Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
100 SEPENUHNYA MILIKMU


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Dimas sudah diperbolehkan pulang dan menjalani pemulihan kesehatan di rumah.


Alila pun sudah kembali bekerja, setelah satu minggu lamanya dia beristirahat sembari menemani Dimas di rumah sakit.


"Jangan lupa, sayang. Nanti sore jadwal kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisiku."


Dimas terus menatap sang istri yang sedang merapikan rambut dan riasan wajahnya, sebelum dia berangkat ke tempat kerja. Sejak Dimas sakit, Alila membawa mobil sendiri ke kantornya.


"Iya, Dim. Aku tidak akan pulang terlambat. Semua tentang kamu itu selalu aku ingat, sayang."


Alila menghampiri Dimas yang duduk di atas tempat tidur. Kaki kanannya masih terbalut gips sehingga belum leluasa untuk ditekuk.


Karena kondisinya itu pula, untuk sementara mereka pindah ke kamar tamu di lantai bawah, agar Dimas tidak perlu naik-turun tangga.


Alila duduk di samping kirinya, Dimas langsung menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Yang dipeluk pun pasrah, merebahkan kepalanya di atas dada suaminya.


"Aku akan merindukanmu, selalu rindu..."


Dimas mencium puncak kepala Alila dengan sayang, lalu membelai rambutnya. Alila tersenyum merasakan cinta kasih suaminya yang selalu membuat hatinya bergetar.


"Seperti biasa, aku akan pulang saat istirahat siang nanti."


Diciumnya pipi Dimas, sebelum dia melepaskan pelukannya. Sudah waktunya berangkat ke kantor. Seluruh keperluan Dimas pun sudah dia selesaikan. Memandikan, menyuapi sarapan, minum obat, selalu dia dahulukan sebelum dirinya bersiap sendiri.


"Aku tinggal dulu. Aku mencintaimu." Alila mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan ciuman Dimas di keningnya.


"Hati-hati, sayang. Aku mencintaimu." Dibelainya ujung kepala Alila dengan tatapan mata penuh cinta.


Alila meninggalkan senyuman terbaiknya untuk sang suami tercinta. Kemudian dia keluar dari kamar dan berpamitan pada Mama Kirana dan Bi Ani.


Selama kondisi Dimas masih dalam perawatan dan kakinya belum sembuh, Mama Kirana memutuskan untuk tinggal dan menemani putranya di rumah mereka.


Selain itu, Papa Dewa juga menyewa jasa asisten rumah tangga paruh waktu, untuk membantu mengurusi pekerjaan rumah tangga di rumah anak dan menantunya tersebut, agar saat di rumah Alila lebih fokus untuk menjaga suaminya dan melayaninya dengan baik.


Selepas kepergian istrinya, Dimas membuka laptop yang sudah disiapkan Alila di atas tempat tidur. Dia mulai membuka email dan dokumen pekerjaannya.


Sudah terlalu lama dia meninggalkan pekerjaannya, dan dia merasa bertanggung jawab untuk segera menyelesaikan semua yang tertunda akibat sakitnya. Karena itulah dia memutuskan untuk tetap mengerjakan semuanya dari rumah.


Baru saja membuka layar kerjanya, ponselnya berdering dengan tanda pesan masuk. Diambilnya ponsel yang ada di sampingnya. Terlihat adanya pesan dari Pak Albi.


"Proses penyidikan polisi sudah selesai. Mereka akan segera mengajukan kasusnya ke pengadilan."


Dimas memikirkan sesuatu. Dia merasa tidak tega jika Arsa dan orang suruhannya dipenjara. Apa lagi, Aris adiknya adalah teman Alila. Secara pribadi, Dimas keberatan jika kasus ini berlanjut.


Namun beberapa hari yang lalu, dirinya sudah berkonsultasi dengan Pak Albi. Dan dari hasil pertemuan Pak Albi dengan pihak yang berwajib, diketahui bahwa kasus tersebut akan tetap dilanjutkan ke tingkat peradilan, sesuai undang-undang yang ada. Meskipun Dimas sebagai korban sudah memaafkan dan tidak melakukan tuntutan apa pun, hal tersebut tidak bisa membatalkan proses hukumnya.


Akhirnya Dimas hanya bisa menyerahkan semuanya kepada pengadilan. Dia hanya bisa membantu Arsa dengan memberikan surat pernyataan tidak adanya tuntutan dari pihaknya dan sudah terjadi perdamaian dari kedua belah pihak. Walaupun sebenarnya, hanya Aris yang mewakili permohonan maaf Arsa kepadanya.


"Saya serahkan sepenuhnya kepada Bapak dan pihak yang berwajib. Saya hanya berharap, hukumannya bisa dikurangi dan diringankan seminimal mungkin."


"Baik, Dim. Saya akan membantu untuk menyelesaikan kasus ini. Jangan terlalu dipikirkan lagi. Fokus saja pada kesembuhanmu."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak."


Dimas menghela nafas panjang. Satu per satu masalah sudah terkuak dan terselesaikan. Benar kata Pak Albi, yang terpenting sekarang adalah pemulihan kondisi fisiknya, terutama kaki kanannya yang masih membutuhkan waktu lama untuk kembali normal.


(Aku harus segera sembuh. Aku tidak mau terlalu lama menjadi beban bagi istriku, istri yang sangat aku cintai. Aku ingin kembali menjaganya, melindunginya dan memanjakannya seperti dulu...)


.


.


.


Sepulang kerja, Alila segera membantu Dimas mandi, disusul kemudian dirinya yang mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


Dalam perjalanan, Dimas merasa aneh karena sekarang dia yang harus duduk di kursi penumpang, di sebelah Alila yang memegang kendali mobil.


"Maafkan aku, Al. Harusnya aku yang menyetir mobil, bukan kamu."


Sepanjang perjalanan, mata lelaki itu tak lepas memandang istrinya. Sementara yang diperhatikan terus saja tersenyum dengan tulus dan penuh kasih.


"Jangan sedih seperti itu, Dim. Aku hanya membawa mobil. Bukan membawa pergi hatiku darimu."


Alila menggoda suaminya yang masih bermuka masam. Tapi reaksi Dimas justru semakin mengejutkan.


"Jangan bicara seperti itu lagi, Al. Aku tidak suka!"


Sorot matanya menajam namun tersirat ketakutan di dalamnya.


Alila diam. Dia tahu jika Dimas sudah bersikap seperti itu, bicara apa pun padanya akan tetap memancing emosinya. Dia lantas fokus memperhatikan jalanan di depannya, namun sesekali melirik ke arah suaminya yang masih terlihat marah.


Dimas bukannya marah. Sebenarnya dia hanya menutupi rasa takutnya. Takut kehilangan Alila. Takut ditinggalkan Alila. Perasaan itu muncul begitu saja setelah mengalami kecelakaan dan membuatnya sakit dan lemah seperti saat ini.


Mobil mereka telah sampai di area parkir rumah sakit. Alila memilih tempat yang paling dekat dengan pintu masuk, agar Dimas tidak terlalu jauh berjalan karena dia masih menggunakan dua tongkat penyangga.


Alila mematikan mesin mobil, tetapi tetap mengunci pintunya. Setelah itu dia memutar tubuhnya ke arah kiri, menatap sang suami.


Dimas tahu Alila tengah menatapnya tapi dia memilih untuk memejamkan mata, menghindari tatapan lembut sang istri.


"Selesaikan dulu emosimu, baru kita akan keluar dari sini."


Alila berucap dengan nada serendah mungkin, agar Dimas tidak salah paham lagi. Kemudian dia diam lagi, menunggu sampai akhirnya Dimas membuka mata lagi dan membalas tatapan istrinya.


"Maafkan aku, Al. Jika aku terlalu lama merepotkanmu dengan sakitku ini..."


Alila tersenyum mencoba menenangkan hati suaminya.


"Kamu sedang sakit, Dim. Dan sudah kewajibanku untuk merawatmu dan melayanimu seperti ini. Semua ini adalah hal-hal yang wajar dan biasa terjadi antara suami dan istri."


Dimas masih belum merasa lega. Masih ada yang mengganjal di hatinya.


"Aku hanya......" Dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku takut kamu pergi. Aku takut kamu meninggalkan aku. Aku....., aku takut kehilangan kamu, Al."


Alila tak mengerti maksud ucapan Dimas. Wajah lelaki itu terlihat serius, dan menunjukkan raut ketakutan.


Tangan Alila sudah berpindah tempat, diraih dan digenggam erat oleh Dimas di dadanya. Alila bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu dengan cepat.


"Aku merasa lemah dan tidak berguna karena kondisiku ini. Aku takut kamu tidak lagi merasa nyaman bersamaku lalu....."


Alila menghentikan ucapan Dimas dengan sebuah ciuman. Ciuman hangat nan lembut di bibir suaminya. Dia terus mencium Dimas dengan tangan yang telah ikut berpindah melingkari leher lelaki tercintanya itu.


Setelah dirasanya Dimas tenang dan nyaman, Alila menyudahi ciumannya tanpa melepaskan tangannya dari Dimas.


"Aku akan selalu bersamamu, Dim."


Dimas mengangguk pelan lalu kembali menarik tangan Alila untuk digenggamnya dan dicium dengan segenap perasaan.


"Kamulah rumahku, tempatku kembali pulang. Kamulah cintaku, tempatku memupuk bahagia. Kamulah takdirku, hidup dan kehidupanku adalah dirimu, Al."


"Dan kamu adalah imamku, penuntun langkahku, cahaya hidupku. Aku tidak akan pernah bisa jauh darimu, Dim."


Alila memeluk Dimas dan menyandarkan diri di dada sang suami. Dimas pun membalas pelukan istrinya, mendekapnya dan mencium keningnya.


"Hanya kamu yang aku mau, Al."


"Aku sepenuhnya milikmu, Dim."


.


.


.


Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA /CINTA NARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ


.


__ADS_1


__ADS_2