
Jam tujuh pagi Dimas menelepon Alila. Hanya panggilan suara biasa, bukan panggilan video. Walaupun ingin, tapi Dimas khawatir jika mereka bertatap wajah melalui video, justru akan membuat mereka semakin bersedih.
Dimas menelepon Alila saat dirinya sudah sampai di ruang tunggu bandara.
"Al."
"Ya, Dim. Kamu sudah sampai bandara?"
"Iya. Di ruang tunggu."
Sejenak mereka sama-sama terdiam. Alila berusaha menahan air matanya. Meskipun tak akan terlihat oleh Dimas, tapi tangisan akan membuat suaranya berbeda dan Dimas pasti akan bisa menebaknya.
Dimas sendiri berulang kali menghela nafas berat untuk menghentikan rasa sesak di dadanya.
"Dim."
"Ya, Al?"
"Jaga kesehatanmu."
"Iya, Al. Kamu juga, jangan malas makan."
Alila tersenyum. Dia ingat jika dirinya sering menunda makan. Jika ada Dimas, dialah yang selalu mengingatkan dan mengajaknya untuk makan. Besok-besok, siapa yang akan mengingatkannya? Haruskah alarm?
"Al, jangan menunda makanmu. Aku tidak mau lambungmu bermasalah lagi dan kamu jatuh sakit."
Dimas mengulangi permintaannya.
"Ya, Dim. Aku akan mengingatnya."
"Al, kamu masih ingat permintaanku?"
Alila kembali tersenyum mengingat permintaan Dimas saat mereka di mall kemarin.
"Aku tidak akan melupakannya, Dim."
"Katakan padaku sekarang."
"Kamu tidak percaya padaku, Dim? Kamu meragukan ingatanku?"
Hampir saja Alila menangis kalau saja Dimas tidak segera meralat ucapannya.
"Maafkan aku, Al. Tolong jangan marah, jangan menangis. Aku tidak akan menanyakannya. Aku percaya padamu."
Alila mengatur nafasnya yang tersengal karena hampir menangis.
(Seperti ini rasanya saat sedang berjarak. Hal sepele saja bisa menjadi pemicu masalah..)
Di seberang telepon sana, Dimas sudah mengacak rambutnya karena menyesali ucapannya yang hampir membuat Alila marah padanya.
(Aku tidak suka berjauhan seperti ini. Satu kata saja bisa menjadi salah paham..)
"Al, jangan melupakan aku."
"Kamu juga jangan melupakan aku, Dim."
"Jangan mencari orang lain untuk mengisi tempatku, Al."
"Jangan mencari orang lain untuk menggantikan aku, Dim."
"Aku akan merindukanmu, Al."
"Aku juga pasti rindu padamu, Dim."
"Aku sayang sama kamu, Al."
"Aku juga menyayangimu, Dim."
__ADS_1
Deg..!! Alila menutup mulut dengan tangannya. Dia terkejut sendiri dengan ucapan terakhirnya, karena sedari tadi dia latah membalas mengikuti kata-kata Dimas.
Sedangkan Dimas, dia tersenyum puas karena bisa mendengar Alila mengatakan rasa sayang padanya.
"Terima kasih, Al. Aku pegang kata-katamu dan akan selalu aku ingat, untuk menguatkan aku saat tidak bisa bersamamu nanti."
Alila masih terdiam tak ingin menjawab Dimas. Dia menyesal telah mengungkapkan perasaannya tanpa dia sadari. Harusnya dia bisa menahan dan mengakuinya dengan sepenuh hati di saat mereka bertemu dan berhadapan, bukan di saat berjauhan dan tak bisa saling menatap seperti sekarang ini.
"Al, aku pindah ke panggilan video ya, sebentar saja."
"Baiklah."
Sekian detik berikutnya, mereka sudah sama-sama menatap layar ponsel yang terus menyala terang.
Entah karena insiden yang baru saja terjadi atau karena apapun itu, Alila merasa malu melihat dirinya sendiri. Wajahnya bersemu merah dan terlihat gugup.
Dimas justru tersenyum lebar melihat wajah Alila yang merona menggemaskan.
(Aku akan sangat merindukan pemandangan indah ini, Al.)
"Al, mana senyummu?"
Pertanyaan yang sering dilontarkan Dimas pada Alila.
"Bukankah dari semalam sudah kamu bawa pergi bersamamu..?!"
"Ah iya, aku lupa. Sekarang akan kukembalikan semuanya padamu supaya wajahmu tidak datar lagi seperti itu."
Alila kembali melihat wajahnya sendiri di sudut layar bagian atas. Memang benar wajahnya masih terlihat dingin tanpa ekspresi.
Dia kembali menatap layar utama, ada Dimas dan senyum tipisnya menunggu di sana. Dengan segera Alila mengukir senyuman di bibirnya yang membuat Dimas turut melebarkan senyumannya.
Diam-diam Alila melakukan screenshoot, tepat di saat wajah Dimas menampakkan senyum lebar. Dia tersenyum senang.
Tanpa disadarinya, Dimas telah lebih dulu melakukan hal yang sama dengannya. Mengambil screenshoot dirinya saat mulai tersenyum tadi.
"Sejak kapan kamu jadi pintar bicara seperti ini, Dim? Setahuku kamu itu dingin sekali bahkan tersenyum pun jarang."
"Sudah aku bilang, semuanya berubah karena kamu, Al. Sejak aku melihatmu sebagai seorang wanita dewasa, bukan lagi sebagai seorang sahabat."
Alila menatap wajah Dimas di layar ponselnya.
(Benarkah aku bagimu kini lebih dari sahabat, Dim?)
"Jam berapa pesawatmu berangkat?"
Alila mengalihkan topik.
"Setengah sembilan."
Alila melirik jam digital di layar ponselnya. Waktu semakin mendekati saat perpisahan. Alila kembali menatap wajah Dimas yang memenuhi layar utama.
"Dim.." Ucapannya terputus.
"Jika ada yang ingin kamu katakan, katakan sekarang, Al. Sebentar lagi aku harus masuk ke dalam pesawat."
Alila mencoba menenangkan hatinya yang mulai resah menghitung mundur waktu yang berjalan.
Dia mengunci pandangannya ke arah layar. Sejenak dia ingin menikmati momen ini.
"Aku menunggumu."
Dimas tersenyum menatap wajah Alila di layar ponselnya.
"Aku akan kembali untukmu."
Di saat yang bersamaan, terdengar panggilan nyaring untuk penumpang pesawat tujuan Bandung.
__ADS_1
Hati Dimas bergetar tak menentu. Saatnya telah tiba. Dia memaku pandangannya pada wajah cantik di layar ponsel miliknya.
Samar-samar Alila juga mendengar suara itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dia menatap lekat-lekat wajah Dimas yang terlihat tidak tenang.
"Al, aku harus pergi sekarang."
"Iya, Dim."
Panggilan kedua kembali terdengar. Di sekitar Dimas, beberapa orang sudah beranjak dari duduk mereka dan berjalan menuju pintu keberangkatan.
Dimas masih menatap wajah Alila.
"Aku menyayangimu, Al."
Alila menampakkan senyumnya saat mendengar ucapan Dimas.
"Aku juga menyayangimu, Dim."
Waktu tak bisa lagi ditawar.
"Aku harus mematikan ponselnya sekarang, Al. Jaga dirimu."
"Jaga dirimu juga, Dim."
Panggilan terputus. Dimas telah menutupnya dengan berat hati. Dia mematikan ponsel dan segera menyimpannya.
Dia berdiri dan meraih koper besar di sampingnya, lalu bergegas melangkahkan kaki menuju pintu keberangkatan.
Saat berjalan meninggalkan ruangan itu, terdengar alunan lagu dari ponsel milik seseorang yang masih duduk di salah satu kursi ruang tunggu.
Kau mampu membuatku tersenyum dan
Kau bisa membuat nafasku lebih berarti
Kau jaga selalu hatimu saat jauh dariku
Tunggu aku kembali
Ku mencintaimu selalu
Menyayangimu sampai akhir menutup mata
~Jaga Selalu Hatimu : Seventeen Band~
Dimas tersenyum mendengarkan penggalan lagu cinta itu. Dia merasakan suara hatinya terwakili oleh lagu tersebut.
(Tunggu aku kembali, Al.)
Di dalam kamar, Alila masih termangu menatap ponsel di tangannya. Dimas telah mengakhiri panggilan. Dia telah berangkat. Pergi meninggalkan dirinya yang kini harus sendiri melalui waktu tanpa kehadiran seseorang yang sangat dicintainya.
Alila menghela nafas panjang. Dia harus kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini. Hanya sementara, bukan selamanya. Hanya tiga bulan saja. Bukan empat tahun lamanya.
(Aku akan menunggumu, Dim.)
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author