Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
60 HANYA MILIKKU


__ADS_3

Pagi harinya, Dimas memutuskan untuk tidak masuk kerja, karena hari ini dia ingin bertemu langsung dengan dokter spesialis tulang dan mengetahui hasil rontgen Alila kemarin.


Pagi-pagi sekali dia sudah menghubungi Pak Albi atasannya untuk meminta ijin hari ini dan siap jika harus menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit. Syukurlah Pak Albi memaklumi dan memberinya ijin.


"Dim, aku tidak apa-apa kalau kamu harus masuk kerja hari ini. Ada mama juga Alano nanti yang akan menemaniku di sini." Alila mengusap lembut punggung tangan Dimas yang berada dalam genggaman tangan kanannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dimas sudah mandi dan berganti pakaian, demikian juga Alila. Tadi Alila memaksa untuk berjalan ke kamar mandi dan ingin mandi sendiri. Dia merasa tubuhnya sudah lebih kuat.


Lagi pula dia ingin belajar menggerakkan seluruh tubuhnya agar bisa mengetahui apakah masih ada bagian yang terasa sakit, karena nanti dokter tulang akan datang dan melakukan pemeriksaan padanya.


"Tidak. Aku harus bertemu dengan dokter tulang agar aku tahu pasti kondisi kesehatanmu, Al. Aku tidak mau ada info dari dokter yang terlewatkan tanpa sepengetahuanku."


Dimas menatapnya tajam sambil duduk di tepi tempat tidur. Namun sejurus kemudian lelaki itu memajukan wajahnya mendekati wajah Alila dan melepaskan ciuman hangat di atas keningnya.


Alila tersenyum dan menghela nafas pasrah. Dia tahu Dimas tidak bisa dibantah jika itu menyangkut tentang dirinya. Apa lagi saat dia sedang sakit seperti ini, Dimas akan semakin posesif terhadapnya.


"Jangan berlebihan mengkhawatirkan aku, Dim."


"Segala hal yang berhubungan denganmu akan selalu aku pikirkan dan aku khawatirkan, Al. Karena kamu adalah milikku. Aku akan selalu menjaga dan melindungi milikku dengan sebaik-baiknya."


"Aku takut akan menjadi lemah dan selalu tergantung padamu jika aku terus-menerus kamu manjakan..."


"Tidak masalah bagiku, karena kamu memang harus selalu mengandalkan aku, Al."


"Aku juga lebih suka melihatmu manja kepadaku, Al. Aku jadi merasa sangat dicintai olehmu..."


Alila menahan senyum malunya karena ucapan Dimas. Wajahnya sudah berubah memerah mendengar ucapan Dimas tentang kemanjaannya, yang sebenarnya dia tidak pernah merasa manja kepada Dimas. Justru sebaliknya, Dimaslah yang selalu memanjakannya setiap waktu.


"Aku tidak pernah manja padamu, Dim. Kamu sendiri yang selalu memanjakan aku..."


"Tapi aku ingin kamu mau bersikap manja padaku, Al."


"Contohnya?" Tanya Alila pura-pura tidak paham.


"Jangan berpura-pura tidak tahu maksudku, Al. Atau akan aku contohkan langsung padamu sekarang juga?" Dimas sudah menatapnya tajam.


Alila menggeleng pelan dengan melengkungkan bibirnya membentuk senyuman malu.


"Iya, aku mengerti. Tapi aku masih malu, Dim. Aku takut kamu terganggu dengan kemanjaanku."


"Sudah kukatakan tadi, aku sangat menyukai kemanjaanmu dan aku ingin kamu selalu manja padaku. Hanya kepadaku, Al." Dimas memberikan penegasan di akhir kalimatnya.


.


.

__ADS_1


.


Menjelang siang, dokter spesialis tulang datang ke ruangan Alila bersama dokter umum yang menanganinya didampingi seorang perawat yang membawakan berkas kesehatan pasien dan juga sebuah map coklat berukuran besar yang berisi hasil rontgen tubuh Alila.


Alila ditemani Dimas dan Mama Dian mendengarkan dengan seksama seluruh penjelasan yang disampaikan oleh dokter.


"Jadi mbak Alila, apa yang anda rasakan sekarang? Apakah masih ada yang terasa sakit?"


Dokter tulang yang kebetulan seorang perempuan paruh baya itu terlihat ramah dan berusaha akrab dengan pasiennya.


"Sudah lebih baik, dok. Tetapi saya masih merasakan sakit di bagian paha kanan saat mencoba berjalan ke kamar mandi tadi pagi. Juga lengan kanan saya masih terasa nyeri jika saya mengangkat tangan saya ke atas."


Alila mengatakan semua yang dia rasakan kepada dokter. Dia berharap tidak ada luka serius di tubuhnya kecuali rasa sakit dan nyeri yang masih dirasakannya. Karena dia ingin segera pulang dan memulihkan kondisinya di rumah saja.


"Apakah ada keluhan yang lainnya? Sakit kepala atau mual misalnya?" Tanya dokter umum yang mendampingi dokter spesialis tulang. Dia adalah seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahunan.


"Mual dan pusing sama sekali tidak ada, dok. Hanya masih nyeri di beberapa tempat yang masih memar." Jawab Alila lagi.


Dokter umum menganggukkan kepala dan menyudahi pertanyaannya. Sebelum melakukan pemeriksaan pada luka-luka Alila, dia mempersilakan dokter tulang untuk menyampaikan hasil pemeriksaan rontgen.


"Untuk hasil pemeriksaan tulang, semuanya terlihat normal dan tidak ada pergeseran sama sekali. Namun apabila di kemudian hari nanti mbak Alila merasakan keluhan seputar pergerakan tulang, mohon segera memeriksakan diri kembali dan menemui saya."


"Iya, dokter. Terima kasih." Ucap Alila dengan menganggukkan kepalanya.


Selanjutnya, karena dokter umum akan memeriksa fisik Alila termasuk bagian tubuhnya yang tertutup pakaian, Dimas pun segera beranjak meninggalkan ruangan dan membiarkan Alila ditemani oleh Mama Dian.


Di luar ruangan, Dimas duduk di bangku dan membuka beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Ada pesan dari papanya dan juga Darma. Sejak kemarin, bergantian dengan mamanya dan Indira mereka semua terus memantau kondisi kesehatan Alila melalui pesan dan panggilan telepon.


Sembari menunggu dokter dan perawat keluar dari ruangan Alila, Dimas membalas semua pesan yang masuk dan menyelesaikan urusan dengan pihak penyelenggara pernikahannya.


Tiga puluh menit kemudian, dokter umum dan perawat keluar dari ruangan Alila. Dimas yang melihatnya segera menyimpan kembali ponselnya dan menghampiri dokter untuk menanyakan hasil pemeriksaan pada Alila.


"Bagaimana, dokter?" Tanya Dimas sopan meskipun sikap dinginnya masih tetap terlihat.


"Secara keseluruhan kondisi pasien sudah pulih. Suhu tubuh, tekanan darah dan respon fisik juga normal semuanya. Hanya butuh banyak istirahat sambil menunggu untuk memulihkan luka di kening dan beberapa memar di tubuhnya."


Dimas mengerti dan merasa lega karena kondisi calon istrinya berangsur membaik tanpa luka yang lebih serius.


"Oya, tadi pasien meminta ijin untuk pulang dan beristirahat di rumah. Saya rasa tidak masalah, yang penting harus banyak istirahat dan tidak boleh beraktivitas berat dulu. Sore nanti sudah bisa diurus kepulangannya. Dan tiga hari lagi silakan kembali untuk pemeriksaan ulang."


"Baik, dokter. Saya mengerti. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


"Sama-sama."


Dokter dan perawat itu pun menganggukkan kepala dan berjalan meninggalkan Dimas yang juga segera masuk ke ruangan Alila.

__ADS_1


"Al, mengapa kamu minta pulang sekarang? Harusnya kamu istirahat dulu di sini beberapa hari lagi. Tubuhmu juga masih lemah."


Setelah menutup pintu, Dimas segera menghampiri Alila dan berdiri di sampingnya. Sementara Mama Dian tampak sedang merapikan barang-barang putri sulungnya dan memasukkan semuanya ke dalam tas pakaian Alila.


"Aku tidak suka suasana rumah sakit, Dim. Aku mau istirahat di rumah saja. Lagi pula dokter sudah mengijinkan aku pulang."


Dimas menghela nafas panjang dan akhirnya menuruti keinginan Alila untuk pulang sore nanti meski dengan berat hati.


"Baiklah, Al. Tapi kamu harus ingat dan lakukan semua pesan dari dokter tadi. Kamu harus beristirahat saja, tidak boleh melakukan kegiatan yang lain. Pulihkan dulu kondisi tubuhmu sampai benar-benar sehat dan kuat."


Dimas tidak berhenti bicara dan terus mengingatkan Alila tentang segala hal demi kesehatan calon istrinya. Hal itu justru membuat Alila tersenyum dan merasa sangat dicintai.


Mama Dian yang melihat perhatian calon menantunya itu pun ikut tersenyum menyadari betapa Dimas memang sangat mencintai Alila.


(Semoga kalian berdua selalu bahagia dan terus saling mencintai dengan penuh ketulusan seperti ini...)


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2