Menanti Cinta Untukku

Menanti Cinta Untukku
15 LUPAKAN AKU


__ADS_3

"Kenapa terburu-buru, mbak? Siapa lelaki tadi?"


Alano tadi sempat melihat kakaknya yang terburu-buru keluar dari lobby dan seorang lelaki di belakang Alila berusaha untuk mengejar dan menghampiri kakaknya.


"Bukan siapa-siapa." Alila malas untuk membahasnya.


"Apa dia mengganggumu, mbak?" Selidik Alano tak percaya begitu saja dengan balasan kakaknya.


"Aku masih bisa mengatasinya, Lan. Lagipula di kantor selalu ramai. Tidak akan terjadi hal yang buruk padaku."


"Tapi mbak Al menghindarinya. Berarti mbak tidak suka didekati sama dia kan? Bagaimana kalau setiap hari dia masih terus mendekatimu, mbak?"


"Sudah! Jangan bicarakan dia lagi, Lan. Aku tidak apa-apa dan tidak akan kenapa-kenapa."


Alila meminta adiknya untuk menyudahi pembicaraan tentang Dika. Dia tidak mau suasana hatinya menjadi buruk hanya karena membahas orang yang tidak penting baginya.


"Tapi kalau kamu masih mau mengantar-jemput aku setiap hari, tolong jemput aku lebih awal. Jangan sampai aku menunggumu dulu seperti tadi."


"Siappp, bosku yang cantik. Yang penting jangan lupa bonus traktirannya, oke!"


Alano melihat kakaknya dengan pandangan usilnya.


"Hah? Aku tidak pernah memintamu untuk mengantar-jemput aku. Kenapa aku harus mentraktirmu?!" Bantah Alila.


"Tapi aku yang minta, mbak. Aku meminta traktiran dari kakakku yang sudah bekerja ini."


"Dasar tukang palak.." Seru Alila.


Alano tertawa menatap kakaknya yang semakin kesal dengan tingkahnya.


.


.


.


Hari-hari berikutnya, selama satu minggu Dika masih terus berusaha mendekati Alila setiap jam istirahat dan waktu pulang sore harinya.


Alila pun tetap berusaha mennghindarinya dengan cara yang halus, karena dia tidak mau teman-temannya tahu tentang hubungannya dengan Dika yang tidak baik sejak masa kuliah dulu.


Apalagi Olla yang jelas-jelas menunjukkan rasa sukanya pada Dika. Alila tidak ingin pertemanannya dengan Olla yang berawal sangat baik akan menjadi renggang jika Olla tahu bahwa Dika justru masih mengejar cintanya.


Siang ini mereka bertiga kembali makan siang bersama di kantin bawah.


"La, bagaimana hubunganmu dengan Dika selama ini? Sepertinya kalian memang sudah dekat sejak dulu ya?"


Nadia menanyakan pada Olla secara terus terang. Dia menangkap ada sesuatu yang rumit dalam hubungan Olla dan Dika. Mereka dekat dan sering berbincang sangat akrab, tapi baginya seperti ada jarak yang membatasi mereka berdua.


"Kami sudah bersahabat sejak SMA dulu. Lalu ayahku dan ayah Dika menjodohkan kami berdua."


Alila dan Nadia terkejut dengan pengakuan Olla. Mereka saling berpandangan tidak percaya.


"Haah..! Tidak usah kaget begitu. Kami baru dijodohkan. Belum akan menikah."

__ADS_1


"Tapi aku bisa melihat di matamu, jika kamu sangat mencintai Dika, La.."


Nadia berterus terang akan pemikirannya tentang Olla.


Olla tersenyum mendengar pernyataan Nadia.


"Aku memang tidak pernah bisa menyembunyikannya. Bahkan kalian yang belum lama mengenalku pun dengan mudah mengetahuinya."


"Bagaimana dengan Dika? Sepertinya dia juga menyukaimu.."


Nadia masih tertarik dengan kisah Olla dan Dika.


"Dia juga menyayangiku. Tapi belum mencintaiku."


Mendengar ucapan Olla, Alila langsung teringat pada Dimas. Ucapan Olla seolah menyadarkannya bahwa Dimas juga menyayanginya, tapi dia pun belum mengucapkan kata cinta untuknya.


Mendadak dadanya terasa sesak dan memanas. Bukan karena Dimas belum menyatakan cintanya. Tapi karena tiba-tiba dia amat sangat merindukan lelaki itu.


(Semakin lama kerinduanku ini semakin memuncak, Dim. Aku sungguh sangat merindukanmu.)


Olla melanjutkan ceritanya tentang Dika.


"Dika pernah bilang padaku, dia mencintai wanita lain. Dia masih menunggu wanita itu. Dia memintaku untuk tidak menunggunya. Tapi dia tidak memintaku untuk melupakannya."


"Apakah Dika tahu jika kamu mencintainya?" Tanya Nadia lagi.


"Aku sering menyatakan rasa cintaku padanya. Dia tidak menerimanya, juga tidak menolaknya. Dan aku selalu mengatakan padanya bahwa aku akan tetap menunggunya sampai dia yakin untuk menerimaku."


Olla menceritakan semuanya tanpa beban. Sedikitpun tak ada raut sedih di wajahnya. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan situasinya yang demikian itu.


.


.


.


Sore harinya, saat semua karyawan keluar dari ruangannya dan bergegas pulang, Alila dan kedua temannya pun turut dalam keramaian tersebut.


Seperti biasa di lobby mereka berpisah. Olla dan Nadia pamit lebih dulu karena mereka bersama-sama, Olla akan mengantar Nadia pulang.


Setelah mobil Olla terlihat keluar menuju jalan raya, Alila segera menghampiri mobil Alano yang baru saja tiba tak jauh dari pintu utama. Baru saja dia hendak membuka pintu, Dika datang dan sudah berdiri mencegahnya.


"Al, aku ingin bicara denganmu. Sebentar saja, Al."


Alila menghindari pandangan Dika. Sesaat dia teringat akan cerita Olla tadi siang. Tentang perjodohan mereka dan rasa cintanya yang dalam untuk Dika.


Olla berhak mendapatkan kesempatan dari Dika. Lebih dari itu, dia juga berhak mendapatkan cinta Dika, karena hubungan mereka yang sudah terjalin baik dari awal dulu.


Alila menghela nafas panjang sebelum mengambil tindakan. Dia membuka sedikit pintu mobilnya lalu memasukkan kepalanya ke dalam untuk bicara dengan adiknya.


"Lan, tunggu sebentar di sini, di dalam mobil saja! Jangan keluar dan jangan perlihatkan wajahmu padanya! Aku akan bicara dengannya sebentar." Bisik Alila di dalam mobil.


"Kamu nggak apa-apa, mbak?" Tanya Alano memastikan lagi.

__ADS_1


"Tenanglah, aku cuma ingin menyudahi masalah kami."


Alila segera menutup pintu tanpa Dika bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.


"Baiklah. Ayo kita bicara. Tapi maaf, waktuku tidak banyak."


Alila berjalan menepi ke sisi luar gedung yang teduh diikuti Dika yang merasa senang karena Alila mau menuruti ajakannya.


Sementara Alano terus mengawasi mereka dari dalam mobil. Dia juga memegang ponselnya tanpa mengalihkan pandangannya dari sang kakak di luar sana.


"Al, aku masih mencintaimu. Aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku padamu. Aku tidak main-main, Al."


Dika terus menatap Alila dengan pandangan sayu penuh cinta. Tapi Alila tidak mengetahuinya karena dia enggan untuk menatapnya sama sekali.


"Aku juga tidak main-main saat dulu aku menolakmu. Tolong lupakan aku dan buka hatimu untuk wanita lain. Wanita yang mencintaimu, yang tulus mau menerima kamu. Wanita yang mungkin saja dia adalah jodoh yang selama ini kamu abaikan hanya karena kamu terus menggangguku."


Alila berterus terang pada Dika. Dia menutup semua kemungkinan untuk Dika. Dari awal dulu dia memang sudah melakukannya dan sekarang ditambah lagi dia mengetahui perasaan Olla pada Dika, membuat dia semakin tegas menolak Dika agar ke depannya lelaki itu tidak lagi mengharapkannya.


"Tapi, Al. Aku tidak bisa melupakanmu begitu saja. Apalagi sampai saat ini kamu masih sendiri, Al. Bukankah aku masih punya kesempatan? Lalu mengapa aku harus mundur sekarang..??"


Alila benar-benar semakin jengah dengan Dika yang sangat keras kepala.


"Aku sendiri ataupun tidak, itu tidak akan merubah keputusanku. Tolong berhentilah membuang waktumu hanya untuk menggangguku. Jujur saja, aku merasa tidak nyaman karenanya!"


Alila semakin menegaskan keputusannya. Dia pun sudah lelah bila harus menghindari Dika terus-menerus, apalagi sekarang mereka selalu bertemu setiap hari. Seharusnya sudah dari dulu dia mengulangi ketegasannya ini.


"Aku katakan padamu, aku sudah menutup hatiku. Tidak ada kesempatan untukmu. Jadi mulai sekarang, berhentilah mengejarku."


Dika menahan emosi yang meletup-letup di dadanya. Dia mengusap kasar wajahnya berkali-kali.


"Aku tidak membencimu. Kita masih bisa berteman sebagaimana yang lainnya. Tapi tolong, singkirkan dulu semua perasaan yang kamu miliki selama ini."


Alila merasa sudah waktunya menyudahi pembicaraan mereka. Tanpa permisi dia meninggalkan Dika yang masih terdiam dan bergulat dengan perasaannya sendiri.


Alila masuk ke dalam mobil disambut dengan tatapan sarat pertanyaan dari Alano. Dia tidak menggubrisnya, hanya duduk dan menatap lurus ke depan.


"Aku tidak apa-apa. Kita pulang sekarang. Dan jangan ada pertanyaan sama sekali. Titik."


Hanya itu yang Alila katakan. Alano pun mengerti. Dia diam dan hanya melajukan mobilnya tanpa sepatah katapun.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


Author


__ADS_2