
Sebelumnya mohon maaf jika novel MCU dan TKCS agak lambat update nya untuk beberapa minggu ke depan, karena Author harus kejar setoran update novel ALANARA / CINTA NARA yang alhamdulillah terpilih menjadi salah satu peserta The Next Star Writer season 1. Mohon dimaklumi karena Author juga memiliki tugas dan kewajiban utama di dunia nyata yang sama-sama menyita banyak waktu๐๐๐
๐Salam Cinta Selalu๐
.
.
.
Satu bulan berikutnya, bekas luka operasi di paha kanan Dimas sudah mulai membaik. Gipsnya sudah dilepas dan sekarang hanya dibebat dengan perban elastis untuk menguatkan tulangnya lebih dulu. Dia pun sudah bisa menggunakan satu tongkat penyangga saja.
Dan hari ini, adalah hari ulang tahun Dimas. Di rumah, Alila sudah menyiapkan nasi tumpeng yang dipesannya sebelum mereka pergi ke rumah sakit. Ada seluruh keluarganya yang sudah menunggu di rumah mereka untuk makan siang bersama.
Karena kondisi Dimas yang masih dalam masa pemulihan yang lama, Alila memilih untuk memberinya kejutan makan siang di rumah saja. Apalagi Dimas baru saja lepas gips sehingga kakinya masih kaku dan butuh banyak latihan di rumah pelan-pelan.
Alila sengaja sejak pergantian hari tadi tidak memberikan ucapan selamat pada lelaki pemilik hatinya tersebut. Dia hanya pura-pura tidur memeluk Dimas dengn erat, padahal dalam hati, dia memanjatkan rangkaian doa terbaik untuk suami tercintanya.
"Dim, kita langsung pulang atau.....?"
"Seperti biasanya."
Alila tersenyum dikulum mendengar jawaban Dimas, yang biasanya menjadi jawabannya saat dulu mereka sering pergi berdua sebagai sahabat.
Dan seperti halnya dirinya dulu, Dimas diam saja, menyamankan sendiri posisi sandarannya dan langsung memejamkan mata.
Alila melepaskan senyum lebarnya melihat Dimas yang senewen sendiri. Lelaki itu pasti sedang marah karena istrinya melupakan hari ulang tahunnya.
(Mana mungkin aku melupakan hari yang paling penting untukmu, Dim. Setiap tahun saja, aku selalu berusaha menjadi orang pertama yang memberimu ucapan selamat di tengah malam.)
Sebenarnya Dimas juga tidak tidur. Dia terbiasa duduk di belakang kemudi, jadi sangat susah untuk tertidur di dalam mobil.
Pikirannya melayang memikirkan Alila yang melupakan hari ulang tahunnya, padahal dulu, setiap tahun Alila selalu menjadi orang pertama yang menghubunginya dan memberikan ucapan selamat.
(Mungkin dia terlalu lelah karena selalu sibuk mengurusi kebutuhanku. Apa lagi dengan kondisiku saat ini, dia pasti menjadi semakin kewalahan, hingga melupakan hari bahagiaku...)
Mobil mereka sudah memasuki halaman rumah. Dimas terkejut melihat ada dua mobil yang terparkir di dalam pagar, yaitu mobil orangtuanya dan mobil orangtua Alila.
"Al, kapan mereka datang?"
Alila hanya mengangkat bahu lalu menggelengkan kepala.
"Dari tadi pagi aku selalu bersama kamu, Dim."
Alila keluar lebih dahulu untuk membantu Dimas turun dari dalam mobil dan menyiapkan tongkat penyangganya.
Mereka berjalan pelan menuju pintu depan yang sudah terbuka. Setelah mengucapkan salam, hanya terdengar suara Papa Dewa yang membalas.
Ruang tamu kosong, tidak ada orang. Alila mengajak Dimas masuk menuju ruang tengah dannn.......
"Selamat ulang tahun...!!!"
Riuh teriakan dari semuanya serentak mengucapkan selamat ulang tahun untuk Dimas yang masih diam terkejut di samping Alila.
"Terima kasih..."
Setelah itu Alila membantunya untuk duduk dan menyimpan tongkat penyangga di samping sofa.
Dimas mengedarkan pandangannya, mengabsen seluruh yang hadir di sana. Orangtua Alila, Alano, orangtuanya, dan Darma bersama Indira dan baby Sekar.
__ADS_1
Meskipun terkejut dengan kedatangan mereka, raut wajah datar tetap ditampakkan oleh Dimas, dengan sedikit senyum tipis saat Alila tiba-tiba mencium pipinya.
"Selamat ulang tahun, sayang. Aku mencintaimu selamanya!" Bisik Alila di telinga Dimas.
Dimas ingin memeluknya tetapi Alila segera menjauhkan tubuhnya dan mengambil pisau dan piring kecil yang sudah disiapkan.
"Potong dulu tumpengnya." Seolah tahu keinginan suaminya, Alila memasang senyuman manisnya.
Dimas menurut, dan segera memotong puncak tumpeng yang dipegang oleh Darma dan didekatkan ke depan adiknya.
Sendokan kecil pertamanya disuapkan kepada sang istri tercinta, yang dibalas Alila dengan ciuman di tangan suaminya, dilanjutkan Dimas yang mencium kening istrinya.
Bersamaan dengan itu, sebelah tangannya segera menarik pinggang Alila dan memeluknya erat. Dia juga berbisik lirih di telinga Alila.
"Terima kasih kejutannya, sayang. I love you!"
"Masih ada satu kejutan lagi. Tunggu sebentar."
Alila tersenyum simpul lalu menjauh dari Dimas untuk memberi ruang bagi seluruh keluarga mereka memberikan ucapan selamat pada suaminya satu per satu.
Di saat Dimas masih sibuk dikelilingi oleh keluarga mereka, Alila sudah menyiapkan kejutan yang lain di ambang ruang tengah.
"Dim..."
Dimas menoleh ke arah Alila yang sedang berdiri bersama empat orang yang baru saja datang.
"Surprise...!!!"
Sudah ada Sandy, Nayla dan Tama yang juga mengajak Dara bersamanya.
Para sahabat mendekati Dimas setelah yang lainnya berpindah ke ruang makan untuk menikmati makan siang yang sudah disiapkan oleh kedua mama.
"Selamat tambah umur, Dim!" Sandy memeluk Dimas diikuti Nayla yang menyalami sahabatnya.
"Terima kasih." Dimas berucap singkat.
Mereka duduk berkumpul berenam, melepaskan canda-tawa seperti yang biasanya mereka lakukan sejak mulai bersahabat dulu.
Dimas hanya diam dan sesekali menimpali obrolan dengan wajah datarnya. Namun setiap kali beralih menatap Alila yang duduk di sampingnya, wajahnya berubah hangat dengan pandangan yang melembut.
"Kapan kalian akan menikah?" Tiba-tiba Dimas menanyakan hal itu pada Tama dan Dara.
Sejak sakit karena kecelakaan itu, Dimas menjadi semakin posesif dengan Alila. Segala hal yang berhubungan dengan istrinya, selalu dia pantau setiap waktu.
Apa lagi jika menyangkut tentang lelaki lain yang pernah dekat atau menaruh hati pada Alila, Dimas akan semakin terlihat takut kehilangan lagi. Dia seperti sedang berada pada titik terendah keperrcayaan dirinya.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dimas, Tama dan Dara pun saling tatap dan tersenyum bersama. Ada raut bahagia yang terpancar dari wajah keduanya.
"Sebelum kami menikah, kamu harus sembuh dulu, Dim! Karena kamu adalah bagian inti dari kita berlima. Mana mungkin aku merayakan kebahagiaan sendiri, di saat kamu belum sembuh sepenuhnya."
Dimas mengangguk. Inginnya pun demikian. Dia harus segera pulih seperti sedia kala agar tidak lagi menjadi beban lebih untuk istrinya. Dia ingin kembali seperti dulu, menjaga, melindungi dan memanjakan Alila sepenuh hati dengan segenap cintanya.
"Tapi, aku punya satu kabar baik untuk kalian." Lanjut Tama.
"Hmm.., apa itu? Jangan bilang kalian sudah melakukan pertunangan diam-diam tanpa kami tahu ya..." Sandy sudah memperingatkan Tama, membuat Tama mengeleng seraya tertawa.
"Kami tidak ingin bertunangan, San. Kami akan langsung menikah saja." Jawab Tama mantap.
"Kabar baiknya apa dong?" Tanya Nayla.
__ADS_1
Tama meraih tangan kiri Dara, menggenggamnya lalu mengangkatnya ke atas untuk ditunjukkan pada semua sahabatnya.
"Aku pribadi sudah melamar Dara."
Tama menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di jari manis Dara.
"Selamat, Tam. Semoga lancar semua persiapan pernikahan kalian." Ucap Dimas mendahului yang lain.
"Jangan lupa hubungi kami untuk bersama-sama membantu apa pun yang kalian butuhkan." Alila menambahkan.
"Tentu saja. Aku pasti akan sangat merepotkan kalian semua..." Gurau Tama sehingga mereka semua pun tertawa.
Mereka terus bercengkerama hingga akhirnya bergabung di ruang makan bersama keluarga Dimas dan Alila.
Setelah hari beranjak sore, para sahabat pun pamit pulang. Sementara keluarga mereka juga mulai berpencar dengan kegiatan masing-masing.
Dimas mengajak Alila ke kamar untuk beristirahat sejenak. Alila membantunya duduk di atas tempat tidur dan meluruskan kedua kakinya.
"Al..."
"Ya?"
Alila urung turun dari tempat tidur begitu mendengar panggilan dari suaminya. Dimas meminta Alila untuk mendekat lalu memeluknya dengan erat.
"Terima kasih untuk semua kejutan darimu hari ini."
"Maaf, Dim. Tahun ini aku tidak memberikan hadiah apa-apa padamu. Aku hanya......"
Dimas menghentikan ucapan Alila dengan sebuah ciuman hangat di bibir wanita kesayangannya. Untuk sesaat Alila terkejut, tetapi kemudian membalas dan menikmatinya.
Dimas menyudahi ciuman mereka yang semakin penuh gairah tertahan, dan menutupnya dengan ciuman di kening istrinya.
"Aku mencintaimu, sayang."
Alila tersenyum dan mempererat pelukannya sembari bersandar manja di atas dada bidang suaminya.
"Cepatlah sembuh! Hanya itu yang aku minta, Dim."
"Pasti, sayang. Aku pasti akan segera sembuh demi dirimu. Aku sudah sangat merindukan malam kita, malam-malam yang penuh hasrat dan gejolak bersamamu. Bersama cinta kita."
.
.
.
Mohon dukungannya untuk novel terbaru kami, ALANARA / CINTA NARA. Semoga bisa menghibur para pembaca semua...๐๐๐
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kamiย dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
๐Author๐
.