
Alila tak menyadarinya, entah kapan Dimas menghentikan mobilnya. Tiba-tiba tangan kiri Dimas sudah berada di pinggangnya. Selimutnya pun telah lolos turun ke pangkuannya.
"Dim.."
"Jangan bicara lagi. Aku hanya ingin seperti ini, Al."
Wajah mereka sudah berhadapan sangat dekat. Tangan kanan Dimas menyentuh wajah Alila. Seketika itu juga Alila memejamkan matanya. Tangan itu membersihkan wajah Alila dari helai-helai rambut yang menutupinya lalu berhenti menetap di bahunya.
"Cantik." Gumam Dimas dengan tatapan mata yang penuh kekaguman akan paras wanita di hadapan matanya itu.
Alila tak mampu berpikir apa-apa lagi. Tubuhnya terasa kaku tak mampu bergerak. Hanya dadanya yang terlihat naik-turun begitu cepat dengan deru nafas yang tak terkendali lagi. Degup jantungnya sudah berantakan tanpa irama, seolah hanya ada palu besar yang menghantamnya berkali-kali..
"Bukalah matamu, Al. Aku tidak akan melakukan apapun padamu."
Suara Dimas terdengar lirih namun hembusan nafasnya begitu terasa membelai wajah Alila. Dengan hati berdebar dia membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya tentu saja wajah menawan Dimas yang terpampang di hadapannya.
"Dim.."
Entah apa yang terlintas di pikiran Alila saat itu, tangannya mulai berani menyentuh wajah Dimas tepat di pipinya. Hawa panas menyergap dadanya disertai getaran yang menggelitik seluruh ruang hatinya.
(Maafkan aku, Dim. Aku tak bisa mengendalikan tanganku ini.)
Sungguh Dimas tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari Alila. Matanya tertutup begitu saja, menikmati sentuhan lembut dari tangan Alila. Situasi ini benar-benar menguji naluri lelakinya. Alam bawah sadarnya mulai menginginkan hal yang lebih dari itu.
(Sentuhanmu membuatku tergoda, Al. Bagaimana jika aku lepas kendali..)
Pertahanannya mulai runtuh. Dimas membuka matanya dengan sorotan mata yang meredup. Sementara di hadapannya, Alila masih terus menatapnya dengan pandangan yang semakin sayu. Gairah cinta telah menguasai keduanya.
Dimas meraih tangan Alila yang masih menyentuh kulit wajahnya. Dibawanya tangan itu ke bawah, melepaskannya dan membiarkan tangan itu entah akan bergerak ke bagian mana lagi.
Dia hanya fokus pada wajah di hadapannya. Tangan kanannya kembali pada wajah Alila, jemarinya mulai menari bergerak menyentuh satu per satu bagian wajah itu, berhenti lama di bibir mungilnya, hingga berakhir di tengkuk Alila. Dimas mengusapnya perlahan lalu mendekatkan wajah Alila ke wajahnya.
Dilihatnya Alila sudah pasrah memejamkan matanya, membiarkan Dimas melakukan apa saja yang dia inginkan. Seluruh tubuhnya telah memanas, gairahnya berada pada titik tertinggi.
Tanpa perlawanan, bibir Dimas menyatu di atas bibir Alila. Sentuhan bibir itu memacu hasrat Dimas untuk menciumnya lebih dalam dan semakin luas dengan gerakan lincah yang membakar gairah Alila untuk membalas dan mengimbangi ciumannya.
Ciuman pertama mereka yang begitu hangat dan dalam, terjadi begitu saja dan terus berlanjut tanpa rasa malu lagi di antara mereka.
Tangan Alila bergerak cepat merangkul leher Dimas, diikuti tangan Dimas yang mulai berani menyentuh bagian sensitif lainnya di tubuh Alila.
"Dim..."
Suara lirih Alila membuat Dimas tersentak luar biasa. Dia membuka matanya dan melihat wajah Alila yang tetap menatapnya dengan penuh kasih. Tangan Alila masih menyentuh pipinya dengan lembut. Sedangkan tangannya sendiri masih berada di pinggang Alila dan yang satu lagi masih memegang bahunya.
Seketika Dimas tersadar, dia bangun dari fantasi liarnya yang telah berkelana ke mana-mana. Kesadarannya telah pulih, kembali terkumpul utuh di alam pikirannya yang nyata.
Dia mencoba menampakkan senyumnya pada Alila untuk menghilangkan keterkejutannya atas pikiran kotornya sendiri. Mencoba meredam nafasnya yang masih memburu akibat imajinasinya yang teramat tidak pantas tadi.
(Maafkan aku, Al. Syukurlah tidak terjadi hal yang di luar batas di antara kita.)
"Kamu tidak apa-apa, Dim?"
Dimas menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa. Maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana."
__ADS_1
Dimas menarik tangan Alila dari wajahnya. Dia menggenggamnya lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut.
"Kita pulang, Al."
Alila menganggukkan kepala dan merapikan posisi duduknya. Dimas membantu menyelimuti tubuhnya dengan hati-hati. Kemudian dia menyiapkan diri di belakang kemudi lalu melajukan kembali mobilnya di tengah keramaian jalan raya.
Sampailah mereka di halaman rumah Alila. Alila menyingkap selimut yang dipakainya lalu melipatnya rapi dan dikembalikan ke kursi belakang.
Sebelum turun, Dimas meraih tangan Alila dan membawa ke pangkuannya.
"Al, aku minta maaf.."
"Ada apa, Dim?"
"Tadi aku hampir saja lepas kendali dan melewati batasanku."
Seperti itulah Dimas, apapun yang terjadi dia selalu bicara apa-adanya. Meskipun sikapnya dingin dan acuh, tapi dia selalu berkata jujur.
"Aku juga minta maaf, Dim. Tadi tanganku lancang..."
Alila menunduk menahan malu. Dia masih terbayang kejadian tadi, saat tangannya dengan berani menyentuh pipi Dimas.
Dimas menjadi gemas melihat Alila yang malu-malu dan menyembunyikan wajahnya.
Dia membawa tangan Alila ke wajahnya, lalu menempelkan tangan itu ke pipinya.
"Aku tidak keberatan, Al."
Alila yang merasakan tangannya berpindah tempat, mengangkat kepalanya dan semakin malu dirinya melihat tangannya kembali menyentuh pipi Dimas. Dia ingin menarik tangannya tapi tangan Dimas tetap menahannya.
Alila menatap Dimas yang terus tersenyum membalas tatapannya. Wajahnya bergerak menyamping ke arah tangan Alila yang berada di pipinya sehingga bibirnya menyentuh telapak tangan Alila dan menciumnya.
"Aku mencintaimu, Al. Dan aku menyukai sentuhanmu."
Wajah Alila kembali merah padam dibuatnya. Dia merasa bahagia sekaligus malu.
(Andai kau tahu, Dim. Empat tahun lamanya aku menanti saat-saat bahagia seperti ini. Akhirnya aku bisa merasakannya bersamamu.)
"Jangan membahasnya lagi, Dim. Aku malu.."
"Mengapa malu? Apa kamu menyesal melakukannya?"
"Bukan begitu, Dim. Aku hanya merasa terlalu agresif dan berani. Dan itu seperti bukan diriku."
"Sungguh tadi terjadi begitu saja. Aku spontan melakukannya. Maaf..."
"Aku tahu itu, Al. Jangan merasa bersalah lagi. Sudah kukatakan jika aku menyukainya."
Alila diam. Pandangannya menyapu wajah Dimas dengan pikiran yang belum dia pahami.
"Kamu sekarang berubah, Dim."
"Aku? Kenapa aku berubah?"
"Sikapmu dan kata-katamu sekarang, seperti bukan dirimu sendiri, Dim.."
__ADS_1
"Benarkah?"
Dimas tersenyum ke arah Alila.
"Termasuk senyummu itu. Dulu kamu sangat sulit untuk menunjukkan senyumanmu."
"Ada lagi?"
"Sebelumnya kamu jarang mengucapkan kata terima kasih pada orang lain."
"Yang lainnya?"
"Kamu bukan pria romantis. Tapi akhir-akhir ini sikapmu menjadi sangat manis."
"Oya, satu lagi. Kamu sekarang terlalu banyak bicara."
Alila mencoba menguraikan satu per satu perubahan dalam diri Dimas yang dirasakannya. Bukanlah perubahan buruk. Hanya suatu hal yang tidak biasanya dilakukan oleh seorang Dimas.
"Benarkah aku seperti itu, Al?"
Tangan itu masih menggenggam erat tangan Alila.
"Apa kamu ingin tahu mengapa aku menjadi seperti itu?"
"Ya." Jawab Alila singkat.
"Semua itu karena kamu, Al. Karena aku mencintai kamu."
Sekali lagi hati Alila bergetar hebat diikuti debar-debar keras yang menyesakkan dadanya namun memunculkan rasa bahagia.
"Bukan aku sengaja berubah karena kamu, Al. Tapi semua itu keluar begitu saja dari dalam diriku. Dan aku sangat menikmati perubahan ini. Karena kamu selalu bersamaku."
"Apapun yang terjadi padamu, aku hanya ingin kamu selalu menjadi dirimu sendiri, Dim. Karena aku mencintaimu apa-adanya dirimu."
Tanpa ragu lagi Alila menarik tangan mereka yang saling menggenggam erat. Dia mencium punggung tangan Dimas dengan penuh cinta. Matanya terpejam, menikmati aliran kebahagiaan yang merasuki segenap hatinya.
Wajah Dimas mendekat ke arah Alila. Dengan gerakan lambat, dia turut mencium punggung tangan Alila dari sisi yang berlawanan. Meluapkan seluruh rasa cintanya pada sang belahan jiwa.
Alila membuka matanya. Dia menatap wajah Dimas di hadapannya. Mereka sama-sama mencium tangan yang saling menggenggam itu. Guratan senyum nampak dari kedua wajah mereka yang terus memancarkan sinar kebahagiaan dan aura cinta yang terindah.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1