
Sebelumnya mohon maaf jika novel MCU dan TKCS agak lambat update nya untuk beberapa minggu ke depan, karena Author harus kejar setoran update novel ALANARA / CINTA NARA yang alhamdulillah terpilih menjadi salah satu peserta The Next Star Writer season 1. Mohon dimaklumi karena Author juga memiliki tugas dan kewajiban utama di dunia nyata yang sama-sama menyita banyak waktu๐๐๐
๐Salam Cinta Selalu๐
.
.
.
Sepulang dari rumah Dimas dan Alila, Tama mengajak Dara pergi ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana, Tam?"
" Nanti kamu juga akan tahu, Dara sayang..."
Dara selalu tersipu malu setiap kali Tama memanggilnya dengan sebutan demikian.
"Ra..." Dara pun menoleh ke arah Tama yang masih fokus menyetir sambil sesekali menatap wajah Dara di sampingnya.
"Aku mencintaimu..."
Tama meraih tangan kanan Dara lalu menciumnya dengan senyuman merekah setelahnya. Dara berdebar-debar, padahal Tama sudah sering melakukannya.
Tiga puluh menit kemudian, Tama membelokkan mobilnya memasuki sebuah rumah di area pemukiman mewah. Dia menghentikan mobilnya tepat di depan garasi yang masih terkunci.
"Ayo kita turun."
Tama memutari mobilnya dan menyambut Dara dari samping pintu. Dara tersenyum seraya mengulurkan tangannya untuk dipegang sang kekasih.
"Ini rumah siapa, Tam?"
Mereka berjalan bergandengan tangan dan sudah sampai di depan pintu. Tama mengambil sebuah kunci dari saku celananya untuk membuka pintu rumah itu.
Setelah pintu terbuka, Tama menuntun langkah Dara untuk masuk ke dalam rumah. Beberapa langkah setelah keduanya berjalan masuk ke dalam, mereka sampai dan berhenti di bagian tengah rumah sehingga bisa melihat seluruh ruangan yang ada di sekelilingnya.
Tama melepaskan tangannya dari tangan Dara, lalu mundur selangkah dan bergeser ke belakang tubuh kekasihnya.
"Ini rumah kita, sayang..."
Dara terkejut mendengar jawaban Tama yang membuatnya membulatkan mata tak percaya. Dia semakin kaget saat merasakan tubuhnya telah dipeluk erat oleh Tama dari belakang. Dirinya menghangat seketika.
"Tam..."
Tama semakin memperat pelukannya, merengkuh sepenuhnya tubuh sang kekasih. Kepalanya bersandar manja di atas bahu Dara lalu mencium pipinya yang telah merona.
"Aku sudah tak sabar ingin segera menikahimu dan tinggal bersama denganmu di rumah ini, Ra..."
Suara Tama terdengar berat dan penuh hasrat. Dia membenamkan wajahnya di bagian leher Dara dan mulai menciuminya dengan lembut, membuat Dara memejamkan mata dan menahan gejolak di dalam dirinya.
"Tam..., hentikan! Aku....."
Tama melepaskan ciumannya namun tetap memeluk tubuh Dara semakin erat. Sungguh dia tergila-gila dan takluk pada wanita dalam dekapannya itu. Wanita yang telah berhasil menggetarkan hatinya begitu hebat pada pertemuan pertama mereka yang terjadi tanpa sengaja.
"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, Ra."
Tama memutar tubuh Dara ke arahnya hingga mereka sekarang berdiri berhadapan dan saling memaku pandangan satu sama lain.
Tama menarik pinggang Dara semakin merapat dengannya, membuat Dara menahan tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang menyentuh bahu Tama.
__ADS_1
Tatapan mata Tama kian sayu dan penuh harap. Tak ada sedikit pun keraguan di hatinya untuk segera memiliki Dara seutuhnya menjadi miliknya.
"Ayo kita menikah, Dara sayang..."
Sudah berulang kali Tama mengutarakan keinginannya tersebut, namun Dara selalu menjawab jika dia masih ingin memantaskan diri untuk menjadi pendamping Tama.
Bukan tanpa alasan Dara mengatakannya, karena sejujurnya dia masih merasa rendah diri untuk masuk ke dalam lingkungan keluarga Tama yang jauh berbeda dengan keluarganya yang merupakan keluarga biasa pada umumnya.
"Kamu yakin memilihku, Tam?"
"Sangat yakin dan tanpa keraguan sedikit pun...!"
Dara terdiam sesaat sebelum memantapkan hati untuk menjawabnya kali ini.
"Ya, aku mau. Aku mau menikah denganmu, Tam!"
Tama tak bisa menyembunyikan lagi kebahagiaannya. Mendengar jawaban Dara yang telah dinantinya sekian lama, membuat matanya berkaca-kaca karena haru yang menyelimuti perasaannya.
"I love you, Dara sayang...!"
"I love you too, Tama...!"
Tama mencium hangat kening Dara. Lalu turun ke kedua pipinya dan berakhir di bibir manis yang selalu memberikan tawa terindah yang membuatnya jatuh cinta.
Tama menyatukan bibirnya dengan bibir Dara. Pelan, lembut dan penuh cinta. Dara larut dalam kebahagiaan di antara mereka. Dia mulai membalas Tama dengan ciuman yang sama. Ciuman ringan namun berlangsung lama.
.
.
.
"Ra, ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan padamu sebelum kita menikah."
"Apa? Bukankah semuanya sudah kamu ceritakan padaku?"
Dara menatap lembut ke dalam mata Tama, ada kejujuran di sana yang ingin diutarakan kepada calon istrinya.
"Setelah ini, tidak ada lagi hal apa pun yang aku sembunyikan darimu. Semua sudah aku akui dan aku ceritakan kepadamu, Ra."
"Aku ingin mengawali pernikahan kita dengan lembaran baru, tanpa ada bayang-bayang masa lalu kita berdua."
Dara mengangguk pelan, menunggu Tama bercerita.
"Ini tentang wanita yang pernah aku ceritakan padamu. Wanita yang pernah aku cintai dalam diamku, selama beberapa tahun kemarin."
Dara semakin penasaran ingin mengetahui, siapa sebenarnya wanita yang beruntung telah dicintai pertama kali oleh Tama."
"Aku akan mengatakan siapa wanita itu, agar ke depannya tidak akan ada salah paham di antara kita berdua."
Dara kembali mengangguk. Dia bukan tipe wanita pencemburu yang akan mudah terbawa perasaan hanya karena wanita lain atau masa lalu dari orang yang dicintainya.
Tama menggenggam erat kedua tangan Dara, disatukannya dengan kedua tangannya sendiri. Sepasang bola matanya lurus menatap mata bening Dara tanpa keraguan.
"Wanita itu adalah Alila..."
Dara tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tubuhnya mundur perlahan, lalu menatap mata Tama semakin dalam. Tama membalas tatapan mata itu dengan lekat dan penuh kejujuran.
Untuk sesaat Dara mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak menyangka sama sekali jika wanita yang pernah dicintai oleh Tama adalah Alila, sahabat mereka sendiri.
__ADS_1
"Apakah Alila mengetahuinya?"
Hanya itu yang ingin dia tahu, terlepas bahwa dirinya tidak pernah mempermasalahkan tentang masa lalu Tama, karena dirinya sendiri pun mempunyai kisah cinta masa lalu yang sudah diceritakannya pada Tama tanpa kecuali.
Tama menggeleng dengan tegas dan cepat.
"Tidak. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang perasaanku. Baik Alila maupun sahabatku yang lainnya."
"Aku hanya menyimpannya sendiri sampai akhirnya aku bisa melepaskannya dengan ikhlas dan kembali menganggapnya sebagai sahabatku, untuk selamanya..."
Dara masih ingin menuntaskan keingintahuannya saat ini juga, sebelum mereka berdua mulai membicarakan masa depan mereka sendiri.
"Mengapa kamu tidak mencoba mengungkapkannya pada Alila? Bagaimana jika seandainya dulu, Alila juga menyimpan rasa yang sama untukmu?"
Tama tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Jika memang seperti itu adanya, pastilah takdir sudah menuntunku untuk mengatakannya dengan jujur pada Alila. Tapi tidak, tanpa Alila menunjukkan apa pun juga, aku sudah tahu jika dia hanya menganggapku sebatas sahabat, tidak akan pernah lebih."
"Dan karena itulah aku memilih bertahan menjaga persahabatan kami yang sudah terjalin baik selama lima tahun ini, dari pada aku harus kehilangan sahabat seperti dia, hanya demi mendapatkan tempat lebih di hatinya yang aku sendiri tidak tahu untuk siapa sebenarnya."
"Apakah kamu menyesal karena tidak bisa memilikinya?"
Pertanyaan Dara membuat Tama mencium tangan kekasihnya itu, lalu mendekapnya di atas dada.
"Sama sekali tidak. Dulu iya, aku memang sempat begitu sedih dan kecewa saat mengetahui jika dia mencintai Dimas dan juga sebaliknya. Tapi lambat-laun aku sadar, perasaanku memang ditakdirkan untuk tetap terjaga sebagai sahabatnya, sahabat untuk selamanya!"
"Selain itu, di sisi lain aku juga merasa bahagia dan lega, karena dia bersama orang yang selama ini sudah kami kenal dengan sangat baik, sehingga aku tidak perlu merasa khawatir untuk melepaskannya bersama orang yang dia cintai dan mencintainya begitu dalam, jauh melebihi cintaku padanya dulu. Mereka saling mencintai dengan caranya sendiri."
Dara mengangguk mengiyakan kalimat terakhir Tama. Alila dan Dimas memang pasangan yang unik. Mereka saling mencintai dengan cara mereka sendiri. Lebih banyak diam dan menikmatinya berdua, serta menutup kisah cinta mereka dari perhatian dan keingintahuan orang-orang di sekeliling mereka.
"Dari awal aku memang tidak percaya diri dengan perasaanku yang dulu. Karenanya aku tidak berani dan tidak pernah membagi kisah lama itu dengan siapa pun juga."
"Tapi denganmu, Ra, aku merasa sangat yakin dengan perasaanku ini. Pertemuan pertama kita yang sudah bisa menggetarkan hatiku, membuatku semakin percaya diri untuk membuka kisah baru yang harus aku perjuangkan sampai aku bisa memilikimu...!!"
Tama mencium kening Dara sekali lagi, untuk menunjukkan keseriusan perasaannya.
"Karena bagiku, kamu telanjur istimewa di hatiku, sejak pertama kali aku melihatmu..."
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA / CINTA NARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
๐Author๐
__ADS_1
.