Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
95 CEPATLAH BANGUN


__ADS_3

"Dim... Dimas..."


Di dalam ruang perawatannya, Alila mulai tersadar bersamaan dengan selesainya operasi yang dijalani Dimas.


"Al, kamu sudah sadar, Nak?" Mama Dian mendekat dan berbisik di telinga kanan putrinya. Mama Kirana ikut mendekat ke sisi sebelah kiri pembaringan Alila.


Alila belum membuka matanya. Hanya terlihat bola matanya yang bergerak pelan, di balik kelopaknya yang masih menutup. Raut wajahnya terlihat tidak tenang dan tidak nyaman. Gerak tubuhnya pun menunjukkan kegelisahan yang sangat dirasakannya. Dia seperti kesakitan sekaligus ketakutan.


"Dim... Jangan pergi... Jangan tinggalkan aku, Dim..."


Hanya nama sang suami yang terus disebutnya, dipanggilnya tanpa henti.


"Dimas... Aku takut, Dim... Aku tidak mau sendiri..."


Rintihan wanita kesayangan Dimas itu terdengar pilu dan menyayat hati. Semua orang yang mendengarnya turut larut dalam kesedihan yang sama-sama tengah mereka rasakan.


"Bangunlah, Al. Dimas baik-baik saja, Nak." Mama Kirana berbisik di telinga kiri sang menantu, memberi kekuatan agar Alila segera membuka matanya.


Dan benar saja, setelah Mama Kirana mengatakan sesuatu tentang Dimas, perlahann sepasang mata itu mulai terbuka.


Alila merasakan adanya cahaya terang yang menyilaukan matanya. Dia mengerjap dengan gerakan lambat, mencoba memperjelas penglihatannya.


Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruangan. Dan wanita itu mulai mengenali satu per satu orang yang berdiri di sekitar tubuhnya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Tatapannya mulai tertuju. Dia melihat mama dan papanya di sisi kanan, juga kedua mertuanya di sisi kiri. Selanjutnya di ujung tempat tidur, ada adik usilnya, kakak iparnya, juga beberapa sahabat terbaiknya.


"Dimas...!!"


Seperti tersadar akan sesuatu yang ingin dilihatnya tetapi tidak ditemukannya, tiba-tiba tubuh Alila tersentak seraya terbangun dari posisi tidurnya.


"Di mana Dimas...? Dia... Dia terluka parah... Dimaasss...!!!"


Alila yang baru saja sadar tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Yang dia cari hanya Dimas. Dia ingin bertemu dengan suami tercintanya.


"Dimas baru selesai dioperasi, Al. Dia masih di ruang pemulihan." Darma mencoba menenangkan adik iparnya.


Mendengar kata operasi sontak Alila semakin berontak ingin turun dari tempat tidur tanpa mempedulikan jarum infus yang masih menancap di punggung tangan kirinya.


"Aku ingin menemuinya. Aku harus menemaninya!"


Alila bersikeras ingin pergi tetapi pergerakan tubuhnya ditahan oleh Papa Dewa.


"Dimas belum boleh ditemui, Al. Kita tunggu dulu sampai dia dipindahkan ke ruang perawatan, baru kamu bisa melihatnya." Kata Papa Yudhi yang masih terlihat pucat dan semakin lelah karena baru saja diambil darahnya.


Darma yang melihatnya segera meminta papanya untuk istirahat dulu dan menuntunnya untuk duduk di sofa bersama mamanya.

__ADS_1


"Kamu juga masih lemah, Al. Kamu harus tenang dan memulihkan kondisimu dulu sebelum menemui suamimu."


Mama Kirana dibantu Alano yang sudah berpindah ke sisi kiri sang kakak, membaringkan kembali Alila walaupun wanita itu sempat menolaknya. Namun akhirnya dia menurut dan kembali berbaring meskipun pikirannya tidak bisa tenang sedikit pun karena terus mengkhawatirkan kondisi Dimas yang belum bisa ditemuinya.


Satu jam kemudian, Dimas sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Beberapa peralatan medis masih terpasang di tubuhnya guna memantau kondisinya yang masih belum stabil.


Hanya satu orang anggota keluarga saja yang diperbolehkan masuk dan menungguinya di dalam ruangan. Darma dengan pakaian sterilnya sudah berada di sana untuk menjaga sang adik.


Terlihat tubuh Dimas yang penuh luka. Hanya bagian wajah dan kepalanya saja yang tidak mengalami luka serius karena posisinya yang menelungkup ke bawah dan melindungi Alila saat kecelakaan terjadi.


Kedua tangannya penuh lebam dan goresan, terutama tangan kanan yang lebih parah dengan balutan perban di dua tempat yang berbeda karena terdapat luka terbuka cukup lebar yang sudah dijahit.


Pinggang kanannya tertutupi perban khusus paska operasi karena di sanalah luka yang paling parah dan dalam, bekas tusukan benda tajam yang mungkin berasal dari bagian mobil yang ringsek dan menghujam seluruh tubuh bagian kanannya.


Selain pinggang, kaki kanannya juga terbalut banyak perban di bagian bawah. Sementara di sepanjang paha yang baru saja dioperasi dan dipasangi pen untuk menyambung tulangnya yang patah, sudah tertutup gips dan posisinya ditopang oleh bantalan yang tinggi di atas pembaringan.


"Cepatlah sembuh, Dim. Kasihan Alila, dia terus memanggilmu dan sangat mengkhawatirkanmu..."


Dimas berbicara lirih di dekat telinga adik kesayangannya, memberi kekuatan agar Dimas segera sadar dan cepat pulih.


"Kamu lelaki yang kuat. Kamu pasti bisa melewati masa kritis ini dan kembali bersama kami semua, terutama istrimu..."


Sebelum dipindahkan ke ruang perawatan khusus, kondisi Dimas sempat drop karena syok hipovolemik yang dialaminya masih berlanjut hingga kesadarannya belum kembali.


Dokter meminta transfusi darah tambahan agar pemulihannya lebih cepat dan kondisinya kembali normal. Tetapi, belum ada pendonor yang cocok karena golongan darah Dimas yang terbilang langka.


Di salah satu sisi ruangan Dimas, terdapat jendela kaca kecil yang bisa digunakan untuk melihatnya dari luar. Dan saat ini, ada wajah Alano yang terlihat di kaca itu, memberi kode kepada Darma untuk keluar dari ruangan.


"Ada apa, Lan? Lho..., Al? Kok kamu di sini?!"


Ternyata Alano mengantarkan kakaknya yang bersikeras ingin bersama dengan suaminya, setelah mendengar perbincangan para orangtua jika Dimas sudah dipindahkan dari ruang operasi.


Tiang infus terpasang di sebuah lubang di sisi kiri kursi roda yang diduduki Alila karena wanita itu masih harus diinfus lantaran kondisinya yang masih lemah dan terlalu cemas.


"Aku mau menemani Dimas, Kak." Pintanya dengan wajah yang masih cukup pucat.


Darma menatap Alano dan lelaki muda itu mengangguk.


"Dokter sudah mengijinkan mbak Alila, Kak. Yang penting ada yang mengawasinya dari luar."


"Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan memberitahu perawat jaga dulu."


Darma bergegas pergi dan tak lama kemudian sudah kembali bersama seorang perawat. Kemudian perawat tersebut mendorong kursi roda Alila ke dalam ruangan, setelah sebelumnya memakaikan baju steril pada wanita yang sudah tidak sabar ingin menemui sang suami.


Sesampainya di dalam ruangan Dimas, sepasang mata indah Alila yang tengah sendu itu mulai berkaca-kaca. Hatinya teriris perih begitu melihat kondisi Dimas yang masih tak sadarkan diri dengan banyak luka di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Perawat menempatkan kursi rodanya di samping kanan pembaringan Dimas. Di sampingnya, dia letakkan segelas air putih di atas meja untuk Alila. Setelah itu, sang perawat meninggalkan Alila berdua bersama suaminya.


Hening tercipta. Hanya isakan Alila yang terdengar, beradu dengan bunyi alat kontrol yang terdengar dari dua layar monitor di samping kiri tempat tidur.


Alila kian sembab, tubuhnya bergetar menahan isakannya agar tidak semakin menjadi.


"Dim..."


(Biasanya kau akan segera menjawabku...)


"Sayang..."


(Kau sering memintaku untuk memanggilmu dengan panggilan ini...)


Tangan kanan Alila bergerak pelan ke atas tempat tidur, meraih tangan kanan Dimas dengan sangat hati-hati, lalu menggenggamnya dengan lembut dan menciumnya dengan penuh kasih.


Matanya terpejam kemudian dia mulai memanjatkan doa-doa panjang memohon keselamatan dan kesembuhan untuk suami tercintanya.


"Kamu harus sembuh, Dim. Harus segera sembuh!"


Kedua mata sendu Alila terbuka, dibawanya genggaman tangan mereka ke pipinya sembari terus memandang wajah Dimas yang masih diam dengan mata tertutup rapat, tanpa gerakan, tanpa suara, tanpa senyuman di wajahnya yang masih terlihat menawan walaupun pucat pasi tiada daya.


"Sayang, aku menunggumu di sini. Cepatlah bangun!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2