Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
06 PERASAAN TAMA


__ADS_3

Minggu pagi, Alila kembali bermalas-malasan di kamarnya. Tidak ada acara hari ini, dia ingin istirahat di rumah, sebelum nanti malam keluar karena Tama mengajak mereka berlima makan bersama.


Sebuah pesan dari Tama membangunkan Alila yang mulai tertidur lagi.


"Al, apakah ada waktu hari ini?"


"Hari ini aku hanya menunggu acara kita nanti malam. Ada apa, Tam?"


"Bisakah aku mengajakmu keluar sebentar?"


"Ke mana?"


"Hanya jalan-jalan sebentar saja. Sebelum besok aku mulai bekerja."


Alila beranjak dari posisi tidurnya. Dia ragu untuk menerima begitu saja ajakan Tama. Dia tidak membeda-bedakan sahabatnya, hanya saja selama ini dia tidak terbiasa pergi berdua saja dengan salah satu di antara mereka, kecuali dengan Nayla atau Dimas.


"Dim, Tama mengajakku pergi menemaninya jalan-jalan."


Alila malah mengirimkan pesan pada Dimas dan menunggu balasannya, sebelum memberi jawaban untuk Tama.


Lima menit menunggu, akhirnya Dimas membalas juga.


"Temani saja." Hanya singkat.


"Kamu tidak apa-apa, Dim?"


"Memangnya aku kenapa?"


"Yakin kamu nggak kenapa-kenapa?"


Alila masih ingin memastikan. Entah mengapa sebenarnya dia yang tidak ingin pergi.


"Kamu mau aku gimana, Al? Cemburu, begitu? Sudah kukatakan, dia bukan rivalku."


"Lalu siapa rivalmu?"


"Tidak ada."


"Hahaa.., percaya diri sekali kamu, Dim."


"Pergilah."


"Baiklah. Tapi jangan merindukanku."


Alila tersenyum sendiri membaca pesan terakhir yang ditulisnya untuk Dimas. Kemudian dia membalas pesan Tama.


Satu jam kemudian, mereka berdua sudah berada di dalam mobil Tama.


"Kita mau ke mana, Tam?"


"Aku ingin membeli beberapa pakaian kerja, Al."


"Apa kemarin-kemarin kamu belum mempersiapkannya?"


"Sepertinya masih ada yang kurang, jadi aku ingin membelinya lagi."


(Sebenarnya aku hanya ingin berdua denganmu, Al.)


"Oke..." Jawab Alila singkat.


Mereka lebih banyak diam di dalam mobil. Tidak seperti biasanya. Karena Tama tidak membuka pembicaraan lagi, Alila mengambil ponselnya dan membuka beberapa akun sosial media miliknya.


Baru beberapa menit asyik dengan kabar dunia maya, pesan baru masuk yang langsung dibuka oleh Alila.


"Di mana?"


Alila menahan senyumnya mengetahui si pengirim pesan.


"Bukankah sudah aku bilang, jangan merindukanku."


Tidak ada balasan lagi hingga mobil Tama sudah sampai di area parkir mall.


Alila sedikit kecewa karena pesannya tidak berbalas lagi. Akhirnya dia menyimpan kembali ponselnya dan tetap tersenyum karena Tama mengajaknya keluar dari mobil dan mereka pun segera masuk ke dalam mall.


Suasana di dalam cukup ramai karena akhir pekan. Tama menoleh ke sampingnya, di mana Alila berjalan tenang dengan pandangan lurus ke depan.


Tama tersenyum senang, setidaknya dia berhasil mengajak Alila pergi berdua dengannya.


Selama di dalam mall, Alila menurut saja ke mana pun Tama mengajaknya. Keluar masuk beberapa toko pakaian pria, hingga akhirnya setelah dua jam berlalu mereka sudah membawa beberapa paperbag besar berisi pakaian Tama.


"Al, sebelum pulang kita makan dulu ya." Ajak Tama.

__ADS_1


Alila hanya menganggukkan kepala walaupun sebenarnya dia belum merasa lapar.


Tama mengarahkan langkah mereka menuju sebuah restoran jepang.


"Mau makan apa, Al?" Tanya Tama sebelum pramusaji datang.


"Takoyaki saja, Tam. Aku belum terlalu lapar."


Setelah pramusaji datang, Tama langsung memesan beberapa menu termasuk pesanan Alila tadi, berikut dua buah minuman untuk mereka.


Sambil menunggu pesanan datang, Alila membuka ponselnya lagi. Tidak ada balasan pesan dari seseorang yang dia nantikan.


(Aku melarangmu merindukanku. Tapi sekarang akulah yang merindukanmu..)


"Al, bolehkah aku bertanya hal yang sedikit pribadi?"


"Apa?"


Sebenarnya Alila tidak suka membicarakan hal pribadi dengan orang lain.


"Apakah kamu mencintai seseorang?"


"Menurutmu?"


"Aku tidak tahu, Al. Karena itu aku bertanya padamu."


"Seperti yang kamu lihat, aku sendiri bukan?"


"Sendiri bukan berarti tidak mempunyai pasangan, Al."


"Sendiri juga bukan berarti kamu tidak mencintai seseorang." Lanjut Tama.


(Ya, aku memang mencintai seseorang, Tam.)


"Bagaimana denganmu sendiri, Tam?"


Tama tersenyum menatap Alila yang buru-buru memalingkan wajahnya dari pandangan Tama.


"Aku sendiri. Tapi hatiku sudah dimiliki oleh seseorang, Al."


(Dan dia sedang bersamaku saat ini.)


Minuman yang dipesan datang. Mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati minuman.


Tama menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak yakin dengan perasaannya padaku."


"Bagaimana kau akan tahu perasaannya jika kau saja tidak berusaha untuk mengetahuinya?"


"Aku tidak ingin menerima penolakan, Al. Aku takut dia akan menjauhiku."


"Seorang Tama dengan tampilan seperti ini, mengapa begitu tidak percaya diri?"


"Begitulah aku, Al." Tama tersenyum kecut.


"Jika kamu tidak yakin dengan perasaan wanita itu, mengapa kamu tidak membuka hatimu untuk seseorang yang lain?"


"Sangat sulit saat aku mencobanya, Al."


"Pernahkah kamu berpikir, mungkin saja jodohmu bukan dia, dan jodohmu yang sebenarnya masih menunggumu di luar sana?"


"Aku belum mau memikirkan kemungkinan itu, Al. Aku masih ingin menikmati perasaanku saat ini. Meskipun nantinya akan terasa sangat menyakitkan."


Tama masih terus menatap ke arah Alila. Sementara Alila tetap membuang pandangannya ke arah lain.


Makanan yang dipesan telah terhidang. Mereka makan bersama dalam keheningan. Meski perutnya tidak berselera, Alila berusaha untuk menghabiskannya dengan cepat. Dia ingin segera pulang.


"Kita pulang, Al?"


Melihat Alila telah menyelesaikan makanannya, Tama mengajaknya pulang. Alila langsung saja mengiyakan. Dan mereka pun segera meninggalkan restoran menuju area parkir mobil.


Sampai di halaman rumahnya, Alila segera bersiap untuk turun.


"Al, terima kasih untuk waktunya. Aku sangat senang hari ini kamu mau menemani aku."


Senyum Tama mengembang sempurna menyiratkan kebahagiaannya.


"Sama-sama. Terima kasih juga untuk makan siangnya. Sampai ketemu lagi nanti malam."


Alila tersenyum lalu turun dari mobil. Tama segera melajukan mobilnya keluar dari rumah Alila.

__ADS_1


(Meskipun tidak secara langsung dan kamu tidak mengetahuinya, tapi aku merasa lega karena akhirnya aku bisa mengatakan isi hatiku di hadapanmu, Al.)


Belum juga sampai ke dalam kamarnya, ponsel Alila berdering. Satu pesan masuk dan membuatnya tersenyum.


"Nanti malam aku akan menjemputmu."


"Jika bukan kamu, siapa lagi yang akan menjemputku?"


Alila membalas pesan Dimas sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Mungkin saja dia yang baru saja mengantarmu pulang."


"Jangan membahas orang lain, Dim."


(Itu kan yang selalu kamu katakan padaku, Dim.)


"Jangan melarang orang lain merindukanmu, jika dirimu saja berkali-kali memegang ponselmu karena merindukan pesan dariku, Al."


"Dari mana kamu tahu semua itu, Dim? Apa kamu tadi mengikutiku?"


"Menurutmu..?"


"Dimas...!!"


"Keluar sekarang."


(Kamu ada di luar, Dim?)


Tanpa berpikir lagi, Alila bangun dari tempat tidur dan bergegas keluar rumah.


Dilihatnya Dimas sudah berdiri di depan pintu dengan memegang ponsel dan sebuah kantong plastik kecil.


"Buruan dimakan. Keburu meleleh."


Dia mengulurkan kantong itu pada Alila.


"Es krim.."


Alila mengeluarkan satu cup besar es krim kesukaannya dari dalam plastik. Dia duduk dan segera menikmati es krimnya. Dimas masih berdiri dan tersenyum memperhatikan tingkah Alila.


Tiba-tiba Alila mengulurkan satu sendok es krim kepada Dimas.


"Kamu mau..?"


Dimas segera membungkukkan badan dan membuka mulutnya, menerima suapan es krim dari Alila, dan berulang beberapa kali setelah dirinya duduk di samping Alila.


(Hanya seperti ini saja, hatiku sudah sangat senang, Al.)


"Bagaimana kamu tahu jika tadi aku dan Tama pergi ke mall itu, Dim?"


Dimas hanya diam, sengaja tidak ingin menjawabnya.


(Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mengetahuinya, Al.)


Setelah Alila menghabiskan es krimnya, Dimas berdiri untuk pergi.


"Aku pulang, Al. Beristirahatlah dulu."


Kemudian dia berjalan masuk ke dalam mobilnya.


"Dim.."


Dimas menoleh dari dalam mobil.


"Terima kasih es krimnya. Aku tunggu nanti malam."


Alila memberinya senyuman manis yang dibalas hal yang sama oleh Dimas, sebelum mobilnya berlalu meninggalkan rumah Alila.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


Author


__ADS_2