
Setelah Alila kembali ke ruangannya, Dimas kembali menjalani proses transfusi darah. Sudah ada dua orang pendonor yang memberikan bantuan untuknya. Satu dari seorang anak buah Tama dan satu lagi dari sepupu Dimas sendiri.
Jika kondisinya baik, maka lelaki itu akan segera sadar dan bisa menjalani masa pemulihan di ruang perawatan umum.
Malam berlalu begitu saja. Alila beristirahat di ruangannya ditemani Alano dan Papa Dewa. Sementara orangtua dan kakak Dimas beristirahat di rumah orangtua Alila bersama Mama Dian, agar keesokan harinya bisa bersama-sama berangkat kembali ke rumah sakit.
Fajar telah datang. Papa Dewa menjadi imam bagi kedua putra putrinya untuk melaksanakan jamaah subuh. Usai memanjatkan doa-doa panjang untuk sang suami tercinta, Alila kembali berbaring dalam posisi setengah duduk, sambil menunggu perawat datang untuk mencabut jarum infusnya.
Kantong terakhir dari tiga kantong cairan infus yang dialirkan ke dalam tubuh Alila sudah hampir habis. Setelah itu, Alila hanya perlu memulihkan kondisi fisiknya yang masih lemah dengan beberapa luka kecil yang mulai mengering.
"Pa, kapan aku boleh menemani Dimas lagi?"
Dari sofa, Papa menoleh ke arah Alila sambil menyeruput kopi panas yang baru saja dibelikan Alano.
"Tunggu perawat datang dulu, Al. Pagi ini dokter juga akan datang dan melakukan pemeriksaan. Kamu bisa menanyakan langsung pada dokter."
Dan sesuai ucapan papanya, satu jam berikutnya dokter sudah berada di ruangan Alila bersama perawat yang langsung bertindak melepaskan jarum infus dari punggung tangan kiri Alila.
Melihat kondisi Alila yang cukup baik, dokter kembali memberi ijin untuk menunggui sang suami, dengan catatan Alila tidak melupakan obatnya dan tetap mengatur waktu istirahatnya dengan baik.
Tanpa ingin membuang waktu lagi, selepas kepergian dokter dan perawat, Alila meminta sang adik untuk mengantarnya kembali ke ruangan Dimas.
Dengan diantar masuk oleh seorang perawat, Alila yang sudah berpakaian steril duduk di kursi biasa di samping pembaringan Dimas. Kursi rodanya diletakkan di sudut ruangan untuk nanti digunakan lagi saat kembali ke ruangannya sendiri.
"Selamat pagi, Dim."
Alila mencium punggung tangan kanan Dimas lalu menatap wajah yang selalu dikagumi dan dirindukannya itu. Pagi ini Dimas sudah mengenakan baju pasien. Masker oksigen yang sebelumnya terpasang di wajahnya, sekarang sudah diganti dengan selang oksigen biasa yang langsung masuk ke kedua lubang hidungnya.
Alila berdiri kemudian mendekatkan wajah mereka. Dia mencium kening Dimas dengan lembut, menyalurkan kehangatan dan rasa cinta darinya untuk sang belahan jiwa.
"Selamat pagi, Al..."
Alila tersentak dan menarik wajahnya. Suara lemah tetapi terdengar jelas di telinga itu sukses membulatkan sepasang mata indahnya serta melengkungkan senyuman bahagia di bibirnya.
Dilihatnya kedua mata Dimas yang sudah terbuka dan tengah menatapnya dengan pancaran bahagia meskipun masih terlihat sayu. Bibirnya yang kering dan pucat menampakkan senyuman yang selalu tertuju untuk wanita kesayangannya.
Tiada kata. Tanpa suara. Hanya hati yang melantunkan rasa bahagia yang mulai membuncah. Hanya jiwa yang melagukan rasa syukur yang kian melangit.
Mata Alila telah basah oleh air mata yang mengalir begitu saja hingga tetesannya jatuh di atas wajah Dimas, tepat di bawah matanya yang terus memaku pandangan pada wajah sang istri tercinta.
Mata bertemu mata. Saling bicara dalam bahasanya sendiri. Mengisyaratkan kerinduan yang dalam lewat tatapannya yang sendu dan tertuju satu sama lain.
Inginnya hati memeluk raga itu. Tetapi kesakitan di sekujur tubuh pemiliknya, menahankan diri untuk melakukannya. Hanya tangan yang akhirnya terulur pelan, menyentuh wajah yang selalu mempesona dengan kedua pipi yang mulai meronakan bahagia.
Alila membelai lembut seluruh permukaan wajah Dimas, lalu kembali melabuhkan satu ciuman hangat di atas kening lelaki pemilik hatinya itu.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja, Al...?"
Dalam keadaan dirinya yang lemah dan terluka parah pun, hanya keselamatan sang istrilah yang diutamakan dan dikhawatirkan oleh Dimas.
Dia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh tubuh Alila, memastikan bahwa wanita kesayangannya itu tidak mengalami kesakitan sebagaimana dirinya sendiri.
Alila mengangguk pelan, masih tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Hatinya terlalu penuh sesak oleh rasa haru dan bahagia, hingga lidahnya pun kelu dengan suara yang masih tercekat di tengah tenggorokannya.
Air matanya terus meleleh tiada henti.
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Aku yang seharusnya mengkhawatirkanmu, mengapa justru kamu yang menanyakan hal itu kepadaku, Dim? Kamu terlalu..., kamu terlalu memikirkanku tanpa mempedulikan dirimu sendiri..."
Hiks... Hiks... Hikss...
Tumpah sudah isak tangis Alila tanpa bisa dibendungnya lagi.
"Karena aku terlalu mencintaimu. Aku tak akan membiarkan segala sesuatu yang buruk terjadi padamu, Al."
Mendengar jawaban Dimas dengan suara yang masih lemah dan lirih, Alila semakin terisak.
Tiba-tiba Dimas terbatuk dengan wajah meringis menahan sakit. Jantung Alila berdentum keras, takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Tangan kirinya hendak meraih tombol darurat di bagian atas tempat tidur, tetapi suara Dimas mengurungkan niatnya.
"Aku haus....."
Alila melihat ada segelas air putih yang sudah disiapkan di atas meja di samping tempatnya berdiri. Segera diambilnya gelas tersebut.
"Kamu suapi..."
Alila segera mengambil sendok lalu menyuapkan air putih ke mulut Dimas yang sudah terbuka, berulang-ulang sampai Dimas memintanya berhenti.
Gelas dan sendok diletakkannya kembali di atas meja. Lalu dia membersihkan bibir suaminya dengan sehelai tisu.
Saat tangannya sudah menjauh dari bibir sang suami, tanpa disangka tangan kiri Dimas terangkat ke atas dan meraih tangan kanan Alila yang masih terayun di depan wajahnya.
Digenggamnya tangan itu dengan tenaga yang masih ada, diarahkan ke wajahnya, kemudian diciumnya dengan mata yang tertutup. Hati Alila berdesir halus. Dadanya berdebar-debar merasakan sesuatu yang memancing keharuannya.
"Dim, aku panggilkan dokter ya?"
Dimas membuka matanya lalu menggeleng lemah. Masih digenggamnya tangan Alila di atas dadanya, hingga wanita itu bisa merasakan detak jantung suaminya.
"Aku tidak apa-apa..."
"Tapi....."
"Tadi dokter sudah kemari."
__ADS_1
Jawaban Dimas membuat Alila lega meskipun tetap mencemaskan keadaan fisik sang suami yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dia kembali duduk di kursinya.
"Temani aku di sini, Al. Jangan pergi..."
Dimas berusaha mempererat genggaman tangannya dan seketika itu pula Alila tersenyum seraya menganggukkan kepala.
"Aku akan menemanimu di sini. Tapi kamu harus beristirahat lagi. Aku ingin kamu cepat pulih dan segera keluar dari ruangan ini."
"Ya." Dimas patuh dan mulai memejamkan matanya.
Tak dilepaskannya tangan Alila sedetik pun. Dia terus mendekapnya di dada, sesekali dengan gerakan di bawah sadar dia meremasnya pelan juga mengusapinya.
Alila tersenyum menatap wajah Dimas tanpa beralih fokus sedikit pun.
"Aku mencintaimu, Al..."
Entah sadar atau tidak, Dimas bergumam lirih. Alila membalasnya, sambil menyeka air matanya.
"Aku juga mencintaimu, Dim. Cepatlah sembuh, sayang..."
Dan seperti kemarin, Alila turut mengistirahatkan tubuhnya di samping Dimas. Tak peduli hanya bisa menyamankan kepalanya saja di atas tempat tidur, yang paling utama baginya adalah bisa bersama suaminya, menemani di sisinya.
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
๐Author๐
.
__ADS_1