Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
38 MELEPASKAN PERASAAN - PART 1


__ADS_3

"Apakah kamu bahagia, Al?"


Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Tama, membuat Alila terkejut dan menatap sahabatnya itu.


"Emm.., maksudku hubunganmu dengan Dimas."


"Ya. Aku bahagia. Kami berdua bahagia."


(Maaf, jika aku dan Dimas tanpa sengaja telah melukai hatimu, Tam.)


Tama tersenyum meski hatinya semakin terasa sakit dengan jawaban jujur Alila.


"Kalian akan menyusul mereka?"


Pandangannya beralih sebentar ke arah Sandy dan Nayla yang masih sibuk menerima ucapan selamat dari tamu resepsi yang mulai berdatangan. Sesaat Alila pun mengikuti arah pandangan Tama.


"Kami sedang membicarakannya, Tam."


Tama tersenyum dengan perasaan lara. Hatinya kian hancur berkeping-keping mendengar rencana pernikahan yang terucap dari bibir wanita yang dia cintai.


(Sekarang aku benar-benar telah patah hati, Al. Patah sepatah-patahnya.)


Dia mulai berandai-andai dengan perasaannya. Seandainya dulu dia berani untuk segera menyatakan perasaannya, mungkin saat ini dirinya yang ada di samping Alila untuk membicarakan rencana pernikahan.


Andai saja dulu dia seperti Sandy yang terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada Nayla agar percaya dengan perasaannya, mungkin saat ini dia pun sudah bersanding bersama Alila duduk di pelaminan.


Andaikan dulu dia bisa bersikap setegas Dimas yang selalu berada di depan wanitanya untuk menjaga dan melindungi dari siapapun yang berusaha mengganggunya, mungkin saat ini dialah yang berhasil mencuri hati Alila, memiliki cintanya dan bersama-sama merajut kasih yang terindah.


Tapi sekarang, semua itu tinggal angan-angan yang tak akan pernah tergapai olehnya. Mimpi itu telah berakhir. Harapan itu telah sirna.


Mungkin memang sudah saatnya dia memupuskan impian cintanya. Mungkin memang sudah waktunya dia melepaskan perasaannya. Tidak sepantasnya dia masih memikirkan seorang wanita yang telah dimiliki oleh lelaki lain.


Dan mereka berdua adalah sahabatnya, sahabat terbaiknya. Sungguh ini adalah kisah yang pelik. Sebuah perasaan cinta yang rumit.


Dari kejauhan, Dimas yang masih menunggu es krim pesanannya melayangkan pandangannya ke arah Alila. Dia melihat semuanya.


Dia melihat tatapan mata Tama yang sangat dalam untuk Alila, kendati kekasihnya tidak mengetahui itu karena terus menghindari pandangan Tama kepadanya.


Dia melihat gerak bibir keduanya yang bergantian menandakan mereka tengah terlibat dalam sebuah percakapan. Entah apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Perasaan tak nyaman kembali menyeruak ke permukaan hatinya. Rasa gundah, rasa amarah. Rasa tak suka, rasa tak rela. Namun sekuat tenaga Dimas berusaha untuk menahan dan meredamnya.


Dimas menghela nafas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh terbawa emosi. Dia tidak boleh bertindak di luar batas.


Pesanan es krim untuknya juga untuk Tami sudah selesai. Mereka berdua berjalan kembali ke tempat duduknya di mana Alila dan Tama telah mengakhiri pembicaraan singkat mereka.


Alila tersenyum menyambut kedatangan Dimas yang membawa dua mangkok es krim. Dimas duduk dan meletakkan satu mangkok es krim di meja. Kemudian dia menghadap ke Alila dengan satu mangkok es krim di tangannya.


"Aku suapi, Al. Aku tidak mau bibirmu belepotan lagi seperti biasanya. Aku tidak ingin tergoda karena ulahmu."


Mata Alila membulat menatap Dimas yang tetap tenang dan berusaha menyuapkan satu sendok es krim ke mulutnya.


"Apa maksudmu, Dim?"


Dimas masih diam dan memaksa Alila menerima suapan es krim darinya. Setelah itu dia memasukkan sesendok es krim ke mulutnya sendiri.


"Pikirkan sendiri, apa yang membuatku tergoda."


Alila terdiam sejenak. Dia mengingat-ingat apa saja yang terjadi setiap kali dia dan Dimas makan es krim bersama. Tidak ada yang aneh. Mereka sudah seringkali melakukannya. Saling mengganggu, saling menyuapi atau saling berebut mencicipi es krim satu sama lain. Biasa saja.


Jika sudah selesai mereka akan segera meninggalkan kedai atau jika di tempat lain mereka juga akan segera melakukan aktivitas berikutnya. Tapi sebelumnya Dimas akan membersihkan..... bibirnya..., entah dengan tisu atau dengan.... sentuhan lembut tangannya sendiri.


Astaga..!!


Untuk kesekian kalinya wajah Alila merona, yang membuat senyuman kembali terlihat di bibir Dimas. Senyum kemenangan karena telah berhasil membuat wajah Alila merah padam menahan malu.


"Wajahmu sangat menggemaskan saat malu seperti itu, Al. Aku selalu merindukannya dan membayangkannya saat di Bandung dulu."


Dimas meraih dagu Alila dan mengangkat wajah cantik itu agar menatap ke arahnya. Dia memuaskan diri memandangi wajah malu nan memerah milik kekasih tercintanya.


(Kamu benar-benar menggemaskan, Al. Aku semakin jatuh cinta berulang-ulang kepadamu.)


Alila memberanikan diri membalas tatapan mata Dimas yang selalu membuat hatinya bergetar dan bergemuruh. Detak jantungnya sudah berlarian berkejar-kejaran, membuat nafasnya mulai terasa berat dan sesak.


"Kita ada di tempat umum, Dim. Aku malu."


Alila menepis pelan tangan Dimas yang masih memegang dagunya. Kemudian dia mengambil semangkok es krim yang masih berada di atas meja dan memberikannya kepada Dimas seraya mengambil mangkok es krim yang sebelumnya dipegang lelaki itu.


"Segera habiskan es krimmu. Nanti keburu meleleh."

__ADS_1


Alila menikmati sendiri es krimnya dalam diam. Hatinya sudah terlalu penuh dengan perasaan malu dan tersanjung karena perhatian dan kata-kata mesra Dimas untuknya.


Di saat seperti ini rasanya ingin segera membenamkan kepalanya di atas dada Dimas dan menikmati pelukannya yang begitu hangat dan selalu menenangkan. Ah.., mengapa dia jadi berpikiran seperti itu..?!


Tanpa sadar Alila menggelengkan kepalanya dengan lambat, mencoba mengusir pikiran dan kerinduannya akan dekapan hangat sang kekasih.


Dimas menuruti permintaan Alila. Dia segera menghabiskan es krimnya dengan cepat tanpa sisa. Setelah itu dia meletakkan mangkok yang telah kosong itu di atas meja.


Dia menggeser kursinya lebih merapat ke samping Alila. Pelan-pelan sebelah tangannya bergeser, menyelip ke tubuh belakang Alila, menyentuh dan melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya dengan sedikit remasan di sana, membuat Alila menahan nafasnya karena terkejut dan gugup.


"Dim.."


Mata indah Alila bertemu pandang dengan tatapan sendu dari mata tajam Dimas.


"Aku rindu pelukanmu, Al."


Alila menelan es krim terakhir yang telah masuk ke mulutnya. Dia menelannya dengan susah payah karena ucapan Dimas yang membuatnya semakin salah tingkah.


(Mengapa perasaan kita saat ini sama, Dim. Aku juga merindukan pelukanmu.)


Dimas mengambil mangkok es krim Alila dan diletakkan di atas meja. Tak lupa dia membawa selembar tisu di tangannya lalu seperti biasanya dia membersihkan bibir Alila dengan sekali usapan.


"Kau menggodaku lagi, Al."


Alila memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke arah lain, membuat Dimas semakin gemas dengan wanita tercintanya.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


~Author~


.


__ADS_2