
Minggu pagi, Dimas sudah sampai di rumah Alila. Sebelum Alila keluar, dia berbincang santai bersama Alano di teras depan.
"Mas Dimas serius sama mbak Al?"
Semenjak Alano diminta Dimas untuk menggantikannya menjaga dan menemani Alila setiap hari, lelaki muda itu mulai memperhatikan hubungan Dimas dengan kakaknya.
Dia tahu, dari dulu mereka bersahabat dan sangat dekat. Tapi yang dilihatnya akhir-akhir ini, tepatnya sejak mereka lulus kuliah, hubungan Dimas dan kakaknya semakin dekat dalam artian yang berbeda.
"Serius bagaimana maksudmu?"
"Ya serius hubungannya. Lebih dari sahabat. Kalian sudah pacaran?"
Dimas memperhatikan Alano dengan tatapan tajamnya. Adik Alila itu meskipun sifatnya tak jauh beda dengannya, tapi jika menyangkut tentang kakaknya dia sangat protektif dan penuh kekhawatiran.
Dengan usia yang hanya terpaut dua tahun, mereka sangat dekat sebagai saudara meskipun saat di rumah mereka lebih sering terlihat seperti tikus dan kucing yang selalu ramai dan saling cela.
Namun lebih dari semua itu, Alano sangat menyayangi dan melindungi Alila, sama halnya dengan Dimas, tapi dalam artian sayang yang tidak sama.
"Menurutmu?" Dimas melempar balik pertanyaannya.
"Aku sebenarnya tidak tertarik dengan masalah seperti ini, mas. Hanya kali ini mau tak mau aku harus tahu karena mbak Al juga tanggung jawabku."
Dimas tersenyum tipis. Dia tahu Alano sangat menyayangi Alila meskipun jarang dia tunjukkan secara langsung. Kadang dia merasa melihat dirinya sendiri di dalam diri Alano. Hanya sifat usil Alano saja yang tidak dia miliki.
"Aku sayang sama dia."
"Hanya sayang? Orang lain juga banyak yang sayang sama mbak Al, mas."
Alano merasa tidak puas dengan jawaban Dimas. Dia yakin pasti ada rasa yang lebih dari itu di antara mereka.
Dimas kembali menatap tajam ke arah Alano. Selama tiga bulan ini dia sudah banyak mengganggu waktu lelaki muda itu. Alano bahkan membantunya memberi beberapa informasi tentang Tama dan Dika yang sebenarnya dia tidak meminta untuk melakukannya.
"Aku mencintai Alila."
Akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya pada Alano.
"Nah gitu dong mas, mengaku juga.." Alano tersenyum lebar merasa senang karena mendapatkan berita panas terbaru langsung dari sumbernya.
Bersamaan dengan itu, Alila keluar dan terkejut mendengar ucapan Dimas pada Alano. Dia melihat ke arah Dimas yang sudah mengetahui keberadaannya di dekat pintu.
Dimas tahu jika Alila mendengar perkataannya tadi. Dia memberikan kode pada Alano dengan gerakan matanya.
Alano yang menangkap kode dari Dimas, tetap diam di kursinya. Dia pura-pura tidak mengetahui ada kakaknya berdiri di belakangnya.
"Tapi hati-hati ya mas, mbak Al itu banyak kurangnya lho. Dia aslinya galak dan suka marah-marah tak jelas, tapi kalau sama kamu dia baru bisa jinak dan sok manis."
Sontak mata Alila melotot mendengar kata-kata adiknya yang sembarangan itu.
"Dia juga cengeng banget, apalagi kalau lagi kangen sama kamu mas, bisa menangis semalaman dia sambil memeluk foto mas Dimas yang ada di ponselnya. Sudah bucin banget pokoknya."
Alila semakin membulatkan matanya mendengar mulut Alano yang masih berbicara semaunya sendiri.
"Oya, satu lagi. Dia tukang molor, mas. Bisa tidur di mana saja. Dan kalau sudah tidur, susah banget dibanguninnya."
"Ingat tidak mas, waktu pulang malam-malam itu. Digendong dari mobil sampai kamar saja dia tetap tidak terbangun. Sepertinya nyaman banget digendong sama kamu. Keenakan dia mas, dimanjain terus sama kamu."
Alano tersenyum puas dengan semua ocehannya yang sengaja diucapkannya lebih keras agar Alila mendengar dengan jelas.
Dan tiba-tiba pukulan dari tangan Alila mendarat di atas kepala Alano. Tidak hanya itu, Alila juga menarik telinganya. Alano meringis kesakitan memegang kepala dan telinganya, meskipun sebenarnya tidak terlalu dirasakannya karena dia puas bisa menggoda kakaknya.
__ADS_1
"Auww.., aduhh..!! Sakit mbak, KDRT ini namanya. Kasar sekali jadi cewek. Mana ada yang mau sama cewek brutal seperti kamu, mbak.."
Mulut Alano masih terus mengeluarkan bisa untuk memancing amarah Alila.
"Diam, Lan!"
Wajah Alila sudah merah padam antara menahan malunya pada Dimas dan juga amarahnya pada sang adik yang sedang berulah.
"Sudah, Al. Jangan marah lagi. Ayo kita berangkat saja. Aku tinggal dulu, Lan."
Dimas bangkit dan menarik tangan Alila untuk mengikutinya menuju mobil.
"Hati-hati, mas. Yang sabar, marahnya belum hilang itu."
Alila menoleh ke belakang meninggalkan tatapan kemarahan untuk Alano yang hanya membalasnya dengan tawa lebar penuh kepuasan.
.
.
.
Di dalam mobil yang sudah melaju, Alila masih merasa kesal dengan ulah adiknya yang membuatnya malu pada Dimas, apalagi sekarang mereka hanya berdua di dalam mobil.
"Tanpa Alano katakan pun, aku juga sudah tahu bagaimana dirimu, Al."
"Tapi tidak semua yang dikatakannya benar, Dim. Dia terlalu melebih-lebihkan semuanya."
Dimas tersenyum mendengar pembelaan yang Alila coba lakukan. Sesaat dia mengalihkan pandangannya ke arah Alila. Melihat wajahnya yang cemberut dan masih menyisakan rona malu membuat Dimas merasa sangat gemas.
"Oya? Katakan padaku, mana yang tidak benar atau berlebihan?"
"Kamu bukan seorang yang pemarah? Tapi tadi aku lihat sendiri kamu marah pada adikmu.."
Alila diam saja.
"Kamu tidak pernah menangis karena aku? Bahkan sambil memeluk fotoku?"
Alila semakin terdiam dan menunduk malu.
"Kamu bukan tukang tidur? Bukankah selama ini kamu memang Putri Tidur kesayanganku, Al?"
Alila tersenyum mendengar Dimas menyebutkan julukan yang sejak lama diberikan untuknya. Pandangannya beralih pada Dimas yang masih fokus mengemudi.
"Maafkan aku, Dim. Aku hanya malu karena Alano menceritakan semuanya padamu."
"Sudah kukatakan tadi, tanpa dia bercerita pun aku sudah tahu bagaimana dirimu, Al. Sama halnya kamu juga sudah memahami bagaimana diriku."
Dimas membelokkan mobil masuk ke halaman rumahnya. Ada satu mobil lain yang terparkir di dalam garasi yang terbuka itu.
"Ada tamu, Dim?"
Dimas tidak menjawab. Dia mematikan mesin mobil tapi pintu masih dikunci olehnya.
"Al, tutup dulu matamu."
Dimas sudah merubah posisi duduknya menghadap ke arah Alila, dengan sedikit mengangkat kaki kirinya ke atas kursi kemudi.
"Ada apa, Dim?"
__ADS_1
Alila masih menunggu jawaban Dimas dengan wajah bingung dan tidak tenang. Hatinya terus bertanya-tanya dan menduga‐duga.
"Tutup saja matamu. Sebentar saja."
Akhirnya Alila menuruti permintaan Dimas dan segera memejamkan matanya.
Melihat Alila yang sudah menurutinya, Dimas mengambil sesuatu dari laci mobil. Sebuah kotak mungil telah berada di tangannya. Dengan wajah yang terlihat mulai menegang, dia membukanya dan mengambil isi di dalamnya.
Meski wajahnya tegang dan gugup, tapi dengan mantap Dimas meraih tangan kiri Alila dan menyematkan sebuah cincin di jari manis Alila. Wajah tegangnya mulai hilang dan berganti dengan sebuah senyuman.
"Sekarang buka matamu, Al."
Alila yang sudah merasakan sesuatu terpasang di jari manisnya, segera membuka matanya dan melihat ke arah tangannya yang masih terus digenggam Dimas.
Matanya mulai berair mengamati cincin yang telah menghiasi jari manisnya dan terlihat sangat indah.
"Dimas, ini....."
"Ini tanda cintaku padamu, Al. Bukti kesungguhan atas perasaanku padamu."
"Aku ingin kita selalu dekat dan bersama. Aku tidak ingin terpisah lagi darimu."
"Cukup tiga bulan kemarin aku harus jauh darimu, Al. Aku tidak ingin kehilangan kamu dari hari-hariku lagi."
"Dengan cincin ini, aku berharap hatiku dan hatimu akan terus terikat dan saling menjaga selamanya."
Dimas mencium tangan Alila dengan sangat lembut tepat di atas cincin yang melingkar sempurna di jari manisnya.
"Dim, semua ini seperti mimpi.."
Alila menutup mulutnya dengan tangan kanan, berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan isak tangis. Meski demikian, air mata tetap saja luruh mengalir membasahi kedua pipinya.
"Seandainya ini mimpi, maka tetaplah bermimpi dan melaluinya bersamaku."
Dimas semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dia berusaha untuk meyakinkan Alila bahwa semuanya adalah nyata antara dia dan dirinya.
"Aku mencintaimu, Alila."
Alila menyunggingkan senyuman yang diselimuti kebahagiaan, mewakili ungkapan seluruh perasaan di hatinya yang tengah berbunga-bunga.
"Terima kasih, Dim."
Dimas menyeka sisa air mata yang masih tertinggal di wajah cantik Alila. Dia melepaskan tangan Alila dengan perlahan.
"Ayo kita turun. Ada yang ingin bertemu denganmu, Al."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author