Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
37 (MASIH) PATAH HATI


__ADS_3

"Al.."


"Ya, Dim?"


"Kapan kita akan menikah?"


Alila menatap wajah Dimas dengan pandangan serius. Antara bahagia dan tidak percaya, bercampur gugup dan takut saat memikirkannya.


"Menikah, Dim?"


"Tentu saja, Al. Apa kamu tidak menginginkannya? Atau kamu masih meragukan kesungguhanku?"


Tidak peduli dengan keramaian di sekitar mereka, Dimas masih terus menggenggam erat tangan sang kekasih yang berada di pangkuannya. Sorot matanya begitu dalam menatap Alila dengan pandangan penuh cinta. Sangat berbeda dengan sikap kesehariannya yang selalu dingin dan kaku.


"Aku juga menginginkannya, Dim. Dan tidak mungkin aku meragukanmu. Hanya saja aku masih meragukan diriku sendiri, apakah aku sudah siap dan pantas untuk menjadi pendampingmu. Aku takut nantinya akan mengecewakanmu."


""Lihatlah ke sana, Al."


Jari telunjuk Dimas terarah ke panggung pelaminan di mana sepasang pengantin baru yang telah berganti pakaian resepsi, terlihat sangat bahagia dan saling melemparkan senyuman lepas mereka.


"Kalau Sandy dan Nayla saja bisa yakin dan siap untuk menikah, mengapa kita tidak?"


Alila diam merenungi apa yang dikatakan oleh Dimas. Menikah dengan Dimas? Tentu saja dia menginginkannya, bahkan sangat menginginkannya. Hidup bersama dengan Dimas selamanya? Sudah pasti diapun selalu memimpikannya.


"Aku takut tidak bisa membahagiakan dirimu, Dim."


"Selama ini saja kamu selalu membahagiakan aku, Al. Bahkan kamu rela mengabaikan perasaanmu sendiri demi kebahagiaanku. Apakah itu tidak cukup untuk membuktikan bahwa kamu selalu memberiku kebahagiaan dan aku memang bahagia bersamamu?"


"Satu lagi yang harus kamu tahu, Al. Selama ini, selama empat tahun kita bersama saat kuliah, dan berlanjut sampai sekarang hampir lima tahun kita telah bersama, tidak sekalipun kamu membuatku tidak bahagia, dan tidak ada satupun momen yang membuatku tidak bahagia bersamamu."


"Setiap kali aku mengingatmu dan mengingat kebersamaan kita, aku selalu tersenyum, Al. Aku merasa senang, aku bahagia saat bersamamu. Kamulah kebahagiaanku, Al."


Dan sekali lagi, tanpa mempedulikan banyaknya orang di dalam gedung, Dimas mencium tangan Alila dengan sangat lembut. Lalu dengan gerakan pelan dia mendekatkan wajahnya ke samping wajah Alila dan berbisik di telinga kekasihnya.


"Menikahlah denganku, Al."


Bersamaan dengan momen mesra dan penuh cinta itu, Tama yang baru datang bersama adiknya setelah mengambil minuman dan makanan, tertegun dan menghentikan langkahnya.


Sesaat dia merasakan tubuhnya memanas dengan dada yang terasa sangat sesak dan hati yang sakitnya tak terkira lagi, seolah tersayat luka baru di mana luka yang sebelumnya masih terasa perih dan belum sembuh sempurna.


Tami adiknya yang tidak mengerti apa-apa dengan tenang tetap melangkah dan langsung duduk di samping Alila. Karena yang dia tahu, kakaknya dan empat temannya yang lain itu bersahabat baik sejak lama.

__ADS_1


"Kak Alila dan kak Dimas belum mengambil makanan? Mumpung belum terlalu ramai, kak."


Dimas dan Alila terkejut dengan kedatangan Tami yang tersenyum manis dengan wajah polosnya tanpa sedikitpun rasa berdosa telah mengganggu keintiman mereka berdua. Pandangan keduanya pun tertuju pada sosok Tama yang masih berdiri tegang tak jauh dari adiknya.


Beruntunglah di antara rasa sakit hatinya, Tama masih bisa menguasai diri sehingga tak sampai melepaskan gelas dan piring yang dibawanya. Dan sebelum kakinya menjadi semakin lemas, dia segera duduk di samping Tami.


Alila menatap wajah Dimas yang sudah kembali datar dan dingin. Dia sudah biasa mendapati perubahan wajah kekasihnya itu saat berada di antara orang banyak.


"Dim?"


"Ayo kita ambil makanannya dulu."


Dimas berdiri dan membawa Alila bersamanya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Tama yang mencoba bersikap biasa, menatap kepergian keduanya dengan rasa dejavu...


Saat pesta perpisahan fakultas waktu itu, dia juga melihat genggaman tangan yang sama. Genggaman tangan yang sangat erat yang kemudian membawa mereka pergi ke ruangan lain untuk mengambil makanan. Kejadian yang sama, di waktu dan tempat yang berbeda...


"Dim, kamu mau sup dulu atau langsung nasi?"


Alila bertanya pada Dimas saat mereka tiba di meja besar tempat makanan dihidangkan dengan lengkap.


"Aku mau kamu saja, Al."


Dimas kembali berbisik di samping Alila yang seketika merona parah mendengar jawaban kekasihnya. Dia melirik ke sekitarnya, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar ucapan Dimas.


Dimas tersenyum tipis melihat Alila yang sudah menahan jengahnya.


"Apa saja, Al. Asal aku makan bersamamu."


Alila tak lagi menanggapi jawaban Dimas. Dia segera mengambil satu mangkok sup dan satu piring makanan utama dengan lauk-pauk lengkap. Setelah itu Dimas mengambil alih membawanya lalu mengikuti Alila mengambil minuman untuk mereka berdua.


Mereka kembali ke tempat semula, duduk bersama Tama dan adiknya. Alila meletakkan minuman mereka di atas meja yang ada di dekatnya. Kemudian dia mengambil mangkok sup dari tangan Dimas.


Alila menikmati sup dengan tenang sambil sesekali berbincang ringan dengan Tami. Sementara Dimas belum ingin menyentuh makanannya. Dia hanya minum lalu terus menunggui Alila yang masih asyik berbicara dengan Tami.


Setelah selesai menghabiskan supnya, Alila meletakkan mangkok di atas meja. Dia mengambil minumannya sambil menoleh ke arah Dimas yang sibuk dengan ponselnya dengan tangan kiri memegang piring makanan yang masih utuh.


Setelah minum, Alila mengambil piring yang ada di tangan Dimas dan mulai bersiap untuk menyuapi Dimas. Tanpa diminta Alila tahu dan sudah hafal jika Dimas mendiamkan makanannya itu artinya dia tidak ingin makan sendiri.


Satu sendok makanan telah masuk ke mulut Dimas. Karena sudah terbiasa, Alila tidak merasa malu melakukannya meskipun beberapa pasang mata tamu undangan melihat dan memperhatikan kemesraan sepasang kekasih itu. Tak terkecuali Tama, yang melihat semua itu dari samping adiknya.


"Kamu tidak ikut makan juga, Al?"

__ADS_1


"Aku sudah kenyang dengan supnya tadi. Nanti saja setelah ini aku mau es krim."


Kepala Alila memberi tanda jika ada booth es krim di sudut gedung, bersebelahan dengan meja tempat makanan kecil. Dimas melihatnya dan menganggukkan kepala.


"Akan aku ambilkan nanti."


Tama yang melihat kemesraan Dimas dan Alila dari tempat duduknya, merasakan hatinya semakin tercabik-cabik dan nelangsa sendiri. Karena meskipun bersikap dingin dan sedikit bersuara, namun dari tatapan mata Dimas sangat jelas terlihat betapa dia mencintai Alila dan tak sedetikpun dia mengalihkan pandangan dari kekasihnya itu.


Sebaliknya, perhatian yang diberikan Alila dilakukannya dengan sangat natural menandakan betapa diapun sangat menikmati kegiatan tersebut. Tatapan matanya sudah bisa mewakili perasaannya yang sangat mencintai Dimas dan begitu tulus melayani lelakinya itu.


Di akhir suapannya, Alila tersenyum puas melihat Dimas menghabiskan makanannya. Dia mengambil selembar tisu yang tersedia di atas meja lalu membersihkan mulut Dimas dengan pelan dan hati-hati.


"Terima kasih, Al. I love you.."


Dimas kembali membisikkan kalimat cinta di telinga Alila sembari beranjak dari kursinya dan berjalan menuju booth es krim yang tadi diinginkan Alila. Tiba-tiba Tami ikut berdiri dan menyusul Dimas untuk mengambil es krim juga.


Tinggallah Alila dan Tama yang duduk hanya berselang satu kursi yang tadi ditempati oleh Tami. Tak ingin terlihat canggung, Alila mencoba membuka percakapan dengan Tama yang memang memanfaatkan kepergian Dimas untuk menatap lekat-lekat wanita yang masih dicintainya itu.


"Bagaimana kerjasamamu dengan Pandawa Grup, Tam?"


"Baik, Al. Semua berjalan dengan lancar."


Tama memaku pandangannya di wajah Alila yang terlihat semakin cantik hari ini dengan riasan yang lebih memukau dari biasanya.


"Apakah kamu bahagia, Al?"


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~

__ADS_1


.


__ADS_2