
Dimas berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit. Kedua bola matanya terus bergerak mencari-cari arah menuju ke sebuah ruangan yang dia tuju. Dadanya terus bergemuruh hebat merasakan kepanikan yang luar biasa. Hatinya berdebar semakin kencang karena ketakutan yang menyelimuti perasaannya.
Dengan nafas yang memburu tanpa irama, akhirnya dia menemukan ruangan yang dicarinya. Sebuah ruang rawat inap yang cukup luas yang disiapkan untuk satu orang pasien saja, dilengkapi dengan fasilitas kelas atas untuk keluarga pasien.
Untuk sesaat dia melihat ke dalam dari lubang kaca di pintu ruangan. Ada dua orang wanita yang menunggu di dalam sana. Mereka berdua berdiri di sisi kanan tempat tidur berhadapan dengan seorang perawat di sisi kiri yang tengah memeriksa aliran cairan infus ke tubuh pasien.
Jarum infus menancap di punggung tangan kiri sang pasien yang masih terus memejamkan matanya tanpa reaksi apapun. Hanya diam mematung dan terkulai lemah tiada daya di atas tempat tidur dengan seragam pasien yang dikenakannya dan selimut polos yang menutupi separuh tubuhnya.
Dimas menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam ruangan itu. Dia menata hatinya lebih dulu agar tidak terlihat rapuh saat berada di dalam nanti. Setelah hatinya mulai tenang, tangannya meraih pegangan pintu di depannya lalu membuka dan mendorongnya dengan hati-hati.
Begitu pintu terbuka, perlahan dia melangkahkan kakinya memasuki ruangan dan mendekati tempat tidur. Dia berhenti tepat di ujung tempat tidur dan memaku pandangannya ke atas tempat tidur. Salah seorang wanita yang sudah dia kenal segera menyapanya.
"Malam, Dimas."
Dimas menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan wanita yang tak lain adalah Nadia. Mulutnya masih enggan membuka suara karena dirinya lebih fokus memperhatikan kondisi wanita yang terbaring lemah di hadapannya itu.
(Al, apa yang terjadi denganmu?)
Tak lama setelah Dimas masuk, perawat yang telah selesai dengan tugasnya pamit untuk meninggalkan ruangan.
Dimas beralih posisi ke samping kiri Alila. Dia bisa melihat dengan jelas wajah cantik yang kini memucat itu. Dadanya mendadak terasa sangat sesak, menahan sesuatu yang serasa ingin tumpah melalui pelupuk matanya.
Tangan kirinya menyentuh pelan tangan kiri Alila yang berbalut perban untuk menutupi tusukan jarum infus di punggung tangannya. Pelan-pelan dia meletakkan tangannya d bawah tangan Alila dan menggenggamnya dengan sangat lembut tanpa ingin menyakiti.
Tangan kanannya terulur ke atas kepala Alila, mengusapinya dan membelai rambutnya dengan perasaan lara. Ada luka kecil di kening sebelah kanan yang telah tertutup perban putih berbentuk persegi. Hatinya kian pedih seolah ikut merasakan semua sakit yang diderita calon istrinya.
"Aku minta maaf karena tadi telah lancang menghubungimu melalui ponsel Alila. Aku panik dan bingung harus menghubungi siapa, sementara Alila beberapa kali mengigau memanggil namamu."
Nadia memberikan penjelasan singkat perihal dirinya yang setengah jam yang lalu menghubungi Dimas menggunakan ponsel Alila untuk mengabarkan tentang kecelakaan yang dialami Alila di penginapan lembah wisata.
Saat itu Nadia tengah dalam perjalanan kembali ke kota mereka. Nadia ikut pulang dan menemani Alila di dalam mobil ambulans karena dia satu kamar dengan Alila dan bersahabat baik dengannya.
Panitia meminta Nadia untuk menghubungi keluarga Alila dan mengabarkan jika Alila akan dibawa ke rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan untuk menjalani perawatan lanjutan setelah sebelumnya mendapatkan penanganan awal di klinik umum yang berada di lingkungan penginapan.
Saat mengemasi barang-barang mereka di kamar, Nadia mendapati ponsel Alila dalam kondisi mati dan saat akan dihidupkan ternyata baterainya habis sehingga harus diisi ulang terlebih dahulu.
Hingga akhirnya beberapa saat sebelum sampai di rumah sakit, ponsel Alila baru bisa dinyalakan dan Nadia segera mencari kontak Dimas untuk dihubungi.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia belum sadar sejak dari penginapan. Tapi kondisinya secara keseluruhan sudah kembali normal. Kata dokter yang memeriksa di sana, Alila sempat mengalami gejala hipotermia ringan."
"Tapi untuk kondisi tulangnya, besok baru bisa diperoleh hasil rontgennya." Lanjut Nadia.
"Tulang? Apa dia terjatuh?" Tanya Dimas dengan wajah yang semakin penuh kekhawatiran.
"Iya, dia terjatuh dari tangga atas dan terguling ke bawah. Semoga saja tidak ada yang serius akibat jatuhnya tersebut." Jawab Nadia.
Kemudian wanita yang berada di sebelah Nadia yang merupakan salah satu panitia atau karyawan senior, menjelaskan dengan rinci kronologi kejadian yang menimpa Alila menurut keterangan para saksi yang melihatnya.
__ADS_1
"Bayu? Siapa dia? Dan mengapa Alila mau berbicara dengannya?"
Dimas merasa tidak asing dengan nama itu, tetapi dia tidak ingat lagi kapan dan di mana dia terhubung dengan sosok bernama Bayu.
"Dia satu kelompok dengan aku dan Alila. Sebelumnya kami juga tidak saling mengenal karena dia berbeda divisi kerja dengan kami."
Dimas mengesampingkan pikiran dan pertanyaan tentang Bayu. Perhatiannya kembali tertuju penuh pada kekasih hati tercintanya yang tak kunjung sadar dan membuka matanya.
Lima belas menit berselang dari kedatangan Dimas, Alano datang seorang diri dengan wajah panik. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan berjalan cepat menghampiri Dimas dan berdiri di sampingnya.
"Bagaimana keadaan mbak Al sekarang, mas?" Tanya Alano dengan terus menatap wajah lelap kakak kesayangannya.
"Dia baik-baik saja. Sebentar lagi dia pasti sadar kembali.
(Bangunlah segera, Al. Jangan membuatku takut seperti ini, sayangku..)
Karena sudah ada anggota keluarga yang menemani Alila, Nadia dan seniornya berpamitan karena waktu juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebelum pergi, Nadia menyerahkan kepada Dimas seluruh barang milik Alila termasuk tas dan ponselnya.
Tinggallah mereka berdua, Dimas dan Alano, yang sekarang berdiri berseberangan menunggui Alila.
"Kamu belum memberitahu papa dan mama kan?"
Alano menggelengkan kepalanya. Dimas yang memintanya untuk tidak memberitahu orangtuanya dulu. Dia ingin memastikan kondisi Alila terlebih dahulu agar orangtuanya tidak panik dan mengkhawatirkan Alila berlebihan, apalagi di larut malam seperti ini.
Alano sendiri beralasan menginap di rumah temannya agar dia bisa menemani Dimas di rumah sakit malam ini. Kedua orangtuanya tidak banyak bertanya karena ini malam minggu dan Alano memang sering menginap di rumah temannya di saat akhir pekan seperti ini.
"Kita tunggu Alila siuman dulu, besok pagi baru kita kabarkan keadaannya pada papa dan mama."
Alano mengambil dua buah kursi yang tersedia di dalam ruangan dan membawanya untuk dirinya dan Dimas agar bisa sama-sama duduk di samping Alila.
Dimas menerimanya dan segera menarik kursi itu lalu duduk tepat di depan tangan Alila. Dia kembali meletakkan tangan kirinya di bawah telapak tangan Alila dan menggenggamnya dengan lembut seperti sebelumnya.
Tangan kanannya mengelus-elus lengan Alila dengan pelan diiringi doa dalam hati agar calon istrinya segera sadar. Dia rindu mata indah Alila memandangnya dan memberikan tatapan penuh cinta untuknya.
Duduk di seberang Dimas atau di sisi kanan tempat tidur Alila, Alano memperhatikan Dimas diam-diam. Dia merasa tenang saat melihat Dimas yang begitu sayang dan penuh perhatian kepada kakak satu-satunya itu.
Dari sikap Dimas pada Alila sejak dulu, dia sudah bisa mengetahui betapa lelaki itu sangat mencintai Alila begitu dalam dari lubuk hatinya.
(Terima kasih, mas. Kamu sudah mencintai mbak Al begitu tulus dan penuh kasih.)
Waktu telah berlalu tiga puluh menit ketika Dimas merasakan pergerakan kecil di genggaman tangannya. Matanya membesar untuk memastikan apa yang baru saja dirasakan di tangannya. Dan kini dia benar-benar melihat jemari tangan Alila bergerak-gerak dan membalas genggamannya.
"Dim..." Terdengar suara lirih Alila membuat Dimas dan Alano berdiri bersamaan dan mendekat ke arah wajah Alila.
Dimas tersenyum lega mendapati sepasang mata indah Alila telah terbuka dan menatapnya dengan sayu. Seketika hatinya yang sedari tadi risau, merasakan ketenangan luar biasa disertai perasaan haru yang menyeruak menciptakan desir-desir halus yang diliputi rasa syukur dan bahagia.
"Al..."
Dimas semakin mendekati wajah Alila yang terus menatapnya. Dia mencium lembut kening Alila dengan mata terpejam penuh perasaan.
__ADS_1
Alano membiarkan momen indah itu terjadi di depan matanya dan disaksikan olehnya. Dia turut mengucap syukur dalam hati melihat kakaknya telah sadar kembali dan menampakkan senyuman bahagia manakala melihat Dimas ada di sampingnya.
"Aku di mana sekarang?"
Alila menatap mata Dimas lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya hingga dia melihat keberadaan adiknya di samping kanan tubuhnya.
"Alano..."
Tangan kanan Alila bergerak pelan meraih tangan adiknya yang masih memegang tepian tempat tidur. Alano pun membalasnya dan mendekap tangan Alila dengan kedua tangannya.
"Kamu ada di rumah sakit, mbak. Jangan banyak bergerak dulu." Pinta Alano.
Alila mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Dimas yang terus membelai mesra kepalanya dengan segenap cinta. Hatinya dipenuhi rasa haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu.
"Ini masih tengah malam. Tidurlah kembali, Al. Aku akan menjagamu di sini."
Alila tersenyum dan kembali menganggukkan kepalanya.
"Lan, kamu juga, tidurlah di sana. Aku akan beristirahat di sini sambil menemani Alila."
Alano menuruti perintah calon kakak iparnya. Dia melepaskan tangannya dari tangan Alila lalu berbalik ke belakang dan berjalan menuju sofa panjang yang terletak merapat di dinding ruangan sebelah kanan.
Dia melepaskan alas kakinya lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa berbantal empuk yang langsung membuai kedua matanya untuk segera menutup dan mengistirahatkan raganya yang memang sudah terasa lelah.
Melihat Alano yang sudah memejamkan matanya, Dimas kembali memaku pandangannya pada wajah Alila yang masih terlihat sedikit pucat. Mata indah itu belum juga terpejam, justru terus menatapnya dengan sendu membuat hatinya kembali bergetar.
"Tidurlah, sayang. Ada aku di sini bersamamu."
Dimas mencium kening Alila lalu turun ke pipinya, membuat wajah pucat Alila berubah memerah karena tersipu dengan raut bahagia. Dimas tersenyum melihat perubahan di wajah kekasihnya.
"Aku sangat merindukanmu, Al. Aku mencintaimu.."
"Aku juga merindukanmu, Dim. Aku sangat mencintaimu.."
Dimas langsung memejamkan matanya ketika tangan kanan Alila terulur ke arahnya dan membelai lembut wajahnya. Dengan mata tertutup Dimas begitu meresapi kelembutan belaian tangan Alila hingga hatinya berdesir hebat dan matanya terasa basah.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
~Author~
.