Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
13 PRIVILEGE


__ADS_3

Satu bulan kemudian. Di kamar, Alila sedang mempersiapkan pakaian formal berikut semua perlengkapannya yang akan dia kenakan esok hari.


Setelah semua siap, dia meletakkannya di samping meja rias. Tangannya meraih ponsel di atas meja lalu membawanya ke atas tempat tidur. Alila merebahkan tubuhnya yang cukup lelah setelah seharian tadi berbelanja pakaian dan sepatu ditemani Alano.


Alila membuka kunci layar ponselnya lalu menyentuhkan jarinya pada ikon galeri. Dia mencari satu folder yang khusus dibuatnya untuk menyimpan foto-foto Dimas.


Dia belum punya banyak foto Dimas di ponselnya. Hanya beberapa, itupun sebagian besar dari hasil usahanya mengambil foto secara diam-diam tanpa sepengetahuan Dimas.


Dia memilih satu foto yang diambil saat acara pelepasan wisuda fakultas dulu. Foto dirinya berdua dengan Dimas yang tersenyum tipis menatap kamera.


Dimas yang tampak gagah dengan setelan jas yang dikenakannya berdiri di samping Alila yang berdandan cantik dengan kebaya dan kain batik yang membungkus tubuh rampingnya.


"Aku rindu kebersamaan kita seperti di foto ini, Dim." Alila berucap lirih sambil terus menatap foto kenangan itu. Satu jarinya menyentuh pelan layar ponsel tepat di wajah Dimas.


"Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting, Dim. Aku ingin kamu mengetahuinya sebelum aku memulainya besok pagi. Aku membutuhkan semangat darimu, Dim."


Di dalam hatinya Alila sungguh menginginkan itu terjadi. Namun dia harus menyadari kenyataannya bahwa harapan itu tidak akan mungkin terwujud.


Alila menghela nafas panjang. Dia menyeka air bening di sudut matanya.


"Maafkan aku, Dim. Aku terbawa perasaanku."


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Dimas dan semua teman satu timnya sedang duduk bersama di salah satu ruangan. Mereka menunggu ketua tim mereka menemui pengawas di bagian penyimpanan barang.


Tak berapa lama kemudian, mereka dipanggil satu per satu untuk menemui pengawas. Masing-masing dari mereka menerima sebuah kotak kecil.


Setelah diberikan sedikit pengarahan oleh pengawas dan ketua tim, mereka dipersilakan membuka kotak tersebut dan mempergunakannya sesuai peraturan yang telah disampaikan sebelumnya.


Dering panggilan telepon mengejutkan Alila. Dan dia semakin terkejut saat melihat kontak pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Sontak dia bangun dan terduduk di tempatnya.


"Dimas..." gumamnya tak percaya.


Tanpa menunggu lagi dia segera menggeser tombol hijau dan segera menempelkan ponsel di telinganya.


"Al..."


Tedengar suara yang sangat dirindukannya selama ini. Hatinya berdebar kencang sekali.


"Dim, kamu...?!"


"Iya ini aku, Al. Apa kamu tidak percaya? Aku merindukanmu."


Alila tersenyum di antara tetesan air mata di kedua pipinya. Terlebih lagi mendengar Dimas menyampaikan kerinduannya, membuatnya sangat bahagia.


"I-Iya, Dim. Bagaimana kamu bisa meneleponku? Kamu baik-baik saja kan, Dim? Kamu tidak apa-apa?"


Alila merasa khawatir karena seharusnya Dimas tidak bisa menghubungi siapapun saat ini.


"Aku baik-baik saja, Al. Dengarkan aku, waktuku tidak lama. Aku mendapatkan privilege untuk memegang ponselku selama tiga puluh menit."


"Kamu sudah menghubungi orangtuamu, Dim?"


Alila mengingatkan Dimas.


"Sudah, Al. Tadi aku sudah menelepon dan berbicara dengan mereka. Sekarang aku ingin menghabiskan sisa waktu yang ada untuk berbicara denganmu."

__ADS_1


Alila tersenyum mendengar kata-kata Dimas. Dirinya merasa semakin bahagia.


"Kenapa kamu bisa mendapatkan privilege ini, Dim?"


"Timku mendapatkan penilaian tertinggi selama di sini. Jadi kami memperoleh kesempatan ini, Al."


"Dim, kamu tahu, baru saja tadi aku memikirkanmu, karena aku ingin memberitahukan sesuatu padamu. Dan sekarang keinginanku terwujud, sekarang aku bisa menceritakannya padamu.."


"Apa, Al?"


"Besok pagi aku mulai bekerja, Dim. Lamaran kerjaku diterima."


Jauh di sana, Dimas yang mendengarnya menampakkan senyum lebar. Dia senang mengetahui kabar baik itu.


"Selamat ya, Al. Aku senang mendengarnya. Tapi aku sedikit menyesal, karena tidak bisa menemani di hari pertamamu bekerja besok. Maafkan aku, Al."


"Tidak apa-apa, Dim. Aku sudah cukup senang bisa mengatakan hal ini padamu sebelum aku mulai bekerja."


Dimas teringat sesuatu. Dia takut Alila melupakan hal itu.


"Al, kamu sudah menyiapkan semuanya untuk besok pagi?"


"Sudah aku siapkan semuanya, Dim. Siang tadi aku membeli pakaian dan sepatu kerja bersama Alano."


"Jaga penampilanmu, Al."


(Di kantormu pasti banyak lelaki yang akan memperhatikan dirimu, Al.)


"Aku tahu, Dim. Aku bisa menjaga diriku. Terima kasih sudah mengingatkan aku."


Dimas tersenyum lega. Setidaknya dia tahu selama ini pun Alila selalu berpenampilan sederhana dan dia juga bukan tipe wanita yang suka bersolek.


"Dim.."


"Ya, Al?"


"Terima kasih karena kamu masih mengingat aku dan meneleponku di waktumu yang tidak banyak ini."


"Mana mungkin aku melupakanmu, Al. Yang ada di pikiranku tadi hanya dua. Menghubungi orangtuaku dan juga kamu."


(Terima kasih sudah menjadikan aku sebagai prioritasmu, Dim.)


"Al, aku ingin melihatmu sebentar saja.."


(Wajahmu selalu membayangi hari-hariku di sini, Al.)


"Ya, Dim."


Tanpa membuang waktu lagi, Dimas segera membuka panggilan video.


Serasa ada berjuta kembang api berpijar dan meledak bergantian di dada Dimas, begitu dia melihat wajah Alila di layar ponselnya.


"Al..."


Raut bahagia juga terpancar di wajah Alila saat menatap wajah yang selama satu setengah bulan ini dia rindukan. Hatinya berdebar tak menentu. Seluruh tubuh dan wajahnya terasa sangat hangat.

__ADS_1


"Dim..."


Sejenak mereka terdiam, hanya saling menatap, mengunci pandangan satu sama lain. Memuaskan dahaga kerinduan yang telah mereka tahan sekian lama.


"Aku sangat merindukanmu, Al."


"Aku juga, Dim."


Mereka kembali terdiam. Masing-masing terus memaku pandangan ke layar ponselnya.


Di seberang sana, Dimas mendapatkan kode dari pengawas di dekatnya jika waktunya tersisa lima menit lagi.


"Al, waktuku sudah mau habis."


"Jaga kesehatanmu, Dim. Dan lanjutkan tugasmu di sana dengan baik."


"Kamu juga, Al. Bekerjalah dengan baik dan jangan sampai melupakan makan siangmu di kantor. Maaf aku belum bisa menemanimu."


Alila menganggukkan kepala dan terus tersenyum.


"Setelah pulang nanti, aku akan segera menemuimu."


"Aku menunggumu, Dim."


Mereka sama-sama memberikan senyum terbaiknya sebelum kembali berpisah.


"Aku sayang kamu, Al."


Alila melebarkan senyumnya saat mendengar ucapan Dimas.


"Aku menyayangimu, Dim."


Akhirnya panggilan telah terputus. Dimas mengatur nafasnya yang sempat memburu karena perasaannya yang bercampur-aduk selama menelepon Alila tadi.


Setelah menenangkan diri, Dimas mematikan ponselnya, memasukkan kembali ke dalam kotak dan mengembalikannya kepada pengawas yang telah menunggu. Namun sebelum itu dia sempat menulis sebuah pesan penting dan mengirimkannya kepada seseorang.


Sementara itu, Alila kembali menatap fotonya bersama Dimas yang masih tampak di layar ponsel setelah Dimas menyelesaikan panggilannya.


Senyum masih terus mengembang bibirnya. Wajahnya terlihat lebih bahagia dan lebih bersemangat.


Alila terus mendekap ponselnya di dada. Matanya terpejam sambil terus mengingat percakapannya bersama Dimas. Tak berapa lama kemudian dia sudah terlelap dalam tidurnya dengan wajah tersenyum.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


Author


__ADS_2