Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
57 DIA, KAMU DAN AKU


__ADS_3

Ada satu hal yang masih mengusik pikiran Dimas. Tentang satu nama yang berani mendekati calon istrinya. Seorang pria yang di saat tak ada dirinya di samping Alila, justru memanfaatkan keadaan untuk mencuri waktu dan kebersamaan dengan kekasihnya.


Sepenuhnya dia percaya pada Alila. Tetapi dia tidak bisa percaya pada orang lain, terutama orang asing yang tidak dikenalnya atau tidak dekat dengannya. Terlebih lagi dia adalah seorang laki-laki.


"Al, boleh aku menanyakan sesuatu?"


"Apa, Dim?"


"Siapa Bayu?"


Alila menatap kedua mata Dimas dengan tenang. Dia tahu, meski wajah Dimas terlihat biasa saja, pasti lelaki itu sedang berusaha menahan amarah dan kecemburuannya. Dan dia tidak boleh membuatnya semakin terbawa emosi.


"Kamu lebih dulu mengenalnya daripada aku, Dim. Harusnya aku yang bertanya padamu tentang Bayu."


Kening Dimas mengeryit, masih belum memahami maksud ucapan Alila.


"Aku mengenal Bayu? Siapa dia?"


Dimas masih belum mengingat siapa Bayu, walaupun dari awal dia merasa mempunyai hubungan masa lalu dengannya.


"Dia bercerita padaku jika dia adalah teman sekolahmu dulu. Teman SMA."


Mendengar tentang teman SMA, sedikit demi sedikit Dimas mulai mengingat siapa Bayu.


"Bayu dan Indah..." Gumam Dimas lirih namun tetap terdengar di telinga Alila.


"Kamu sudah ingat tentang mereka? Emm.., atau tentang kalian bertiga tepatnya..."


"Bayu mengatakannya padamu?"


Alila menganggukkan kepala. Dia tidak akan menyembunyikan apapun dari calon suaminya.


"Iya, dia menceritakan semua tentang kisah kalian bertiga."


Kemudian Alila mulai menceritakan semuanya. Dari awal jabat tangan perkenalannya dengan Bayu, tentang Bayu yang terus berusaha mendekatinya, Bayu yang menolongnya saat hampir terjatuh karena tergelincir, hingga cerita Bayu tentang kisah cinta mereka bertiga.


"Dan satu lagi yang harus kamu ketahui, Dim. Bayu menyatakan perasaan cintanya padaku."


Tak ada reaksi apapun dari Dimas baik ucapan ataupun perbuatannya. Namun seluruh wajahnya telah berubah memerah menahan amarahnya.


Mengetahui ada orang lain yang menyukai Alila saja dia sudah tidak terima. Apalagi sekarang dia mendengar ada orang lain yang menyatakan cinta pada calon istrinya.


"Dia hanya mengungkapkan perasaannya. Tidak ada maksud yang lain. Lagipula, dia sudah tahu jika kita akan segera menikah."


Dimas menghela nafas kasar untuk membuang kemarahan di hatinya. Saat bersama Alila, dia selalu berusaha untuk bisa mengendalikan emosinya. Dia tidak ingin membuat kekasihnya takut atau justru memarahinya karena sifatnya yang mudah tersulut emosi jika berhubungan dengan orang terdekatnya.

__ADS_1


"Aku tidak punya perasaan apapun pada Indah. Bukan salahku jika waktu itu Indah tidak menerimanya."


Alila menarik satu tangan Dimas dan mengusapinya dengan lembut di pangkuannya, mencoba menenangkan hati lelaki itu.


"Ya, aku tahu. Bayu juga sudah bercerita. Dia mengatakan jika dia selalu kalah denganmu untuk masalah cinta. Karena gadis yang dicintainya dulu nyatanya malah mencintaimu. Dan sekarang, dia pun merasa sedang mengulangi kejadian serupa, antara dia, kamu dan aku."


Kedua bola mata Dimas menatap tajam ke arah Alila. Bagaimanapun juga, dia selalu merasa tidak tenang setiap kali ada lelaki lain dekat dengan Alila apalagi menaruh hati padanya.


"Aku cemburu, Al." Aku Dimas dengan suara lirih tertahan.


"Tidak perlu cemburu jika kenyataannya aku hanya mencintaimu dan akan selalu menjadi milikmu, Dim."


"Maafkan aku, Al."


Alila tersenyum melihat kegusaran Dimas. Lelaki itu selalu saja bersikap berlebihan jika berhubungan dengan dirinya.


Bahkan jauh sebelum mereka berdua terikat rasa cinta yang sama, Dimas sudah bersikap seperti itu, selalu berada di depan Alila untuk menjaga dan melindunginya dari banyaknya kaum adam yang mencoba mendekati dan menarik hati Alila.


"Dim, apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan Bayu?"


"Menurutmu?"


"Apapun yang akan kamu lakukan, ingatlah selalu bahwa aku hanya mencintaimu."


.


.


.


Pukul sembilan pagi, Alano datang kembali bersama papa Dewa dan mama Dian. Dimas yang sebelumnya sudah menelepon papa Dewa, segera mencium tangan kedua orangtua Alila dan mempersilakan mereka untuk mendekati Alila dan berbicara dengan putri kesayangan mereka, sementara dia dan Alano berdiri di ujung tempat tidur.


"Bagaimana keadaanmu, Al?" Tanya mama Dian sambil mencium kening Alila setelah Alila mencium tangan mama dan papanya.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Maaf sudah membuat mama dan papa khawatir." Alila menampakkan senyumannya agar orangtuanya tenang.


"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati, Al. Jangan memaksakan diri jika memang tidak kuat." Papa Dewa mengusap kepala Alila dengan penuh sayang.


"Iya, Pa." Jawab Alila tak ingin memperpanjang kekhawatiran orangtuanya.


"Dimas, terima kasih sudah menjaga Alila dari semalam. Maaf jika Alila membuatmu khawatir sama seperti kami."


Papa Dewa menatap calon menantunya yang berdiri bersebelahan dengan putra bungsunya.


"Sudah kewajibanku, Pa. Sebentar lagi Alila akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." Jawab Dimas.

__ADS_1


"Hhmmm.., gitu ya. Mentang-mentang sudah punya calon menantu, tidak ada ucapan terima kasih untuk anak sendiri..." Alano melipat kedua tangannya di depan dada sembari memasang wajah cemberutnya.


"Jadi kamu tidak ikhlas menemani dan menjaga aku di sini?" Ucap Alila pelan.


"Ikhlas tidak ikhlas juga, mbak. Aku jagain di sini juga cuma jadi obat nyamuk, karena mbak Al maunya di dekat mas Dimas terus. Aku cuma jadi penonton setia saja.."


Wajah Alila berubah memerah seketika, apalagi ada papa dan mamanya di sana. Sementara Dimas hanya diam tanpa reaksi apa pun, hanya terus memandangi Alila yang duduk berbaring di hadapannya.


"Bagaimana dengan hasil rontgen kamu, Al?" Tanya Papa untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tadi dokter jaga sudah datang kemari. Katanya hasil rontgen sudah ada tetapi karena dokter spesialis tulangnya baru datang besok pagi, jadi kita harus menunggu pemeriksaan esok hari, Pa."


Dimas memberi penjelasan yang diketahuinya dari dokter jaga tadi, sebelum keluarga Alila tiba di rumah sakit.


"Apakah masih ada yang terasa sangat sakit di tubuhmu, Al?" Tanya Papa lagi.


"Masih nyeri di beberapa bagian, Pa. Badanku juga masih terasa lemas, mungkin karena belum terbiasa bergerak lagi."


"Ini, apakah dijahit?" Mama melihat ke arah kening Alila yang ditutupi perban persegi dan tampak menonjol. Beliau mengusapi bagian di sekitar luka tersebut.


"Tidak, Ma. Hanya luka terbuka biasa, kemarin katanya darahnya cukup banyak yang keluar, tapi tadi saat dibuka dan diganti perbannya, lukanya sudah bersih, tinggal menunggu kering dan tidak memar lagi."


Dimas menjelaskan dengan detil karena dia yang selama pemeriksaan tadi selalu mendampingi Alila dan banyak bertanya pada dokter tentang kondisi calon istrinya.


"Semoga tidak ada luka yang serius dari hasil pemeriksaan dokter tulang besok."


Papa mengakhiri pembicaran mengenai kondisi kesehatan Alila. Selanjutnya beliau bersama Dimas juga Alano duduk di sofa dan membahas tentang persiapan pernikahan Alila dan Dimas. Sedangkan Alila ditemani mamanya berbincang ringan tentang kegiatannya di lembah sebelum terjadi kecelakaan kemarin.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~


.

__ADS_1


__ADS_2