
"Istirahatlah, Al. Aku akan membuatkanmu teh hangat."
Dimas menurunkan Alila dari gendongannya dan membaringkannya di atas tempat tidur kamar Alila.
Mereka berdua baru saja tiba di rumah Alila, dan Dimas dengan sangat perhatian membopong sang kekasih dari mobilnya hingga sampai di kamar Alila.
Sementara Mama Dian sudah pulang beberapa jam sebelumnya, setelah dijemput oleh Alano sepulang dari kuliahnya. Semua barang Alila dan Dimas selama di rumah sakit sudah dibawa di mobil Alano, sehingga ketika pulang Dimas hanya berdua bersama Alila saja.
Sebelum Dimas berbalik hendak keluar kamar, Alila sudah lebih dulu memegang tangannya untuk menahan agar tidak meninggalkannya.
"Ada apa, Al?"
"Di sini saja, Dim."
Kedua tangan Alila terus menggenggam tangan kanan Dimas agar lelaki itu tidak pergi. Dimas tersenyum dan mengangguk. Dia merasa senang Alila mulai manja dan tak ingin ditinggalkannya.
Dimas melihat Alila yang tengah berusaha untuk duduk di atas tempat tidur. Dia langsung membantu Alila untuk bersandar pada kepala tempat tidur. Diletakkannya dua buah bantal di belakang punggung Alila untuk menyamankan sandarannya.
Setelah Alila duduk dengan kaki lurus berselonjor, tangannya sudah kembali ditarik pelan oleh Alila membuatnya terduduk di tepi tempat tidur tepat di samping tubuh calon istrinya.
Pandangan mata mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat, membuat Dimas dan Alila sama-sama merasakan debaran indah di dada mereka.
Dimas merapikan rambut Alila yang berantakan dengan tangannya. Setelah itu arah matanya beralih mencari-cari sesuatu di sekitar meja rias Alila. Sesaat kemudian dia menemukannya, sebuah jepitan rambut berwarna merah muda tergeletak di ujung meja rias Alila.
Dimas bangkit dan berjalan mengambil benda kecil itu lalu kembali lagi ke sisi Alila. Dia meminta Alila memutar kepalanya ke samping kanan. Kemudian dengan hati-hati Dimas menangkup sebagian rambut Alila dari kedua sisi dan menyatukannya ke belakang menggunakan jepitan rambut yang diambilnya tadi.
"Sudah rapi, Al. Bersandarlah kembali."
"Terima kasih, Dim."
Alila kembali memegang tangan Dimas, tak ingin jauh dari lelaki itu. Sorot matanya tampak malu-malu menatap calon suaminya, namun terlihat begitu menggemaskan bagi Dimas, yang sudah duduk lagi di samping Alila dengan posisi berhadapan.
"Kamu tidak ingin kubuatkan minuman hangat? Sejak dari rumah sakit tadi kamu belum minum lagi."
Alila menggeleng pelan.
"Mau makan kue? Biar kuambilkan."
Wanita cantik itu tetap menggelengkan kepala.
"Kamu mengantuk? Ingin tidur?"
Lagi-lagi dia hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Katakan padaku, Al. Kamu ingin apa?"
Suara Dimas sangat lirih dan lembut. Hanya Alila yang bisa mendengarnya.
Sejenak Alila diam dan memaku pandangannya pada sosok tampan yang sangat dicintainya, yang tak lama lagi akan menjadi imam hidupnya.
"Aku hanya ingin bersamamu, Dim."
Dimas terkesima dengan jawaban Alila. Jarang sekali kekasihnya itu mengungkapkan isi hatinya sendiri tanpa didahului olehnya. Seketika hatinya terasa meleleh karena terlalu bahagianya.
__ADS_1
Tanpa jeda lama dari ucapannya, tubuh Alila telah menghambur memeluk Dimas dan merebahkan kepalanya di bahu sang kekasih.
Bukan lagi meleleh, kini hati Dimas semakin hanyut ke dalam romansa cinta yang kian menggetarkan jiwa.
Tiada lagi yang bisa dilakukannya selain membalas pelukan hangat itu dengan lebih erat dan penuh cinta.
Matanya terpejam meresapi setiap hembusan nafas mereka yang beradu, seiring dengan degupan jantung mereka yang seirama dan menyatu dalam pelukan keduanya.
"Aku sangat mencintaimu, Dim."
Hanya satu kalimat cinta yang terucap dari bibir manis Alila saja, telah membuat Dimas merasakan kebahagiaan yang melayangkannya hingga langit ke tujuh yang penuh warna pelangi, seindah harinya dan hidupnya saat ini yang semakin lengkap dengan kehadiran Alila yang membawa cinta sempurna untuknya.
"Aku tahu, Al. Dan aku ingin kamu terus mengatakannya kepadaku, setiap saat, setiap waktu..."
Masih di dalam pelukannya, Dimas mencium lama puncak kepala Alila dengan lembut dan penuh kasih, diiringi usapan hangat yang terus berulang di punggung wanita kesayangannya.
Alila menganggukkan kepala di dalam dekapan lelaki tercintanya. Hatinya penuh sesak dengan rasa haru yang memancing munculnya kristal bening di kedua pelupuk matanya. Dan hanya dengan satu kedipan mata indahnya, airmata itupun telah luruh perlahan membasahi pipi ranumnya.
"Al, Dim..."
Suara Papa Dewa yang baru saja pulang dari kantor, membuat Dimas dan Alila melepaskan pelukan mereka. Dimas mengusap pelan kepala Alila sebelum berdiri menyambut dan mencium tangan calon mertuanya yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
Papa tidak mempermasalahkan apa yang dilihatnya saat masuk ke kamar Alila, karena pintu kamar memang terbuka lebar sehingga mereka tidak akan melakukan hal-hal di luar kewajaran.
"Kamu sudah merasa lebih baik, Al?"
Sama seperti Dimas, papa sebenarnya masih mengkhawatirkan kondisi Alila dan ingin anaknya dirawat lebih lama di rumah sakit. Namun mereka tidak bisa memaksakan kehendak pada Alila. Apalagi dokter juga sudah memberikan ijin untuk pulang.
"Aku tidak apa-apa, Pa. Aku merasa lebih nyaman dan lebih leluasa jika beristirahat di rumah."
"Berapa lama kamu mendapat ijin dari kantormu?" Tanya papa.
"Tiga hari, Pa. Dan ini baru hari pertama. Aku masih bisa beristirahat dua hari lagi."
"Baiklah. Jangan lupakan makanmu dan juga minum obatmu tepat waktu."
"Ya, Pa." Alila mengangguk dan tersenyum pada papanya.
"Papa ke kamar dulu."
Kemudian Papa Dewa berbalik dan berjalan meninggalkan anak dan calon menantunya.
Setelah melihat calon mertuanya keluar dari kamar Alila, Dimas kembali menatap Alila yang ternyata sudah menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai.
"Al, mau ke mana?"
"Aku gerah, Dim. Aku ingin mandi."
Alila sudah berjalan pelan ke arah lemari pakaiannya. Dimas terus mengawasinya dari tempatnya berdiri. Alila telah mengambil satu dress rumahan dan membawa serta handuknya.
"Kamu yakin tubuhmu sudah kuat untuk mandi sendiri? Atau perlu aku panggilkan mama?" Tanya Dimas untuk memastikan lagi.
Alila terus tersenyum untuk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Iya. Jangan khawatir lagi."
"Aku akan menunggumu di sini. Kalau ada apa-apa, segera panggil aku."
Dimas tetap mengawasi langkah Alila menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Setelah Alila masuk dan menutup pintu, barulah dia kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Alila.
Pikirannya masih dipenuhi bayangan kemanjaan Alila yang tak terduga tadi. Matanya terpejam dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
Wajah Alila yang manja dan menggemaskan masih terus menguasai pikirannya hingga terbawa ke alam bawah sadarnya yang lambat-laut membuatnya tertidur dengan kepala bersandar pada punggung kursi yang didudukinya.
Lima belas menit kemudian, Alila keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang lebih segar dan wangi. Rambutnya masih terikat ke atas untuk menghindari terkena air saat mandi.
Dia mengira Dimas keluar kamar saat dirinya mandi. Namun saat hendak keluar kamar untuk menaruh handuk basahnya di ruang belakang, sudut matanya menangkap keberadaan seseorang yang duduk di kursi kamarnya.
Alila memalingkan wajahnya dan raut mukanya berubah seketika. Dia terkejut melihat ternyata seseorang itu adalah Dimas yang tengah tidur pulas dengan kepala lunglai ke samping kanan.
Dia urung keluar kamar dan menaruh handuknya di atas kursi riasnya. Lalu dengan langkah pelan Alila menghampiri kekasihnya dan duduk di tepi tempat tidur, menghadap ke arah kursi yang diduduki Dimas di sampingnya.
Hatinya mendadak menghangat saat menatap lekat wajah Dimas yang begitu tenang dalam tidurnya. Wajahnya masih dihiasi senyuman yang menambah daya tarik yang tersirat dari dalam dirinya.
Saat tidur seperti inilah, dia bisa melihat wajah Dimas yang tidak seperti biasanya. Jika dalam kesehariannya hanya ada gurat keras dan kaku yang menampakkan kesan dingin sesuai karakternya selama ini, sekarang dia bisa melihat sisi lain dari lelaki itu.
Wajah Dimas yang tenang sungguh membuat hatinya tersentuh hingga relung terdalam. Apalagi dengan senyuman yang masih terus terulas di bibirnya, semakin menguatkan pesona ketampanan alaminya yang tidak semua orang bisa melihatnya.
Alila ingin menyentuh wajah itu, tetapi dia menahan keinginannya karena malu sendiri. Akhirnya dia hanya berani meraih dan menggenggam satu tangan Dimas dengan penuh kelembutan.
"Aku mencintaimu, Dim. Dan aku sangat bahagia karena pada akhirnya aku bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dan tulus darimu. Sekali pun, aku tidak akan pernah melepaskanmu, apa lagi membiarkanmu pergi dariku. Kita akan selalu bersama dan saling mencintai selamanya..." Ucap Alila dengan penuh rasa cinta.
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.