
"Aku mencintaimu sejak awal pertemuan kita."
Mata Dimas seketika terbuka lebar, benar-benar tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Tatapannya tidak bisa beralih dari mata indah Alila yang bening dan bersinar.
"Al.., apa yang kamu katakan..?"
"Ya, Dim. Itulah yang sebenarnya."
"Tapii...." Dimas memutus ucapannya sendiri karena masih diselimuti rasa terkejut.
"Tapi selama ini aku menyimpan sendiri perasaanku padamu, Dim. Aku menikmati perasaanku sendiri karena aku tidak bisa berbagi pada yang lain."
Sorot mata Dimas berubah sayu. Dia tidak menyangka Alila telah mencintainya sejak dulu.
"Mengapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku, Al?"
Alila tersenyum lebar mendengar pertanyaan Dimas.
"Aku ini perempuan, Dim. Aku masih punya harga diri dan rasa malu. Mana mungkin aku mengatakannya lebih dulu, sementara akupun tidak tahu bagaimana perasaanmu kepadaku."
Mendadak Dimas merasa sangat bersalah pada Alila. Hatinya bahkan seolah ikut merasakan sakitnya perasaan Alila selama ini, hingga matanya memerah menahan tangis.
Dia membayangkan bagaimana sulitnya posisi Alila selama ini, yang harus selalu bersamanya dan menjadi salah satu orang terdekatnya dengan menyimpan rapat perasaannya sendiri tanpa satu orangpun yang mengetahuinya.
Dia membayangkan bagaimana sedih dan terlukanya hati Alila selama ini, saat harus melihat dirinya dengan mudahnya sengaja bergonta-ganti pasangan hanya karena ingin mencoba sesuatu yang percuma dan membuang waktu.
Dia membayangkan betapa sikap dinginnya selama ini telah membuatnya mengabaikan perasaan Alila. Tanpa rasa bersalah dia bahkan dengan jujurnya selalu bercerita dan berkeluh-kesah kepada Alila tentang hubungan omong kosongnya dengan banyak wanita.
Dia membayangkan betapa sakitnya hati Alila ketika setiap hari harus menyaksikan sikap acuhnya yang tidak pernah peduli dengan perasaan Alila, karena dirinya hanya sibuk meluangkan waktu untuk wanita lain yang sekedar ingin bersenang-senang dengannya.
Dia menyadari, selama ini dia memang dekat dengan Alila, bahkan di antara mereka berlima yang bersahabat, dirinyalah yang paling dekat dan memperhatikan Alila lebih dari yang lainnya. Tapi mengapa dia begitu naifnya hingga tidak menyadari perasaan Alila yang sesungguhnya.
Dia selalu menganggap Alila adalah satu-satunya orang yang selalu mengerti dan memahami dirinya lebih dari siapapun. Tapi sedikitpun dia tidak pernah berpikir bahwa mungkin saja sikap Alila yang selalu ada untuk dirinya itu adalah perwujudan dari rasa cinta untuknya, yang tak bisa disampaikan oleh Alila secara langsung kepadanya.
Membayangkan semua itu membuat Dimas benar-benar merasa telah menjadi lelaki paling buruk di dunia ini. Dia merasa sangat bersalah pada Alila yang selama ini begitu tulus selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun.
"Al.., aku..."
"Tidak apa-apa, Dim. Itu adalah pilihanku sendiri. Aku memilih untuk tetap bersamamu dan mencintaimu dalam diamku. Bisa selalu ada di dekatmu dan bersamamu sudah membuatku sangat bahagia. Dan kamu lihat sendiri, selama ini aku baik-baik saja."
__ADS_1
Dimas segera memeluk tubuh Alila sekuat tenaganya. Dia memeluknya sangat erat dengan perasaan bersalah yang begitu besar di hatinya.
"Maafkan aku, Al. Sungguh maafkan aku.."
Sendu suara Dimas terdengar sangat lirih di telinga Alila.
"Tidak ada yang salah, Dim. Dan tidak ada yang harus dimaafkan."
Alila ingin melepaskan pelukannya untuk melihat Dimas. Namun pelukan Dimas semakin erat mendekap tubuhnya.
"Tetap peluk aku, Al." Pinta Dimas padanya.
Alila menurut. Dia terus memeluk lelaki yang sangat dicintainya itu. Lelaki yang kini juga telah mencintainya. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini. Cinta yang saling berbalas. Mencintai dan dicintai.
Setelah cukup lama saling berpelukan begitu erat dan penuh perasaan, Dimas melepaskan pelukannya tanpa melepaskan kedua tangan Alila darinya.
Wajah Dimas terlihat kusut dan sayu. Kenyataan yang baru saja diketahuinya, membuatnya merasa sangat bersalah pada Alila. Sekian lamanya dia telah melukai hati Alila tanpa dia sadari sama sekali.
"Terima kasih, Al. Terima kasih sudah mau bertahan hanya demi lelaki sepertiku. Lelaki yang selalu mengabaikan perhatianmu. Lelaki yang tidak bisa mengerti perasaanmu. Lelaki yang terlambat menyadari perasaannya sendiri, bahwa sebenarnya dia juga sangat mencintaimu."
Mata Dimas yang sejak tadi telah memerah, akhirnya meneteskan butir-butir airmatanya. Lelaki dingin itu menangis di hadapan wanita yang dicintainya.
"Dim, kamu menangis.."
"Tangisan ini tidak sebanding dengan rasa sakit di hatimu selama ini, Al."
"Jika air mataku bisa menebus waktumu yang terbuang demi diriku, aku akan terus menangis untukmu, Al."
Ucapan Dimas yang di luar dugaan, membuat Alila tertegun. Hatinya seketika menghangat disertai rasa sesak yang tak tertahankan di dadanya.
Bukan hanya hati dan tubuhnya yang menghangat, tapi pelupuk matanya juga mulai menghangat karena air mata yang telah menggenang di sana.
Dan dengan sekali kedipan saja, genangan air mata itu langsung tumpah membasahi pipi Alila. Kini keduanya sama-sama menangis.
"Jangan bicara seperti itu lagi, Dim."
"Dengan apa lagi aku bisa menebus waktu yang telah kau habiskan untuk menungguku, Al?"
"Cukup kamu mencintaiku dengan hatimu. Dan menjaga cinta kita bersama-sama."
__ADS_1
Hati Dimas turut menghangat. Kata-kata Alila begitu menyentuh hatinya. Tidak ada yang diminta kekasihnya itu selain cinta darinya. Hanya itu, sudah cukup bagi Alila untuk melupakan masa penantian panjangnya yang telah lalu.
Lagi-lagi hati Dimas bergetar dengan indahnya. Seindah cinta yang dia rasakan semakin dalam dan tak berujung untuk wanita terbaik di sampingnya.
"Tetaplah bersamaku, Al. Jangan pernah lelah untuk mendampingiku karena aku sangat membutuhkanmu selalu di sisiku. Aku sangat mencintaimu. Kamulah yang terbaik, Al."
"Aku akan tetap di sini, Dim. Ke mana lagi aku akan pergi, jika sudah ada dirimu bersamaku. Hanya kamu yang hatiku mau."
Tangan Dimas bergerak meraih kedua pipi Alila. Dengan pelan dia menghapus air mata di wajah cantik kekasihnya.
"Jangan menangis lagi. Sudah kukatakan padamu, aku tidak suka melihat air matamu."
Alila tersenyum dan mengikuti Dimas, menghapus sisa air mata di wajah lelaki tercintanya.
"Jangan menjadi lelaki lemah yang mudah mengeluarkan air mata. Cukup aku saja yang pernah melihatmu menangis seperti tadi."
Dimas membalas senyuman Alila dan kembali menggenggam tangan kekasihnya. Sekilas dia menatap cincin tanda cinta darinya yang selalu melingkar di jari manis Alila.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku, Al. Jadikan aku satu-satunya tempatmu bersandar dan berbagi segala hal. Aku akan selalu ada untukmu."
"Ya, Dim. Aku akan selalu membutuhkanmu, karena hanya kamu yang selalu bersamaku dan menjagaku selama ini. Kamulah satu-satunya yang selalu bisa aku andalkan."
Dimas semakin erat menggenggam kedua tangan Alila. Pandangan mata mereka yang saling menatap membuat suasana menjadi hening.
Perlahan-lahan Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Alila yang mulai bersemu merah. Dia mencium kening Alila dengan begitu lembutnya hingga membuat mata Alila terpejam begitu saja, merasakan hangatnya ciuman pertama Dimas di keningnya.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author
.