Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
19 JATUH CINTA


__ADS_3

Seperti janjinya kemarin, pagi ini Dimas menjemput Alila untuk mengajaknya menikmati waktu kebersamaan mereka.


Jam delapan mereka sudah sampai di tepi pantai baru yang dulu pernah mereka datangi sebelum Dimas pergi ke Bandung. Suasana masih sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat sedang berenang di pantai dan beberapa yang lainnya bermain air di bibir pantai.


"Kita ke sana, Al. Ke tempat yang lebih teduh."


Dimas menggandeng tangan Alila, mengajaknya berjalan menuju ke sisi pantai yang masih dipenuhi pepohonan besar yang bisa melindungi mereka dari sorotan langsung sinar matahari.


Mereka duduk di salah satu tempat duduk unik yang berasal dari bekas perahu kecil yang diletakkan terbalik di bawah beberapa pohon yang ada.


Dari tempat mereka duduk, mereka bisa menikmati pemandangan pantai dan laut lepas yang sangat indah.


"Al, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Ya?"


Alila menatap Dimas yang telah lebih dulu menatapnya. Kedua mata mereka sama-sama terkunci dalam tatapan itu untuk beberapa saat.


"Dulu aku pernah menanyakannya, tapi kamu tidak mau membahasnya."


Alila masih menunggu apa yang akan Dimas tanyakan padanya. Sementara Dimas masih ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Dia takut jawaban Alila akan membuat hatinya kecewa.


"Al, saat ini apakah masih ada orang lain di hatimu? Selain aku..."


"Tidak ada, Dim." Alila menjawab dengan pasti.


"Bagaimana dengan pertanyaanku waktu itu? Tentang seseorang yang ada di hatimu, seseorang yang masih kamu nantikan, seseorang yang telah kamu cintai.."


Dimas menunggu jawaban Alila dengan hati yang berdebar. Sementara Alila menghela nafas panjang mendengar pertanyaan dari Dimas.


"Dim, sejak kamu meminta kesempatan padaku, maka sejak saat itulah di hatiku hanya ada hatimu."


(Bahkan jauh sebelum itu pun, di hatiku hanya ada dirimu, Dim.)


Dimas bernafas lega mendengar jawaban Alila.


"Al.. Ada yang ingin aku katakan padamu."


Dimas mulai mengatur nafasnya, menenangkan dirinya dan meyakinkan hatinya untuk menyatakan semuanya.


"Terima kasih atas kesempatan yang sudah kamu berikan padaku. Karena kesempatan itu, aku bisa belajar untuk menyelami isi hatiku sendiri, mencari tahu apa yang sesungguhnya aku rasakan padamu."


"Aku berusaha untuk memahami perasaanku padamu, bahkan saat harus berpisah dan jauh darimu, aku terus mencari jawaban atas rasa rinduku yang semakin besar, juga rasa sayangku yang semakin dalam padamu, Al."


Alila diam terpaku mendengarkan semua yang Dimas katakan. Dirinya menunduk tak berani menatap Dimas. Hatinya terus berdebar, resah menanti apa yang akan diutarakan Dimas setelah ini.


"Al, lihat aku."


Dimas memutar tubuhnya menghadap Alila, membuat Alila juga memalingkan wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Dimas. Kini mereka telah menyatukan pandangannya.


Tangan Alila berada dalam genggaman hangat tangan Dimas. Dia bisa merasakan getaran tangan Dimas yang menyiratkan kegugupannya.


"Aku jatuh cinta padamu, Al."


Alila melekatkan tatapannya, berusaha mencari kebenaran di dalam mata Dimas yang masih terus menatapnya dengan lembut dan semakin dalam.


"Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai merasakannya, Al. Mungkin karena terlalu dekatnya kita dan terlalu seringnya kita bersama selama ini, sehingga saat rasa itu hadir aku belum menyadarinya."

__ADS_1


"Tapi mungkin kamu yang lebih tahu, bagaimana perasaanku padamu, Al. Karena aku bukan orang yang pintar menyembunyikan sesuatu. Aku juga terbiasa mengatakan semua apa-adanya kepadamu."


"Aku mencintaimu, Al."


Genggaman tangan Dimas semakin erat saat dia mengatakan kalimat sakral itu.


"Dim, a-aku...."


Karena sangat gugup Alila sampai kehilangan keberanian untuk menjawab pernyataan cinta dari Dimas.


"Jangan memaksakan dirimu untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin kamu katakan, Al."


"Aku hanya ingin mengungkapkan semua perasaanku padamu. Dan itu sudah aku lakukan. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab atau menerima perasaanku sekarang."


"Melihatmu di dekatku dan bahagia bersamaku, itu sudah cukup bagiku, Al. Aku akan selalu menemanimu dan menjagamu seperti selama ini."


Dimas berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Temani aku jalan-jalan."


Sebelah tangannya menunjuk ke arah pantai.


Alila berdiri dan mengikuti langkah kaki Dimas menuju bibir pantai. Sesampainya di sana mereka melepaskan alas kaki dan menarik celana panjang mereka hingga ke bagian bawah lutut.


Dimas kembali meraih tangan Alila dan menggenggamnya. Mereka berjalan di atas pasir yang basah karena tersapu deburan ombak silih-berganti.


Sesekali deburan ombak menyentuh kaki mereka menimbulkan sensasi seolah mereka terseret ke pantai yang lebih dalam. Dan di saat seperti itu, satu tangan Alila langsung memeluk lengan Dimas dengan sekuat tenaga, membuat Dimas pun memegangnya lebih erat.


"Kamu takut?"


"Aku suka pantai. Tapi aku tidak bisa berenang."


Alila memasang muka cemberutnya hingga Dimas melebarkan senyumnya.


(Kamu selalu menggemaskan dengan semua tingkahmu, Al.)


Dimas melepaskan genggaman tangannya, berganti untuk melingkarkan tangannya di pinggang Alila, memeluknya dari samping.


"Kamu aman bersamaku, Al."


Deburan ombak yang lebih besar kembali menerpa kaki mereka. Alila yang takut segera memeluk Dimas dengan kedua tangannya. Posisi mereka semakin intim karena Alila menyembunyikan wajahnya di dada Dimas.


Alila bisa mendengar detak jantung Dimas yang begitu cepat. Seperti tertular, Alila pun merasakan jantungnya berdegup kencang disertai rasa sesak di dalam dadanya.


Dia menarik tubuhnya dari pelukan Dimas, mengalihkan pandangannya ke wajah Dimas yang masih menatapnya dengan lembut.


"Dim..."


Nafas Alila semakin memburu menahan gejolak di hatinya yang semakin tak tertahankan.


"Aku juga mencintaimu, Dim.."


Raut wajah Dimas seketika berubah. Antara terkejut dan tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.


"Al.., benarkah itu?"


"Dalam kondisi takut seperti ini, bisakah aku berbohong, Dim.."

__ADS_1


Dimas tak berkata-kata lagi. Dia merengkuh Alila ke dalam pelukannya.


"Terima kasih, Al. Aku mencintaimu."


Dalam pelukan Dimas, Alila tersenyum bahagia. Ada rasa lega di hatinya saat semua perasaan telah dia ungkapkan kepada pemilik hatinya selama ini.


Deburan ombak yang menyentuh kakinya tak lagi dia rasakan. Ketakutannya sirna berganti kehangatan pelukan Dimas yang menenangkan hatinya.


Tak lama kemudian Dimas melepaskan pelukannya. Kedua tangannya masih menggenggam tangan Alila dengan erat. Dia terus memandangi wajah wanita yang telah dicintainya itu.


"Al.."


"Ya?"


"Kamu cantik."


Pertama kalinya Dimas berani memuji seorang wanita. Pertama kalinya pula Alila tersipu malu atas pujian seorang lelaki.


"Dan kamu milikku."


Alila masih terdiam. Hanya terus menatap wajah Dimas yang serius saat mengatakannya.


"Aku tidak butuh gombalanmu, Dim."


'Tapi kamu menyukainya, Al."


"Tidak. Siapa yang bilang begitu?"


"Aku. Rona wajahmu tidak bisa membohongiku, Al."


Dimas menarik tubuhnya dari samping Alila. Sekarang dia berdiri tepat di belakangnya. Kedua tangannya melingkar di pinggang Alila, memeluknya dari belakang.


Hati Alila bergetar hebat, dadanya serasa ingin meledakkan sesuatu yang sangat sesak dan berat. Deru nafasnya kembali di atas normal manakala merasakan tubuh Dimas menyatu di belakang tubuhnya.


Saat deburan ombak datang kembali, tanpa sadar tangan Alila langsung memegang tangan Dimas yang memeluknya. Dia membuang wajahnya ke samping dengan mata terpejam menahan takut.


"Jangan takut, Al. Aku bersamamu."


Dimas mempererat pelukannya pada Alila, dengan tangan Alila yang terus memegang tangannya. Kepalanya sedikit menunduk mendekati wajah cantik itu, lalu dengan suara lembut dia berbisik di telinga Alila.


"Aku mencintaimu, Al. Kamu milikku."


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2