Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
62 AKU ADALAH KENYATAANMU


__ADS_3

Seminggu menjelang pernikahan, Dimas menjemput Alila untuk melakukan fitting terakhir baju pengantin mereka.


Hari ini juga merupakan hari terakhir mereka berdua bisa bertemu dan pergi bersama, sebelum esok hari mereka akan mulai berpisah untuk menjalani pingitan selama tujuh hari hingga hari pernikahan tiba.


Sesampainya di butik, Dimas mematikan mesin mobil lalu mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.


"Al, ini untukmu."


Dimas menyerahkan satu kartu debit miliknya pada Alila membuat Alila bingung dan menatap Dimas penuh pertanyaan.


"Apa ini, Dim?" Alila memperhatikan kartu yang sudah berpindah tangan kepadanya itu.


"Kartu debit itu berisi seluruh gajiku dari awal aku diterima bekerja sampai sekarang dan seterusnya nanti. Mulai sekarang peganglah dan gunakan untuk seluruh keperluanmu dan keperluan rumah tangga kita."


"Tapi, Dim. Kalau kartu ini aku bawa, bagaimana denganmu?" Tanya Alila semakin bingung.


"Aku masih punya tabungan lamaku, Al. Dan sebagian isinya juga sudah aku pindahkan ke kartu yang kamu bawa, sebagai tambahan jika satu minggu ke depan kamu masih memerlukan sesuatu untuk persiapan pernikahan kita."


Alila mengangguk pelan, tak ingin membantah permintaan Dimas. Bagaimanapun juga pastinya Dimas bermaksud untuk memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumah tangga untuk memberikan nafkah kepadanya.


"Nomor pinnya enam digit. Tanggal, bulan dan tahun pernikahan kita."


"Ya, Dim. Terima kasih."


"Sama-sama, Al." Dimas mengusap kepala Alila lalu mengajaknya turun dan masuk ke dalam butik.


Di dalam butik, mereka langsung dilayani oleh pemilik butik yang merupakan teman karib Mama Dian dan diajak masuk ke ruangan fitting. Kemudian Dimas dan Alila melakukan fitting bersama-sama


dengan didampingi beberapa orang karyawan butik.


Mereka memesan dua pasang pakaian untuk akad nikah dan resepsi. Untuk akad nikah Alila akan mengenakan kain batik yang dipadu kebaya putih, dengan Dimas yang memakai setelan jas koko berwarna sama.


Sedangkan untuk acara resepsi Alila memilih gaun berpotongan sederhana namun terlihat sangat elegan berwarna navy yang senada dengan setelan jas casual semi formal untuk Dimas. Alila menjatuhkan pilihan pada warna navy karena itu adalah warna kesukaan Dimas.


Setelah proses fitting selesai, Dimas mengajak Alila pergi ke sebuah alamat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya.


"Kita akan ke mana, Dim?" Tanya Alila.


"Aku juga belum tahu, Al. Tadi papa dan mama hanya meminta kita datang ke alamat ini."


Papa Yudhi dan Mama Kirana sudah pulang ke rumah semalam. Sedangkan Darma, Indira dan keluarga Indira akan datang dua hari sebelum pernikahan dilaksanakan.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di alamat yang dituju. Sebuah rumah minimalis dua lantai berukuran tak terlalu besar dengan halaman depan berpagar besi modern. Rumah itu berada di bagian depan perumahan dan menghadap langsung ke jalan utama.


Tampak kedua orangtua Dimas sudah menunggu di teras depan. Dimas segera menghentikan mobilnya di depan garasi, sementara mobil Papa Yudhi berada di tengah halaman.


Mereka turun dari mobil dan menghampiri orangtua Dimas. Setelah menyapa dan mencium tangan mereka, Papa Yudhi memberikan sebuah kunci kepada Dimas.


"Ini hadiah dari papa dan mama untuk kalian berdua. Semoga kalian suka." Kata papa.

__ADS_1


Dimas dan Alila saling berpandangan dan belum mengerti maksud papanya.


"Ini rumah kalian. Kalian bisa langsung menempatinya setelah menikah nanti." Mama Kirana menambahkan.


Papa menjelaskan jika beliau sudah membeli rumah itu setelah Dimas mengutarakan niatnya untuk menikahi Alila. Dengan bantuan saudara papa di kota ini, akhirnya papa memilih rumah yang sekarang mereka datangi.


Papa juga melakukan hal yang sama pada Darma saat dulu Darma menikahi Indira. Rumah yang sekarang ditempati oleh keluarga kecil Darma di dekat toko kue Indira itu adalah hadiah dari orangtua mereka.


"Terima kasih, Pa, Ma."


Dimas memeluk kedua orangtuanya bergantian diikuti oleh Alila yang tampak berkaca-kaca karena terharu.


"Ayo buka dan masuklah!" Kata Papa.


Dimas meraih tangan kanan Alila dan membuka pintu dengan kedua tangan mereka yang menyatu memegang kunci. Mereka mengucap doa bersama sebelum membuka pintu rumah.


Mereka memandangi suasana di dalam rumah yang baru saja mereka masuki. Lantai bawah terbagi menjadi beberapa ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tamu yang bersebelahan dengan garasi di sisi luarnya, lalu di ujung belakang terdapat satu kamar lagi yang bersebelahan dengan dapur dan ruang makan. Sementara di bagian tengah dijadikan sebagai ruang keluarga tanpa pembatas.


Mereka naik ke lantai atas dan melihat kamar utama yang akan menjadi kamar mereka. Kamar itu berukuran hampir satu sisi rumah bagian depan dengan balkon kecil yang menghadap ke bagian luar rumah mereka.


Di samping kamar utama terdapat ruangan tanpa pintu yang bersebelahan dengan ujung tangga di sudut ruangan. Di sana terdapat satu meja kecil, dua kursi dan sebuah kulkas mini. Di sisi samping terdapat dua kamar yang saling berhadapan. Dan di bagian belakang dijadikan sebagai ruang terbuka untuk mencuci dan menjemur pakaian.


"Karena mulai besok kalian sudah tidak bisa bertemu, hari ini kalian bisa membahas apa saja yang masih perlu kalian lengkapi, terutama untuk kamar kalian. Selanjutnya besok Dimas yang akan menyelesaikannya."


Setelah itu papa dan mama pamit untuk pulang dan beristirahat, meninggalkan Dimas dan Alila yang tetap berada di rumah baru mereka.


"Kamu suka, Al?"


"Tentu saja aku suka, Dim. Rumah ini sangat indah. Aku kira kita akan tinggal di rumah lamamu, tapi ternyata papa dan mama sudah menyiapkan rumah baru untuk kita."


Alila berbalik badan lalu memeluk tubuh Dimas dengan erat dan merebahkan kepala di dada calon suaminya. Untuk sesaat mereka larut dalam suasana yang intim dan penuh getaran cinta di hati keduanya.


"Aku akan sangat merindukanmu satu minggu ke depan, Al..."


"Aku juga, Dim."


Alila mengeratkan pelukannya begitu membayangkan perpisahan mereka selama satu minggu besok. Dimas menciumi puncak kepala Alila dengan penuh perasaan lalu membalas pelukan calon istrinya dengan lebih erat lagi.


Mata mereka terpejam dan semakin hanyut dalam kehangatan tubuh yang menyatu dengan nafas yang mulai memburu.


"Aku mencintaimu, Al. Aku hanya ingin kamu ada di sisiku."


"Aku juga mencintaimu, Dim. Aku ingin selalu bersamamu."


Tak ada yang ingin melepaskan pelukan itu. Mereka tak ingin berpisah sedetik pun. Satu minggu akan terasa sangat lama bagi mereka, karena telah terbiasa bertemu setiap hari.


"Jaga dirimu selama aku tak bisa bersamamu, Al."


Alila mengangguk lalu mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Dimas.

__ADS_1


"Sering-seringlah menghubungiku, Dim."


"Ya, Al. Aku pasti akan melakukannya."


Dengan Alila yang masih tetap memeluknya, Dimas melepaskan pelukannya dan membawa kedua tangannya untuk menangkup wajah cantik Alila.


Dia mendekatkan wajahnya sehingga mereka berhadapan hampir tanpa jarak dengan sapuan nafas yang terasa saling membelai permukaan wajah yang telah menghangat. Kedua bola mata mereka saling menatap tanpa satupun kedipan yang menghalangi pandangan satu sama lain.


"Nikmatilah waktumu selama tak ada aku bersamamu. Karena setelah kita bertemu nanti, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Al."


"Apa yang bisa aku lakukan tanpa kamu di sampingku, Dim. Aku akan menunggu saat itu tiba. Hanya menunggu pertemuan denganmu saja."


Di dalam dadanya, Dimas merasakan gemuruh yang begitu menderu, menyesakkan namun membuncahkan perasaan. Dia bahagia mendengar ungkapan Alila.


"Saat kita bertemu lagi, kamu akan menjadi milikku seutuhnya, Al. Apa kamu sudah siap?"


"Aku bahkan menantikan saat itu tiba, Dim. Agar aku benar-benar yakin bahwa aku tidak lagi bermimpi tentang semua ini."


"Aku bukanlah sebuah mimpi, Al. Karena aku adalah kenyataanmu."


Dimas mengusap lembut wajah cantik nan memerah yang sedari tadi berada dalam tangkupan kedua telapak tangannya. Mata indah itu terus menatapnya dengan sinar cinta yang terpancar penuh kasih.


Dengan gerakan lembut dan lambat, dia mencium kening Alila diiringi hangatnya rasa yang mengalir tanpa ingin berakhir.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Hanya mencintaimu..."


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2