Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
98 MENCARI DALANG


__ADS_3

Pak Albi sibuk mencocokkan data pribadi seseorang dengan informasi yang didapatnya dari Aris kemarin siang, saat mereka bertemu di rumah sakit. Beberapa data itu memang benar ada kesesuaian, dari anggota keluarga juga alamatnya.


"Sudah bisa dipastikan, mereka bersaudara!" Pak Albi menjentikkan jarinya.


"Tapi mengapa Aris mengatakan jika kakaknya tidak kenal dengan Dimas dan Alila? Atau mungkin saja Aris yang tidak tahu-menahu tentang semua ini?" Dia masih bergumam sendiri.


Lelaki itu bersandar di kursi putarnya dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Kursi itu berputar ke kiri dan ke kanan dengan pelan. Pandangan matanya menerawang ke atas, memikirkan beberapa kemungkinan.


Entah mengapa, sejak melihat Aris di rumah sakit kemarin, dia merasa mendapatkan pertanda kuat mengenai siapa yang berada di balik kecelakaan yang dialami Dimas dan istrinya.


Apalagi polisi sendiri sudah menyampaikan hasil awal olah perkara, bahwa kecelakaan tersebut besar kemungkinannya mengandung unsur kesengajaan dan bukan kejadian tabrak lari biasa.


Saat tengah memikirkan semua itu, tiba-tiba Pak Albi teringat pada seseorang yang juga sedang menunggu kabar penanganan Dimas dan Alila di rumah sakit kemarin. Sama sepertinya, orang tersebut sangat antusias mencari informasi dari polisi yang berjaga bersama mereka.


Tanpa sengaja, dia sempat mendengarkan pembicaraan lelaki sebaya Dimas itu dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"Segera cari informasi terkait tentang kecelakaan yang dialami Dimas dan Alila tadi pagi! Kumpulkan bukti yang akurat dan laporkan kepadaku nanti sore!"


Pak Albi menduga lelaki muda itu bukanlah orang sembarangan, terbukti dengan cara bicaranya yang tegas dan berwibawa, juga mempunyai anak buah yang bisa dia perintah sebagaimana yang didengarnya saat itu.


"Aku harus bertemu dengannya. Sepertinya tujuan kami sama. Sama-sama ingin mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan ini. Dan kelihatannya, dia juga mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Dimas dan istrinya."


Kepala divisi yang juga atasan Dimas tersebut terus berbicara sendiri sambil menutup laptopnya, lalu segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


.


.


.


Menjelang siang, Alila terbangun dan mendapati Dimas sudah lebih dulu membuka mata. Lelaki itu sudah bangun beberapa saat sebelumnya dan hanya diam membiarkan Alila terus terlelap.


Dia menatap wajah istri tercintanya yang terlihat lelah dan memucat. Perasaan bersalah menghinggapi hatinya karena meminta Alila terus bersamanya, sementara wanita itu juga masih membutuhkan istirahat yang lebih untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang memang masih lemah.


"Dim, kamu sudah bangun. Maaf aku ikut ketiduran di sini."


Alila menegakkan tubuhnya tanpa menarik tangannya yang masih terus digenggam oleh Dimas.


"Maafkan aku, Al. Seharusnya kamu juga beristirahat di ruanganmu, tetapi aku malah menahanmu untuk tetap di sini."


Alila membelai wajah Dimas dengan tangan kirinya. Posisi duduknya yang sengaja dia sejajarkan di samping lengan atas Dimas, membuatnya lebih mudah menjangkau wajah lelaki tercintanya.


"Aku juga tak ingin jauh darimu, Dim. Aku ingin menjaga dan menemanimu di sini."


Tangannya sudah berpindah ke atas kepala Dimas, mengelusnya dengan sayang.


Pandangan Dimas turun ke bawah, ke arah kakinya. Dia memperhatikan kaki kanannya yang dipenuhi perban dan yang lebih parah lagi, gips yang membungkus bagian paha kanannya.


Lelaki itu menarik nafas panjang dan membuangnya dengan segera.


"Jika seperti ini, bagaimana aku bisa menjaga dan melindungimu, Al?"

__ADS_1


Dimas tak yakin, kakinya akan pulih dalam waktu singkat. Apalagi ada tulang yang retak dan patah, sehingga harus disembuhkan dengan pemasangan pen. Pastilah butuh waktu lama untuk dirinya bisa berjalan normal kembali.


Alila menggelengkan kepala lalu berdiri dan mencium kening Dimas. Dengan wajah menunduk dan masih berada tepat di atas wajah tampan itu, sepasang mata indahnya menatap ke dalam mata suaminya dengan penuh kasih.


"Selama ini kamu yang selalu mengutamakan aku, menjaga, melindungi dan memanjakan aku sepanjang waktu. Sekarang giliranku yang berbakti padamu, Dim. Aku yang akan mengurusmu, menjaga, menemani dan memanjakanmu di setiap waktu."


"Maafkan aku, Al. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya aku bisa melindungimu lebih baik lagi. Seharusnya........" Ucapan Dimas dipotong oleh Alila.


"Seharusnya kita saling berbagi, saling memberi, saling menopang dan saling menguatkan satu sama lain."


"Tidak ada yang kurang atau lebih dari salah satunya. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari salah satunya. Kita adalah sepasang suami-istri, harus saling mengisi dan saling melengkapi dalam keadaan apa pun."


Mendengar penuturan Alila, Dimas semakin mempererat genggamannya pada tangan sang istri yang terus didekapnya di atas dada.


"Terima kasih, sayang..."


"Sama-sama, sayang. Aku juga berterima kasih karena kamu selalu menjadi suami yang luar biasa untukku. Aku sangat mencintaimu, Dim!"


Alila menciumi seluruh wajah Dimas. Kening, pipi, hidung sampai bibir, membuat wajah yang semula pucat itu memunculkan semburat merah. Diperlakukan seperti itu, perasaan Dimas membuncah bahagia.


.


.


.


Setelah makan siang, akhirnya Dimas dipindahkan ke ruang perawatan umum. Dan karena Alila pun masih dalam pemantauan dokter, orangtua mereka meminta perawatan suami-istri itu dilakukan bersama dalam satu ruangan saja.


Peralatan medis berupa dua buah monitor yang terhubung dengan beberapa kabel dan selang di tubuh Dimas, diletakkan di sebelah kanan pembaringan Dimas, sementara tempat tidur Alila diletakkan di samping kirinya.


Tepat setelah proses pemindahan ruang perawatan selesai, Pak Albi datang seorang diri dan disambut oleh keluarga yang sedang berkumpul bersama.


Atasan Dimas itu tampak lega begitu melihat Dimas sudah sadar dan bisa berkomunikasi dengan baik, kendati kondisi fisiknya masih sangat lemah.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Dim. Jangan terlalu memaksakan diri untuk bergerak dan berpikir berat, tetap ikuti anjuran dokter agar pemulihanmu berlangsung optimal!" Pesan Pak Albi.


"Iya, Pak. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang ke sini." Balas Dimas dengan lirih.


Mereka hanya berbincang ringan dan singkat. Pak Albi memang tidak ingin mengganggu Dimas dengan beragam pertanyaan darinya. Dia memilih untuk menanyakan perihal kecelakaan itu pada keluarga Dimas dan Alila.


Akhirnya Pak Albi bisa mengetahui tentang Tama, orang yang dipikirnya akan bisa bekerja sama dengannya untuk mengungkap kasus kecelakaan ini.


Dan seperti sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, beberapa saat setelah Pak Albi tiba lebih dulu, Tama pun datang berkunjung bersama Dara Nadia, Sandy dan Nayla.


Mereka berkenalan dan melanjutkan pembicaraan berdua di luar ruangan.


Pak Albi menyampaikan kecurigaannya atas seseorang, begitupun Tama, dia menceritakan tentang bukti yang sudah berhasil dikumpulkan oleh orang-orang kepercayaannya.


"Bisakah saya melihat rekaman video yang kamu dapatkan?" Pinta Pak Albi dan Tama segera mengeluarkan ponselnya.


Tapi kemudian dia berhenti, berpikir sejenak, lalu pamit sebentar untuk masuk dan meminjam laptop milik Alano yang tadi dilihatnya ada di atas tas ransel yang selalu dibawa pemuda itu.

__ADS_1


Tama keluar dari ruangan dengan membawa laptop milik Alano. Duduk bersebelahan dengan Pak Albi, bos muda sebuah perusahaan itu segera membuka laman emailnya yang berisi laporan dari anak buahnya.


Dia memperlihatkan dua buah rekaman video secara berurutan, dan Pak Albi memperhatikan semuanya dengan seksama.


Selesai melihat keseluruhan video tersebut, Pak Albi menggeleng pelan sembari menghela nafas kasar.


"Sayangnya, saya tidak mengenal siapa pengemudi mobil besar itu..."


"Anak buah saya sudah berhasil menemukan pengemudi itu dan sudah memaksanya bicara, sebelum besok kami serahkan kepada pihak yang berwajib berikut bukti yang sudah kami dapatkan."


Pak Albi menoleh ke arah Tama. Menunggu lelaki kharismatik itu melanjutkan ceritanya.


"Dia dibayar oleh seseorang untuk mengikuti Dimas dan mencelakainya. Bukan berniat membunuhnya, katanya, orang yang membayarnya itu hanya ingin memberi sedikit pelajaran untuk melampiaskan dendamnya pada Dimas karena telah merebut sesuatu yang sebelumnya sudah berhasil dikuasainya."


"Apa ini berhubungan dengan pekerjaan Dimas dan posisinya sekarang?" Karena sebenarnya Pak Albi juga mencurigai kemungkinan tersebut.


"Mungkin saja seperti itu, Pak. Orang itu hanya menyebutkan satu nama, yaitu Arsa."


Wajah Pak Albi berubah menjadi tegang dan diliputi amarah.


"Arsa...!! Saya sudah menduganya. Karena sebelum kejadian ini, dia juga sudah melakukan kecurangan di kantor kami."


"Arsa..?!?"


Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara seseorang yang tanpa mereka sadari, sudah ikut mendengarkan sebagian pembicaraan serius tersebut.


.


.


.


Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ


.


__ADS_1


__ADS_2