Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
42 HADIAH SPESIAL


__ADS_3

Malam beranjak pagi. Alila bangun menjelang subuh. Dia keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Dia ingin segera menyegarkan badannya. Semalam Dimas melarangnya untuk mandi karena sudah larut, dia tak ingin Alila sakit.


Melewati dapur, Alila melihat mama Dimas sudah berkutat di dapur. Alila berbelok ke dapur untuk menyapa calon mertuanya.


"Selamat pagi, Tante."


Mama Dimas menoleh sekilas dan tersenyum melihat keberadaan calon menantunya.


"Pagi, Al. Oya, mulai sekarang panggil saja mama ya. Papanya Dimas juga, panggillah papa."


Alila menahan haru mendengar permintaan mama Dimas. Rasa bahagia dihatinya membumbung tinggi.


"Iya, ma-mama.."


"Kamu mau mandi? Mandilah dulu, setelah itu tolong bangunkan Dimas, kita akan berjamaah subuh."


Mama melihat handuk dan baju ganti yang dibawa Alila. Alila menganggukkan kepala dan berbalik berjalan ke arah kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Alila sudah keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat sangat segar dengan rambut yang masih setengah basah. Dia melihat ke arah dapur yang kosong karena mama kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya.


Alila masuk ke kamar Dimas dan merapikan rambutnya. Dia tidak berdandan sama sekali karena hari masih sangat pagi. Setelah selesai dia segera keluar dan berpindah masuk ke kamar Darma yang ditempati oleh Dimas.


Dilihatnya sang kekasih masih terlelap. Posisinya miring menghadap ke arah Alila yang duduk di tepi tempat tidur. Tangannya masih memegang ponselnya. Alila tersenyum memandangi wajah Dimas yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya, seolah tengah memimpikan sesuatu yang indah.


(Kamu bermimpi apa, Dim? Tentang kitakah?)


Dengan lembut dia menyentuh pipi Dimas bermaksud untuk membangunkannya. Namun saat tangannya telah menyentuh pipi Dimas, tiba-tiba terdengar lirih suara lelaki itu seperti sedang bergumam sendiri.


"Aku sangat mencintaimu, Al.. Jangan pernah meninggalkan aku.."


Alila memegang dadanya dengan satu tangan, terasa debaran-debaran keras di dalamnya, disertai getaran halus yang membuatnya bernafas dengan cepat.


(Aku juga mencintaimu, Dim. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.)


"Dim..."


Serasa mendengar suara bidadari surga, mata Dimas perlahan terbuka. Tangannya refleks menyentuh tangan Alila yang masih menempel di pipinya. Saat kedua matanya telah membuka sempurna, pandangannya terpaku menatap sosok nyata seorang bidadari cantik di hadapannya.


"Al..."


"Iya.."


Tangan Dimas segera menarik tangan Alila yang masih menyentuh pipinya. Dia menggenggam tangan itu dan menciumnya, lalu kembali menatap Alila masih dengan posisi tidurnya yang belum berubah.


"Maaf aku langsung masuk ke sini. Mama minta aku untuk membangunkan kamu. Kita sudah ditunggu mama dan papa."


"Mama?" Dimas mengeryitkan keningnya.


"Mamamu yang memintaku untuk memanggil beliau mama, juga papa."


Dimas tersenyum mendengarnya. Alila sudah diterima sepenuhnya oleh orangtuanya. Mereka sudah meminta calon menantunya itu untuk memanggil mama dan papa, sama seperti Indira.

__ADS_1


"Ayo, Dim. Cepatlah bersiap. Tidak baik membiarkan orangtua yang menunggu kita."


Alila berdiri diikuti oleh Dimas yang langsung merengkuh tubuhnya dari belakang hingga menghentikan langkahnya.


"Dim..!"


"Satu menit."


Alila mengalah. Dia diam dan membiarkan Dimas mendekapnya. Dimas pun menikmati pelukannya sembari menghirup wangi tubuh dan rambut Alila yang baru saja mandi.


(Tak lama lagi, aku akan menikmati aroma khas ini setiap hari, Al.)


.


.


.


Mentari pagi menyapa. Di dapur, Alila membantu mama Dimas menyiapkan sarapan sederhana, bubur ayam kesukaan Dimas.


"Setelah sarapan, mama dan papa akan langsung ke restoran, Al. Kalian berdua istirahat saja dulu. Nanti siang kita semua berkumpul dan makan siang di restoran. Sebelumnya, Dimas akan mengajakmu ke tempat Darma."


"Ya, Ma."


Di kota ini, orangtua Dimas memiliki usaha restoran khas nusantara. Awalnya usaha itu hanya berupa warung sederhana yang dikelola sendiri oleh mama Dimas, untuk mengisi waktu luang beliau yang harus menemani papa Dimas bertugas di sini, sementara Darma dan Dimas yang telah tumbuh remaja memilih untuk melanjutkan studi di kota kelahiran mereka.


Saat sarapan telah siap, papa dan Dimas menyusul ke meja makan. Mereka menikmati sarapan berempat.


"Dim, nanti sebelum ke restoran, kamu ajak Alila ke tempat Darma dulu."


Setelah sarapan selesai, mama dan papa langsung berangkat ke restoran, sementara Alila membereskan meja makan lalu pergi ke dapur untuk membersihkan peralatan makan yang baru saja digunakan untuk sarapan.


Dimas kembali ke dalam rumah setelah mengantarkan orangtuanya sampai ke teras. Dia menyusul Alila yang masih berada di dapur.


Alila yang sudah selesai dengan pekerjaannya di dapur, berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Sesampainya di luar pintu, Dimas berdiri di sana menghadang langkahnya.


"Dim, aku mau bersiap-siap dulu."


"Nanti saja, Al. Ini masih terlalu pagi. Toko kue kak Indira juga belum buka. Kamu istirahatlah dulu, seperti yang mama katakan tadi."


Alila mengangguk pelan dan mencari jalan untuk melangkah lagi, tetapi tangannya ditahan oleh Dimas.


"Kita istirahat di ruang keluarga saja."


Alila menurut dan mengikuti Dimas berjalan menuju ruang keluarga. Dimas mengajak Alila duduk di sofa, bersebelahan dengannya.


"Masih capek, Al?"


"Tidak, Dim. Harusnya aku yang bertanya padamu, apakah tubuhmu masih lelah?"


"Badanku sudah lebih segar setelah mandi pagi. Akan semakin segar lagi jika kamu bersamaku seperti ini."

__ADS_1


Dimas merapatkan duduknya di samping Alila. Tubuh mereka sudah tak lagi berjarak. Mereka sama-sama merebahkan tubuh ke belakang, menyamankan posisi masing-masing. Tangan mereka menyatu, saling menggenggam dengan tatapan mata yang beradu begitu dalam.


"Al.."


"Ya?"


"Apa kamu sudah siap jika pernikahan kita dilaksanakan secepatnya?"


"Kamu merencanakan kapan, Dim?"


"Dua bulan lagi. Aku ingin menikahimu tepat di hari ulang tahunmu, Al. Aku rasa itu adalah hadiah ulang tahun terbaik yang bisa aku persembahkan untukmu."


Air mata Alila mengalir begitu saja membasahi wajah cantiknya, setelah mendengar keinginan Dimas yang membuatnya sangat terharu.


"Dim..., kamu memikirkan semua itu..?"


"Selama ini, aku tidak pernah memberimu hadiah ulang tahun, Al. Setiap tahun kita hanya merayakannya dengan makan malam berdua saja. Tidak ada hal spesial lain yang aku berikan padamu. Maafkan aku.."


Tangan Dimas bergerak menyentuh kedua pipi Alila. Dia menghapus air mata kekasihnya.


Alila memejamkan mata sesaat untuk menata perasaannya. Lalu saat membukanya kembali, dia menatap Dimas dengan binar cinta yang memancar indah di kedua matanya.


"Makan malam berdua denganmu itu adalah hadiah spesial darimu, Dim. Tapi selama ini kamu tidak pernah menyadarinya."


"Setiap tahun, kamu juga menjadi orang pertama yang selalu meneleponku tengah malam dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Mungkin kamu pun tidak menyadarinya, Dim. Tapi itu adalah hadiah ulang tahun terbaik dan paling berharga yang selalu aku dapatkan darimu."


"Dim.., aku tidak butuh hadiah apapun lagi darimu. Aku hanya butuh dirimu selalu ada bersamaku. Itu saja."


"Aku akan selalu bersamamu, Al. Dari dulu, sekarang dan selamanya."


Dimas menarik tubuh Alila ke dalam pelukannya. Dia mencium puncak kepala Alila, lalu turun memberikan ciuman lembut di kening kekasihnya. Hatinya terus bergetar dan berdesir halus.


Alila membalas pelukan Dimas dengan perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya. Dia membenamkan wajahnya di atas dada Dimas, tempat ternyaman yang selalu membuatnya tenang dan penuh kedamaian.


"Katakan padaku, Al. Apakah kamu mau kita menikah di hari ulang tahunmu?"


"Ya. Aku mau, Dim."


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


~Author~


.


__ADS_2