Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
08 HARUS BERPISAH


__ADS_3

Dua hari berikutnya, Dimas membawa Alila pergi ke sebuah pantai di ujung kota. Mereka berangkat sore hari agar bisa menikmati indahnya langit senja saat mentari mulai tenggelam kembali ke peraduannya.


Sepanjang perjalanan, Dimas tampak lebih banyak diam dengan raut wajah tidak tenang.


"Dim..."


"Ya?"


Dimas masih fokus menatap jalan raya di hadapannya.


"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"


"Hanya kamu yang kupikirkan saat ini, Al."


(Entah bagaimana aku akan mengatakannya nanti, Al..)


"Benarkah? Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku, Dim.."


Alila masih terus menatap Dimas dengan lekat.


Dimas tetap membisu. Dia hanya ingin segera sampai ke tujuan dan menikmati kebersamaannya dengan Alila.


Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di lokasi. Hembusan angin laut langsung terasa begitu mereka menapakkan kaki di hamparan pasir pantai.


Pantai ini masih terbilang baru dan murni, belum tersentuh investor wisata sama sekali. Belum banyak pengunjung yang datang, kecuali saat akhir pekan.


Seperti saat ini, hanya beberapa orang yang tampak bermain di pantai, sebagian lagi duduk di tepi pantai yang posisinya sedikit meninggi.


"Al, kamu mau ke air?"


Alila menggelengkan kepalanya.


"Di sini saja, Dim. Anginnya sejuk sekali."


Dimas melihat ke arah Alila yang berdiri di sampingnya dengan mata menatap jauh ke lautan di depan mereka. Angin yang cukup kencang sore itu membuat rambut Alila terurai acak ke mana-mana karena sapuan angin.


Tangan Dimas terulur meraih wajah Alila dan merapikan rambut-rambut yang menutupi paras cantik itu. Pandangan Alila seketika berpindah menatap wajah Dimas. Mata bertemu mata.


Jantungnya berdentum keras dan cepat saat tangannya merasakan sentuhan tangan Dimas di bawah sana. Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya, terutama di dalam dadanya. Dimas menggenggam tangannya.


"Kamu senang, Al?"


"Sangat senang. Terima kasih sudah mengajakku ke sini, Dim."


(Apalagi hanya berdua denganmu seperti ini...)


Dimas tersenyum. Selama ini dia jarang sekali tersenyum. Tapi semenjak hatinya mulai terpikat pada Alila, senyum itu semakin sering tampak menghiasi wajahnya.


Dimas menarik tangan Alila mengajaknya duduk di atas pasir, tanpa melepaskan genggamannya. Dia memangku genggaman tangan mereka di atas kakinya yang bersila.

__ADS_1


"Al, jika aku harus pergi meninggalkanmu, apakah kamu masih mau menungguku kembali?"


Alila mengunci pandangannya ke arah Dimas. Dia tidak mengerti maksud dari kata-kata Dimas.


"Jangan bicara seperti itu, Dim."


"Lamaran kerjaku diterima, Al."


"Benarkah? Selamat ya Dim, akhirnya impianmu tercapai, ingin bekerja di perusahaan telekomunikasi terbesar itu."


Wajah Alila berbinar dan melemparkan senyuman manis ke arah Dimas.


"Tapi aku harus pergi, Al..."


Jantung Alila serasa berhenti berdetak begitu mendengar ucapan Dimas. Senyum menghilang begitu saja, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Pergi? Apa maksudmu?"


Dimas menatap Alila dengan tatapan sendu. Hatinya berat untuk mengungkapkan ini. Tapi dia tidak punya banyak waktu lagi.


"Aku diterima, Al. Tapi aku harus mengikuti pelatihan di kantor pusat selama tiga bulan penuh. Tanpa ijin keluar dan komunikasi sekalipun. "


Tiga bulan? Alila masih menatap Dimas dengan sorot mata yang telah berubah sayu.


"Selama itu? Di mana?"


"Bandung."


Tiga bulan. Apakah dia sanggup berpisah dengan Dimas selama itu? Selama empat tahun ini, selama-lamanya mereka tidak bertemu hanya tiga hari, itu pun setiap hari mereka masih bisa berkomunikasi.


Dan sekarang, tiga bulan lamanya tanpa sua dan sapa? Apakah dia bisa menahan perpisahan dengan Dimas selama itu? Tanpa sadar, wajahnya telah basah oleh air mata. Dia mulai terisak.


"Al..."


Dimas tidak tahan melihat air mata itu. Tapi dia juga tidak bisa mencegah Alila untuk tidak menangis. Mungkin dengan menumpahkan tangisannya, dia bisa melepaskan semua perasaannya saat ini.


Dimas melepaskan genggaman tangannya. Tangannya beralih ke atas, merengkuh tubuh Alila ke dalam pelukannya. Seketika itu pula Alila menangis di atas dada lelaki yang sangat dicintainya. Dimas hanya diam, membiarkan Alila melepaskan semua ganjalan di hatinya.


Perasaannya sendiri bercampur-aduk tak karuan. Bahagia bercampur tegang karena ini pertama kalinya dia memeluk seorang wanita dan dia adalah seseorang yang telah membuatnya jatuh hati. Sementara di sisi lain, dirinya juga sedih mengingat sebentar lagi dia harus meninggalkan Alila dalam waktu yang cukup lama.


Dimas menundukkan kepala, melihat Alila yang masih terisak. Hatinya tiba-tiba bergetar lagi saat menatap wajah sedih dalam pelukannya itu. Ada debar-debar tak menentu yang memenuhi rongga dadanya.


"Al, berhentilah menangis."


Masih dalam pelukan Dimas, Alila menengadahkan kepalanya menatap lelaki itu.


"Apa kamu tidak merasa sedih, Dim?"


"Jika aku sedih, apa aku harus menangis sepertimu juga?"

__ADS_1


"Bukan seperti itu maksudku. Maafkan aku.."


Alila menyeka air matanya dan menarik tubuhnya dari pelukan Dimas. Sekarang mereka duduk bersama menatap senja yang mulai datang.


Mereka sama-sama melipat kaki ke atas hingga kedua lutut sejajar dada. Kedua tangan Alila dilipat di atas kedua lututnya, sedangkan Dimas mengalungkan tangan ke depan dengan tumpuan kedua lututnya.


"Dim, kapan kamu berangkat?"


"Tiga hari lagi."


Alila menahan nafasnya agar tak menangis lagi. Dia mencoba tersenyum, meski getir.


"Kamu akan menungguku, Al?"


"Sama seperti kita menunggu senja datang, aku juga akan menanti dirimu kembali, Dim."


"Terima kasih, Al."


"Sama-sama, Dim."


Mereka berdua melepaskan pandangan ke laut lepas. Menikmati langit senja berwarna lembayung mengiringi matahari yang telah berubah jingga, turun perlahan sedikit demi sedikit tenggelam di ujung cakrawala.


Saat senja telah sempurna, Dimas dan Alila melangkahkan kaki kembali ke mobil. Sejenak mereka melepas lelah di sebuah kedai, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.


Di tengah perjalanan, Alila telah tertidur pulas. Sesekali Dimas melihat ke arah Putri Tidur kesayangannya. Dia tersenyum menatap wajah Alila. Dia akan sangat merindukan wajah itu. Wajah yang selalu membuatnya tersenyum. Wajah yang selalu menenangkan hatinya. Wajah dari wanita sang pemilik hatinya.


Mobil Dimas sudah sampai di halaman rumah Alila. Dia mematikan mesin mobilnya. Dilihatnya Alila masih tampak lelap. Dia mendekatkan tubuhnya tepat di sisi Alila. Dia menatap Alila dengan pandangan teduh penuh kasih.


Dia mulai berucap dengan lirih pada Alila yang terlelap.


"Terima kasih Al, atas kesempatanmu untukku. Maaf jika aku harus meninggalkanmu di saat kita baru saja memulainya. Aku sangat berharap, di saat aku kembali nanti, aku sudah menemukan jawaban yang kucari selama ini. Semoga di saat itu, aku sudah mengetahui kebenaran akan perasaanku padamu, Al."


Tanpa Dimas ketahui, Alila telah mendengarkan semuanya. Ya, saat mobil Dimas berhenti tadi, sesungguhnya Alila sudah terbangun, namun masih merasa berat untuk membuka matanya. Di saat itulah, Dimas mulai berbicara sehingga tanpa sengaja Alila ikut mendengarkannya.


Di dalam hatinya, Alila tersenyum. Dia bahagia mengetahui isi hati Dimas yang sebenarnya.


(Aku akan menunggumu, Dim. Aku akan selalu menunggumu mengutarakan perasaanmu kepadaku.)


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami..


Author


__ADS_2