.


Tiba-tiba tangan Alila bergerak pelan. Sebelumnya, kedua tangan itu saling menangkup di samping wajahnya. Sekarang tangan kirinya melunglai turun hingga menyentuh tangan Dimas yang berada di tepian kursi.


Pandangan Dimas beralih ke tangan kiri Alila. Dia melihat cincin yang baru tadi pagi dia lingkarkan di jari manisnya. Tampak sangat indah menghiasi tangan lembut Alila.


Perlahan diraihnya jemari itu lalu dia menciuminya beberapa kali dan diakhiri dengan satu ciuman tepat di atas cincin tanda cintanya.


"Aku mencintaimu, Alilaku."


Dimas dengan sabar terus menunggui Alila di sampingnya. Beberapa kali dia mengambil foto wajah Alila yang tertidur pulas itu. Dia tersenyum tanpa henti saat melihat hasil foto di galeri ponselnya.


Tiga puluh menit berlalu dari saat Dimas memesan makanan, terdengar suara motor berhenti di halaman rumahnya. Dia segera keluar dan menemui seorang driver ojek online yang mengantarkan pesanannya.


Tak lama kemudian driver itu pergi dan Dimas masuk membawa dua plastik makanan dan minuman pesanannya. Melihat Alila masih tertidur, Dimas meletakkan pesanannya di atas meja. Dia hanya mengeluarkan semua dari plastik dan menatanya.


Setelah itu dia kembali duduk bersila di samping Alila. Rasa kantuk yang juga menghinggapinya, akhirnya membuat Dimas tertidur dengan kepala bersandar di tepian kursi, tetap setia di samping Alila.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


Author


__ADS_2