
"Ayo kita turun. Ada yang ingin bertemu denganmu, Al."
Masih dengan wajah bingung dan terus menatap Dimas, Alila berdiri di samping pintu mobil. Dia dihampiri oleh Dimas yang meraih tangannya dan membawa langkah mereka menuju ke dalam rumah.
Saat memasuki pintu yang sejak mereka datang sudah terbuka lebar, Dimas menggenggam tangan Alila dengan perasaan yakin dan percaya diri. Sejenak dia memalingkan wajahnya ke arah Alila yang terlihat tegang.
"Assalamualaikum.." Ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam.."
Terdengar jawaban dari dalam karena ruang tamu masih terlihat kosong. Dimas masih terus menggenggam tangan Alila, menunggu sampai ada yang datang ke ruang tamu.
"Alila...!"
Alila melihat seorang wanita datang menggendong balita cantik dengan hiasan kepala berwarna pink. Dia adalah Indira, kakak ipar Dimas. Dan balita mungil berusia satu tahun itu adalah Sekar, anak dari Indira.
"Kak Indi.."
Dimas melepaskan tangan Alila setelah melihat senyum mengembang di bibir wanita cantiknya itu. Indira sempat melihat genggaman tangan mereka berdua.
Alila menghampiri Indira dan baby Sekar. Mereka saling menyapa dan menanyakan kabar, sambil sesekali Alila mencium dan mencubit gemas pipi gembul baby Sekar.
Dimas meninggalkan mereka untuk berbincang dan masuk ke dalam. Di ruang makan ada mamanya yang sedang merapikan hidangan yang sudah disiapkan untuk sarapan bersama.
Di sana ada pula papanya yang masih sibuk dengan ponselnya. Terlihat pula Darma, satu-satunya kakak kandung Dimas.
"Di mana dia, Dim?"
Mama melihat ke arah Dimas sebentar lalu melanjutkan menata piring dan gelas di atas meja makan.
"Calon menantu mama cantik banget, Ma. Adikku memang tidak salah pilih." Celetuk Darma.
Tadi dia sempat menengok sekilas ke ruang tamu, saat mendengar obrolan dua wanita yang diselingi tawa renyah baby Sekar. Jadi dia sudah tahu siapa yang datang bersama Dimas.
Mama mengulum senyum dan lagi-lagi melirik pada putra bungsunya yang masih berdiri dengan satu tangan bersandar di kursi sebelahnya.
"Benarkah? Ayo ajak dia bergabung bersama kita. Sarapan sudah siap." Pinta Mama.
Dimas berjalan kembali ke arah ruang tamu. Senyumnya merekah manakala melihat pemandangan indah di depan matanya. Alila tertawa lepas dengan baby Sekar yang berada dalam pelukannya. Sesekali bayi cantik itu tertawa terkekeh saat Alila mengajaknya bicara.
(Ternyata kamu sama lucunya dan menggemaskan seperti bayi, Al. Kamu terlihat sangat menyayangi anak-anak.)
__ADS_1
"Al, Kak Indi, Mama sudah meminta kita ke ruang makan."
Dimas sudah menyembunyikan senyumannya sebelum ada yang melihatnya.
Indira mengangguk lalu mengambil baby Sekar dari pelukan Alila. Sambil menimang putrinya, Indira berdiri dan mendahului masuk menuju ruang makan.
"Ayo, Al. Kita sarapan bersama."
Alila berdiri dan menatap Dimas yang masih menunggunya di seberang meja. Tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat, membayangkan akan bertemu kembali dengan orangtua Dimas.
Beberapa kali dirinya memang sudah pernah bertemu dengan orangtua Dimas, tetapi selalu bersama sahabat-sahabatnya yang lain. Namun kali ini, dia hanya seorang diri.
Seolah bisa merasakan kegugupan Alila, Dimas mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alila.
"Jangan takut, Al. Ada aku di sampingmu."
Dimas tersenyum dan mencium punggung tangan Alila yang sudah digenggamnya. Lalu mereka berdua melangkah bersama.
(Sikapmu ini malah membuatku semakin gugup, Dim.)
Dan semua orang yang sudah duduk mengelilingi meja makan, bersama-sama mengarahkan pandangannya kepada Dimas dan Alila yang masuk dengan genggaman tangan yang tak luput dari penglihatan mereka.
"Ehemm.." Darma menyenggol tubuh adiknya yang berdiri di dekatnya.
"Iya, tidak usah diberitahu lagi. Alila, ayo duduk, Nak."
Mama menyapa Alila dengan ramah dan bersuara lembut.
"Selamat pagi, Tante, Om."
Alila melepaskan genggaman tangannya lalu berjalan menghampiri orangtua Dimas dan mencium tangan mereka dengan hormat. Setelah itu bersalaman dengan Darma.
Dimas dan Alila duduk bersebelah seperti yang lainnya. Di saat Darma dan papanya dilayani oleh pasangannya, spontan Alila yang sudah terbiasa pun juga menyiapkan sarapan Dimas dengan telaten membuat Dimas dan semuanya tersenyum.
"Terima kasih, Al." Ucap Dimas sembari menerima piring yang telah terisi dari tangan Alila.
Alila membalasnya dengan senyuman lalu mengisi piring untuknya sendiri dan segera duduk kembali.
"Alila, jangan sungkan. Mari dinikmati sarapannya. Momen langka bisa berkumpul lengkap seperti ini."
Papa mengajak semuanya memulai sarapan mereka.
__ADS_1
Diam-diam semua memperhatikan Dimas dan Alila. Dimas yang tenang seperti biasanya sambil sesekali melirik ke arah Alila. Sementara Alila justru tampak tidak tenang dan tegang, karena ini pertama kalinya dia berkumpul bersama seluruh keluarga Dimas.
Semalam Dimas hanya mengatakan akan menjemputnya untuk sarapan bersama. Sedikitpun dia tidak diberitahu jika akan dibawa ke rumah Dimas dan dipertemukan dengan seluruh keluarganya.
Dimas sendiri memang diminta oleh orangtuanya untuk mengenalkan kekasihnya. Karena kemarin mereka baru datang siang hari, maka disepakati bahwa Dimas akan membawanya untuk sarapan bersama, sebelum nanti keluarganya kembali pulang ke luar kota.
Orangtua Dimas juga tidak tahu jika yang akan dikenalkan kepada mereka adalah Alila. Namun mereka sudah mengenal Alila sebagai sahabatnya. Karenanya saat Dimas memperkenalkan Alila, meskipun terkejut tapi mereka senang karena kekasih Dimas bukanlah orang baru, melainkan wanita yang selama ini sudah mereka kenal dengan baik.
Usai sarapan bersama, Alila membantu mama dan Indira membersihkan semua kotoran di meja makan dan di dapur.
"Sudah, Alila. Tidak usah ikut merepotkan diri di sini. Kamu di depan saja sama Dimas."
Dari awal mama Dimas sudah melarang Alila ikut membantu di belakang. Tapi Alila bersikeras tetap ikut membereskan semuanya.
"Tidak apa-apa, Tante. Ini hanya pekerjaan rumah biasa."
Alila berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya dengan terus membantu mama Dimas dan Indira. Sesekali dia ikut bergabung dengan percakapan ringan di sela-sela kegiatan mereka.
Dengan luwes dan cekatan tangan Alila mencuci semua peralatan masak dan perlengkapan makan yang telah dipakai. Setelah itu dia mengeringkan semuanya dengan lap bersih, lalu diletakkan di laci penyimpanan di masing-masing tempatnya.
Dapur di rumah Dimas sangat jarang digunakan karena orangtua dan kakaknya jarang pulang ke sini. Dimas sendiri hanya sesekali turun ke dapur sekedar merebus air atau memasak mie instan. Dia lebih sering makan di luar atau memesan makanan secara online.
Setelah semuanya selesai, mama Dimas mengajak Alila berkumpul bersama yang lainnya di ruang tengah. Indira tidak ikut karena akan menjaga baby Sekar yang baru saja tertidur di gendongan Darma dan telah diletakkan di atas tempat tidur di dalam kamar lama Darma.
Dari tempat duduknya Dimas memperhatikan Alila yang baru keluar dari dapur bersama mamanya. Saat Alila juga menatapnya, dia memberi isyarat tangan untuk duduk di sebelahnya.
Alila menunggu mama Dimas duduk terlebih dahulu, baru kemudian dia menghampiri Dimas dan duduk di sampingnya.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author