
Pintu sudah terbuka lebar karena didorong oleh Alano, lalu Papa Dewa dan Mama Dian masuk bersama dan diikuti Alano setelah menutup kembali pintunya.
Dimas menyambut kedua mertuanya dengan salam dan ciuman tangan, juga bersalaman dan berpelukan dengan Alano. Dia mempersilahkan mereka mendekati Alila yang sudah tersenyum melihat kedatangan keluarganya.
Tangan kanannya terulur ke arah mamanya bergantian dengan papanya dan adiknya. Setelah itu Mama Dian membungkuk dan memeluk putri sulungnya.
Tak pelak, pelukan hangat dari sang mama yang bermaksud memberinya kekuatan, membuat senyum di wajah Alila hilang seketika dan berganti dengan isak tangis lirih yang ditumpahkannya seraya memeluk erat sang mama.
Dimas dan yang lainnya terdiam menyaksikan pemandangan haru ibu dan anak tersebut. Ketiga lelaki kesayangan Alila itu menghela nafas panjang hampir bersamaan, demi menahan sesak di dada karena hampir larut dalam tangisan dua orang wanita terkasih mereka.
Dimas terus menatap wajah Alila yang terlihat sendu di balik bahu mama Dian. Wajah yang telah berubah memerah karena isak tangisnya yang tak juga berhenti.
Dia bisa merasakan kesedihan mendalam istrinya yang harus menyembunyikan sesuatu yang begitu menyakitkan hati tetapi tak ingin diungkapkannya kepada siapa pun.
"Tidak apa-apa, sayang. Menangislah sepuasmu. Tetapi setelah itu, kamu harus terus tersenyum dan melupakan semua kesedihanmu. Ingatlah, bukan hanya kamu saja yang sedih, tetapi suamimu juga. Jadi, kalian harus saling menguatkan satu sama lain."
Nasehat Mama Dian membuat mata Alila terbuka dan mencari keberadaan Dimas, yang ternyata sudah menatapnya sedari tadi dari ujung tempat tidur.
Begitu melihat Alila menatapnya, Dimas menampilkan senyuman manisnya disertai anggukan pelan ke arah sang istri, seolah ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Alila merasa menemukan kekuatannya kembali setelah menatap dalam kedua mata Dimas yang memancarkan keteduhan untuknya.
Dia melepaskan pelukannya dari sang mama membuat mamanya kembali duduk tegak di sampingnya. Alila segera menghapus sisa airmatanya meskipun isakannya masih terdengar sesekali dalam tarikan nafasnya.
"Terima kasih, Ma." Dia tersenyum dan menatap sang mama yang juga tersenyum seraya mengusap lembut kepalanya.
"Kalian masih sama-sama muda. Masih banyak waktu untuk berusaha lagi. Lagipula, kalian juga sama-sama sehat dan subur. Buktinya, baru satu bulan menikah kamu sudah bisa hamil secepat ini, Al."
Papa Dewa meyakinkan putrinya agar tidak lagi bersedih dan putus harapan hanya karena kejadian yang baru saja dialaminya. Dan Alila pun menganggukkan kepala seraya menatap papanya.
"Iya, Pa..." Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Siapa yang hebat nih? Mas Dimas apa kamu, mbak? Baru saja menikah sudah langsung tokcer..." Alano tertawa tanpa bersuara.
Dia tidak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan celetukannya. Dia juga ingin menghibur kakak kesayangannya, karena di dalam hatinya dia juga turut bersedih atas apa yang dialami Alila.
Wajah Alila yang sudah merah karena menangis, semakin memerah lagi mendengar ucapan adiknya yang tanpa saringan. Alano yang berdiri di sebelah kakak iparnya jadi ingin menggodanya lagi.
"Pasti setiap malam semangat banget lemburnya, terutama kamu ya, mbak? Betul kan, mas..?!"
Alano memainkan kedua alisnya naik-turun menggoda Alila dan juga Dimas yang hanya menanggapinya dengan senyum tipis, karena lelaki itu mengerti jika adik iparnya hanya ingin menghibur kakaknya dengan keusilannya.
"Sampai kapan kamu harus dirawat di sini, Al?" Papa mengalihkan pembicaraan Alano dengan pertanyaannya.
"Tiga hari, Pa. Setelah itu masih harus dilanjutkan istirahatnya di rumah sampai satu minggu, baru kemudian diperbolehkan memulai aktivitas normalnya lagi." Dimas yang menjawab pertanyaan dari papa mertuanya.
"Sebaiknya setelah keluar dari rumah sakit, kalian tinggal dulu di rumah kami, agar Alila tidak merasa kesepian jika kamu tinggal bekerja, Dim." Saran Papa.
"Betul, Al. Pasti kamu juga belum boleh banyak bergerak dulu. Kalau tinggal bersama kami, mama jadi bisa membantumu selagi Dimas tidak ada di rumah." Mama Dian menyetujui permintaan suaminya.
Alila kembali menatap ke arah suaminya. Sejujurnya dia juga rindu dengan rumahnya. Sudah satu bulan lebih dia meninggalkan rumah orangtuanya untuk tinggal mandiri berdua bersama Dimas di rumah mereka sendiri.
Dimas melihat tatapan kerinduan di mata Alila setelah mendengar ucapan kedua orangtuanya. Dirinya juga tidak akan tega untuk meninggalkan Alila yang masih sakit, sendirian di rumah mereka seharian saat dia harus bekerja.
"Ya, Pa, Ma. Kami akan tinggal sementara waktu di sana. Maaf sebelumnya jika kami akan merepotkan papa dan mama, juga kamu, Lan..."
Dimas tersenyum membalas tatapan mata indah istrinya, lalu beralih kepada mertuanya dan Alano di sampingnya. Bibir pucat Alila menampakkan senyuman bahagianya, karena Dimas menuruti keinginannya sekaligus permintaan orangtuanya.
Malam kian larut, namun Alila masih terjaga setelah tadi dia pura-pura tertidur agar Dimas ikut tidur di sampingnya. Berulang kali dia meminta agar suaminya tidur di sofa saja, tetapi tetap saja Dimas bersikeras ingin tidur menemaninya.
Mereka hanya berdua di dalam ruangan Alila karena sekarang mereka sudah menikah sehingga tidak perlu ditemani Alano lagi seperti dulu.
Alila membuka matanya setelah memastikan Dimas sudah benar-benar tertidur. Lelaki itu terlelap dalam posisi duduk di kursi dengan kepala yang dia rebahkan di tepian kasur tempat tidur istrinya.
__ADS_1
Tangan kirinya terus memegang tangan kanan Alila di samping wajahnya yang terlihat lelah. Sementara tangan kanannya memeluk perut istrinya.
Alila terus memandangi wajah Dimas yang telah terlelap menghadap miring ke arahnya. Dengan leluasa dia bisa menatap wajah nan menawan tersebut. Sudut bibirnya terangkat bersamaan dan membentuk seulas senyuman bahagia.
Rasa haru bercampur bangga menyeruak di rongga dadanya, memunculkan desiran halus yang semakin membuncahkan perasaannya.
Setiap saat dia selalu mensyukuri anugerah terindah yang kini telah dia miliki untuk selamanya. Seorang lelaki yang sangat dicintainya, yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Pelan-pelan dia menarik tangan kanannya yang masih berada di bawah tangan Dimas. Lelaki itu sedikit menggeliat merasakan pergerakan halus tangan Alila, namun segera terlelap kembali setelah tangan istrinya mengusapi kepalanya dengan lembut dan penuh kasih.
(Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu...)
Di dalam hati, Alila tak berhenti mengungkapkan perasaannya kepada lelaki yang sangat dicintainya itu. Seringkali dia masih merasa tak percaya, bila impiannya telah menjadi kenyataan. Perasaannya akhirnya terbalaskan. Cintanya bersambut hangat.
Di sisi lain di relung kalbunya yang terdalam, dia merasa sangat bersalah karena telah menorehkan luka di dalam diri suaminya. Luka hati karena peristiwa yamg baru saja dialaminya.
Sejujurnya, kini dirinya merasa tidak percaya diri untuk bersanding bersama Dimas. Dia merasa sudah menjadi wanita yang tak lagi sempurna, wanita yang tidak lagi utuh karena sesuatu yang telah terambil dari dalam tubuhnya.
(Maafkan aku yang masih selalu menyusahkanmu. Membuatmu sedih dan kecewa. Maafkan aku yang belum bisa memberimu kebahagiaan yang kita harapkan bersama...)
Tanpa terasa, airmata Alila mulai luruh mengalir menganaksungai di kedua pipinya.
(Aku tidak ingin kehilangan kamu, Dim. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkan aku...)
Kesedihan mendalam tampak jelas di wajah Alila diikuti tatapan matanya yang terlihat sayu.
(Jangan pernah pergi dariku, Dim. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku mohon, tetaplah bersamaku, walau apapun yang akan terjadi. Aku takut... Aku tak bisa... Sungguh aku tak sanggup jika harus hidup tanpa dirimu di sisiku...)
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
__ADS_1
Salam cinta dari kami.
💜Author💜