Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
31 BERTEPUK SEBELAH TANGAN


__ADS_3

"Aku akan menikahi Alila."


Dan satu kalimat dari mulut Dimas itu telah membuat semua yang mendengarnya terkejut tak percaya. Tak terkecuali Alila.


Mata bening Alila menatap Dimas lekat-lekat, mencoba menelusuri bola mata itu lebih dalam, mencari kesungguhan dari ucapan Dimas yang baru saja didengarnya.


"Aku mengatakannya karena kalian adalah orang-orang terdekat kami. Kebersamaan kita selama ini sudah seperti keluarga."


"Aku harap kalian mengerti perasaanku juga perasaan Alila, dan bisa menerima hubungan kami yang sekarang."


Suasana kembali hening. Semua larut dalam pikiran masing-masing.


Bagi Sandy dan Nayla, situasi Dimas dan Alila saat ini sudah pernah mereka alami dulu. Jadi tidak ada tanggapan yang berlebihan dan tidak ada penolakan dari mereka berdua.


Berbeda dengan Tama, hatinya tengah berkecamuk parah. Kekecewaan, amarah, sakit hati dan kesedihan bercampur-aduk menjadi satu.


Satu sisi hatinya sangat terluka oleh kenyataan yang ada, karena dirinya juga mencintai Alila. Namun setengah hatinya yang lain menyadari, tidak ada yang salah dari hubungan Dimas dan Alila, karena mereka saling mencintai.


Bukan salah mereka pula jika cinta datang di sela hubungan persahabatan yang sudah terjalin sebelumnya. Dimas mencintai Alila, sama halnya dia mencintai Alila. Sementara Alila, dirinya hanya punya satu cinta dan cinta itu telah dia serahkan pada Dimas, bukan Tama.


Pada akhirnya, kenyataan tetaplah kenyataan. Sepahit apapun itu, Tama harus siap menerimanya. Karena hanya ada dua kemungkinan dalam satu cinta. Cinta yang saling bersambut atau cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Kapan kalian akan menikah?"


Tama mencoba memperbaiki suasana dengan membuka pembicaraan. Dengan hati yang masih terasa teriris, dia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin dalam menanggapi hubungan Dimas dan Alila.


Dimas memalingkan wajahnya ke arah Tama. Dilihatnya lelaki itu duduk bersandar dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya sudah tampak tenang dan bisa mengatur emosinya.


"Aku menunggu Alila. Kapanpun dia siap, kami akan segera menikah."


"Kamu sendiri, apakah kamu benar-benar sudah siap?" Tanya Tama lagi.


"Aku siap!"


Setelah menjawab dengan mantap, Dimas mengalihkan pandangan dan menatap wajah kekasihnya. Alila yang sedari tadi diam mulai menampakkan kembali senyumnya dan membalas tatapan mata Dimas dengan lembut dan penuh kebahagiaan.


"Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Meskipun awalnya tak percaya dan tidak menyangka sama sekali, tapi aku turut bahagia untuk kalian berdua."


Sandy mengulurkan tangannya pada Dimas yang segera menyambutnya, diikuti Tama yang juga menjabat erat tangannya dengan wajah tersenyum meski terlihat dipaksakan.


"Terima kasih."


Nayla menggeser kursinya kebih dekat ke samping Alila, lalu dia memeluk tubuh sahabatnya dengan raut bahagia. Alila membalas pelukan Nayla dengan erat dan sama bahagianya.


"Selamat ya, Al. Kita lihat nanti, aku atau kamu yang akan menikah lebih dulu."


"Terima kasih, Nay."


Jam sembilan lewat, Tama, Sandy dan Nayla pamit pulang. Tinggallah Dimas berdua dengan Alila yang masih duduk bersebelahan lebih dekat.

__ADS_1


"Dim, mengapa kamu tidak mengatakan padaku sebelumnya?"


"Apa?"


Alila diam memaku tatapannya pada mata Dimas yang masih membalas beberapa pesan di ponselnya.


Dimas segera menutup ponsel dan menyimpannya kembali. Pandangannya tertuju pada mata indah Alila yang menatapnya dengan lembut.


"Maaf jika aku salah telah mengatakan tentang pernikahan kita."


"Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya terkejut saat kamu mengatakannya, tanpa memberitahu aku sebelumnya."


"Kalau begitu, aku akan mengatakannya sekarang."


Dimas meraih tangan kiri Alila yang mengenakan cincin pemberiannya, lalu digenggamnya dengan tatapan mata syahdu.


"Alila, maukah kamu menikah denganku?"


Dimas mencium tangan Alila dengan penuh cinta.


"Maukah kamu menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti?"


Mata Alila berkaca-kaca. Tangan kanannya terangkat menutup mulutnya menahan haru. Dadanya terasa sesak dan terus bergetar hebat hingga nafasnya pun seakan terhenti sesaat.


"Aku tahu ini mungkin terlalu cepat untuk hubungan cinta kita yang baru saja terjalin. Tapi kita sudah cukup lama saling mengenal dan dekat sebagai sahabat. Aku tidak butuh pembuktian lain untuk meyakinkan perasaanku, karena selama ini aku sudah merasa nyaman, bahkan sangat nyaman bersamamu, Al."


Tangan Dimas terulur menyentuh wajah Alila. Jemarinya mulai menghapus air mata yang telah mengalir membasahi pipi kekasihnya.


Alila tersenyum dan menatap mata Dimas dengan hangat dan penuh cinta.


"Ya. Aku mau, Dim. Aku mau menikah denganmu."


Dimas tersenyum dan semakin erat menggenggam tangan Alila. Tak ada lagi keraguan di hati keduanya. Yang ada hanya rasa cinta dan kebahagiaan yang menyatukan dua insan yang ingin saling memiliki dan selalu bersama selamanya.


Tanpa mereka ketahui, sepasang mata memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Tatapannya pilu, hatinya yang telah patah semakin tersayat-sayat menyaksikan kemesraan wanita yang dicintainya bersama orang lain.


Setelah keluar bersama Sandy dan Nayla tadi, Tama tidak langsung menuju mobilnya. Dia kembali ke dalam resto untuk pergi ke toilet melalui pintu samping. Namun saat akan kembali ke mobil, tanpa sengaja dia melihat Dimas dan Alila yang masih duduk berdua di dalam resto.


Setelah beberapa saat berdiri menatap kebersamaan Dimas dan Alila yang begitu melukai hatinya, Tama memilih untuk segera pergi dari tempat itu. Dia sadar, dirinya telah kalah dan cintanya bertepuk sebelah tangan.


Sementara di dalam resto, Dimas dan Alila tengah bersiap untuk pulang. Mereka berdiri dan berjalan keluar bergandengan tangan dengan tatapan mesra menuju mobil.


Di dalam mobil, Dimas mengambil selimut dari kursi belakang lalu membuka lipatannya dan segera membentangkannya untuk menghangatkan tubuh Alila.


"Tidurlah jika sudah mengantuk, Al."


Dimas menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya di tengah keramaian jalan raya. Sesekali dia menoleh dan memperhatikan Alila yang masih asyik dengan ponselnya.


Belum lama mobil melaju, Alila mulai terlelap. Dimas yang melihatnya tersenyum dan mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap lembut kepala kekasihnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Putri Tidurku."


Dimas berkata lirih sambil mencari tempat untuk menepikan mobilnya sejenak. Setelah mobil berhasil menepi, Dimas merubah posisi kursi dengan menurunkan sandarannya ke belakang sehingga tubuh Alila lebih nyaman tidur dengan posisi setengah berbaring.


Dimas pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat. Dia masih ingin menikmati waktu berdua bersama Alila meski kekasihnya itu telah tertidur di sampingnya.


Setelah hampir satu jam berputar-putar lebih dulu, akhirnya mobil Dimas telah masuk ke halaman rumah Alila. Dimas mematikan mesin mobilnya dan mengalihkan pandangannya ke wajah Alila.


Perlahan dan tanpa suara Dimas membungkukkan tubuhnya mendekati Alila yang masih tertidur.


"Al.."


Dimas mencoba membangunkan Alila, karena dia melihat mobil Alano belum terparkir di depan garasi. Itu berarti Alano belum pulang dan dia tidak bisa menggendong Alila masuk ke dalam rumah tanpa bantuan Alano.


Alila belum juga terbangun walaupun berkali-kali Dimas memanggilnya. Dimas meraih tangan Alila dan menciumnya dengan lembut. Satu tangannya yang lain mengusap lembut kepala Alila dengan posisi wajah mereka yang saling berdekatan.


Alila mulai membuka matanya dan pertama kali yang dilihatnya adalah wajah Dimas yang berada tepat di hadapannya. Jantung Alila berdebar hebat disertai desiran parah yang terasa di dalam rongga dadanya.


"Dim.."


"Kita sudah sampai."


Dimas menarik wajahnya menjauh membuat Alila juga menarik tubuhnya untuk duduk kembali. Dalam gelapnya suasana, pandangan mereka bertemu. Mereka saling menyimpan suara, hanya detak jantung dan deru nafas mereka yang seolah memecah kesunyian.


Tanpa aba-aba tangan Alila bergerak menyentuh tubuh Dimas lalu dengan cepat memeluk erat tubuh kekasihnya. Dimas yang terbawa suasana pun membalas pelukan Alila dan semakin menyatukan tubuh mereka.


Seketika rasa hangat mengalir di sekujur tubuh keduanya. Alila membenamkan wajahnya di bahu Dimas sementara tangannya terus melingkar di pinggang lelaki itu. Dia merasa sangat tenang berada di dalam pelukan Dimas.


Dimas mengusap lembut punggung Alila dan menciumi kepalanya dengan hati bergetar. Rasanya ingin terus berlama-lama memeluk tubuh kekasihnya.


"Aku mencintaimu, Al."


"Aku juga mencintaimu, Dim. Sangat mencintaimu."


Hati Dimas semakin bergetar mendengar ungkapan cinta Alila di tengah pelukannya. Dia mempererat pelukannya, sungguh tak ingin melepaskannya.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


Author


__ADS_2