
Dimas tidak lama-lama mengajak Alila pergi karena khawatir istrinya akan kelelahan. Dia hanya tak ingin Alila bosan karena sudah hampir satu minggu ini berada di rumah sakit dan berlanjut istirahat di rumah saja.
Karenanya di saat mereka keluar untuk pergi ke rumah sakit, Dimas sekaligus mengajak istrinya berkeliling kota dan makan siang di luar rumah.
Setelah selesai makan siang di restoran alam dan menikmati udara segar serta pemandangan indah di sungai wisata, Dimas dan Alila pulang ke rumah. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju keluar restoran.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti sejenak ketika melihat sepasang kekasih yang duduk di sebuah gazebo, membelakangi jalan yang mereka lewati. Meskipun hanya terlihat dari belakang tetapi Dimas dan Alila bisa dengan mudah mengenali kedua orang tersebut.
"Dim, itu kan....." Ucap Alila lirih.
"Ssttt..., iya aku tahu...." Dimas menjawab sama lirihnya agar tidak sampai diketahui oleh kedua orang yang tengah mereka perhatikan itu.
Jarak antara jalan arah keluar dengan gazebo itu sekitar lima meter lebih dan dipisahkan oleh taman kecil yang memanjang dengan tanaman setinggi pinggang mereka.
Kebetulan suasana restoran memang mulai sepi pengunjung karena sudah melewati waktu makan siang. Hanya terdapat beberapa gazebo yang masih terisi, termasuk gazebo yang sekarang sedang mereka lihat dari kejauhan.
"Biarkan saja, ayo kita pulang..."
Dimas menarik tangan istrinya tetapi ditahan oleh Alila yang menutup mulutnya dengan mata melebar, masih ke arah yang sama. Pandangan Dimas mengikuti arah mata Alila dan dia terdiam melihat apa yang sudah lebih dulu dilihat oleh Alila.
Lelaki di dalam gazebo itu mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya, lalu mencium bibirnya. Sepasang kekasih itu kini sedang berciuman dan tanpa sengaja disaksikan oleh Dimas dan Alila.
Wajah Alila memerah seketika melihat adegan tak terduga tersebut. Sementara Dimas tetap acuh dengan raut muka datarnya. Kemudian dia menoleh ke arah istrinya, lalu tersenyum tipis melihat roman wajah Alila yang semakin merona.
"Jika kau iri melihatnya, di mobil aku akan memberikannya sepuas yang kau mau, Al..." Bisik Dimas di telinga Alila membuat wanita itu segera memalingkan wajahnya dan memukul lengan suaminya dengan menahan senyuman di bibir mungilnya.
Mereka pun kembali berjalan keluar, meninggalkan sepasang kekasih yang tengah larut dalam romantismenya sendiri.
.
.
.
"Kamu sudah pernah ke sini, Tam?"
Tama menggelengkan kepala lalu menatap wajah kekasihnya.
"Ini yang pertama kali dan aku datang bersama seseorang yang aku cintai..."
Dara tertawa senang mendengar ucapan Tama.
"Siapa orang yang kau cintai itu? Benarkah kau mencintainya?" Tanya Dara lagi dengan wajah genit yang sengaja dia buat-buat untuk menggoda kekasihnya.
"Dia adalah wanita dengan hati yang tulus, juga memiliki senyuman manis dan tawa yang terindah. Dan aku sangat mencintainya."
Tama menatap mata Dara dan menjawab dengan kesungguhan hati. Tangannya semakin erat menggenggam tangan wanita itu seraya berjalan menuju ke sebuah gazebo yang masih kosong.
Mereka melepas alas kaki lalu masuk ke dalam gazebo. Dara langsung menuju ke ujung gazebo yang terbuka dan berbatasan dengan sungai kecil di bawahnya. Kedua kakinya menggantung ke bawah, menyentuh air sungai yang dingin dan segar.
Tama mengikuti dan duduk bersila di samping Dara. Seorang pramusaji datang dan mencatat pesanan yang mereka pilih, kemudian pergi untuk menyiapkannya.
__ADS_1
"Kenapa kakimu kau lipat seperti itu. Turunkan seperti kakiku, airnya terasa sangat segar, Tam."
"Memandang wajahmu saja sudah membuat seluruh tubuhku terasa segar, Ra.." Tama mencuri satu ciuman di pipi kekasihnya.
Dara menoleh ke arah Tama dan langsung disambut dengan ciuman singkat di bibirnya yang membuatnya tertegun dan hanya terdiam menerima ciuman itu.
"Maaf... Aku tidak bisa menahannya, Ra."
Dara menunduk menatap aliran sungai yang melewati kedua kakinya. Hatinya berdebar hebat setelah menerima ciuman dari Tama. Wajahnya sudah berubah memerah menahan rasa malu, tetapi di satu sisi entah mengapa dia pun merasa bahagia dengan ciuman Tama di bibirnya.
"Kamu marah, Ra?" Tama meraih tangan kekasihnya dan mendekapnya di dada, membuat jantung Dara terpompa semakin cepat dengan degupan yang sangat keras.
Dia bisa merasakan detak jatung Tama yang juga berdentum kencang dan di atas normal. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
Tama memang sudah beberapa kali mencium pipinya. Tetapi ciuman di bibir..., ini adalah pertama kalinya dan Tama adalah lelaki pertama yang berhasil mencuri ciuman di bibirnya. Ciuman pertama yang tak disangkanya sama sekali.
"Aku sangat mencintaimu, Ra. Aku tidak bisa lagi jauh darimu. Setiap saat aku ingin selalu melihatmu dan bersamamu. Dan aku mulai merasa takut kehilangan kamu."
Wajah Dara menghangat mendengar pengakuan Tama. Dia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap kedua mata lelaki itu, yang juga tengah menatapnya begitu dalam. Dara bisa melihat kejujuran di mata Tama, membuat hatinya turut menghangat dan berdesir lembut.
"Tam, aku......." Dara tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia merasa sangat gugup dan tak mampu lagi berkata-kata.
Mereka hanya saling menatap dalam diam. Mencoba menyelami isi hati masing-masing, mencari tahu seberapa dalam perasaan cinta yang mereka miliki satu sama lain.
Sampai pesanan mereka datang dan tersaji di tengah gazebo, Tama dan Dara masih diam tanpa sepatah kata pun terucap dari keduanya.
"Kita makan dulu, Ra. Kita lanjutkan pembicaraan kita setelah ini."
Tama melepaskan tangan Dara yang masih terus didekapnya. Dia menggeser tubuhnya ke tengah, lalu menunggu Dara yang sudah menarik kakinya dari air kemudian duduk di sebelah Tama.
Dengan hati yang masih terus bergetar, Dara mengambil sebuah piring, diisinya dengan nasi putih lalu diserahkannya pada Tama yang terus memperhatikan semua yang dia lakukan sambil menerima piring yang diberikan Dara kepadanya.
"Terima kasih, Ra."
Tama tersenyum meskipun Dara tidak menatapnya. Dia mengambil satu gelas minuman yang kebetulan berada di dekatnya, lalu diberikannya pada Dara.
"Minumlah dulu, Ra."
Dara mengambil alih gelas itu dari tangan Tama lalu segera meminumnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Entah ke mana perginya keceriaan yang biasanya dia miliki dan selalu dia tunjukkan setiap saat itu. Sekarang dia menjadi seperti seorang putri malu yang terus diam dan menghindari tatapan mata kekasihnya yang akan semakin membuat hatinya berdebar-debar.
Setelah mengambil sayur dan lauk secukupnya, mereka berdua mulai menikmati makan siang yang sudah lewat waktu itu dalam suasana hening, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya.
Tak sampai setengah jam, mereka sudah menyelesaikan makan siang dan kembali duduk di tepi aliran sungai. Kini kedua kaki mereka sama-sama turun menyentuh air sungai.
"Ra..."
"Tam..."
Mereka membuka suara bersamaan, membuat keduanya saling tatap lalu melempar senyuman canggung satu sama lain.
__ADS_1
Karena Dara kembali diam, Tama akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Ra, apa kamu masih meragukan perasaanku? Atau kamu masih ragu dengan perasaanmu kepadaku?"
Dara mengalihkan pandangannya pada lelaki di sampingnya. Untuk sesaat mereka bersitatap dalam jarak yang sangat dekat. Dara menggelengkan kepala lalu menjawab pertanyaan Tama dengan yakin.
"Aku percaya padamu, Tam. Sedikitpun aku tidak pernah meragukanmu."
"Bagaimana dengan perasaanmu padaku? Apa kamu masih meragukannya? Apa kamu tidak mencintaiku, Ra?"
Dara terkejut mendengar pertanyaan Tama.
"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat untuk menjalani hubungan ini. Aku menerimamu sebagai kekasihku, bagaimana bisa kamu bilang aku tidak mencintaimu..."
Buru-buru Tama meraih tangan Dara dan menciumnya lalu terus menggenggamnya di pangkuannya.
"Bukan itu maksudku, Ra. Aku hanya takut kamu belum sepenuhnya membuka hati untukku, karena selama ini kamu belum pernah mengatakan perasaanmu padaku. Jujur saja, aku ingin mendengar kamu mengatakannya, Ra..."
Dara terdiam. Tama memang benar, selama ini hanya Tama yang selalu mengungkapkan perasaannya, sementara dia hanya mengiyakan namun belum pernah sekalipun mengatakan hal yang sama pada kekasihnya.
Dia menarik nafas dalam-dalam lalu melepaskannya perlahan, mencoba meyakinkan hatinya untuk berani mengungkapkan perasaannya, seperti yang Tama minta.
"Aku juga mencintaimu, Tam. Aku jatuh cinta padamu dan aku sangat mencintaimu..."
Tama menegakkan tubuhnya lalu menatap kedua mata Dara tak percaya. Dara tersenyum dan membalas genggaman tangan Tama semakin erat untuk meyakinkan lelaki itu.
"Terima kasih, Ra. Aku sangat bahagia. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu..."
Tama kembali mencium tangan Dara, lalu melepaskannya dan berganti memeluk tubuh kekasihnya dengan erat dan penuh kasih.
Dara membalas pelukan itu. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Tama dan menyembunyikan wajahnya di balik bahu lelaki tercintanya.
Tama merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah kekasihnya, wanita yang sangat dicintainya. Kedua mata mereka beradu dan saling mengunci pandangan.
Tama mencium kening Dara lalu melepaskannya. Mereka terdiam dan terus saling menatap, sebelum akhirnya Tama kembali memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka, lalu menyatukan bibir mereka dengan lembut dan penuh perasaan.
Keduanya memejamkan mata, menikmati kehangatan yang terasa di bibir mereka yang menyatu, lalu menjalar ke seluruh tubuh keduanya yang masih saling memeluk mesra.
Di saat yang bersamaan, tanpa mereka sadari sepasang suami istri melihat kemesraan mereka dari tempat keduanya berdiri. Mereka hanya diam dan untuk sesaat menyaksikan adegan ciuman tersebut. Namun tak lama kemudian mereka kembali melanjutkan langkahnya, tanpa ingin mengganggu kebersamaan Tama dan Dara.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.