Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
40 SANGAT ISTIMEWA


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Dimas sebelumnya, seminggu kemudian tepatnya di akhir pekan ini, Dimas membawa Alila pulang ke rumah orangtuanya di luar kota.


Sepulang dari acara pernikahan Sandy dan Nayla, Dimas langsung menemui orangtua Alila dan mengutarakan keinginan dan kesungguhannya untuk segera menikahi Alila.


Karena sudah mengetahui hubungan yang terjalin di antara mereka berdua selama hampir lima tahun ini, papa dan mama Alila tidak keberatan sama sekali dengan niat baik keduanya.


Mereka menunggu kedatangan orangtua dan keluarga Dimas untuk berkunjung dan saling mengenal lebih dekat, sekalian membicarakan rencana pernikahan putra-putri mereka.


Dan sekarang, mereka berdua tengah berada dalam perjalanan lintas wilayah menuju ke kota di mana orangtua dan kakak Dimas menetap saat ini.


Mereka berangkat sore hari sepulang bekerja, agar bisa sampai di sana tidak terlalu malam. Dimas sengaja mengajak Alila berangkat sore hari untuk menikmati perjalanan malam hari yang lebih tenang dan syahdu. Sementara lusa ketika pulang nanti, mereka akan berangkat pada siang hari agar bisa memanjakan mata dengan suguhan panorama alam yang indah di sepanjang perjalanan.


Hari telah senja saat Dimas dan Alila melewati perbatasan antara dua kota kecil. Sudah satu setengah jam mereka melakukan perjalanan. Sementara total waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kota tujuan mereka sekitar empat jam. Belum ada separuh perjalanan yang sudah mereka lalui.


"Al, kita istirahat dulu ya. Hari juga sudah petang."


"Ya, Dim."


Dimas mulai memperlambat laju mobilnya, mencari-cari tempat untuk beristirahat sejenak. Beberapa menit kemudian, dia menghentikan mobilnya di halaman sebuah cafe lesehan yang bersebelahan dengan masjid setempat.


Dimas dan Alila keluar dari mobil, lalu melangkahkan kaki menuju ke dalam cafe dengan saling berpegangan tangan.


Mereka mencari tempat di sisi samping, dekat dengan pintu penghubung ke halaman masjid. Dimas yang terlihat lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas tikar yang tergelar sebagai alas duduk mereka. Dia melipat kedua tangannya ke belakang kepala untuk dijadikan bantalan tidur, lalu memejamkan kedua matanya.


Alila duduk di samping Dimas tepat di atas kepalanya. Dia bersandar pada dinding cafe dan meluruskan kakinya yang terasa pegal. Dia tersenyum melihat Dimas yang memejamkan matanya. Tangannya terulur ke ujung kepala Dimas, lalu mengusapinya dengan lembut dan sesekali mengacak rambutnya dengan pelan.


(Kamu pasti kecapekan, Dim. Sepulang bekerja seharian dilanjutkan dengan perjalanan jauh ke luar kota seperti ini.)


"Pesankan aku kopi dengan sedikit gula, Al."


Terdengar suara pelan Dimas, masih dengan mata yang terpejam.


"Ya, Dim."


Seorang pramusaji datang untuk mencatat pesanan mereka. Setelah Alila memberitahukan beberapa pesanannya, pramusaji itupun bergegas pergi untuk menyiapkannya.


"Dim, nanti gantian aku saja yang menyetir mobilnya. Kamu bisa istirahat dulu sejenak. Tidak baik memaksakan dirimu tetap membawa mobil dengan kondisi lelah seperti ini."


Seketika mata Dimas terbuka dan menatap tajam ke atasnya, ke arah wajah Alila.


"Tidak boleh!"


"Ini perjalanan jauh, Dim. Aku bisa menggantikanmu sebentar agar kamu bisa istirahat dulu."


"Tidak. Selama ada aku, kamu tidak boleh menyetir mobil sendiri, Al. Kecuali keadaan yang mendesak atau terpaksa. Kamu adalah tanggung jawabku. Cukup kamu ada di sampingku, sedikit rasa lelah ini pasti akan segera hilang."


Dimas meraih tangan Alila yang masih mengusap kepalanya. Dia menggenggamnya dan menariknya pelan lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut, kemudian mendekapnya di atas dada.


"Lihat aku, Al. Tubuhku sudah merasa lebih nyaman dan kuat kembali."


Alila tersenyum saat kedua pasang mata mereka bertatapan sendu seolah saling mengalirkan energi cinta satu sama lain.

__ADS_1


Tangannya yang berada di atas dada Dimas bisa merasakan degup jantung kekasihnya yang berdetak keras dan cepat, sama dengan detak jantungnya sendiri yang bertalu-talu sangat kencang dan menyesakkan. Sesak yang berselimutkan kebahagiaan.


Pesanan mereka datang. Dimas segera bangun dan duduk merapat di samping Alila. Wanitanya itu mengambilkan secangkir kopi pesanan Dimas dan menyerahkan kepadanya.


Dimas segera mengambil alih cangkir kopi itu dan mulai menyesap isinya sedikit demi sedikit dan menikmati kehangatan yang mulai mengalir di rongga dada hingga ke dalam perutnya.


Alila turut meminum teh hangatnya sambil menatap ke bawah, melihat tangan kiri Dimas yang sudah memeluk pinggangnya dari belakang. Dia menahan senyumannya sendiri.


Mereka berdua mulai menghabiskan roti bakar dan kentang goreng yang dipesan Alila. Sesekali dengan manjanya Dimas meminta Alila untuk menyuapinya, dan dengan penuh perhatian Alila pun menurutinya dan melayani kekasihnya dengan senang hati.


Setelah cukup beristirahat dan menunaikan kewajibannya, Dimas dan Alila kembali melanjutkan perjalanan malam mereka dengan tubuh yang lebih segar dan hati yang tenang.


Alila berusaha keras untuk menahan rasa kantuknya karena tak ingin membiarkan Dimas melajukan mobilnya sendiri tanpa ada yang menemaninya berbagi cerita bersama. Lagipula, rasanya akan lebih berkesan dan romantis di saat mereka berdua bisa menghabiskan malam bersama sepanjang perjalanan.


.


.


.


Jam sembilan malam akhirnya Dimas dan Alila sampai di rumah orangtua Dimas. Mereka sudah ditunggu dan disambut oleh papa dan mama Dimas di teras depan.


Setelah keluar dari mobil, Dimas dan Alila segera menghampiri mama dan papa, kemudian bergantian menyalami dan mencium tangan mereka.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Dimas kembali ke mobil untuk mengambil dua buah travel bag miliknya dan Alila yang berisi pakaian ganti mereka. Lalu dia menyusul yang lainnya yang sudah berada di dalam rumah.


"Mama sudah memasak makan malam untuk kalian. Kalian makanlah dulu sekalian, baru kemudian beristirahat."


"Kak Darma dan keluarganya tidak tinggal di sini, Tante?" Tanya Alila.


"Oh, mereka tinggal di rumah mereka sendiri, tak jauh dari toko kuenya. Besok biar Dimas yang mengajakmu ke sana. Mereka belum tahu kalau kalian datang kemari."


Mama Dimas menjawab pertanyaan Alila sambil menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


"Ayo, kalian makan dulu dan segera beristirahat. Untuk pembicaraan tentang kalian berdua, akan kita bahas besok bersama Darma dan Indira juga."


Papa Dimas mengingatkan kembali jika malam semakin larut. Setelah itu beliau berdua pamit untuk beristirahat di kamar, meninggalkan putra bungsu dan calon istri tercintanya.


Tinggallah Dimas dan Alila berdua menyantap makan malam buatan mama Dimas. Duduk bersebelahan, membuat Dimas kembali manja meminta untuk disuapi oleh kekasihnya.


"Mengapa sikapmu sekarang sangat manja, Dim."


"Hanya manja denganmu. Tidak dengan orang lain, Al."


"Mengapa hanya aku?"


"Karena kamu istimewa, Al. Aku ingin selalu bermanja denganmu dan juga memanjakanmu."


(Sungguh aku merasa sangat tersanjung, Dim.)


Dimas mengambil sendok di piringnya lalu menyuapi Alila dengan hati-hati. Mereka bergantian saling menyuapi dengan mata yang saling menatap dengan penuh kasih.

__ADS_1


"Benarkah seperti itu? Seberapa istimewanya diriku bagimu?"


"Sangat istimewa. Tak ada yang lain selain dirimu, yang bisa membuatku bertekuk lutut karena cinta, Al. Hanya kamu yang pertama dan satu-satunya yang mampu membuka hatiku dan membiarkan dirìmu dan hatimu masuk ke dalamnya dan bertahta di sana selamanya."


Pipi Alila seketika terasa begitu panas diiringi semburat merah yang mewarnai permukaan wajahnya. Berjuta kembang api pun serasa tengah meledak bergantian di dalam dadanya, memancarkan sinar cinta yang berkilauan bak permata abadi yang melingkar sempurna mengikat hatinya.


"Jangan pernah meragukan cintaku, Al. Meskipun aku terlambat menyadari bahwa diriku telah jatuh cinta begitu dalam kepadamu, aku akan menebusnya dengan menyerahkan seluruh diri dan hatiku untuk kau miliki dan kau cintai selamanya."


Mata Alila telah mulai berkaca-kaca karena sangat tersentuh dan terharu dengan pengakuan cinta Dimas kepada dirinya.


"Kau membuatku ingin menangis, Dim."


"Jangan menangis lagi, Al. Airmatamu adalah salah satu kelemahanku."


Alila berusaha untuk menahan airmatanya keluar. Dia tersenyum manis dan membuat Dimas melakukan hal yang sama, mengukir senyuman terindah yang hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh Alila seorang.


Tanpa mereka berdua sadari, dari sebuah kamar yang terletak di belakang tempat duduk mereka, kedua orangtua Dimas menyaksikan peristiwa langka yang sangat membahagiakan dan menentramkan hati mereka.


Anak laki-laki kesayangan mereka terlihat begitu manja dan tersenyum bahagia bersama calon istrinya. Suatu hal yang selama ini sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dilakukan Dimas saat berhadapan dengan orang lain.


"Lihatlah, Pa. Putramu sekarang sudah benar-benar dewasa dan sangat menyayangi calon istrinya."


"Hmm, iya, Ma. Dia telah menemukan cinta sejatinya."


"Alila bisa membuatnya bahagia dan berubah menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab dan siap berkomitmen."


"Dia adalah calon istri terbaik untuk Dimas, dan calon menantu terbaik untuk keluarga kita, sama seperti Indira."


Mama menitikkan air mata, air mata bahagia seorang ibu untuk buah hati kesayangannya. Sementara papa berusaha menahan perasaannya dengan menghela nafas panjang, dia begitu bangga terhadap putra tercintanya.


Pintu kamar sepasang orangtua itu tertutup sempurna tepat di saat Dimas mencium lembut kening Alila lalu memeluknya dengan hangat dan begitu erat.


"Aku mencintaimu, calon istriku.."


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~


.

__ADS_1


__ADS_2