
"Sayang, aku menunggumu di sini. Cepatlah bangun!"
Alila terus menumpahkan airmatanya. Istri mana yang tidak sedih dan pilu, melihat suaminya terbaring tak berdaya dengan banyak luka parah. Apalagi Dimas masih dalam kondisi di bawah normal, kesadarannya belum kembali karena tubuhnya masih membutuhkan tambahan darah.
Tangan kiri Alila yang tertancapi jarum infus terangkat ke atas, menjangkau wajah Dimas yang tertutup masker oksigen di bagian mulut dan hidungnya. Dibelainya pipi yang sedikit memar itu dengan hati-hati.
"Terima kasih, Dim. Terima kasih, sayang..."
Alila berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang sudah naik-turun tak beraturan.
"Terima kasih telah menyelamatkanku, mengutamakan diriku, hingga kamu mengorbankan dirimu sendiri seperti ini..."
Hiks.. Hiks.. Hikss...
Tangisannya pecah sudah, tersedu-sedan menumpahkan seluruh perasaan yang mengganjal di hatinya. Alila menangis kencang, menguras habis airmatanya.
"Bangunlah, Dim. Cepatlah bangun, sayang..."
"Jangan membuatku takut dan memikirkan hal buruk yang sama sekali tidak aku harapkan..."
Diciumnya kembali tangan Dimas yang tergenggam olehnya hingga terbasahi airmata. Lalu dikembalikannya tangan kanan itu di samping tubuh Dimas yang terbuka tanpa pakaian, penuh lebam dan balutan perban.
Alila tidak melepaskan tangannya dari tangan sang suami. Dia terus menyentuh jemari tangan yang dingin dan lemah itu, mengusapinya dengan lembut.
Pandangannya tertuju pada cincin pernikahan di jari manis Dimas yang tengah disentuhnya. Kemudian dia memposisikan jemari tangan kanannya sedemikian rupa, sehingga cincin pernikahan mereka saling bersentuhan.
"Kita adalah sepasang, Dim. Sepasang suami-istri, kamu dan aku. Seperti adanya kedua cincin ini. Sepasang, saling terikat dan saling mengikat satu sama lain."
Tangan kiri Alila beralih lebih ke atas, menyentuh lembut kening suami tercintanya.
"Kau pernah mengatakan padaku, jika tangisanku adalah kelemahanmu. Maka demikian pula yang kurasakan saat ini, Dim. Kesakitanmu adalah ketidakberdayaanku."
"Jika kamu lemah seperti ini, aku pun tak akan kuat melalui sendiriku di sini."
"Cepatlah kembali dan bersamaku lagi..."
Alila merasakan sedikit pusing di kepalanya karena terlalu larut dalam kesedihannya dan terus menangis tanpa henti. Akhirnya ia merebahkan kepalanya di atas tempat tidur dengan posisi menghadap ke arah wajah suaminya.
Tangan kanannya masih terus menyatu dengan tangan kanan Dimas, sementara tangan kirinya dia letakkan di samping wajahnya sendiri.
Terus berusaha menahan lelahnya, akhirnya wanita itu menyerah. Lambat laun sorot matanya mulai meredup, hingga akhirnya sepasang mata indah itu terpejam rapat dan dia pun mulai terlelap dalam tidurnya.
Dalam mimpinya dia melihat senyuman sang suami, yang terlihat begitu manis dan mempesona. Mata tajam lelaki itu terus menatap lurus ke dalam matanya dengan sorotan lembut penuh kasih.
Alila terus larut hanyut dalam mimpi indahnya, bunga tidurnya yang membuatnya melengkungkan bibir tipisnya membentuk seulas senyuman yang terindah.
.
.
__ADS_1
.
Sementara itu di tempat lain, Tama yang sudah pamit pulang dari rumah sakit dan telah mengantarkan Dara Nadia pulang, sedang mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kecelakaan yang dialami Dimas dan Alila.
"Dari mana kamu dapatkan rekaman video ini, Do?"
Tama memperhatikan sebuah rekaman video di layar laptop di ruang kerjanya. Dia sengaja menemui beberapa orang kepercayaan itu di kantornya. Di akhir pekan seperti ini, kantornya sepi dan minim aktivitas, sehingga dia lebih leluasa membahas masalah lain di luar pekerjaan.
"Itu adalah hasil rekaman dari kamera drone milik seorang warga sekitar, Bos Muda!" Seorang bernama Edo sebagai pimpinan kelompok itu mulai menjelaskan.
"Pagi tadi dia sedang mencoba drone miliknya dan memantau situasi di area pantai. Tanpa sengaja kecelakaan itu terekam olehnya." Lanjut Edo.
"Ada yang lainnya?"
"Ada, Bos. Rekaman kamera mobil dari pengendara yang berlawanan arah dengan arah kaburnya mobil besar itu."
"Silahkan Bos Muda buka video yang kedua."
Bila video pertama diambil dari jarak jauh di angkasa, pada video kedua ini kamera bisa menangkap lebih jelas penampakan mobil dan pengemudinya.
Tama cukup puas dengan hasil kerja para anak buahnya. Dalam waktu beberapa jam saja mereka sudah bisa memperoleh lebih dari satu bukti.
"Bagus! Untuk selanjutnya, kalian selidiki identitas pengemudi mobil itu dan apa hubungannya dengan Dimas atau Alila."
Edo dan yang lainnya mengangguk cepat.
"Salah satu anggota kami sudah meluncur ke rumah sakit, Bos. Golongan darahnya sama dengan mas Dimas."
Tama bernafas lega. Akhirnya dia bisa mendapatkan pendonor darah untuk sahabat baiknya.
"Sampaikan terima kasihku untuknya. Dan terima kasih juga atas kerja keras kalian hari ini. Aku tunggu laporan berikutnya besok pagi!"
Setelah urusannya selesai, Tama bergegas pulang karena hari sudah semakin sore. Sebelum tancap gas, dia menelepon Alano untuk memberitahukan tentang bantuan darah dari seorang anak buahnya.
.
.
.
Dua jam sudah Alila tertidur sambil menemani di samping Dimas. Seorang perawat membangunkannya dengan suara lirih dan hati-hati.
Dengan cepat Alila sudah terbangun dan membuka matanya. Dia segera menegakkan tubuhnya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Dimas.
Secara sopan perawat meminta Alila untuk kembali ke ruangannya lebih dulu, mengingat dia sendiri juga masih berstatus sebagai pasien dan perlu beristirahat guna memulihkan kondisi tubuhnya.
Selain itu, Dimas akan melakukan proses transfusi darah lagi karena sudah ada tambahan darah dari seorang pendonor.
Alila langsung mengucap syukur mendengar berita yang sangat melegakan perasaannya tersebut. Dalam hati dia pun berdoa, semoga setelah ini, kondisi Dimas akan membaik dan kesadarannya cepat kembali.
__ADS_1
Sebelum keluar, Alila meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan suaminya. Perawat itupun segera keluar dan menunggu di balik pintu.
"Dim, aku harus kembali ke ruanganku dulu. Mungkin nanti malam aku tidak diijinkan menemanimu di sini. Tapi besok pagi, saat aku datang lagi, aku harap kamu sudah sadar dan menyambutku dengan senyumanmu."
Alila kembali mencium punggung tangan kanan suaminya. Kemudian dengan sisa kekuatannya dia mengangkat tubuhnya dari kursi roda, lalu berdiri di samping Dimas.
Airmata kembali luruh di kedua pipinya. Sungguh hatinya merasa trenyuh saat mengamati seluruh tubuh suaminya. Andai rasa sakit itu bisa dibagi, dia ingin memindahkan ke tubuhnya, agar mereka bisa berbagi kesakitan itu bersama, sebagaimana kebahagiaan yang selama ini selalu mereka rasakan berdua dan bersama.
"Malam nanti akan terasa sepi dan hampa karena kita harus tidur di tempat terpisah. Aku akan merindukan ciuman selamat malam darimu, pelukanmu sepanjang malam, pelukan kita yang saling menghangatkan satu sama lain."
Alila menyeka airmatanya meski tetap saja keluar tanpa bisa ditahan.
"Cepatlah bangun, sayang. Aku merindukanmu..."
Dia membungkukkan badan dan mencium kening Dimas. Hangat, lembut, penuh haru.
"Aku pergi dulu, sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu...."
Setelah puas mencium sang suami, Alila kembali duduk di kursi roda. Dia memanggil perawat yang telah menunggunya.
Perawat itu masuk dan mulai mendorong kursi roda. Dan saat tubuh Alila mulai menjauh, lepaslah sudah genggaman tangan antara dirinya dan Dimas.
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
๐Author๐
.
.
__ADS_1