
Fajar mulai menjelang, dua lelaki muda telah terbangun dan melakukan kewajiban subuhnya. Sementara satu wanita cantik masih tertidur dengan wajah tenang dan tak lagi pucat.
Alano kembali tiduran di atas sofa sambil bermain dengan ponsel di tangannya. Dimas keluar meninggalkan ruangan untuk membeli minuman hangat di kantin rumah sakit. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan tiga gelas teh hangat di dalam kantong plastik yang terpisah masing-masing.
Dia langsung menghampiri Alano dan memberikan satu gelas kepadanya. Alano beralih duduk dan segera menyesap teh yang masih cenderung panas tersebut untuk menghangatkan tubuhnya.
Dimas meletakkan dua gelas yang lainnya di atas meja di samping kanan tempat tidur Alila. Sambil duduk menunggui Alila di sisi kanannya, dia mengambil satu gelas minuman dan meneguknya sedikit demi sedikit untuk melegakan tenggorokannya.
"Dim..."
Alila terbangun dan meraih tangan Dimas yang masih memegang gelas berisi teh hangat itu. Dimas tersenyum dan segera berdiri mendekati wajah Alila.
"Selamat pagi, Putri Tidurku..." Ucap Dimas sambil mencium kening Alila.
"Aku mau minum..." Alila menarik tangan Dimas yang memegang gelasnya.
"Sebentar, Al. Aku akan mengatur posisi tempat tidurmu dulu agar kamu bisa minum dengan nyaman."
Dimas hendak melepaskan tangan Alila darinya tetapi diurungkannya ketika melihat Alano sudah berdiri di sisi kiri tempat tidur.
"Biar aku saja yang mengaturnya, mas."
Alano menekan tombol pengaturan di sisi kiri tempat tidur. Bagian atas tempat tidur Alila bergerak pelan meninggi hingga posisi tidur Alila sekarang menjadi setengah duduk.
"Sudah nyaman belum, mbak?" Tanya Alano saat melepaskan tangannya dari tombol pengaturan.
Alila menganggukkan kepalanya. Lalu dia kembali menarik tangan Dimas dan segera meneguk teh hangat milik Dimas membuat Dimas terkejut sendiri.
"Al, ini tadi sudah aku minum. Minumanmu masih ada di atas meja."
"Biasanya kita juga seperti ini, Dim." Jawab Alila sambil merebahkan kembali kepalanya.
Dia tersenyum lembut menatap wajah calon suaminya, membuat Dimas luluh dan membalas senyuman manis itu.
"Baiklah, kita akan terus membiasakannya seperti ini." Balas Dimas sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
"Kebiasaan atau pengiritan itu, mbak? Semuanya kok berbagi. Minum segelas bersama, makan sepiring berdua. Nanti setelah menikah, jadinya tidur seranjang bersatu..."
Alano tertawa lebar saat mengatakan kalimat terakhirnya, membuat Alila dan Dimas kaget dan saling menatap.
"Lan, jaga bicaramu..!" Hardik lirih Alila pada adiknya.
"Tapi itu kenyataannya, mbak."
Alano masih menggoda sang kakak dengan kejahilannya. Setelah itu dia kembali ke sofa dan melanjutkan permainan di ponselnya, membiarkan Alila dan Dimas kembali berduaan di saat matahari belum menyembul terbit.
"Lupakan kata-kata Alano tadi, Dim." Ucap Alila malu-malu mengingat perkataan adiknya.
"Mengapa harus dilupakan?" Tatap Dimas tajam ke arah Alila.
"Tidak apa-apa, aku malu.."
"Mengapa harus malu?" Cecar Dimas.
"Jangan dibahas lagi." Pinta Alila.
"Bukankah itu yang sebenarnya?" Cecar Dimas lagi.
"Iya, tapi kita belum melakukannya." Alila menunduk malu.
"Empat minggu lagi kita akan menikah dan akan melakukannya." Dimas tersenyum tipis.
"Aku tidak mau membicarakannya sekarang, Dim."
Dimas mengusap kepala Alila dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam tangan Alila.
"Maaf, aku hanya senang menggodamu, sama seperti Alano. Jangan dipikirkan lagi. Pikirkan saja kesembuhanmu, kamu harus segera sehat kembali. Itu yang aku mau, Al."
Kedua pasang mata mereka beradu pandang dalam keheningan suasana fajar. Untuk beberapa saat mereka terdiam, hanya saling menggenggam dan saling menatap lekat-lekat.
"Jangan seperti ini lagi, Al. Kamu tidak tahu betapa takutnya aku semalam saat melihatmu tak sadarkan diri..."
"Maafkan aku, Dim. Aku kurang bisa menjaga diriku saat jauh darimu."
Dimas berdiri dan mendekati Alila, berpindah duduk di tepi tempat tidur tepat di samping Alila dan menghadap ke arahnya. Tangan mereka masih terus menyatu begitu erat.
"Aku takut kehilangan kamu, Al."
"Aku juga, Dim. Jangan tinggalkan aku."
__ADS_1
Pelan-pelan kedua tangan Dimas menarik lembut tubuh Alila dan membawa ke dalam pelukannya. Alila rebah lemah di pelukan Dimas dengan satu tangannya memeluk pinggang lelaki tercintanya.
Alila tak bisa lagi membendung airmatanya. Dia menumpahkannya di bahu Dimas membuat mata Dimas ikut memerah dan meneteskan beberapa butir air mata di kedua pipinya.
Alano yang melihat kemesraan itu memilih untuk beranjak dari sofa dan keluar diam-diam untuk mencari udara segar pagi hari meski langit masih terlihat gelap.
Namun sebelumnya, dia yang sering dikirimi lagu romantis oleh para gadis kampus yang menyukainya, memutarkan satu lagu di ponselnya dan meletakkannya di atas meja, di samping dua anak manusia yang tengah larut dalam pelukan cinta mereka.
.
Dengarlah cinta hatiku remuk redam
Jika tak ada kamu
Menemani aku
Di setiap malamku
Ku memikirkan kamu
Aku sepi sepi sepi sepi
Jika tak ada kamu
Aku mati mati mati mati
Jika engkau pergi
Dengarlah kesayanganku
Jangan tinggalkan aku
Tak mampu jika ku tanpamu
Dengarlah kesayanganku
Hidup matiku untukmu
Ku mohon pertahankan aku
Dengarlah cinta hatiku remuk redam
Jika tak ada kamu
Menemani aku
Di setiap malamku
Ku memikirkan kamu
Aku sepi sepi sepi sepi
Jika tak ada kamu
Aku mati mati mati mati
Jika engkau pergi
Dengarlah kesayanganku
Jangan tinggalkan aku
Tak mampu jika ku tanpamu
Dengarlah kesayanganku
Hidup matiku untukmu
Ku mohon pertahankan aku
Dengarlah kesayanganku
Jangan tinggalkan aku
Tak mampu jika ku tanpamu
Dengarlah kesayanganku
Hidup matiku untukmu
__ADS_1
Ku mohon pertahankan aku
Dengarlah kesayanganku
Hidup matiku untukmu
(Kesayanganku - Al Ghazali)
.
Lagu yang diputarkan Alano selesai, ponselnya kembali hening. Dimas dan Alila pun menyudahi pelukan mereka yang sedari tadi enggan mereka lepaskan karena larut dalam keromantisan lagu yang terdengar di telinga keduanya. Lagu yang seolah mewakili perasaan hati mereka yang tak ingin kehilangan satu sama lain.
"Dim, aku ingin ke kamar mandi untuk bersuci."
"Lakukan di sini saja, Al. Tubuhmu masih sangat lemah. Dan hasil rontgenmu juga belum keluar. Jangan banyak bergerak dulu."
"Baiklah. Tolong ambilkan perlengkapanku saja."
Dimas dengan sigap segera mengambilkan semua yang diminta Alila dari dalam tasnya. Kemudian dia meninggalkan Alila untuk bersuci dan melaksanakan kewajibannya di atas tempat tidur.
Dia duduk menunggu di sofa sembari membuka ponselnya, memeriksa beberapa pesan baru yang masuk dan membalasnya, terutama dari pihak penyelenggara pernikahan.
Hampir sepuluh menit berlalu, terdengar suara lirih Alila meminta tolong Dimas untuk menyimpan kembali semua perlengkapan wajibnya.
"Apa kau ingin berbaring kembali, Al?" Tanya Dimas yang masih berdiri di samping kiri tempat tidur.
Alila menggelengkan kepala. Dia merasa lebih nyaman dengan posisi duduk bersandar seperti saat ini.
"Mau minum lagi?"
Kali ini Alila menganggukkan kepalanya dan Dimas segera melangkah untuk berpindah ke samping kanan lalu mengambil gelas minuman yang masih utuh isinya dan menancapkan sedotan baru di tengah segel plastik yang menutupi bagian atasnya.
"Minumlah.."
Alila menerima gelas yang disodorkan Dimas dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"Papa dan mamamu belum aku beritahu tentang kondisimu, Al. Pagi ini, biar Alano yang menjemput mereka untuk datang kemari."
"Iya, Dim. Aku juga tak ingin membuat mereka cemas."
Alila menyerahkan gelas yang dipegangnya kepada Dimas untuk diletakkan kembali ke atas meja.
"Apakah kau masih merasakan sakit, Al? Di mana?"
Dimas duduk di tepi tempat tidur. Menggenggam tangan kanan Alila di atas pangkuannya dan mengusapinya dengan ibu jarinya.
Pandangan matanya menelusuri setiap bagian tubuh Alila. Dia ingin memastikan keadaan calon istrinya saat ini. Sungguh dia masih sangat mengkhawatirkannya.
"Seluruh tubuhku masih terasa sakit, Dim. Emm..., maksudku nyeri di beberapa bagian. Mungkin karena aku terjatuh dari tangga semalam.."
Alila menundukkan kepalanya, tak berani menatap Dimas. Kali ini dia merasa bersalah pada lelaki itu karena telah ceroboh dan tak bisa menjaga dirinya.
"Maafkan aku, Dim. Harusnya aku bisa lebih berhati-hati.."
Dimas menghela nafas perlahan, mencoba menenangkan hatinya yang masih terus dilanda ketakutan akan kondisi Alila.
Membayangkan situasi pada saat tubuh Alila terjatuh dan terguling dari tangga atas hingga ke bawah, membuat hatinya seketika berdesir takut, takut yang teramat sangat.
"Aku juga minta maaf, karena tidak berada di sana di saat kamu membutuhkanku, Al."
Tangan kiri Dimas meraih kepala Alila dan mencium keningnya dengan lembut dan lama. Di dalam hati dia berjanji pada dirinya sendiri, untuk bisa menjaga Alila lebih baik lagi, agar tak ada lagi hal buruk yang terjadi pada wanita yang dicintainya itu, sangat dicintainya melebihi cintanya pada diri sendiri.
Alila, cinta pertamanya dan juga cinta terakhirnya. Cinta terindahnya dan cinta teristimewanya. Cinta terbaik dalam hidupnya.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
__ADS_1
.