Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
50 WANITA MASA DEPAN


__ADS_3

Jika biasanya mereka bertemu pada malam hari, kali ini Dimas dan Alila mengatur waktu pertemuan menjelang makan siang. Mereka memilih rumah makan lesehan sebagai tempat pertemuan lima sahabat.


Dimas dan Alila sudah sampai lebih dulu dan menunggu sambil duduk bersandar pada pembatas ruangan yang terbuat dari bambu. Mereka duduk menghadap ke arah pintu masuk yang tidak terlalu jauh dari ruangan yang mereka pilih, agar mudah mengetahui kedatangan para sahabatnya.


"Al, apakah tidak bisa jika kamu tidak mengikuti acara kantormu itu?"


Dimas memeluk pinggang belakang Alila sambil sesekali menciumi bahu calon istrinya itu.


"Dim, ini acara kantor, mana bisa aku tidak mengikutinya. Apalagi ini acara wajib untuk karyawan baru tahun ini."


Sejak memberitahukan agenda kantornya pada Dimas, lelaki itu terus saja membujuk Alila agar tidak mengikutinya, walaupun itu tidak mungkin. Minggu depan kantor Alila akan mengadakan agenda tahunan yaitu Outbond Training yang wajib diikuti oleh seluruh karyawan baru perusahaan.


Acara itu akan diselenggarakan di sebuah lembah wisata yang terletak di kota sebelah selama sehari semalam. Mereka akan berangkat hari Sabtu pagi dan sudah kembali pada Minggu paginya.


"Aku akan sangat merindukanmu, Al."


"Hanya sehari semalam, Dim. Paginya kami sudah sampai kantor lagi."


Dimas menghela nafas berat sembari menatap wajah Alila dalam-dalam.


"Kegiatan di sana pasti akan membuatmu melupakan aku.." Dimas mulai patah semangat lagi jika memikirkan hal itu kembali.


"Bagaimana mungkin aku melupakan calon suamiku sendiri? Aku pasti akan merindukanmu juga, Dim."


Alila membalas pelukan Dimas dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu. Wajahnya sedikit terangkat untuk menatap mata sendu Dimas yang terus menatapnya penuh cinta.


Getaran indah hadir kembali di hati saat kedua pasang mata itu saling beradu pandang. Desiran halus pun kian terasa, membuat tubuh mereka menghangat dan merapatkan pelukan meski hanya pelukan dari samping tubuh masing-masing.


Dimas ingin mencium kening Alila, tetapi diurungkannya saat Alila memberi tanda akan kedatangan Sandy dan Nayla.


"Hai..hai.., kami datang..!" Seru Sandy dengan melambaikan satu tangannya sementara tangan yang lain memeluk pinggang istrinya.


"Siang, Al, Dim.." Sapa Nayla disertai wajah cerah cerianya.


"Siang, Nay, San..! Syukurlah Sandy bisa pulang jadi bisa lengkap berlima lagi." Jawab Alila dengan senyum yang mengembang menghiasi wajah cantiknya.


Sandy dan Nayla melepas alas kaki mereka dan duduk di seberang meja, berhadapan dengan Dimas dan Alila.


"Dim, calon pengantin kok masih dingin-dingin saja. Berubah dong, kasihan Alila kalau wajahmu seperti itu terus.." Goda Sandy yang melihat Dimas masih setia dengan wajah dingin dan sikap kakunya.


Alila menahan senyumnya mendengar candaan Sandy untuk Dimas. Sementara yang dicandai tetap tak bergeming sedikit pun.


"Kalau pun aku berubah, aku tidak perlu memberitahu kalian. Cukup dia saja yang tahu." Jawab Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari Alila.


"Ahhaa.., sepertinya ada yang diam-diam mesra tanpa kita tahu. Betul begitu, Al?"


Sandy beralih pandangan ke arah Alila yang hanya menjawab dengan senyuman di bibirnya.


Dari tempat mereka, terlihat Tama sudah berjalan masuk dengan pesona maskulinnya.


"Maaf aku terlambat.." Ucapnya pertama kali saat sampai di hadapan para sahabatnya.


"Lebih baik terlambat daripada kita cuma berempat, Tam. Berlima tetap yang terbaik..!" Balas Sandy.


Akhirnya mereka bisa berkumpul berlima lagi. Minuman datang tepat setelah Tama bergabung bersama.

__ADS_1


"Al, kapan kalian akan menikah?"


Nayla mulai bertanya mewakili keingintahuan yang lainnya.


"Dua bulan lagi, Nay. Di pertengahan bulan." Jawab Alila.


"Pertengahan bulan? Bukankah itu hari ulang tahunmu, Al?" Sahut Tama penasaran.


Tama tidak mungkin tidak tahu hari ulang tahun orang yang dicintainya itu. Meskipun dia sudah melepaskan perasaannya pada Alila, tetapi segala ingatan tentang dirinya tidak akan hilang begitu saja.


Kedua mata Dimas bereaksi cepat menatap ke arah Tama. Tanpa sadar dadanya mulai bergemuruh tak tenang. Namun syukurlah, dia tidak menemukan lagi hal yang berbeda dalam tatapan mata Tama pada Alila. Sekarang dia hanya melihat tatapan mata biasa, tanpa tersirat arti yang lain.


"Iya. Aku aku akan menikahi Alila di hari ulang tahunnya." Jawab Dimas.


Kemudian bergantian dengan Alila, dia menjelaskan keseluruhan rencana pelaksanaan pernikahan mereka. Tama, Sandy dan Nayla menyimak semuanya dengan seksama sampai Dimas dan Alila menyelesaikan kalimat terakhirnya.


"Adakah yang bisa kita bantu, Dim, Al..??"


Tama menawarkan bantuannya, demikian juga Sandy dan Nayla. Mereka sangat antusias untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pernikahan dua sahabatnya itu.


"Sejauh ini semua persiapan sudah ditangani langsung oleh pihak wedding organizer." Jawab Dimas tak ingin merepotkan ketiga sahabatnya.


"Mungkin nanti kalau undangan sudah siap, jika kalian tidak keberatan, kalian bisa membantu kami untuk mengirimkan undangan kepada teman-teman kampus kita."


Alila tak ingin mengecewakan sahabat-sahabatnya yang sudah bersuka rela menawarkan diri mereka untuk membantu.


Hidangan makan siang sudah ditata dengan lengkap di atas meja pendek yang ada di tengah-tengah mereka berlima.


Sebelum makan siang mereka mulai, Alila minta ijin sebentar untuk kembali ke mobil Dimas. Namun Dimas yang tahu maksud Alila segera menghentikannya.


Lalu Dimas beranjak keluar menuju mobilnya dan tak lama kemudian telah kembali dengan membawa tiga buah paperbag berukuran sedang.


Alila menerimanya lalu menyerahkannya kepada Tama, Sandy dan Nayla.


"Ini kain batik dan kebaya untuk acara pernikahan kami. Maaf jika merepotkan kalian karena harus menjahitkannya sendiri." Ucap Alila diikuti permohonan maafnya.


Ketiga sahabat mereka menerimanya dengan senang hati. Bahkan Tama pun ikut berseloroh lantaran seragamnya tidak memiliki pasangan.


"Sandy dan Nayla akan tampil serasi dengan seragam ini. Lantas bagaimana nasibku yang tak punya pasangan?" Tama pura-pura berdecak sedih dan menggelengkan kepalanya.


"Ganteng-ganteng kok jomblo.., awet pula..!! Hahaaa.." Gurau Sandy membuat yang lain tertawa.


"Jangan diledek, mentang-mentang kalian berpasangan. Siapa tahu sepulang dari sini nanti aku akan bertemu dengan wanita masa depanku." Jawab Tama masih tak mau kalah.


"Aamiin..!!"


Yang lainnya menjawab serentak lalu mereka tertawa riuh bersama. Setelah puas bersendau-gurau mereka berlima mulai menikmati makan siang bersama-sama.


Tak ketinggalan di sela-sela waktu makan mereka, terselip tingkah dan kebiasaan usil mereka untuk saling mengganggu dan mencicipi hidangan pilihannya satu sama lain. Keakraban di antara mereka tidak pernah berubah sekalipun sekarang mereka tidak bisa lagi bertemu setiap hari seperti masa kuliah dulu.


.


.


.

__ADS_1


Pulang dari pertemuan dengan keempat sahabatnya, Tama mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke arah rumahnya.


Tiba-tiba dia teringat untuk membeli makanan ringan pesanan Tami adiknya yang sangat menyukai camilan. Segera saja dia mengarahkan laju mobilnya menuju swalayan terdekat yang dilewatinya.


Lima menit kemudian dia sudah memarkir mobilnya di halaman sebuah swalayan besar. Selesai mengunci mobil, Tama masuk ke dalam swalayan dan menuju rak khusus tempat makanan ringan. Dia mengambil bermacam-macam camilan kesukaan adiknya.


Setelah mengisi penuh keranjang belanjaannya, dia pun berdiri menunggu di salah satu lajur kasir yang tidak banyak antriannya. Hanya tinggal satu orang di depannya yang tengah menyelesaikan perhitungan di depan petugas kasir.


Namun saat akan melakukan pembayaran, wanita di depannya itu kebingungan mencari dompet dan kartu debit miliknya yang tidak ada di dalam tas kecilnya.


"Aduh.., pasti aku lupa memindahkan dompetku dari tas kerjaku tadi. Padahal aku harus segera mengantarkan semua belanjaan ini ke panti. Dasar aku, benar-benar pelupa..!"


Wanita itu terus berbicara sendiri dan menepuki keningnya berkali-kali. Dia menatap sedih satu troli penuh belanjaannya yang sudah selesai dihitung dan dikemas rapi di dalam troli.


"Maaf mbak, belanjaannya saya tinggal dulu saja di sini. Saya akan pulang dulu untuk mengambil dompet saya yang tertinggal."


Wanita itu berkali-kali minta maaf yang dibalas dengan tatapan tak ramah petugas kasir di hadapannya.


Tama yang sedari tadi mendengarkan wanita itu berbicara sendiri dan menyebutkan kata panti, merasa tidak tega apalagi melihat petugas kasir yang mulai tidak sabar dan memasang wajah juteknya.


Dengan cepat Tama mengeluarkan kartu kredit miliknya dan maju mendekati petugas kasir yang sudah berwajah masam itu.


"Mbak, selesaikan pembayarannya dengan kartu saya."


Tama menyerahkan kartu kredit di tangannya kepada petugas kasir yang wajahnya berubah ramah seketika begitu menerima kartu yang disodorkan oleh Tama.


"Eh tapi.., aduh.., jangan mas. Biar saya pulang dulu saja untuk mengambil dompet saya yang tertinggal."


Wanita di depan Tama tersebut semakin bingung dan salah tingkah setelah Tama membayari semua belanjaannya yang bernilai lebih dari lima ratus ribu rupiah.


Tama meletakkan keranjang belanjaannya di meja kasir untuk dibayar sekalian. Wanita yang baru saja dibantunya itu terus menatap ke arahnya dengan sikap serba salah.


"Tidak apa-apa." Jawabnya dengan tenang sambil tersenyum ramah.


"Maaf, silakan didorong trolinya, saya juga mau keluar." Pinta Tama secara halus.


Wanita itu mendorong pelan trolinya menuju pintu keluar, diikuti Tama yang berjalan di sampingnya.


Pandangan mereka bertemu dan beradu dalam waktu yang singkat. Baik Tama maupun wanita itu sama-sama merasakan getaran kecil di hati mereka saat kedua mata mereka saling menatap tanpa sengaja.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~

__ADS_1


.


__ADS_2