Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
24 SUDAH DEWASA


__ADS_3

Darma mengamati tingkah adiknya yang terus mencuri pandang ke arah Alila. Sementara Alila yang masih sedikit gugup, hanya menunduk dan memainkan jemari tangannya.


Di saat itulah Darma menyadari dan memperhatikan sebuah benda kecil yang melingkar di jari manis Alila. Dia melirik ke arah Dimas yang duduk di seberangnya, lalu tersenyum penuh akal.


"Ma, sepertinya anak bungsu Mama benar-benar sudah dewasa.."


Darma mulai menggoda adiknya melalui sang mama.


"Hhmm.., benarkah? Ya, sekarang Mama merasa punya saingan untuk dicintai oleh adikmu.."


Mama melihat Dimas dan Alila yang masih diam secara bergantian.


Dalam hatinya, ibu kandung Dimas itu merasa bahagia karena Dimas yang berkarakter dingin dan pendiam tersebut telah menambatkan hatinya pada sosok wanita pujaannya.


Dimas menoleh ke arah Alila karena tahu wanita itu pasti semakin merasa tidak tenang karena godaan dan candaan keluarganya.


"Kamu tidak apa-apa, Al? Maaf kalau keluargaku membuatmu merasa tidak nyaman di sini." Ucap Dimas lirih dengan mendekatkan tubuhnya ke arah Alila.


"Aku tidak apa-apa, Dim." Jawab Alila tak kalah lirihnya dan mencoba menampakkan senyumnya meski dadanya semakin berdebar-debar.


Tanpa mempedulikan yang lain, Dimas yang duduk di sebelah kiri Alila meraih tangan kiri kekasihnya dan mengusapnya dengan lembut. Dia menatap Alila dengan penuh cinta.


Kemudian Dimas menatap tajam ke arah kakaknya karena merasa diintimidasi dan jadi bahan pembahasan. Darma yang ditatap seperti itu malah tertawa melihat tingkah adiknya. Apalagi melihat Dimas yang berani memegang tangan kekasihnya di hadapan mereka semua.


"Lihatlah, Pa. Dia bahkan sudah berani memegang tangan Alila di hadapan kita tanpa rasa malu."


Papa mengalihkan pandangannya ke arah Dimas dan Alila. Beliau tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang terlihat malu-malu. Seperti halnya Darma, perhatian papa Dimas juga terhenti pada cincin yang dipakai Alila.


"Ma, lihatlah si bungsumu itu, dia sungguh menuruni sifatku. Tanpa banyak kata-kata dia sudah membuktikan perasaannya dan berani mengikat hubungan mereka dengan sebuah cincin."


Sontak Alila menarik tangannya dan semakin menunduk malu. Dimas yang melihatnya pun segera menjauhkan tangannya dari pangkuan Alila.


"Alila, dimaklumi saja ya, Nak. Keluarga kami memang seperti ini, jarang bisa serius dan lebih senang bercanda untuk membahas apapun. Jangan sungkan dan jangan dimasukkan ke hati."


Mama mengerti perasaan Alila yang baru pertama kali berkumpul dengan seluruh keluarga Dimas, tapi sudah harus dihujani dengan banyak pembahasan tentang hubungannya dengan si bungsu.


Alila tidak berani berucap sepatah katapun. Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala untuk mengiyakan perkataan mama Dimas.

__ADS_1


"Baiklah, biarkan mereka para pria ini melanjutkan obrolan mereka. Kita berbicara di dalam saja bersama Indira. Sekalian bersiap-siap dan membereskan barang bawaan kami."


Mama berdiri dan mulai melangkah meninggalkan ruang tengah. Beliau berhenti sejenak untuk menunggu Alila.


Pandangan Alila beralih kepada Dimas. Dia menunggu Dimas yang masih memperhatikan mamanya. Tak berapa lama kemudian dia menoleh ke arah Alila yang menantinya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepala, memberi waktu pada kekasihnya untuk berbicara dengan mama dan kakak iparnya di dalam.


Alila membalas senyuman Dimas, lalu berdiri dan berjalan mengikuti langkah mama Dimas.


Mereka sampai di kamar lama Darma. Terlihat baby Sekar masih tidur dengan nyenyak di tengah tempat tidur, sementara Indira sedang memasukkan pakaian miliknya dan Darma ke dalam koper. Di atas meja terdapat tas milik baby Sekar yang berisi baju lengkap beserta perlengkapan mandi dan mainannya.


Mama Dimas duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan cucunya. Alila mengikutinya dan duduk di tepi ranjang di sisi yang lain. Sementara Indira masih menyelesaikan kesibukannya.


"Alila, sudah berapa lama hubungan kalian berubah menjadi seperti sekarang ini?" Tanya mama Dimas dengan suara lembutnya dan tatapan hangat keibuan.


"Belum lama, Tante. Setelah kami lulus kuliah kemarin."


"Tapi kalian sudah bersahabat dekat sejak dulu. Jadi sudah saling mengenal diri kalian dengan baik satu sama lain."


"Iya."


"Bagaimana rasanya, Al? Dari sahabat kemudian kalian mempunyai hubungan yang lebih serius seperti sekarang?"


"Biasa saja, kak. Tidak banyak yang berubah kok."


"Apakah Dimas sudah menyatakan perasaannya padamu?"


"Iya, kak. Sudah."


Alila merasa bagai berada di sebuah ruangan pesakitan dan tengah diinterograsi dengan cecaran pertanyaan yang mengintimidasi tentang hubungannya dengan Dimas.


Di saat Indira kembali sibuk dengan barang-barang bawaannya, mama mertuanya memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Alila. Dia tersenyum menyadari bahwa putra bungsunya ternyata sudah dewasa dan berani bersikap layaknya lelaki sejati.


Alila sesekali memainkan jari-jari mungil baby Sekar yang masih terlelap, sehingga posisi duduknya saat itu sedikit miring ke tengah tempat tidur dengan bertumpu pada tangan kirinya. Dengan posisi tersebut cincin yang baru saja disematkan Dimas di jari manisnya itu terlihat sangat jelas oleh mama Dimas dan sang menantu.


"Cincin itu. Apakah benar Dimas yang memberikannya?"


Mama mencari kepastian, takut pemikirannya salah. Karena selama ini Dimas tidak pernah membicarakan Alila atau perempuan lain, apalagi memberitahukan tentang hubungan seriusnya dengan seseorang.

__ADS_1


Sesaat Alila menatap cincin tanda cinta dari Dimas. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum bahagia. Rona wajahnya sudah berubah memerah menahan rasa malu karena tengah diperhatikan oleh mama Dimas dan Indira.


"Iya, ini cincin dari Dimas."


"Hmm.., ternyata benar, anak itu sudah dewasa. Sebentar lagi mungkin akan segera menyusul Darma."


Mama bergumam disertai senyuman sarat arti. Memorinya melayang mengingat masa kecil Dimas yang pendiam, berbanding terbalik dengan Darma kakaknya yang terbuka, ceria dan jahil. Dimas kecil lebih senang menyendiri dan menyibukkan diri dengan buku pelajarannya.


Tak terasa, kini Dimas kecilnya sudah berubah menjadi lelaki dewasa yang mulai mengenal cinta. Bahkan hatinya pun telah tertambat pada seorang wanita cantik yang tak lain adalah sahabat dekatnya sendiri.


"Mama menangis..?"


Indira mendapati air mata menetes di pipi mama mertuanya. Alila langsung memutar pandangannya ke arah mama Dimas. Mendadak hatinya tersentuh begitu dirinya melihat air mata itu.


Alila menggeser tubuhnya mendekat ke samping mama Dimas. Entah dorongan dari mana, tangannya bergerak menyentuh tangan perempuan yang mulai berumur itu dengan lembut.


"Tante..." Alila tidak tahu harus berucap apa.


"Tidak apa-apa, Alila. Tadi mama hanya teringat masa kecil Dimas. Tidak terasa sekarang dia sudah dewasa bahkan sudah bisa mencintai seorang wanita sepertimu.."


Indira yang menyaksikannya tersenyum. Dia sudah tahu, mama mertuanya pasti tengah terharu memikirkan anak bungsunya yang sudah menjadi dewasa.


Tangan Alila terasa gemetar manakala dengan tiba-tiba dipegang dan digenggam oleh mama Dimas. Hatinya terasa hangat, ada rasa haru bercampur tenang yang menyelimuti dirinya.


"Alila, mama titip Dimas ya."


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami..


Author


__ADS_2