
Siang harinya Dimas pulang untuk makan siang di rumah. Selama Alila di rumah sakit pun, dia juga selalu memanfaatkan waktu istirahatnya untuk kembali menemani istrinya meskipun hanya sebentar.
Sampai di dalam kamar, didapati Alila masih tertidur dengan kedua tangan memeluk perutnya. Dipandanginya wajah sang istri, masih ada bekas lelehan airmata yang terlihat olehnya, hingga dia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan istrinya sampai membuatnya menangis seorang diri.
(Mengapa kamu tak mau berbagi kesedihanmu denganku, Al?)
Dimas bisa menerka, semua ini masih berhubungan dengan kejadian yang baru saja dialami Alila. Dia sadar, kehilangan dua hal yang sama-sama berharga bagi diri seorang wanita, tentu akan meninggalkan luka dan kesedihan yang mendalam di hati mereka.
Demikian pula halnya dengan Alila, Dimas bisa memaklumi jika sang istri masih terpukul dan merasa sangat kehilangan. Sekalipun berusaha menunjukkan bahwa dirinya sudah baik-baik saja, ternyata di dalam hatinya Alila masih menyimpan kesedihan yang belum usai.
(Maafkan aku yang masih kurang memahamimu, Al. Sampai-sampai kamu harus menangis sendiri seperti ini...)
Dimas berlutut di samping tempat tidur, lalu tangannya menyibak rambut yang teracak di tepian wajah cantik Alila. Kemudian pelan-pelan disapunya kedua pipi istrinya dengan jemari tangannya, untuk menghapus bekas airmatanya. Dan terakhir, diciumnya pipi-pipi ranum itu selembut mungkin.
Merasakan ada sentuhan di wajahnya, Alila terbangun dan perlahan mulai membuka matanya. Seketika bibirnya melengkungkan seulas senyuman tatkala melihat suaminya sudah berada di hadapannya.
"Kamu sudah pulang, Dim? Aah.., ternyata aku tertidur lama sekali."
Alila mengerjapkan matanya menghalau silau lampu kamar yang mengenai wajahnya. Dimas membantunya untuk duduk di atas tempat tidur, lalu mencium kening sang istri.
Tiba-tiba Alila menepuk pelan keningnya yang baru saja dicium Dimas.
"Aku belum menyiapkan makan siangmu, Dim. Maafkan aku..."
Dia menurunkan kakinya hendak segera keluar dari kamar, tetapi ditahan oleh suaminya yang segera duduk di sampingnya.
"Ssttt..., jangan bergerak cepat dulu, Al! Ingat luka dalam perutmu belum kering sepenuhnya."
"Mama sudah menyiapkannya karena tadi saat akan membangunkanmu, kamu masih tertidur sangat lelap."
Dimas mendekap tubuh Alila dari samping, diikuti sentuhan hangat bibirnya di pipi sang istri, lalu bergeser mundur ke arah telinganya, dan turun perlahan menelusuri leher jenjang Alila yang begitu menggoda.
Alila memejamkan mata menikmati sengatan cinta dari suaminya yang memercikkan kehangatan di sekujur tubuhnya. Tangannya meremas paha Dimas ketika kenikmatan itu dia rasakan di antara rasa nyeri dari luka dalam di perutnya.
"Dimaasss..., hentikan..."
Jika tak ingat bahwa suaminya masih harus kembali ke kantornya, Alila tak akan melarang Dimas melakukan apapun yang ingin dilakukannya.
"Sebentar lagi kamu sudah harus kembali bekerja, Dim. Dan kamu juga belum makan siang..."
Dimas membuka mata dan menarik wajahnya yang masih menempel di samping wajah Alila. Namun sebelumnya, dia meninggalkan satu ciuman tambahan di bahu istrinya yang membuat Alila menggerakkan bagian itu karena rasa gelinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang. Aku tak bisa menahan diriku setiap kali melihatmu dan berada di dekatmu seperti ini..."
Dimas mencium kening samping Alila lalu tersenyum nakal menatap mata indah istrinya, membuat Alila geleng-geleng kepala melihat kelakuan suaminya.
"Ayo, kita makan siang dulu!"
Alila bersiap untuk berdiri namun Dimas lebih cepat menangkup tubuhnya dengan kedua tangan kokohnya lalu dia berdiri dan membopong istrinya keluar kamar menuju ruang makan.
Alila yang terkejut hanya bisa pasrah dan segera mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dimas yang melihat istrinya diam dan menurut lantas mengecup bibir Alila tanpa permisi. Cup!
"Dasar suami nakal, sukanya mencuri kesempatan..." Wajah Alila merona dalam bahagianya.
"Sudah kubilang, kamu harus terbiasa, Al. Karena aku akan sering mencuri ciuman seperti ini..."
Cupp! Dimas mengulangi kecupannya di bibir Alila, tepat di saat mereka sampai di depan meja makan. Dia menurunkan Alila di atas kursi dengan sangat hati-hati. Lalu dia menyiapkan sendiri makan siang untuk mereka berdua.
Bukan tanpa alasan dia terus memanjakan Alila seperti ini. Meskipun sebelum-sebelumnya dia juga sudah melakukannya, tetapi dia semakin ingin memanjakan Alila di saat istrinya masih sakit dan lemah seperti sekarang.
Dia hanya ingin Alila selalu mengingat dan merasakan, bahwa apapun yang terjadi pada dirinya, tidak akan merubah sedikitpun perasaan dan perhatian Dimas terhadap istri kesayangannya itu.
Apalagi setelah tahu bahwa Alila masih menyimpan kesedihannya sendiri dalam tangisan yang disembunyikannya dari orang lain, Dimas semakin ingin menunjukkan rasa cintanya dan mencurahkan sebanyak mungkin kasih sayang juga perhatiannya untuk Alila setiap saat.
Makan siang kali ini terasa berbeda. Bukan karena Dimas yang lebih dominan melayani Alila, tetapi karena ini pertama kalinya Dimas pulang makan siang di rumah dengan istri yang sudah menunggu kedatangannya.
Seperti biasa, mereka makan bersama sepiring berdua dan saling menyuapi. Selesai makan, Dimas membersihkan peralatan yang mereka gunakan, lalu segera menyiapkan obat untuk Alila minum.
"Cepatlah sembuh, dan jangan sakit lagi." Ucap Dimas saat Alila selesai meminum obatnya.
Diciumnya bibir yang masih basah karena air minum itu, lalu dibersihkannya dengan sapuan tangannya yang lembut dan penuh perhatian.
Alila tersenyum dan mengangguk. Jika saja bisa, dia pun tak ingin sakit seperti ini, aplagi harus rela kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya. Lagi-lagi dia teringat akan keadaannya yang menurutnya tak lagi sempurna. Raut wajahnya berubah murung namun segera digantinya dengan seulas senyuman. Dia berusaha menyembunyikannya dari Dimas yang nyatanya sudah terlanjur mengetahuinya.
Tanpa berucap apapun lagi, Dimas menggendong Alila kembali ke dalam kamar dan mendudukkannya di atas tempat tidur, lalu dia ikut duduk di samping istrinya. Kedua bola matanya menatap lurus ke dalam mata Alila tanpa berkedip, membuat istrinya salah tingkah dan hanya bisa menghindari tatapan tajam itu dengan menundukkan kepala.
"Katakan padaku, Al."
"Apa?" Alila mulai mengangkat kepalanya untuk mencari tahu maksud dari pertanyaan suaminya yang belum dia mengerti.
"Apa yang masih kamu sembunyikan dariku? Mengapa kamu menangisinya sendiri tanpa ingin aku mengetahuinya?"
Alila terdiam beberapa saat. Dia kembali menunduk karena merasa bersalah kepada suaminya. Dimas pun hanya diam, menunggu istrinya bersuara lebih dulu.
__ADS_1
Sejurus kemudian dia menjawab pertanyaan Dimas dengan suara lirih tertahan.
"Maafkan aku, Dim. Aku takut, takut jika setelah ini aku akan menjadi sulit hamil dan mengecewakanmu..." Airmata sudah menggenangi pelupuk mata Alila.
Dimas menghela nafas panjang dan mulai menata ucapan yang akan disampaikannya pada sang istri.
"Sudah berapa kali kukatakan, Al. Jangan lagi memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Jangan membebani pikiranmu dengan sesuatu yang membuatmu menjadi lemah hati."
Dimas merangkul tubuh Alila, membawanya ke dalam pelukannya. Diciuminya puncak kepala sang istri seraya mendekap erat tubuh yang mulai berguncang pelan itu.
Alila terisak dalam pelukan suaminya. Dia bersandar pada dada bidang Dimas, mencari ketenangan dan kenyamanannya di dalam pelukan hangat sang suami tercinta.
"Aku takut kehilangan kamu, Dim. Aku takut suatu saat nanti kamu akan pergi meninggalkan aku karena aku tidak kunjung ha......"
"Ssttt...!!!" Dimas memutus ucapan Alila. Ditariknya tubuh Alila pelan-pelan sehingga mereka bisa saling menatap dan menyatukan pandangan, tanpa melepaskan pelukan.
"Sekarang jawab pertanyaanku, Al. Seberapa besar kamu menyayangiku, mencintaiku?"
Alila menggeleng lemah.
"Aku tidak bisa mengukur perasaanku padamu, Dim. Karena rasa cintaku padamu tak berujung. Rasa ini terus tumbuh dan berkembang semakin besar dan semakin dalam di hatiku. Aku sangat mencintaimu..."
Hati Dimas bergetar hebat mendengar pengakuan Alila yang terdengar begitu jujur dan tulus mewakili segenap rasa di hati dan jiwanya. Seluruh tubuhnya menghangat, sungguh tak menyangka jawaban Alila mampu membuncahkan perasaannya sedemikian kuatnya.
"Sebesar dan sedalam apapun rasa cintamu padaku, maka seperti itu pula rasa cinta yang kumiliki untukmu, Al. Bahkan lebih dari itu. Aku sangat, amat sangat mencintaimu. Hanya kamu yang aku cintai, hanya kamu yang aku mau, Al..."
"Jadi aku mohon, jangan pernah lagi meragukan cinta dan ketulusanku padamu. Jangan pernah sekalipun berpikir aku akan meninggalkanmu karena itu tidak akan pernah terjadi. Di dalam hatiku ini, hanya ada dirimu, selamanya..!!!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.