Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
51 TAWA YANG INDAH


__ADS_3

Wanita itu mendorong pelan trolinya menuju pintu keluar, diikuti Tama yang berjalan di sampingnya.


Pandangan mereka bertemu dan beradu dalam waktu yang singkat. Baik Tama maupun wanita itu sama-sama merasakan getaran kecil di hati mereka saat kedua mata mereka saling menatap tanpa sengaja.


Sesampainya di teras swalayan, wanita itu menepikan trolinya ke sisi samping agar tidak mengganggu lalu lalang pengunjung swalayan. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya.


Matanya mencari keberadaan Tama yang ternyata sedang memasukkan kantong belanjaannya ke dalam kursi belakang mobilnya.


"Maaf, mas. Boleh saya minta nomor rekeningnya? Akan saya transfer sekarang untuk mengganti belanjaan saya tadi."


Tama menutup pintu mobilnya dan kembali ke teras swalayan diikuti wanita itu. Sesaat dia kembali menatap wanita itu dan membuatnya menjadi salah tingkah lagi.


"Kalau boleh tahu untuk apa kamu berbelanja kebutuhan pokok sebanyak itu?" Tanya Tama sambil memperhatikan troli belanjaan yang ada di dekatnya.


Troli itu berisi bahan makanan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, susu kaleng, mie instan dan beberapa bahan makanan lainnya.


"Oh, itu akan aku antarkan ke panti asuhan di dekat rumahku."


Mendengar Tama menggunakan panggilan kamu, membuat wanita itu ikut merubah sebutannya menjadi aku. Lagi pula, dia lihat lelaki di depannya itu seusia dengannya dan bersikap baik sejak mereka bertemu di dalam swalayan tadi.


"Kamu menyumbangkan semuanya itu?" Tanya Tama lagi.


"Iya. Meskipun tidak banyak, setiap bulan aku selalu menyisihkan uang gajiku untuk membelikan bahan makanan pokok bagi anak-anak di panti."


Senyum tulus di wajah wanita itu membuat Tama mulai tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.


(Dia cantik dan berhati malaikat. Ada yang berbeda dari dirinya yang membuatku merasakan sesuatu.)


"Mmm.., dari tadi kita belum berkenalan. Namaku Tama." Tama mengulurkan tangannya ke arah wanita itu.


Sambutan hangat diberikan oleh wanita itu, yang segera menerima uluran tangan Tama.


"Aku Dara." Senyum kembali muncul di sudut bibirnya membuat Tama membalasnya.


"Oya, berapa nomor rekeningmu? Akan aku transfer sekarang dari ponselku." Lanjut Dara.


Sejenak Tama terdiam dan berpikir. Hingga Dara memanggilnya dengan ponsel yang masih tergenggam di tangannya.


"Tama..?"


"Tidak usah diganti. Anggap saja aku juga ikut menyumbang untuk panti."


"Tapi...."


"Kalau kau ingin menggantinya, belanjakan saja uangnya untuk kebutuhan panti."


Diam-diam Dara juga mengagumi Tama. Dia mencuri pandang ke arah Tama yang tengah mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Terdengar nada panggilan dari ponsel itu.


"Ya, ada apa?" Jawab Tama setelah menerima panggilan telepon dari seseorang yang tak lain adalah Tami adiknya.


"Aku akan pulang agak sore. Sudah aku belikan. Kamu tunggu saja di rumah."


Setelah berbicara singkat, Tama menutup teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya. Pandangannya beralih pada Dara yang masih menatapnya tanpa henti.


"Kamu akan ke panti asuhan sekarang?"

__ADS_1


Pertanyaan Tama mengagetkan Dara. Wanita itu malu karena Tama mengetahui dia sedang memperhatikannya.


"Oh.., iya. Aku akan memesan taxi online dulu."


Dara segera membuka aplikasi kendaraan online di ponselnya.


"Tidak usah memesan taxi. Boleh aku mengantarmu ke panti?" Tama menawarkan dirinya.


Dara menghentikan gerakan tangannya di layar ponselnya. Masih tidak percaya dengan ucapan Tama.


"Apa? Kamu mau ikut ke panti?"


"Iya. Keluargaku juga menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan. Tetapi aku tidak pernah ikut berkunjung ke sana. Sekarang aku ingin pergi ke panti, melihat langsung kondisi anak-anak di sana."


Entah ucapan Tama itu jujur dari hatinya atau hanya sekedar alasan untuk bisa mengantarkan Dara ke sana, tapi nada bicaranya yang tenang dan penuh senyuman di wajahnya, membuat Dara tidak bisa menolak permintaan teman barunya tersebut.


"Baiklah, aku tidak bisa melarangmu. Lagipula, semua belanjaan ini kamu yang sudah membayarnya." Jawab Dara dengan anggukan kepalanya.


"Jangan membicarakan itu lagi. Nanti pahalaku jadi berkurang karenanya." Gurau Tama yang membuat Dara tertawa lepas.


(Tawanya terlihat begitu indah..)


Kemudian Tama mendorong troli belanjaan Dara ke belakang mobilnya. Dia membuka pintu bagasi lalu memasukkan satu per satu barang belanjaan dibantu oleh Dara yang berdiri di sampingnya.


Tiba-tiba saat sedang mengambil barang dari troli dan membawanya ke bagasi bersamaan, kepala mereka terantuk satu sama lain di bawah pintu bagasi yang terbuka ke atas.


Sama-sama mengaduh lirih, keduanya bertatapan mata sambil memegang kening masing-masing. Getaran kecil itu mereka rasakan lagi.


"Maaf..." Ucap mereka bersamaan sambil berdiri saling menjauhkan wajah mereka yang bersemu merah.


Setelah bisa menguasai diri, Tama segera memasukkan sisa belanjaan yang masih ada di dalam troli ke dalam bagasi mobilnya, lalu menutup dan mengunci pintu bagasi. Dia mendorong troli yang sudah kosong sampai ke teras swalayan dan meninggalkannya di sana, lalu berjalan ke mobil dan mengajak Dara yang masih berdiri menunggunya di samping mobil.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Tama pun mulai mengendarai mobilnya ke arah yang ditunjukkan oleh Dara.


Tak sampai setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di dalam halaman panti asuhan yang mereka tuju. Dara mengajak Tama turun dan berjalan menuju pintu masuk yang terbuka lebar.


Tama melangkahkan kakinya sambil memperhatikan suasana di sekitar panti yang bangunannya cukup luas dan asri dengan banyak tanaman di halamannya.


Sesampainya di pintu masuk, mereka berdua disambut oleh dua orang pengurus panti yang berusia paruh baya. Dara memperkenalkan Tama sebagai temannya dan juga orang yang telah memberikan sumbangan barang kebutuhan untuk panti hari ini. Wanita itu tampak sudah sangat dekat dan akrab dengan para pengurus panti dan anak-anak di sana, karena dia memang sering berkunjung ke tempat itu.


Setelah berbincang sebentar dengan ibu pengurus panti, Dara meminta Tama untuk membuka bagasi mobilnya diikuti beberapa anak laki-laki kecil berusia belasan tahun yang akan membantu menurunkan barang belanjaan tadi dan bergotong-royong membawanya ke dalam panti.


Tama turut membawa dua kantong belanjaan dan mengikuti anak-anak masuk ke dalam panti. Di dalam sebuah ruangan yang luas, Tama melihat Dara tengah bermain bersama anak-anak yang lebih kecil usianya.


Setelah meletakkan kantong belanjaan yang dibawanya di sudut ruangan, Tama berdiri bersandarkan dinding ruangan sambil memperhatikan Dara yang masih asyik menemani sekumpulan anak kecil bermain di tengah ruangan. Kedua tangannya terlipat di atas dada, menunjukkan sikap santai dan tetap tenang.


Sesekali Dara tersenyum dan mengusapi kepala anak-anak itu, lalu tertawa lepas di sela-sela permainan sederhana yang mereka lakukan. Tingkah polah anak-anak yang polos dan lucu membuat wanita itu betah berlama-lama mengunjungi panti di setiap waktu luangnya.


Tanpa sadar Tama larut dalam pemandangan mengesankan yang ada di hadapan matanya. Bibirnya terus mengembangkan senyuman melihat Dara di tengah kerumunan anak kecil yang menggemaskan tersebut.


(Dia memang berbeda. Senyum dan tawanya terlihat sangat tulus, selain juga indah..)


Hingga beberapa saat berikutnya, Dara baru menyadari keberadaan Tama di ruangan yang sama dengannya. Dia lupa jika dia tidak datang sendiri seperti biasanya, melainkan bersama Tama.


Dara terlihat berbicara kepada anak-anak di sekelilingnya, lalu dia berdiri dan melangkah menghampiri Tama yang menunggunya di sudut ruangan.

__ADS_1


"Maaf telah membuatmu menunggu lama. Aku lupa kalau aku datang bersama kamu." Ucap Dara malu-malu.


Tama tersenyum melihat raut wajah Dara yang merona karena malu.


"Tidak apa-apa. Aku menikmati suasana di panti ini. Aku juga senang melihatmu bersama mereka dan bisa membuat mereka tertawa lepas sambil bermain bersama."


Lagi-lagi Dara dibuat salah tingkah oleh ucapan Tama yang disertai tatapan kagum pada dirinya. Segera saja dia mengajak Tama ke ruangan pengurus panti untuk berpamitan.


Selesai berpamitan mereka pun masuk ke dalam mobil. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Tama terlebih dahulu menanyakan alamat rumah Dara untuk mengantarnya pulang. Kemudian barulah dia mengendarai mobilnya meninggalkan panti asuhan.


Jarak antara panti dan rumah Dara cukup dekat, hanya sekitar tiga ratus meter. Hanya beberapa menit perjalanan, mereka sudah sampai di depan rumah Dara.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang. Terima kasih juga sudah menemaniku datang ke panti. Maaf jika terlalu lama di sana tadi."


Tama menikmati senyuman tanda terima kasih dari Dara untuknya. Senyuman yang manis yang tak kalah menariknya dengan tawa indah yang sudah memikat hatinya sedari awal melihatnya tadi.


"Sama-sama, Ra. Terima kasih juga sudah mengenalkan aku pada lingkungan panti yang ternyata menyenangkan dan sangat menenangkan hati."


Dara sudah membuka pintu mobil dan bersiap untuk turun, ketika tiba-tiba Tama kembali memanggilnya dan membuatnya menoleh ke arah Tama.


"Ra, bisa aku minta nomor ponselmu?"


"Nomorku?"


Dara tampak terkejut karena lelaki yang baru saja dikenalnya itu meminta nomor ponselnya.


"Iya. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu lagi atau aku akan meminta bantuanmu lagi untuk menemaniku berkunjung ke panti."


Tama sudah mengulurkan ponsel di tangannya kepada Dara yang segera menerimanya. Dia menuliskan sebaris angka di layar ponsel milik Tama lalu memencet tombol panggilan di sudut kanan bawah, hingga tak lama kemudian terdengar nada panggilan di ponselnya sendiri.


Dara mematikan panggilan dari ponsel Tama dan menyerahkannya kembali pada Tama.


"Terima kasih, Ra. Senang bisa berkenalan denganmu."


"Sama-sama, Tama. Terima kasih sudah mau menjadi temanku."


Dara turun dari mobil Tama dan melepas kepergian Tama yang mulai mengendarai mobil dengan pelan meninggalkan rumahnya.


Di dalam mobilnya, Tama melihat Dara dari kaca spion. Wanita itu masih berdiri di depan pagar rumahnya dan terus menatap ke arah mobil Tama. Dan ketika mobil itu semakin menjauh, barulah dia masuk ke dalam rumahnya.


Tama tersenyum menatap kaca spion mobilnya. Wanita itu sudah tak terlihat lagi sosoknya. Tetapi bayangannya masih terasa nyata di dalam pikiran Tama, terutama senyum manis dan tawa indahnya.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


~Author~


.


__ADS_2