
Tak terasa sudah satu bulan lebih Dimas dan Alila menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia. Hari-hari mereka selalu dipenuhi kata cinta dan ungkapan cinta yang selalu mereka biasakan, agar terus tercipta kedekatan dan kehangatan dalam hubungan mereka di sepanjang waktu.
"Al, kita menginap di rumah lama ya?" Ajak Dimas di sela-sela mereka sarapan.
"Mumpung sekarang akhir pekan, kita bisa menghabiskan waktu untuk istirahat di sana." Lanjut Dimas dengan tangannya yang masih sibuk menyuapi sang istri di sampingnya.
Alila mengambil sendok dari tangan Dimas dan menyuapi suaminya. Dia sedang berpikir untuk mangatakan sesuatu, tapi masih ragu. Dan gelagatnya itu ditangkap okeh Dimas.
"Ada apa, Al?" Tatapan Dimas penuh selidik.
Alila masih diam saja. Dia menunduk mengaduk-aduk nasi yang tersisa di atas piring yang dipegang Dimas.
"Mmm..., tidak apa-apa. Aku sudah kenyang, Dim."
Dimas mengambil kembali sendok dari tangan Alila, lalu bersama dengan piringnya dia letakkan di atas meja makan.
Kedua tangannya terulur memegang tangan kiri dan kanan Alila di atas pangkuannya.
"Al..."
Alila tetap menunduk dan tidak berani menatap wajah suaminya. Ada rasa bersalah yang begitu besar menyelimuti hatinya. Dia ingin mengakuinya tetapi dia takut itu akan menyakiti perasaan Dimas.
Dimas menghela nafasnya sedikit kasar. Dia sangat khawatir pada istrinya sekaligus marah karena Alila tidak mau berterus terang kepadanya.
Dilepaskannya tangan Alila lalu dia menangkup lembut wajah sang istri dengan kedua tangannya. Alila masih berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya tetapi Dimas segera mengangkat wajahnya sehingga mereka beradu pandang.
"Katakan sekarang, Al." Suara Dimas meninggi bukan karena marah, tetapi karena sangat mencemaskan istrinya yang hanya diam sejak tadi.
Dia tahu ada hal yang disembunyikan Alila saat ini tapi dia belum tahu apa itu. Dan Dimas sudah tak sabar lagi untuk mengetahuinya.
Sejurus kemudian Alila memejamkan matanya, menahan air mata yang sudah hampir menetes.
"A-Aku sakit, Dim..."
Pertahanan Alila roboh, akhirnya dia menumpahkan tangisannya di pelukan Dimas yang masih belum memahami jawaban singkat istrinya. Dia hanya bisa mengusap lembut punggung Alila untuk menenangkannya. Dia membiarkan Alila menangis sepuasnya.
(Sakit? Kamu sakit apa, Al? Jangan membuatku takut..)
Setelah Alila mulai tenang dan tak lagi terisak, Dimas menggendong tubuhnya dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga. Dimas duduk di samping istrinya, memutar tubuhnya menghadap Alila dan terus menggenggam kedua tangannya.
"Sekarang ceritakan padaku, Al. Apa yang sebenarnya terjadi?" Satu ciuman hangat di kening Alila membuat wanita itu menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Aku minta maaf, Dim. Kemarin siang, setelah kamu mengantarkan aku kembali ke kantor, aku pergi sendiri ke rumah sakit."
"Al, kamu...." Satu tangan Alila terangkat menutupi bibir Dimas, memberi tanda supaya suaminya tidak melanjutkan kalimat keingintahuannya.
Dimas menurut. Dia menahan untuk tidak bertanya lagi meskipun hatinya semakin gusar dan tak sabar lagi.
"Ada sejenis tumor di organ reproduksiku, yang membuat aku akhir-akhir ini merasakan sakit yang luar biasa di perut bagian bawahku..."
Ucapan Alila terputus oleh suara Dimas yang cukup keras karena terkejut bercampur panik seketika.
"Tumor...??" Dan Alila mengangguk lemah.
__ADS_1
"Kista. Ada kista besar di indung telurku..." Tangisnya pun pecah kembali.
Tubuhnya melemah dan jatuh di pelukan Dimas yang terdorong hingga bersandar ke belakang. Dimas mendekap Alila dengan erat. Sangat erat.
Dadanya terasa sangat sesak dan bergemuruh, ingin meledak namun seakan tertahan oleh sesuatu yang berat dan tak bisa ditepisnya. Hatinya bergetar hebat karena ketakutan yang begitu besar menyeruak memenuhi relungnya.
Tak ayal, airmatanya luruh. Mengalir perlahan, setetes demi setetes membasahi kedua pipinya.
"Mengapa, Al? Mengapa tidak kau katakan dari awal? Mengapa kamu menahan sakitmu sendirian dan menyembunyikannya dariku?" Pertanyaan beruntun keluar dari bibir Dimas dengan wajah penuh kesedihan.
Alila tak menjawab. Tangisan masih menguasai emosinya saat ini. Menangis, hanya itu yang ingin dipuaskannya, setelah beberapa hari kemarin menahannya dalam hati.
Dimas menghapus airmatanya dengan kasar, tak ingin terlihat lemah di saat istrinya butuh lebih banyak kekuatan untuk menghalau ketakutannya.
"Jangan pernah bersikap seperti ini lagi, Al. Jangan membebani dirimu sendiri. Sekarang kamu adalah istriku, aku adalah suamimu, imam hidupmu. Kamu adalah tanggung jawabku, Al. Akulah rumahmu, tempatmu pulang dan berbagi semua cerita. Akulah bahumu, tempatmu bersandar dan melepas segala masalah."
Mendengar kata-kata suaminya, Alila semakin terisak dan merasa bersalah. Tak seharusnya dia menyembunyikan kenyataan ini dari Dimas yang sudah menjadi suaminya.
"Maafkan aku, Dim. Aku hanya takut akan membuatmu sedih dan kecewa. Aku takut..., aku takut nantinya tak bisa membahagiakanmu lagi karena aku tidak bisa memberimu an....."
"Ssttt...!!!" Suara keras Dimas menghentikan ucapan Alila. Satu jari telunjuk lelaki itu menempel di tengah bibir manis istrinya.
"Jangan pernah mengucapkan sesuatu yang belum pasti terjadi, Al!"
Masih berusaha mengatur nafasnya yang tersedu, Alila menganggukkan kepala. Dihelanya nafas panjang agar hatinya kembali tenang.
Dimas mengalihkan tatapannya ke bawah, ke bagian perut Alila. Perut itu terlihat rata, sama sekali tidak tampak adanya kelainan dalam pandangan mata awamnya.
Pelan, sangat pelan dia menyentuh perut itu, di bagian bawah, seperti yang dikatakan istrinya tadi. Entah mengapa hatinya berdesir perih seketika membayangkan sesuatu yang menyakitkan ada di dalam sana, di dalam perut wanita kesayangannya.
Alila mengangguk pelan seraya menyatukan tangannya di atas tangan suaminya yang bergerak lambat mengelus halus perutnya.
"Sakitnya timbul tenggelam. Tidak selalu terasa tetapi sering juga menyerang tiba-tiba..."
"Ceritakan padaku semuanya, Al." Pinta Dimas.
.
.
.
Satu minggu sebelumnya, Alila terbangun dengan rasa pusing yang mendera kepalanya. Dia melihat suaminya masih terlelap setelah penyatuan mereka semalam.
(Ada apa denganku? Tak biasanya aku merasakan sakit kepala seperti ini..)
Perlahan Alila menarik kepalanya dari atas dada Dimas lalu melepaskan pelukan tangannya yang melingkari perut sang suami.
"I love you, Dim."
Dia mencium kening Dimas sebelum menggeser tubuhnya turun dari tempat tidur.
Setelah mengenakan pakaiannya, Alila berjalan menuju kamar mandi. Namun begitu sampai di dalam, perutnya terasa sangat mual dan ingin memuntahkan sesuatu.
__ADS_1
"Huekk..., hueekk.., aahhh..." Tubuhnya lemas seketika hingga kakinya tak kuat lagi menumpu tubuhnya sendiri. Dia melorot jongkok dan bersandar pada dinding kamar mandi.
Terdiam beberapa saat, Alila memejamkan mata menghalau rasa sakit di kepalanya dan memulihkan kekuatannya. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu yang membuatnya berpikir ulang tentang sakit yang dirasanya.
(Tapi mungkinkah secepat ini..??)
Setelah merasa lebih kuat, dia segera mandi dan bersuci, lalu keluar dari kamar mandi untuk membangunkan Dimas.
Beberapa langkah sebelum sampai di tepi tempat tidur, Alila berhenti dan mencengkeram perutnya saat merasakan nyeri yang begitu menusuk di perut bagian bawahnya.
(Aaahh.., mengapa bisa sesakit ini. Perutku sakit sekali...)
Wanita itu menggigit bibirnya untuk menahan kesakitannya agar tak sampai mengeluarkan suara.
(Sudah lewat beberapa hari dari masa haidku yang seharusnya. Aku dan Dimas menikah dua minggu setelah haidku bulan lalu, yang berarti saat itu aku sedang memasuki masa suburku. Apakah ini tanda-tandanya..?)
Begitu rasa sakitnya mereda, Alila mendekati Dimas dan membangunkannya. Tak butuh waktu lama, Dimas sudah bangun dan mengambil ciuman awal harinya dari sang istri.
"Selamat pagi, sayangku..."
Dimas mencium kening Alila lalu segera berpakaian dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Alila mulai mengabaikan rasa sakit yang tidak pasti datangnya itu. Dia memilih untuk lebih fokus pada pekerjaannya di kantor dan pada suaminya yang harus dia layani dengan baik setiap hari.
Beberapa hari dilaluinya dengan rasa sakit serupa yang datang tak menentu waktunya. Dan setiap hari pula dia selalu menyembunyikannya dari Dimas. Dirinya berharap lambat-laun rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya.
Sampai pada akhirnya, siang kemarin dia kembali diserang rasa sakit yang teramat sangat di perut bagian bawahnya, jauh lebih sakit dari hari-hari sebelumnya. Kali ini Alila sungguh tak bisa menahannya lagi hingga dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit seorang diri.
(Mengapa setiap hari rasa sakitnya kian bertambah? Haruskah aku memberitahu Dimas sekarang?)
.
.
.
🙏Ucapan Terima Kasih🙏
Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.