
Alila sudah mulai bekerja kembali. Meskipun Dimas masih khawatir dengan kondisi kesehatan istrinya, namun Alila tetap meyakinkan suaminya bahwa dia akan baik-baik saja selama berada di kantornya.
"Jaga dirimu, Al. Jika tidak kuat segera beristirahat dan kabari aku secepatnya!" Titah Dimas yang tidak bisa dibantah oleh istrinya. Mobil Dimas sudah berhenti di halaman parkir kantor istrinya.
"Iya, Dim. Pekerjaanku hanya duduk di satu tempat, tidak berpindah-pindah. Aku pasti kuat."
Alila memberikan ciuman singkat di bibir Dimas hingga lelaki itu tersenyum senang dan sejenak melupakan kekhawatirannya. Dibalasnya ciuman istrinya dengan ciuman yang sama namun lebih lama dan lebih dalam lagi.
"Kamu mau menggodaku, Al?"
Alila menggeleng cepat dengan senyumnya yang kian meluruhkan kekhawatiran Dimas padanya.
"Katanya ingin aku manja dan memanjakan kamu..?!"
"Ya. Dan aku tidak hanya menyukainya, Al. Aku juga sangat tergoda karenanya."
"Mau lagi..?" Alila malah semakin menggodanya dan memasang wajah polosnya yang menggemaskan bagi Dimas.
Lelaki itu tak menyia-nyiakan tawaran istrinya yang sangat langka itu. Tak biasanya, pagi ini Alila terlihat lebih ceria dan bersikap terbuka padanya. Padahal biasanya sangat sulit untuk membuat wanita itu seriang ini dan berani memulai lebih dulu.
Dimas menyentuh kepala belakang Alila dan menariknya dengan lembut namun pasti, menyatukan kembali bibir mereka, menggerakkannya bersama dalam satu irama cinta dan satu desahan nafas yang sarat kenikmatan.
"Terima kasih sudah memberiku semangat kerja yang istimewa..." Ucap Dimas setelah ciuman mereka berakhir dan tangannya membersihkan bibir basah istrinya.
Dengan wajah yang sudah merah padam dan gerah karena ciuman mereka, Alila justru kembali mencium pipi suaminya lalu memeluk tubuh Dimas dan menyembunyikan wajahnya di balik bahu sang suami.
"Hmm..., manjanya istriku. Aku suka kamu seperti ini, Al." Dimas tersenyum dan membalas pelukan Alila dengan bahagia.
Puas bermanja, Alila segera merapikan kembali seluruh penampilannya, lalu keluar dari mobil diikuti Dimas yang langsung menggandeng tangannya seperti biasa.
Sampai di dalam lobby, Alila bingung karena Dimas tidak berhenti dan terus menggandengnya sampai di depan lift. Mereka menunggu bersama beberapa karyawan yang lain. Beberapa di antaranya menyapa Alila sambil memperhatikan Dimas yang hanya diam di sampingnya dan sudah memasang raut wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Dim, mengapa kamu ikut ke sini?" Tanya Alila sambil menperhatikan suaminya yang seketika sudah berubah menjadi lelaki balok es yang dingin dan beku.
"Diamlah saja dan jangan protes. Aku akan mengantar sampai ke ruanganmu." Dimas menjawab tanpa melihat istrinya sama sekali.
Melihat sikap Dimas yang seperti itu, Alila memilih diam dan tidak bertanya apapun lagi. Sampai mereka masuk ke dalam lift dan lift kembali bergerak naik menuju lantai atas, Dimas tetap diam dan tidak sekalipun melihat ke arahnya.
Sampai di lantai tiga, Alila menarik tangan Dimas keluar dari lift dan terus berjalan sampai di depan ruangannya. Alila melihat ke sekitarnya yang masih cukup sepi, sementara di dalam ruangannya baru beberapa orang karyawan yang sudah datang.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini."
Tangan Alila berpindah meraih tangan kanan Dimas lalu mencium punggung tangan suaminya. Serta-merta Dimas menerbitkan senyuman di wajahnya. Dia mencium kening Alila disertai lantunan doa dalam hatinya untuk kesehatan sang istri.
"Nanti siang, tunggu aku di dalam ruanganmu." Dimas memutar pandangannya ke dalam ruangan Alila.
"Jangan ke mana-mana sampai aku menghubungimu. Aku akan menjemputmu di sini."
__ADS_1
Alila sudah akan membuka mulutnya tetapi Dimas kembali berucap. "Menurut saja pada suamimu."
Alila mengurungkan niatnya untuk membantah. Dia mengerti alasan Dimas melakukannya. Lebih baik dia menurut daripada lelaki itu semakin berlebihan menjaganya.
"Masuklah." Kepala Alila diusap dengan lembut lalu Dimas berbisik mesra di telinganya.
"Aku mencintaimu..."
Alila mengembangkan senyuman dan membalasnya dengan raut bahagia.
"Aku juga mencintaimu..."
.
.
.
"Al, jangan dipaksakan dulu pekerjaanmu. Sesampainya saja." Olla mengingatkan.
Posisi meja kerjanya yang berhadapan dengan meja kerja Alila, membuatnya bisa memperhatikan kesibukan Alila sedari pagi tadi, yang tidak berhenti menyelesaikan pekerjaannya dengan serius.
Saat Alila sakit kemarin, Olla dan juga Nadia dua kali menengoknya, ketika dirinya masih di rumah sakit dan saat dia sudah pulang ke rumah orangtuanya.
"Iya, La. Nanggung ini, sudah mau selesai kok." Dia melirik tanda waktu di sudut layar kerjanya. Sudah jam sebelas lewat. Sebentar lagi waktu istirahat siang tiba.
Alila berusaha menyelesaikan sisa pekerjaannya agar bisa selesai sebelum dia tinggalkan untuk beristirahat.
Olla yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Sama seperti Alila, Olla lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya bersama Dika di luar kantor. Berbeda dengan Nadia yang hanya sesekali saja keluar bersama Tama jika kekasihnya itu sedang ada pekerjaan di Pandawa Grup.
Tepat pukul setengah dua belas, Alila mengeluarkan ponselnya. Dia ingat pesan Dimas jika harus menunggu di ruangannya. Karyawan lain sudah mulai keluar dari ruangan, begitu juga Olla dan Nadia yang sudah bersiap untuk pergi.
"Kamu kok masih duduk saja, Al? Apa ada yang sakit?" Tanya Nadia khawatir. Olla ikutan menoleh ke arah sahabatnya itu.
Alila menggeleng dan tersenyum.
"Dimas tadi memintaku menunggu dulu di sini. Kalian duluan saja, tidak apa-apa."
Olla dan Nadia hendak keluar bersamaan ketika langkah mereka terhenti saat mendengar dering ponsel Alila. Mereka menunggu dulu siapa tahu Alila juga akan turun bersama mereka.
Alila membuka pesan masuk dari Dimas.
"Aku sudah di depan ruanganmu, Al."
Pandangan matanya segera beralih ke arah luar ruangannya. Tidak terlihat keberadaan Dimas dari tempat duduknya. Namun tiba-tiba Olla yang berhenti di dekat pintu bersuara.
"Al, si tampan sudah di sini. Itu dia."
__ADS_1
Olla melihat Dimas yang berdiri tak jauh dari pintu.
"Ya sudah, kita duluan saja, La. Biar Alila bersama suaminya." Nadia menarik tangan Olla untuk melanjutkan langkah mereka keluar setelah berpamitan lagi pada Alila.
Alila berdiri perlahan sambil membawa tas dan ponsel yang masih digenggamnya di tangan kiri, lalu berjalan keluar dari ruangan kerjanya.
Senyumnya mengembang begitu saja saat melihat suaminya berdiri menunggu dengan wajah bekunya, karena di sana banyak karyawan yang lalu-lalang dan memperhatikan keberadaan lelaki miliknya itu.
Tanpa peduli tatapan dari banyak orang di sana, Dimas segera menggenggam tangan kanan istrinya dan mengajaknya berjalan menuju antrian lift yang masih padat karyawan.
Alila menyapa beberapa karyawan yang dikenalnya untuk menutupi rasa sungkannya, karena hanya dia yang berdiri berpasangan dan terlebih lagi, suaminya bukan salah seorang karyawan di kantornya.
Dimas mempererat genggamannya ketika beberapa karyawan laki-laki datang dan menyapa istrinya. Wajahnya semakin dingin dan menatap tajam ke arah para lelaki itu. Alila membalas sapaan mereka sekedarnya.
Saat lift yang mereka tunggu terbuka dalam keadaan kosong, Dimas langsung mendahului yang lain dan menarik pelan tangan istrinya untuk masuk dan berdiri di bagian belakang. Tidak ada suara yang keluar dari sepasang suami-istri itu sampai lift berhenti di lantai dasar.
Alila bingung karena Dimas tidak membawanya keluar gedung dan menuju ke area parkir, melainkan berbelok ke jalan penghubung menuju kantin.
"Untuk sementara kita akan makan siang di sini, Al. Sampai kondisimu lebih kuat dan benar-benar pulih. Aku tidak mau kamu semakin lelah jika kita makan siang di luar."
Alila diam dan menuruti saja kemauan Dimas. Dia justru merasa sangat senang dengan perhatian suaminya. Tidak menyangka jika Dimas akan memikirkannya sampai hal-hal kecil seperti ini.
Sesampainya di kantin yang cukup luas itu, sekarang Alila yang gantian menarik tangan Dimas untuk mengikutinya menuju sebuah meja yang masih kosong di bagian tepi.
Mereka duduk bersebelahan, menghadap ke arah luar tepatnya halaman depan gedung.
"Kamu mau makan apa, Al?"
"Aku kangen bakso yang di sebelah sana, Dim. Rasanya lebih gurih dan beda dari yang lain." Alila menunjukkan pada Dimas penjual bakso yang dia maksud.
Dimas berdiri dan berjalan ke arah yang ditunjukkan Alila untuk memesan bakso yang diinginkan sang istri berikut minumannya.
Kembali menuju ke meja di mana Alila menunggu, Dimas berpapasan dengan sepasang kekasih yang tersenyum lebar menyapanya.
"Bolehkah kami bergabung satu meja dengan kalian?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.