Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
79 TAWAMU MENGALIHKAN DUNIAKU


__ADS_3

Dimas dan Alila hanya berdua di rumah. Kedua orangtua Alila tengah pergi ke acara pernikahan anak salah satu rekan kerja Papa Dewa. Sedangkan Alano seperti biasanya selalu menghabiskan malam minggu bersama-sama teman-teman nongkrongnya.


"Kamu mau langsung ke kamar, Al?" Tanya Dimas setelah mereka menyelesaikan makan malam yang tadi sudah disiapkan oleh Mama Dian.


Alila menggeleng. "Ke ruang keluarga saja, Dim. Aku bosan di kamar terus." Jawab Alila membuat Dimas gemas karena istrinya itu mengerucutkan bibirnya.


"Jadi kamu bosan ya, di kamar sama aku...?"


Cuppp..! Dimas mengecup bibir Alila yang masih dalam posisi menggodanya. Wanita itu segera menarik bibirnya setelah mendapat serangan kilat dari suaminya.


"Aku bosan kalau hanya disuruh istirahat sendirian, Dim. Tapi kalau bersama kamu, di mana pun itu aku tidak akan pernah bosan." Alila merajuk lalu merentangkan kedua tangannya ke arah Dimas.


Dimas segera bangkit dari duduknya lalu segera menggendong Alila yang langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher lelaki itu. Dia membawa istrinya ke sofa ruang keluarga dan menurunkan tubuh Alila dengan sangat hati-hati, lalu ikut duduk di sampingnya.


Ditariknya tubuh Alila ke dalam pelukannya dan diciuminya puncak kepala sang istri berkali-kali. Alila segera merebahkan kepalanya di atas dada Dimas yang bidang dan penuh kenyamanan untuknya. Dihirupnya wangi tubuh sang suami, membuatnya merasa tenang dan begitu damai.


"Dim, besok kita pulang ya? Aku sudah sangat merindukan rumah kita..."


"Baiklah. Tapi besok pagi kita minta ijin dulu pada papa dan mama." Jawab Dimas sambil mengusapi kepala sang istri.


Alila mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya sembari memainkan jemari tangannya di dada Dimas, membuat lelaki itu memejamkan mata dan menahan nafasnya merasakan sensasi geli nan menggoda dari sentuhan tangan istrinya.


"Jangan menggodaku dengan sentuhan nakalmu, Al. Jangan menyiksaku lagi karena aku sudah susah payah menahannya..."


Dimas menjauhkan tangan Alila dari dadanya untuk meredakan hasratnya. Berdekatan dengan istrinya memang selalu membuat dirinya berhasrat lebih dan hampir tak terkendali.


"Aku masih harus puasa lama, menunggumu bersih lebih dulu. Jadi jangan terus menerus mempermainkan hasratku, humm..hummph..."


Tak tahan lagi, akhirnya Dimas melampiaskannya juga pada Alila, bermain-main dengan tubuh istrinya yang selalu menggoda untuk dinikmatinya tanpa henti. Dia merebahkan Alila agar posisi perutnya nyaman dan tidak menjadi nyeri. Lalu dia mulai menumpahkan hasratnya meskipun hanya bisa setengah jalan.


Dia tetap mengutamakan kondisi Alila dan tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman dengan serangannya yang bertubi-tubi. Demi istrinya Dimas tetap bermain pelan dan selembut mungkin.


Bahkan dia rela terus menahan hasrat utamanya yang setiap hari selalu menggebu, sampai nanti Alila siap untuk kembali melayaninya secara penuh tanpa kecuali.


"Dim..., aaghh..., Dimasss..."


Desahan Alila saat memanggil namanya membuat Dimas semakin hanyut dalam permainan bibir dan tangannya yang terus bergerak lembut ke seluruh tubuh wanita kesayangannya.


.


.


.

__ADS_1


Di sisi kota yang lain, sepasang kekasih berada dalam mobil yang dikemudikan oleh sang lelaki. Di sampingnya, sang wanita duduk mendampingi dengan wajah penuh senyuman.


"Ra, terima kasih ya, akhirnya hari ini aku bisa mendengar kata cintamu untukku."


Setelah pulang dari restoran alam di sungai wisata, mereka melanjutkan kencan akhir pekan kali ini dengan berjalan-jalan ke mall dan menonton bioskop hingga malam mulai menjelang.


Tama mengambil tangan kanan Dara dan menyatukannya dengan tangan kirinya kemudian dibawanya dalam dekapan dadanya.


"Aku sangat bahagia."


Dara mengalihkan pandangannya ke arah kanan, menatap wajah Tama yang memancarkan kebahagiaan dari sinar matanya yang penuh cinta.


"Sama-sama, Tam. Terima kasih juga karena tadi pagi kamu mau menemani aku ke panti lagi dan bermain dengan anak-anak panti sampai siang."


Dalam hati Dara sangat kagum dengan kepribadian Tama yang rendah hati dan apa-adanya meskipun dia berasal dari kalangan berada. Dia juga bergaul dengan siapa saja tanpa pernah membedakan status sosial seseorang. Hatinya tulus dan baik kepada semua orang.


"Aku bersyukur bisa mengenalmu dan menjadi kekasih dari seorang lelaki berhati baik sepertimu, Tam. Terima kasih sudah memilihku dan mau menerimaku dengan kondisi keluargaku yang sederhana dan jauh berbeda dengan keluargamu."


Tama tertawa mendengar ucapan Dara yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Kita semua adalah sama, Ra. Jangan dibanding-bandingkan."


"Dan satu lagi, sudah kukatakan berulang kali, Ra. Jangan memujiku terus, aku tidak mau pahala kebaikanku menjadi berkurang karenanya."


Dara ikut tertawa bersamanya dan itu justru membuat Tama semakin bahagia melihatnya.


"Ah, gombal. Kamu suruh aku tertawa terus, memangnya aku gila? Kamu rela kalau aku dikira orang gila karena terus-terusan tertawa...?!"


Dara merajuk dengan wajah cemberutnya hingga membuat Tama semakin melebarkan tawanya.


"Kamu hanya dikira gila, Ra. Sedangkan aku, aku sungguh tergila-gila padamu..." Tama melontarkan gombalan recehnya membuat Dara terus tertawa tiada henti.


Tak lama kemudian, mobil Tama sudah berhenti di depan rumah Dara. Dia mematikan mesin mobilnya lalu menahan Dara agar tidak langsung turun.


"Ra..."


"Ya, Tam? Ada apa?"


Dara terpaku menatap wajah Tama yang sudah berada di samping wajahnya. Satu ciuman di pipi kanannya lolos mendarat begitu saja hingga meronakan wajahnya.


"Aku minta maaf karena sudah lancang mencuri ciuman di bibirmu. Tadi terjadi begitu saja dan aku tidak bisa menahannya, Ra."


Dara terdiam mendengar kata-kata Tama. Sebenarnya dia tidak lagi mempermasalahkannya, toh sudah terjadi juga dan dia tidak menolaknya tadi.

__ADS_1


"Ra, aku berjanji tidak akan melakukan hal lain yang lebih dari itu. Aku mencintaimu dan aku akan selalu menjagamu."


"Ingatkan aku terus ya, Ra." Pinta Tama tulus.


Entah mengapa, Dara merasa terharu mendengar ucapan Tama. Dia mencoba melihat jauh ke dalam mata lelaki itu, dan yang didapatinya di sana hanyalah kejujuran.


Dan sebelum airmatanya luruh, segera dia anggukkan kepalanya tanpa sedetik pun melepaskan pandangan dari lelaki di hadapannya itu.


"Aku percaya padamu, Tam."


"Terima kasih, Ra."


Tama memajukan tubuhnya lalu merengkuh tubuh Dara masuk ke dalam pelukannya. Dara menurut dan membalas pelukan kekasihnya. Kedua tangannya saling bertautan di bagian belakang pinggang Tama. Airmatanya pun telah mengalir membasahi kedua pipinya.


Setelah beberapa saat, Tama mengakhiri pelukan mereka dengan satu ciuman hangat di kening Dara, lalu mengusap airmata kekasihnya.


"Ayo, turun. Aku antar kamu masuk ke dalam."


Mereka bersama-sama turun dari mobil, lalu Tama mengantarkan Dara sampai ke dalam rumah dan bertemu dengan kedua orangtuanya.


Hanya sebentar Tama berbicang dengan orangtua Dara. Dia segera pamit pulang dan Dara mengantarnya sampai di pagar rumahnya yang langsung bersisian dengan bahu jalan tempat di mana Tama memarkir mobilnya.


"Aku pulang dulu, Ra. Cepatlah mandi dengan air hangat dan segeralah beristirahat setelahnya."


"Ya. Kamu hati-hati di jalan, Tam. Kabari aku saat kamu sudah sampai di rumah."


Tama mengangguk lalu melepaskan tangan Dara yang semula terus digenggamnya.


Dia memutari mobil dari depan dan segera masuk melalui pintu mobil di sebelah kanan. Setelah menyiapkan mobilnya, dia menoleh ke samping kiri, di mana Dara masih berdiri di samping mobilnya tepat di depan pagar rumahnya.


Tama mulai melajukan mobilnya perlahan, meninggalkan Dara dengan senyuman yang terus terukir di bibir keduanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2