
Gelap. Semua gelap. Tanpa cahaya, hanya hitam pekat yang terlihat. Pagi yang cerah berubah kelam seketika. Tak ada udara segar yang terhirup oleh raga. Tak ada sepoi angin pantai yang bertiup menyejukkan jiwa. Yang ada hanya hampa yang melayang mencari arah pulang.
Alila masih setengah tersadar saat tubuhnya digotong dan dimasukkan ke dalam ambulans. Suara riuh para penolong dan bunyi nyaring sirine pun masih terdengar samar-samar oleh indra pendengarannya.
"To-tolongg...ssuami...sa-saya.... Dim... Dim-mass....."
Setelah mengucapkan kalimat terpatah-patah, Alila terkulai lemah tak sadarkan diri. Tak ada luka serius yang terlihat pada tubuh bagian luarnya. Hanya goresan-goresan kecil dan memar di beberapa bagian tubuhnya. Selebihnya hanyalah rasa syok dan trauma yang mungkin akan melemahkan kondisi psikisnya.
Dimas benar-benar melindungi istrinya dengan baik. Dengan kecepatan akal pikirannya yang masih bisa bekerja di saat situasi darurat, dia bertindak tepat dengan membenamkan tubuh Alila ke bagian bawah mobil dan menutupi dengan tubuhnya sendiri sebagai perisai pelindung, sehingga dirinyalah yang terkena dua kali hantaman keras yang penuh petaka.
Jangan ditanya lagi bagaimana kondisi Dimas. Sudah pasti lelaki itu terluka sangat parah. Mungkin saja dia kritis jika dilihat dari penampakan luar tubuhnya yang penuh darah dan luka menganga.
Dua mobil ambulans melaju cepat beriringan membelah jalanan yang masih cukup lengang. Suara sirine yang meraung-raung bersahutan semakin mencekamkan suasana pagi yang mulai beranjak terik.
Di antara ramainya tempat kejadian kecelakaan, ternyata masih banyak orang berhati baik yang bersedia menolong dengan tulus. Terbukti dengan terkumpulnya barang-barang berharga milik Dimas dan Alila tanpa ada yang hilang satu pun. Seluruhnya masih terjaga dengan utuh hingga diserahkan kepada pihak kepolisian.
Bahkan puding buah kesukaan Dimas yang sengaja dibawa serta oleh Alila pun masih utuh dan bersih meskipun sempat terlempar jatuh ke dasar mobil. Tapi sekarang, siapa juga yang akan menikmatinya? Tidak Dimas, tidak pula Alila.
Hampir satu jam berikutnya, kedua mobil ambulans sudah berhenti di depan pintu instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat, yang kebetulan cukup ternama dan berfasilitas lengkap.
Sejumlah tenaga kesehatan yang bertugas bertindak cepat dan sigap untuk mengeluarkan tubuh Dimas dan Alila dan memindahkannya ke atas brankar perawatan dan segera mendorongnya masuk ke dalam ruangan untuk melakukan penanganan terbaik.
Satu mobil kepolisian setempat juga sudah terparkir tak jauh dari ruang IGD. Tiga orang polisi turun dan berjalan menuju ruang tunggu. Dua di antaranya berjaga di depan pintu penanganan, dan satu orang lainnya sibuk menghubungi keluarga sepasang suami istri muda itu untuk mengabarkan kecelakaan yang menimpa Dimas dan Alila.
Setengah jam berikutnya, Alano, Papa Dewa dan Mama Dian sudah sampai di rumah sakit dengan wajah tegang dan cemas. Sementara Papa Yudhi dan Mama Kirana ditemani oleh Darma sudah dalam perjalanan dari luar kota untuk mendatangi rumah sakit tempat putra dan menantu mereka dirawat.
"Pa..., Alila Pa...! Bagaimana keadaannya...?"
Mama Dian sudah berderai air mata sedari tiba tadi. Papa Dewa menenangkannya dengan terus memeluk istrinya dan memberikan usapan lembut, sekalipun beliau sendiri juga sangat mengkhawatirkan kondisi Alila dan suaminya.
Alano terus memegang ponselnya dan menghubungi Tama dan Sandy yang sudah dia kenal dekat. Kebetulan akhir pekan ini Sandy tengah pulang dan berada di rumahnya. Alano mengatisipasi hal-hal tak terduga yang mungkin akan terjadi, yang bisa saja membutuhkan banyak bantuan dari orang lain, entah apa pun itu nanti.
Kecepatan informasi di dunia maya saat ini tak diragukan lagi. Atas unggahan berita berikut foto dan video beberapa orang di lokasi kejadian, kabar kecelakaan yang menimpa Dimas dan Alila dengan cepat sudah tersebar di berbagai media sosial dan diketahui oleh banyak khalayak, terutama di antero kota mereka.
__ADS_1
Tanpa bisa dicegah, dalam waktu singkat, beberapa orang terdekat Dimas dan Alila sudah merapat ke rumah sakit. Sandy dan Nayla, Tama dan Dara Nadia, beberapa rekan kerja Alila dan Dimas, juga Pak Albi, semua berkumpul dengan raut penuh kesedihan dan rasa tak percaya.
"Bagaimana kejadiannya, Lan? Mengapa bisa sampai separah itu?"
Wajah Tama terlihat serius, mencoba mencari informasi dari adik Alila. Dia berharap sedikit ataupun banyak informasi yang didapatnya, bisa dia gunakan untuk mengerahkan beberapa orang kepercayaan papanya untuk membantu menyelidiki kejadian yang menimpa dua orang sahabat terbaiknya.
Alano menggeleng pelan. Pikirannya masih cukup kalut karena semua ini.
"Aku belum menanyakannya pada polisi, mas. Coba Mas Tama langsung saja menemui polisi yang berjaga di sana."
Arah pandangan Alano menatap lurus ke depan pintu ruang penanganan. Tama paham dan menepuk pelan pundak Alano.
"Semua pasti akan baik-baik saja. Teruslah berdoa untuk mereka!"
Tama meninggalkan Alano dan berjalan cepat menghampiri tiga orang polisi yang sedang berbicara dengan Papa Dewa dan Pak Albi. Dia turut bergabung dan mendengarkan semua penjelasan para polisi tersebut.
Tak lama berselang, seorang dokter laki-laki yang sudah cukup berumur keluar dengan masih mengenakan jas kebesarannya yang terdapat beberapa noda darah yang masih basah.
Seluruh keluarga, polisi dan beberapa yang lainnya mendekat dan menunggu apa yang akan disampaikan oleh dokter tersebut. Mama Dian tetap duduk terisak di tempatnya didampingi oleh Nayla dan Nadia.
Wajah tegang dan berpeluh dari sang dokter, sudah bisa menggambarkan sulitnya tugas mereka di dalam ruangan sana.
"Pasien wanita tidak mengalami cidera yang parah. Hanya beberapa luka memar dan goresan di kulit luarnya saja. Tetapi untuk pasien prianya......" Dokter menghela nafas setenang mungkin untuk menyampaikan kelanjutan kalimatnya.
"Katakan, Dok! Apa apa dengan menantu saya??" Papa Dewa mulai panik melihat gelagat dokter.
"Mohon tenang, saya akan jelaskan satu per satu, karena di dalam sana, tim dokter kami masih terus berupaya dengan keras."
"Pasien pria mengalami patah tulang pada pertengahan tulang paha sebelah kanan yang harus segera kami lakukan tindakan operasi. Selain itu, ada beberapa luka robek pada bagian kaki kanan, namun yang paling parah dan mengeluarkan banyak darah adalah luka robek yang cukup besar pada bagian pinggang sebelah kanan."
Semua terkejut dan bisa membayangkan kerasnya hantaman yang mengenai tubuh Dimas sehingga banyak luka parah yang dia dapat.
"Kami membutuhkan tambahan darah untuk pasien guna melakukan tindakan selanjutnya. Tolong segera disiapkan darahnya dan juga penandatanganan surat persetujuan untuk pelaksanaan tindakan operasi secepatnya. Terima kasih."
__ADS_1
Dokter meminta dua orang perawat untuk membantu mengurus prosedur administrasi yang dibutuhkan dan menyiapkan tambahan darah untuk pasien. Setelah itu dokter kembali masuk ke dalam ruangan.
Papa Dewa mewakili pihak keluarga mengikuti seorang perawat untuk mengurus surat persetujuan tindakan operasi dan tindakan pembedahan lain yang diperlukan.
"Persediaan darah di rumah sakit dan PMI sedang kosong. Kami membutuhkan donor darah secepatnya. Golongan darah pasien adalah AB." Perawat yang masih berdiri di depan ruang penanganan berbicara.
Seluruh keluarga Alila bingung karena golongan darah mereka tidak ada yang sama, sementara keluarga Dimas masih dalam perjalanan dan belum akan tiba dalam waktu yang cepat.
"Saya yang akan mendonorkan darah saya, suster. Golongan darah saya AB." Tiba-tiba Pak Albi maju ke depan mendekati sang perawat.
"Saya juga, suster. Ambil darah saya. Golongan darah saya juga AB."
Seseorang yang baru saja datang dan mendengar ucapan pak Albi langsung maju dan berdiri di samping atasan Dimas. Dia adalah Aris, pemilik ArSen Cafe sekaligus teman sekolah Alila.
Beberapa hari sebelumnya Alila sudah datang kembali ke cafe miliknya dan memperkenalkan Dimas sebagai suaminya. Patah hati? Iya, Aris merasakan patah hati untuk kedua kalinya, setelah dulu dia pernah ditolak oleh Alila, semasa sekolah dulu.
Tetapi jiwa kemanusiaan dan rasa empati membuatnya berbesar hati dan tetap memberikan bantuannya di saat genting seperti ini.
Tanpa membuang waktu, perawat segera memandu Pak Albi dan Aris menuju ke ruang pengambilan darah. Sementara Dimas sudah dipindahkan ke ruang operasi.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.