
Sebelumnya mohon maaf jika novel MCU dan TKCS agak lambat update nya untuk beberapa minggu ke depan, karena Author harus kejar setoran update novel ALANARA yang alhamdulillah terpilih menjadi salah satu peserta The Next Star Writer season 1. Mohon dimaklumi karena Author juga memiliki tugas dan kewajiban utama di dunia nyata yang sama-sama menyita banyak waktu. Terima kasih...🙏🙏🙏
💜Salam Cinta Selalu💜
.
.
.
Malam harinya, Dimas dan Alila berangkat untuk memenuhi undangan Tama, yang akan membahas persiapan pernikahannya bersama keempat sahabatnya.
Seperti biasanya, Tama memilih sebuah restoran berkelas istimewa untuk menjamu para sahabatnya. Bahkan dia juga memesan satu ruangan khusus sebagai tempat pertemuan mereka, agar tidak terganggu oleh hingar-bingar pengunjung yang lainnya.
Tepat pukul setengah delapan malam, mobil Dimas sudah terparkir di area parkiran restoran yang mereka tuju. Tampak oleh mereka, mobil Tama yang terparkir di bagian paling depan, sementara mobil Sandy juga sudah terlihat di sisi samping.
Dimas dan Alila segera turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Oleh seorang pramusaji mereka dibawa melewati ruangan di lantai satu, dan diantarkan ke ruangan khusus yang berada di ujung depan lantai dua.
"Maaf kami terlambat." Ucap Alila, sementara Dimas hanya diam di samping istrinya.
Mereka duduk bersebelahan di kursi kosong yang memang tersisa hanya untuk keduanya.
"Ini dia, artis dadakannya datang...!" Seru Sandy dengan senyum kocaknya.
"Iya lho, sekarang tiap buka media sosial yang pertama dilihat pasti foto kalian. Tenar sekali sih..." Lanjut Nayla.
Dara membuka salah satu akun miliknya lalu menunjukkan ke semuanya, sebuah foto yang tak asing bagi mereka.
"Ini, baru datang beberapa menit saja, fotonya sudah masuk ke beranda utama..."
Satu per satu mereka memperhatikan foto yang diperlihatkan Dara. Dalam foto itu tampak Dimas dan Alila yang sedang berjalan bergandengan tangan di lantai satu restoran yang mereka datangi saat ini.
"Berarti ada yang mengenali kalian di lantai bawah tadi. Sampai-sampai langsung dimasukkan ke dalam media sosialnya..."
Alila terlihat menahan malu meskipun di sana hanya ada para sahabatnya. Dia dan Dimas sama-sama tidak suka membicarakan masalah pribadi mereka, apa lagi sekarang mereka malah menjadi pembicaraan banyak orang. Alila merasa tidak nyaman karenanya.
"Jangan dibahas lagi!" Dimas memberi tanda agar mereka berhenti membahas foto-foto itu lagi, sembari mengalihkan pandangannya ke arah Alila.
Mereka yang sudah paham maksud Dimas langsung mengganti topik pembicaraan. Beruntung hidangan segera datang, sehingga mereka bisa menjeda obrolan mereka untuk menyantap makan malam lebih dulu.
Setengah jam kemudian, makan malam telah selesai. Mereka melanjutkan pembicaraan secara santai ditemani beberapa hidangan penutup yang memanjakan lidah.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" Tanya Dimas.
"Bulan depan." Jawab Tama dan Dara serentak yang serta-merta membuat yang lainnya terkejut.
"Serius, Tam??" Nayla panik, pasalnya Sandy masih harus menyelesaikan tugasnya di luar kota hingga bulan depan juga.
"Acara kami dilaksanakan pada akhir pekan. Kamu pasti bisa pulang kan, San?"
Sandy mengangguk pasti. "Tapi aku tidak bisa membantu banyak, karena satu bulan ke depan aku harus menyelesaikan laporan terakhirku di sana."
"Hei, aku butuh kedatangan kalian, bukan bantuan kalian. Khusus untuk kalian, cukup datang dan nikmati saja seluruh rangkaian acaranya nanti."
Dara mengambil dua buah paper bag yang sudah disiapkan di atas meja kecil di sudut ruangan, lalu menyerahkannya pada Nayla dan Alila.
"Ini kain seragam untuk kalian berempat. Jadilah pasangan-pasangan terbaik pada acara kami nanti."
__ADS_1
Alila dan Nayla menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Obrolan demi obrolan mereka lanjutkan dengan pembahasan seputar acara pernikahan Tama dan Dara. Semuanya antusias dan bersemangat menyambut hari bahagia sahabat mereka.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ketiga pasangan tersebut bersiap untuk meninggalkan ruangan.
"Dim, hati-hati di jalan. Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas berat. Utamakan kesembuhan kakimu dulu." Pesan Tama sesampainya mereka di atea parkir restoran.
"Ya."
Dimas pun memeluk Tama, sama seperti Alila yang tengah memeluk Dara untuk berpamitan. Sandy dan Nayla mengikuti mereka pada giliran yang terakhir.
Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil masing-masing dan berpisah ke arah jalan yang berbeda.
Berbeda dengan yang lainnya, Tama terlebih dahulu mengantarkan Dara pulang. Tetapi bukannya langsung menuju ke arah rumah calon istrinya, Tama justru berputar-putar mengelilingi jalanan di pusat kota.
"Ra, aku ingin jalan-jalan sebentar sebelum mengantarmu pulang. Tidak apa-apa, kan?" Tama melihat sekilas ke arah Dara sambil tetap fokus dengan kemudinya.
"Tapi ini sudah larut malam, Tam."
"Jangan khawatir, sayang. Aku sudah meminta ijin pada orangtuamu."
Tangan Tama terulur membelai wajah Dara yang bersemu merah. Dalam hati dia bersyukur telah memenangkan hati wanita di sampingnya itu, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Mobil Tama terus melaju membelah keramaian malam di akhir pekan. Suasana kota seakan tak pernah sepi, kendati malam semakin beranjak menuju pergantian hari.
Satu jam berputar-putar dan asyik bertukar cerita, mobil Tama mulai berbelok ke arah jalan menuju rumah baru yang akan dia tinggali bersama Dara setelah mereka menikah nanti.
Dilihatnya Dara sudah tertidur di sampingnya, setelah tak kuasa menahan sepasang matanya untuk tetap terjaga menemani Tama yang masih mengemudi.
Beberapa saat kemudian, mobil sudah berhenti di halaman rumah baru mereka. Terlihat ada dua orang berpostur tubuh tinggi tegap yang berjaga di sana.
Begitu mesin mobil dimatikan, Dara membuka mata dan mulai memulihkan pandangannya yang masih kabur karena terbangun dari tidur sesaatnya.
"Tam...?"
Dara menatap Tama dengan tatapan curiga saat menyadari di mana mereka sekarang. Apalagi waktu sudah semakin mendekati tengah malam, apa yang akan Tama lakukan padanya?
"Jangan memikirkan hal yang buruk tentangku, sayang. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."
Dara malu sendiri karena sempat meragukan calon suaminya. Dia bukannya tidak percaya pada Tama atau tidak yakin dengan pertahanan dirinya sendiri, tapi sikap Tama saat mereka hanya berdua dalam suatu tempat atau ruangan memang terkadang tak terduga dan tak terkendali, meskipun masih dalam batasannya.
Mereka turun dari mobil dan disambut oleh salah seorang penjaga yang menunjukkan sikap hormatnya kepada Tama. Dia adalah Edo, pimpinan tim pengawal keluarga Tama yang dulu juga membantu Tama dalam mengungkap penyebab kecelakaan yang menimpa Dimas dan Alila.
"Selamat malam, Bos Muda!"
Tama membalasnya dengan suara berwibawa.
"Semuanya sudah siap, Do?" Tanya Tama pada lelaki itu.
"Sesuai yang Bos Muda inginkan. Ini kunci rumahnya." Edo menyerahkan kunci rumah yang sebelumnya dia bawa.
Tama meraih tangan Dara dan mengajaknya masuk ke dalam rumah masa depan mereka. Dengan hati bertanya-tanya Dara hanya bisa patuh mengikuti langkah kaki Tama.
Setelah mereka tiba di dalam rumah, Tama membawa calon istrinya naik ke lantai dua, di mana kamar utama yang akan menjadi kamar pribadi mereka berada.
Sampai di depan pintu kamar, mereka berhenti sejenak. Tama terlihat mengulur waktu dan mencoba mengalihkan perhatian Dara dengan terus menatapnya hingga Dara salah tingkah dan tersipu sendiri.
__ADS_1
Tepat di saat jam di pergelangan tangan Tama menunjukkan waktu pergantian hari, lelaki itu membuka pintu kamar dan mengajak Dara masuk beberapa langkah. Suasana gelap karena lampu belum dinyalakan.
"Tam...." Dara kembali was-was namun Tama segera menyentuh saklar lampu sehingga ruangan berubah menjadi terang benderang.
"Selamat ulang tahun, Dara sayang...!"
Wajah Dara terlihat sangat terkejut dan tidak menyangka sama sekali. Dia menatap Tama dengan pandangan haru.
Tama memintanya melihat ke arah depan di mana tepat di hadapan mereka terdapat sofa panjang yang sudah dihiasi dengan beberapa balon warna-warni dan di atas meja di depannya ada kue tart kecil yang sudah disiapkan oleh Tama.
Dara menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia merasa sangat bahagia atas kejutan ulang tahun dari calon suaminya tersebut.
Tama merengkuh tubuh Dara dan memeluknya dengan erat. Diciumnya kening Dara cukup lama seraya memanjatkan doa terbaik untuk calon istri yang sangat dicintainya.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun, Ra!"
Dara membalas pelukan Tama dan mulai meneteskan air mata di atas dada lelaki itu. Dia sendiri bahkan lupa akan hari ulang tahunnya karena akhir-akhir ini disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka.
"Terima kasih, Tam."
Setelah cukup lama berpelukan, Tama mengajak Dara duduk di sofa dan bersiap untuk melakukan tiup lilin.
Tama memegang kue tart kecil yang dipesannya sendiri khusus untuk Dara, dengan tulisan I LOVE YOU di tengahnya.
Dara memejamkan mata sejenak untuk berdoa, lalu segera meniup lilin yang sudah dinyalakan oleh Tama sebelumnya.
Kemudian wanita itu memotong kue tart dan menyuapkannya pada Tama. Sebaliknya, Tama pun membalasnya, menyuapi Dara dengan potongan kecil kue tart yang sama.
Mereka tersenyum bahagia dengan tatapan mata yang saling beradu satu sama lain.
Tama meletakkan sisa kue tart di atas meja, demikian juga Dara yang meletakkan piring kecil dan sendok yang semula dipegangnya.
Mereka duduk berdekatan dan saling mengunci pandangan. Tangan Tama mulai bergerak ke atas, membersihkan wajah Dara dari helaian rambut yang mengganggu pandangannya, kemudian turun ke bawah dan melingkar di pinggang kecil calon istrinya.
Dara mulai gugup dengan tatapan mata Tama yang mulai meredup dan tertuju pada bibir tipisnya yang masih dipenuhi krim lembut dari kue tart yang mereka makan.
Perlahan Tama mulai memupus jarak wajah mereka, semakin dekat dan hampir tak bersela lagi, membuat Dara menahan nafas dengan debaran keras di dadanya.
Bibir Tama menyentuh bibir Dara, merasakan manisnya krim cokelat di permukaan bibir tipis yang telah menjadi miliknya itu.
Dara memejamkan mata, meresapi setiap sentuhan dan gerakan yang diciptakan oleh Tama dalam ciuman hangat nan lembut yang mereka nikmati bersama tanpa ada yang ingin mengakhirinya dengan segera.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
__ADS_1