Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
87 BUKAN WEWENANG


__ADS_3

Siang hari di akhir pekan, Alila pergi berdua dengan Nayla. Dua orang wanita yang sama-sama tengah ditinggalkan oleh suaminya ke luar kota itu akan menghabiskan waktu untuk menikmati kesendirian sementara mereka.


Mereka akan melakukan perawatan tubuh di salon langganan Nayla, dilanjutkan dengan makan siang di salah satu cafe langganan mereka semasa kuliah dulu.


"Kamu masih rajin melakukan perawatan seperti ini ya, Nay. Kalau aku sudah jarang, hanya sesekali saja, itupun Dimas yang memintanya."


"Iya, Al. Setiap bulan aku pasti datang kemari. Sadar diri saja sih aku, biar tetap segar di mata suami dan supaya Sandy tidak tergoda wanita lain di sana."


Mereka berdua sudah selesai melakukan perawatan selama tiga jam lamanya, dan sekarang sedang berganti pakaian di bilik ganti yang bersebelahan.


"Kamu ada rasa cemburu juga sama Sandy, Nay?" Tanya Alila di balik biliknya. Dia melepaskan jubah kimono dari salon dan menggantinya dengan pakaiannya sendiri.


"Istri mana yang tidak cemburu kalau suaminya bekerja dengan beberapa wanita yang masih muda dan cantik. Apalagi dia sedang berada jauh dari kita." Balas Nayla yang sudah selesai merapikan pakaiannya di bilik sebelah Alila.


Dia keluar lebih dulu, meletakkan jubah kimononya di tempat yang sudah disediakan, lalu mulai merias wajahnya di depan cermin besar di ruang ganti tersebut.


Tak lama kemudian Alila keluar dari biliknya dan menaruh jubah kimononya di tempat yang sama dengan Nayla tadi, kemudian berjalan mendekati Nayla dan ikut memoles wajahnya dengan riasan tipis secukupnya.


Selesai dengan riasan wajahnya, Alila memasukkan peralatan make up nya ke dalam tas dan mengambil sisir untuk merapikan rambut hitamnya yang terurai hingga bagian bawah bahunya.


"Memangnya kamu tidak pernah cemburu dengan Dimas, Al? Semua wanita pasti terpesona jika melihatnya."


Alila hanya tersenyum mendengar ucapan Nayla.


"Kamu tahu sendiri Nay, sedingin apa sikapnya di hadapan orang lain. Apa aku masih perlu cemburu jika dia saja selalu seperti itu..."


"Perlulah, Al. Kamu tidak ingat, saat kuliah dulu, Dimas selalu menjadi kejaran para gadis kampus, padahal wajahnya dalam mode datar dan dinginnya minta ampun. Apalagi sekarang, dia semakin dewasa dan sudah mapan."


Dalam hati Alila membenarkan perkataan Nayla. Tetapi bukan berarti dia terpancing menjadi cemburu tanpa alasan. Dia tetaplah Alila, wanita kesayangan Dimas yang selalu bersikap tenang dan percaya sepenuhnya pada sang suami tercinta.


"Tapi jujur saja, aku percaya Dimas tidak seperti itu, Al. Sama halnya aku juga percaya pada Sandy. Bagaimanapun juga, ikatan pernikahan itu sakral, paten, lebih kuat dan tidak mudah goyah walau ujian selalu datang silih berganti."


Alila mengangguk mengiyakan ucapan Nayla. Tidak ada hubungan yang berlangsung mulus tanpa sekalipun cobaan. Masing-masing hubungan memiliki cerita dan liku-likunya sendiri.


Seperti kisah cintanya dengan Dimas, yang berawal dari persahabatan kemudian berubah menjadi jalinan kasih dengan rasa cinta yang sebenarnya. Setelah menjadi sepasang suami istri pun, mereka dihadapkan pada ujian awal pernikahan yang cukup membuat Alila dirundung kesedihan yang mendalam. Ditambah lagi perpisahan yang harus mereka jalani saat ini.


Namun ketulusan dan kesucian cinta mereka selalu menjadi benteng terkuat yang melindungi hati mereka untuk tetap saling percaya dan bersama-sama menjaga anugerah cinta terbaik yang telah mereka miliki.


"Yuk, Al. Kita berangkat sekarang. Aku sudah lapar sekali..." Nayla menarik tangan Alila dengan satu tangan lainnya mengusapi perutnya yang rata sembari tertawa ringan. Sama seperti Alila dan Dimas, dia dan Sandy juga belum diberikan kepercayaan untuk merasakan kehamilan.

__ADS_1


.


.


.


Sampai di cafe yang dituju, Alila dan Nayla mengambil tempat di sudut bagian depan sehingga bisa melihat keramaian jalan raya dan lalu-lalang orang di sekitar cafe.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka menghubungi suami masing-masing. Nayla langsung terhubung dengan Sandy melalui sambungan suara, sedangkan Alila memilih mengirimkan pesan singkat untuk suaminya.


"Sudah makan siang, Dim?"


Pesan Alila langsung dibalas Dimas dengan panggilan video. Alila tersenyum begitu melihat wajah yang semakin dirindukannya terpampang di hadapannya.


"Aku sudah makan siang dari tadi, Al. Mengapa kalian baru makan siang sekarang?"


"Kami tadi terlalu nyaman berada di salon. Perawatannya selesai tiga jam lebih. Kemudian kami langsung ke cafe ini."


"Di mana Nayla?"


Alila membawa ponselnya ke samping agar wajah Nayla terlihat di layar ponselnya. Nayla yang melihat wajah Dimas segera menyapa sahabatnya dengan ceria.


Nayla melambaikan tangannya pada Dimas, setelah itu kembali berbincang sendiri dengan Sandy.


Dimas kembali menatap wajah cantik istrinya. Beberapa hari lagi dia akan pulang. Rasanya semakin tidak sabar untuk menunggu saat itu tiba.


"Ada apa, Dim?"


"Setelah ini segeralah pulang dan beristirahat, Al. Wajahmu sudah terlihat lelah..."


"Ya, Dim." Alila patuh tak ingin membantah suaminya.


"Baiklah, aku akan tutup dulu teleponnya. Aku harus kembali bekerja, Al."


"Selamat bekerja, Dim. Jangan lupa istirahat. Aku mencintaimu..."


"Aku juga, sayang. Sangat merindukanmu dan sangat mencintaimu..."


Setelah saling berbalas ungkapan cinta, Dimas menyudahi panggilannya dengan senyum yang dia tinggalkan untuk wanita kesayangannya. Alila tersenyum sembari menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.

__ADS_1


Tak lama kemudian Nayla pun menyudahi sambungan teleponnya dengan Sandy, bersamaan dengan datangnya pesanan mereka berdua. Tanpa menunggu lagi, mereka segera menikmati makan siang yang sedikit terlambat karena lamanya mereka berdua memanjakan diri di salon tadi.


Sementara Alila dan Nayla tengah menikmati makan siang mereka, di tempatnya sana Dimas sedang berbalas pesan email dengan Pak Albi.


"Laporan pertanggungjawaban kita sudah hampir selesai, Dim. Tinggal menunggu berkas dari dua kota terakhir yang akan kita datangi besok. Semoga tidak ada tambahan masalah baru agar kita bisa mengaktifkan seluruh sistem di sana lebih cepat."


"Ya, Pak. Akan saya usahakan sebelum kita kembali ke cabang, semua berkas dan bukti terkait sudah tersusun lengkap dan saya kirimkan kepada Bapak."


"Baiklah. Menurut saya mereka hanya ingin menghambat proyek kita, bukan menghentikannya, Dim. Karena kalau sampai mereka berani menghancurkan proyek ini, itu sama saja mereka ingin bunuh diri."


"Dim, menurutmu apa alasan mereka bertiga melakukan tindakan ini? Bukankah mereka karyawan senior dan seharusnya sudah lebih tahu resiko buruk yang akan mereka hadapi atas tindakan tersebut?"


"Saya tidak berani menebak dan saya juga tidak ingin berprasangka buruk pada orang lain, Pak. Bukan wewenang saya untuk menilai seseorang, karena saya sendiri masih karyawan baru di perusahaan ini. Saya juga masih banyak kekurangannya dan masih butuh banyak bimbingan agar bisa bekerja lebih baik lagi."


Dimas merendah karena dia sadar diri, jika keberadaannya di perusahaan masih terbilang baru dan belum genap satu tahun mengabdi di sana.


Tanpa sepengetahuannya, selama ini Pak Albi selaku pimpinan divisi sudah memperhatikan kinerja Dimas yang selalu maksimal dalam menyelesaikan setiap tugas yang dibebankan kepadanya.


Dari awal bertemu dengan Dimas dan menjadi pembimbingnya selama pelatihan di Bandung dulu, Pak Albi sudah tertarik dengan kepribadian Dimas. Apalagi setelah mengetahui kemampuan kerjanya selama pelatihan, beliau semakin senang dan bangga dengan prestasi awal yang ditunjukkan oleh Dimas.


"Dim, berhati-hatilah!"


Pak Albi mengirimkan email terakhirnya sebelum Dimas kembali berkonsentrasi pada tugas yang harus segera diselesaikannya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2