
Suasana gedung semakin ramai dan penuh dengan tamu undangan yang datang silih berganti. Tama, Dimas dan Alila serasa tengah berada di acara reuni, saat teman-teman kuliah mereka banyak yang datang dan berkumpul bersama mereka. Saling bertukar kabar dan bersendau-gurau setelah sekian lama mereka tak berjumpa.
Beberapa teman mulai memperhatikan sikap dan perhatian Dimas pada Alila, apalagi sedari tadi lelaki dingin itu hanya diam di samping Alila, tak ingin menjauh sedikit pun dari Alila. Bahkan meskipun tak terlalu terlihat, tangannya masih setia melingkar di pinggang belakang Alila.
"Tam, apakah kedua sahabatmu itu sekarang berhubungan seperti Sandy dan Nayla?"
Salah seorang teman bertanya kepada Tama membuat yang lainnya memusatkan perhatian ke arah Dimas dan Alila.
"Ya. Seperti yang kalian lihat. Sekarang mereka semakin tak terpisahkan."
Tama menjawab dengan suara tenang dan menampakkan senyum di wajahnya. Tak ada yang tahu betapa sakit dan perih hatinya karena harus menjawab pertanyaan itu, di saat dia mulai berusaha untuk menepikan perasaannya untuk Alila.
Mendengar jawaban Tama, teman-teman mereka semakin riuh melepaskan candaan dan godaan untuk Dimas dan Alila. Alila hanya menanggapinya dengan beberapa ucap kata, sementara Dimas cukup tersenyum tipis dengan sikap dingin yang sudah dimaklumi oleh mereka semua.
Waktu beranjak siang dan sampai di penghujung acara. Gedung sudah mulai sepi karena para tamu sudah meninggalkan tempat acara. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang masih berkumpul di dalam gedung bersama sepasang pengantin baru.
Tama dan adiknya, diikuti Dimas dan Alila pun berpamitan pada Sandy dan Nayla. Tak lupa sebelum pergi, mereka kembali mengabadikan kenangan bahagia hari itu dengan berfoto di atas pelaminan.
Mereka berempat akhirnya berpisah di halaman gedung. Alila memeluk dan mencium Tami diikuti Dimas yang juga menyalami adik Tama.
Kemudian dia berpindah ke hadapan Tama, berjabatan tangan dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Sampai jumpa lagi, Tam."
Tama melepaskan pelukan mereka dengan mata yang masih beradu pandang dengan Dimas.
"Jaga dia dan selalu bahagiakan dia."
(Aku lepaskan dia untuk kau miliki, Dim. Karena hanya denganmu dia bahagia.)
Dimas menganggukkan kepala dengan mantap. Kali ini dia membalas Tama dengan senyuman yang lebih lebar dan tulus.
Tama mengalihkan tatapannya ke arah Alila. Dia mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Alila disertai dengan senyuman yang selalu menggetarkan hati Tama, bahkan hingga detik ini.
"Jaga dirimu dan teruslah berbahagia."
(Aku akan melepaskan perasaanku, Al. Berbahagialah bersama dia yang kau cintai.)
"Ya, Tam. Kamu juga."
Alila menjawab dengan singkat dan segera melepaskan tangan Tama yang sudah dirasakannya semakin erat menggenggamnya.
__ADS_1
Mereka pun berpisah. Tama dan adiknya segera masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari serambi gedung dan tak lama kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir.
Dimas menggandeng tangan Alila dan berjalan berdua menuju mobil Dimas yang terparkir di samping gedung.
Di dalam mobil, Dimas segera menyalakan AC untuk menghilangkan hawa panas yang masih terasa di dalam mobil yang telah setengah hari terpanggang sinar matahari.
Alila merapikan duduknya dan melepaskan sepatu karena telapak kakinya terasa panas dan pegal. Wajahnya pun terlihat gerah dan memerah karena sengatan sinar matahari saat mereka berjalan menuju mobil.
Dimas yang sedari tadi memperhatikannya mulai mendekatkan wajahnya pada Alila. Dengan penuh perhatian dia menyeka butir-butir keringat yang membasahi wajah menawan wanita itu dengan sapu tangan miliknya.
Alila memalingkan wajahnya hingga kini berhadapan dengan wajah Dimas dalam jarak yang sangat dekat. Getaran-getaran halus di dalam hati mereka mengiringi tatapan sayu keduanya yang telah terpaku satu sama lain.
Dimas meraih dagu Alila dan semakin memupus jarak di antara mereka. Alila yang terkejut justru menggerakkan tangannya ke pinggang Dimas tanpa sengaja.
"Tadi kau bilang jika kau malu karena kita berada di tempat umum, di dalam gedung sana. Tapi sekarang......."
Dimas tak melanjutkan kalimatnya. Deru nafas mereka telah terdengar bersahutan memecah kesunyian di tengah dinginnya ruangan yang mulai terasa membuai hasrat keduanya.
Alila memejamkan matanya tatkala wajah Dimas nyaris menyentuh kulit wajahnya. Dia pasrah dan menyiapkan dirinya karena mengingat ucapan Dimas di dalam gedung.
(Apakah kau akan melakukannya, Dim?)
Setelah cukup lama, dia menarik wajahnya sedikit mundur dan memandang wajah Alila dengan semakin sendu. Wanita itu masih terus memejamkan matanya.
Tatapan mata Dimas turun menuju bibir ranum yang selalu menggoda hasratnya.
Jemarinya mulai menyentuh bibir Alila. Menyapunya perlahan, mengusapnya dengan lembut dan menghentikan jarinya tepat di bagian tengah bibir yang terasa bergetar itu. Dimas masih terus menatap bibir Alila tanpa henti tepat di saat Alila membuka matanya dan bersitatap dengan mata sendu lelaki tercintanya.
"Aku akan melakukannya, Al. Tapi setelah kita menikah nanti. Aku ingin memilikimu seutuhnya."
Dimas menatap mata Alila, menjanjikan sesuatu yang pasti untuknya. Dia memang sangat tergoda dengan semua yang ada pada diri Alila. Namun dia selalu memegang teguh prinsipnya hingga tiba saatnya nanti mereka akan menikmati semuanya bersama-sama.
Dipeluknya Alila yang masih diam mematung karena perlakuannya. Dimas menunggu hingga akhirnya Alila membalas, memeluk tubuhnya dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada Dimas. Dia mulai menikmati pelukannya, terasa nyaman, sangat nyaman.
Dimas mencium puncak kepala Alila dengan lembut dan berbisik di telinganya.
"Aku mencintaimu, Al. Aku akan segera menikahimu."
Kepala Alila bergerak pelan, mengangguk di dalam dekapan hangat Dimas yang selalu dirindukannya. Diam-diam dia meneteskan airmata yang semakin lama semakin bergulir jatuh membasahi kemeja Dimas.
Dimas yang merasakan sesuatu yang basah di bagian dadanya segera menarik tubuhnya, melihat ke bagian dadanya lalu berpindah kepada Alila. Dia melihat wajah cantik kesayangannya yang telah basah oleh airmata.
__ADS_1
"Al..."
Dimas membersihkan wajah Alila dengan kedua tangannya. Dia merasa bersalah telah membuat wanitanya menangis walaupun dia belum tahu apa penyebabnya.
"Terima kasih, Dim."
"Mengapa berterima kasih, Al? Ada apa?"
"Terima kasih sudah menjagaku dengan sangat baik. Aku bersyukur bisa memilikimu dan akan memilikimu seutuhnya untukku."
"Jika bukan kamu yang menjagaku selama ini, entah apa yang sudah terjadi dengan diriku, Dim."
"Ssttt..., jangan bicara seperti itu lagi, Al. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang sangat mencintai kekasihnya."
Tangan Dimas kembali terulur, menarik dan memeluk tubuh Alila lebih erat dari sebelumnya. Kali ini dialah yang diam-diam meneteskan airmata, tetapi segera disekanya sebelum Alila mengetahui.
(Aku menyesal telah terlambat mencintaimu, Al. Maafkan aku..)
Dimas dan Alila menyudahi pelukan mereka. Berdua mereka tersenyum dalam rasa bahagia yang sama.
"Kita pulang sekarang, Al. Aku akan berbicara dengan orangtuamu. Dan minggu depan, kita akan pergi menemui orangtuaku. Kita akan memulainya dari sekarang."
"Ya, Dim. Kita akan memulainya bersama-sama."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1